Lucas memilih pulang lebih cepat hari itu. Ia berharap rumah bisa menjadi tempat paling aman untuk menenangkan pikirannya tempat di mana semuanya kembali sederhana, kembali seperti dulu, sebelum bayangan itu terus mengganggunya tanpa jeda. Namun begitu pintu terbuka dan ia melangkah masuk, ada perasaan asing yang langsung menyambutnya. “Sayang …?” panggilnya sambil melepas jas, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. “Sayang …” “Iya, sayang. Aku di sini,” sahut Brielle dari arah dalam. Tak lama kemudian, Brielle muncul dari arah paviliun belakang, langkahnya tenang meski wajahnya terlihat sedikit lelah. Rambutnya diikat sederhana, dan ada sisa-sisa kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang dari sorot matanya. Lucas mengernyit. “Kamu dari paviliun? Ngapain di sana?” tanyanya, nada s

