“Sayang … kamu di mana?” suara Brielle terdengar semakin dekat, memecah suasana yang sebelumnya dipenuhi isak tertahan. Lucas sontak tersadar. Ia segera melepaskan pelukannya, langkahnya mundur satu tapak. Lilian pun refleks mengusap air matanya dengan cepat, menunduk dalam-dalam, berusaha menutupi keadaan dirinya. Beberapa detik kemudian, langkah Brielle berhenti tepat di depan pintu paviliun. Ia berdiri di ambang, menatap pemandangan di hadapannya Lucas yang berdiri kaku dengan wajah datar, dan Lilian yang menunduk tanpa berani mengangkat kepala. “Sayang … ternyata kamu di sini?” ucap Brielle dengan senyum yang dipaksakan, matanya sekilas menyapu keduanya, mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Lucas menoleh singkat, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya,” jawab

