Part 25

974 Words

Berada di tengah keramaian yang jarang terjadi pada Adio adalah hal yang membuat moodnya memburuk. Wajah Adio itu memang lebih banyak datar dan dingin. Namun, aku masih ingat, bagaimana wajahnya saat merajuk sewaktu kami masih kecil. Seperti sekarang ini. Bibirnya agak maju dan mukanya tampak sangat kesal. Dia pasti benar-benar kesal denganku saat ini. "Saya gak mau lagi, Via. Jangan paksa saya," katanya tajam. Aku hanya tersenyum manis padanya kemudian menarik lengannya untuk menaiki satu wahana yang Adio tentang mati-matian. "Udah sih ikut aja. Sekali lagi," ucapku membujuknya. Dari bawah sini, kami bisa melihat  orang-orang berteriak histeris ketika badan mereka seperti diombang ambing di atas sana. Aku menatap wajah Adio yang terlihat meringis menatap mereka. Sedari kecil, Adio mema

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD