Pintu rumah terbuka dengan sedikit hentakan yang tak biasa. Langkah kaki Lucas terdengar berat saat ia masuk, masih mengenakan pakaian perjalanan yang belum sempat ia rapikan. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menyiratkan sesuatu yang tak lagi bisa ia tahan. Di ruang tengah, Brielle sudah berdiri seolah menunggu sejak lama, senyum tipis sempat terbit di bibirnya, namun perlahan memudar saat melihat ekspresi suaminya. “Sayang, kamu sudah—” ucapannya terpotong. “Dia masih perawan, Brielle.” Suara Lucas datar, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam. Ia tidak berteriak, tidak meninggikan nada, namun setiap kata yang keluar seolah menekan udara di antara mereka. Brielle terdiam. Senyumnya benar-benar hilang. Lucas melangkah lebih dekat, menatap istrinya den

