Ada 375 aturan untuk menjadi seorang gentleman. Kamu punya semuanya. Namun padaku, aturan terakhir adalah larangnya. Menyayangiku.
-Dia.-
Tanganku terus saja bergerak mengetuk pena ke atas meja. Mendengarkan dosen berbicara ternyata lebih membosankan ketimbang mendengarkan guru yang berbicara. Sebenarnya sama-sama membosankan mengingat apa yang diajarkan.
Bahasa Indonesia.
Oh, tidak!
Itu materi terobosan yang sayangnya terus dipelajari meski aku sudah di bangku kuliah. Ya ya ya. Bahasa Indonesia memang penting. Namun sayangnya, otakku tidak selalu dapat menangkap apa yang sedang dijelaskan. Bukannya apa, aku memang tidak ingin menangkapnya.
Bahasa Indonesia adalah kenangan buruk menurutku. Dulu, ketika sekolah dasar, aku sangat menyukainya. Karena aku dapat belajar menulis surat yang memang wajib kukirim kepada Adio setiap tahun sekali. Aku selalu berusaha merangkai kata semenarik dan sebagus mungkin supaya Adio menyukai suratku. Ya, dia memang menyukainya dan menyuruhku untuk terus belajar karena katanya aku berbakat menulis puisi. Tapi itu, dulu. Lima tahun yang lalu. Sekarang, ya, seperti itulah.
Fathan Malik Averos
Gw di kantin teknik dengan kebosanan yang hqq. Berminat gabung?
Sudut bibirku naik sepenuhnya dan sedikit mengeluarkan suara saat membacanya. Bisa kubayangkan saat ini Fatan sedang menempelkan wajahnya pada meja dengan netranya terpaku pada ponsel dan segelas kopi yang belum habis.
Aku dan Fathan memang satu kampus. Berikut Adio. Namun kami berbeda Fakultas. Jika aku berada di Fakultas Ekonomi, Fathan berada di Fakultas Teknik. Dan Adio, Kedokteran.
Jangan tanya mengapa aku bisa nyasar di Akuntansi sedangkan sebelumnya aku mati-matian belajar untuk masuk kedokteran. Alasannya sudah pasti Adio.
Enam bulan yang lalu, saat Masa-masa terburukku, aku kembali memikirkan langkah apa yang akan aku ambil untuk kedepannya. Rasanya jika aku kembali mengikuti egoku untuk mengambil jurusan yang sama dengan Adio, aku seperti tidak memiliki masa depan. Lagi pula aku membenci menghafal setiap sel dan jaringan yang selalu membuatku tertidur lima menit kemudian.
Jadi, saat masa-masa s****n itu, aku sengaja, mengejar segala sesuatu yang awalnya kuminati di jurusan IPS kutinggal begitu saja untuk mengejar Adio. Dan syukurnya, Tuhan masih menyayangiku karena aku di terima di Akuntansi.
Sheanna Olivie
Duh.. Kacian. Tunggu kk ya de. Kk bidadari mu akan tiba sebntr lg. ❤️❤️
Setelah membalas pesannya, aku putuskan untuk membenahi segala buku yang ada di atas meja dan diam-diam melangkah keluar kelas saat dosen sedang fokus pada mahasiswa yang bertanya. Bolos sekali tidak masalah bukan?
*__*
"Devil -Than!" Fathan menoleh lalu mendengus dan aku terkekeh kemudian duduk di depannya.
"Nama gue Fathan," protesnya. Aku terkekeh saja dan segera memesan makanan.
"Lo serius, mau ikut teater?" Aku menganggukkan kepalaku sembari melahap siomay yang datang kemudian.
"Tapi ada Adio, Liv. Lo yakin?"
"Gak akan ketemu juga, Than. Lagian diakan lagi koas."
Aku memang mengikuti UKM Teater untuk mengisi waktu luang. Bukan karena Adio untuk yang satu ini. Lagi pula laki-laki itu sudah tidak di kampus. Dia sibuk sebagai mahasiswa magang di rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus. Aku pasti tidak akan bertemu dengannya.
*__*
"Shabia." Aku menyambut uluran tangan seorang gadis cantik berhijab di depanku.
"Olivia," kataku.
"Raline." Seorang gadis cantik berambut selengan juga mengulurkan tangannya dan kusambut dengan baik.
Setelahnya kami tidak sempat berbasa-basi ataupun mengobrol lagi karena acara sudah akan dimulai. Saat ini adalah acara pembukaan teater awal yang akan aku ikuti selama tiga hari kedepan. Langkah awal para mahasiswa yang ingin menjadi bagian dari anggota teater lainnya.
Tidak buruk berada diantara mereka semua saat ini. Setidaknya sampai saat ini aku merasa nyaman saja karena dua orang di sampingku pun sepertinya asik. Aku berharap bisa berteman dengan mereka nantinya.
*__*
Aku menikmati makan siangku sambil mendengarkan celotehan yang keluar dari bibir Shabia ataupun Raline. Mereka berdua membuatku iri dan merindukan Cinta. Dulu, aku dan Cinta sama seperti Shabia dan Raline. Tak terpisahkan. Tapi sekarang, bahkan keadaan Cinta pun aku tak tahu bagaimana. Cinta benar-benar menjauh dariku dan seolah menghilang begitu saja. Dan aku, benar-benar kecewa akan hal itu. Rasanya enam tahun pertemanan kami tidak ada artinya sama sekali.
"Kenapa cemberut gitu? Pusing ya denger ocehan Shabia yang gak jelas." Raline berbicara padaku kemudian mendapat jitakan sempurna pada keningnya. Tentu saja dari Shabia.
"Gak kok. Lagi keinget seseorang aja tiba-tiba."
"Pasti pacarnya ya?" Tanya Shabia menggodaku. Aku hanya terkekeh saja menjawabnya.
Mereka berdua benar-benar menyenangkan dan aku menyukai berteman dengan mereka. Shabia yang awalnya sangat pendiam ternyata sangat cerewet jika sudah berteman dengannya. Kemudian Raline. Gadis itu memang dari awal sudah terlihat mudah berbaur dengan orang lain.
"Eh jalan liat-liat dong!" Aku dan Shabia terkejut mendengar suara Raline yang tadi pamit ingin mencuci tangannya. Lalu kami mendatanginya dan mendapati dia sedang beradu mulut dengan seorang laki-laki.
"Gausah heran. Mereka emang sering ribut," kata Shabia menjawab kebingunganku yang kini memerhatikan mereka berdua. Bukan hanya kami, tapi hampir seluruh orang yang ada di tempat ini.
"Ada 375 aturan untuk jadi seorang gentleman. Dan bahkan lo gak tau salah satunya!" Aku mendengar Raline berteriak kepada laki-laki itu.
"Eh! 375 kebanyakan! Mendingan gue hapalin Asmaul Husna. Cuman 99!" balas laki-laki itu berteriak kemudian disusul tawa oleh semua orang.
Astaga!
"Kalau lo sama kami seminggu, lo akan tau bahwa perang dunia sebenarnya belum selesai, Liv." Aku menoleh pada Shabia yang kini menggelengkan kepalanya.
Aku hanya tertawa saja setelahnya kembali memerhatikan Raline dan laki-laki itu yang terlihat belum ingin menyudahi tarik urat diantara mereka. Dan tampaknya tidak ada yang mau mengakhiri itu termasuk Shabia yang terlihat asik menonton mereka.
"Kenapa pada kumpul gini? Ini kenapa pada teriak-teriak?" Aku melihat Kak Rayhan –ketua pelaksana acara ini melerai mereka.
"Siapa mentor kalian?" tanyanya kemudian pada mereka berdua.
"Kak Haykal."
"Kak Yoga."
Mereka jawab serempak kemudian kembali saling melotot saat tahu berbicara bersama. Astaga! Mereka berdua lucu sekali!
"Panggil mentor kalian dan temui saya. Yang lain bubar. Saya gak mau ada ribut-ribut lagi di sini."
*__*
"s****n! Bi, lo liat Kak Yoga?" tanya Raline menggebu ke arah kami. Aku tahu, Raline sedang emosi tingkat atas saat ini.
"Engga, Ra. Dari tadi gue sama Olivia kan di sini."
"Ah s****n! Si Tomat minta gue blender juga sama cabe!" Raline kembali memaki dengan wajah merahnya.
"Udah gausah Marah-marah. Gue bantuin cari Kak Yoga, ya." Aku bangkit dari kursiku dan menepuk pelan pundak Raline mencoba untuk meredam emosinya kemudian beranjak untuk membantu mencari Kak Yoga, mentor kami.
"Ah, si Raline. Kan, nyusahin gue aja." Shabia menggerutu saat kami berjalan mencari Kak Yoga. "Kita mencar aja deh biar cepet ketemu," katanya lagi.
*__*
Mataku masih berputar mencari keberadaan Kak Yoga saat ini. Villa yang kami tempati cukup luas dan sepertinya susah sekali mencari keberadaan Kak Yoga. Sudah lima belas menit lebih aku masih mencari keberadaannya yang entah dimana.
Aku menghembuskan napasku lega saat aku meningkap wajah Kak Yoga yang sedang duduk di gazebo bersama yang lainnya.
"Kak, maaf ganggu. Bisa ikut sebentar?" kataku saat sudah ada di luar gazebo.
"Ngapain?" Tanyanya.
"Sebentar aja, kak," pintaku.
Kemudian kulihat Kak Yoga berdiri dan pamit dengan temannya yang lain. Pandanganku mengikuti Kak Yoga yang sedang bersalaman dengan yang lainnya. Kemudian Pandanganku terpaku pada sesuatu.
Di sana. Adio. Dan aku tahu, ini akan kembali menjadi mimpi burukku.