Aku hanya bisa menunduk sembari menunggu Teh Tika menghabiskan makanannya. Fathan memberi kami waktu untuk berbicara. Padahal sebenarnya aku belum siap untuk bicara berdua dengan Teh Tika saat ini. Jujur, aku bingung hendak berkata seperti apa. Atau tepatnya memberi pembelaan seperti apa. Karena aku tahu, ini adalah kebodohanku yang bisa-bisanya menerima tawaran bodoh itu. "Kamu udah makan?" Aku mengangguk kemudian tersenyum canggung membalas Teh Tika. Semuanya terasa salah saat ini. "Kok kita jadi canggung gini sih?" Teh Tika tertawa renyah. Sedangkan aku tidak dapat tertawa sedikitpun. "Aku kaget loh. Kamu berhasil bawa Adio jalan-jalan ketempat seramai itu. Aku pernah paksa Adio kesana. Yang ada, kami berantem dua hari." Teh Tika kembali tertawa. Sedangkan aku, merasa itu adalah tam

