Part 7

991 Words
Aku melihat dalam samudera. Kemudian pergi ke dalam merapi. Lalu terbang menuju awan. Aku sembunyi. Namun kau tetap kudapati. Lalu apa yang kumiliki? Ilusi. -Beku di mataku-   Melihat Adio yang sedang berbicara di depan dengan gayanya yang tegas serta berwibawa benar-benar membuatku serasa tertarik lagi pada kenyataan bahwa aku belum bisa melupakan Adio. Kini aku sadar, sekeras apapun aku mencoba, usahaku berakhir sia-sia. Karena sepertinya Adio sudah menjadi penghuni tetap di hatiku. Susah sekali mengeluarkannya. "Lo tahu, gue punya satu kalimat yang gue suka. Dari orang, sih. Tapi seenggaknya menurut gue ini berguna." Padanganku yang tadi hanya terpaku pada Adio kini menoleh pada Shabia yang berbisik di telingaku. "Mau dengar?" Dia tersenyum saat aku menganggukkan kepala. "Hati perlu terima Seseorang yang baru buat buang seseorang yang lama. Karena hati, gak boleh kosong." Aku terdiam, mencoba mencerna ucapan Shabia yang kini sudah fokus kembali dengan apa yang Adio sampaikan di depan sana.  Selama ini aku hanya berpikir untuk menyukai satu orang. Meski sudah aku coba beribu kali untuk menyukai seseorang yang lain. Setidaknya menyukai seseorang yang menyukaiku. "Kalo gak berhasil?" aku bertanya. "Lo cuman perlu kenalan sama sahabat gue." "Raline?" Shabia menggeleng. "Namanya ikhlas. Susah di cari karna banyak kw nya. Lo harus punya pengorbanan besar buat bisa kenalan sama ikhlas." Shabia tersenyum. Menular padaku meski tak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Setidaknya aku mendapatkan seseorang yang mengerti diriku tanpa harus penjelasan panjang tentang kisah gagal moveonku.   [*__*]   "Masih kesel?" "Oh gak usah ditanya! Raline gak akan berhenti kesel kalau urusan Taqi." Shabia menjawab pertanyaanku bahkan sebelum Raline sempat membuka mulutnya. Saat ini kami sedang berada di kamar setelah melewati hari yang melelahkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan kami hanya punya waktu untuk tidur selama tiga jam. Menjalani teater awal tidak ubahnya seperti menjalani LDKS saat SMP dulu. Sama-sama melelahkan dan banyak aturan. "Yaudah tidur aja. Mungkin keselnya bisa hilang," saranku setelah memakai lotion dan tidur di samping Shabia yang sedang mengabaikan Raline yang duduk di sampingnya. Kami tidur berdesakan seperti tengah pesantren kilat saat SMP. Beruntungnya sekarang panitia menyediakan kasur walau jumlahnya tidak memadai dan tidak dapat menampung kami semua. Sehingga banyak yang tidur beralasankan sajadah dan karpet. "Lo kenal ya, sama kak Adio?" Pertanyaan Shabia jantungku berdetak kencang tiba-tiba. Selalu seperti itu jika mendengar nama Adio disebutkan. "Tentangga gue,” jawabku. "Kayaknya kalian lagi ada masalah ya?" Aku terdiam bingung menjawab pertanyaan Shabia. Pertanyaan 'lagi ada masalah' seakan menunjukkan bahwa itu akan terlesaikan nantinya. Sedangkan kisahku dan Adio, entahlah disebut apa. "Stop jadi cenayang plis! Gak semua orang suka sama tebak-tebakan lo, Bhi." Raline menatap Shabia malas. Aku hanya tersenyum seolah masalah yang mereka tanyakan tadi tak berarti apa-apa. Sedangkan Shabia tersenyum canggung. "Santai aja. Kita tetangga tapi gak deket. Cuman sebatas tahu aja. Bukan hal penting juga." Hanya itu kebohongan yang dapat kurangkai di kepalaku. "Sori gue sok tahu. Habisnya pandangan Kak Adio ke lo, aneh." Shabia menatapku tidak enak. Pandangan Adio kepadaku? Aku bahkan tak sempat berpikir bahwa Adio sudi memandangku. Siapa pula yang ingin memandang perempuan yang menghancurkan kisah cintanya? Kecuali, pandangan benci. "Ada rasa sungkan dan lega yang gue tangkap dari matanya. Gue rasa di–“    "Stop Bhi! Gue gak mau lo jadi cenayang malam ini. Gue mau tidur dan mending lo geser!" Raline mendorong lengan Shabia menjauh.   [*__*]   Sulit memejamkan mataku saat ini. Perkataan Shabia tentang Adio memandangku berputar begitu saja di kepalaku. Sungkan? Sejak kapan Adio menaruh rasa hormat padaku? Dia tidak perlu merasa harus hormat padaku di saat aku dengan tidak tahu dirinya menghancurkan kisah cinta dia begitu saja. Lega? Apa yang membuat Adio lega melihatku? Lega Karena ternyata aku tak mengambil kesempatan untuk mendekatinya? Ya. Sepertinya memang seperti itu. Aku bahkan tak bisa memejamkan mataku sama sekali saat telingaku sudah menangkap suara ribut dari luar. Pasti suara panitia yang menyiapkan jerit malam untuk kami. Sudah aku bilang bukan? Ini sama saja seperti LDKS saat SMA. "Lo gak tidur?" Aku menoleh pada Shabia yang menatapku dengan matanya yang masih setengah menutup. "Gak nyaman ya, tidur desak-desakan gini?" tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan dan tersenyum tipis kemudian menjawab, "udah tidur. Tapi kebangun. Kayaknya panitia udah pada bangun." Satu kebohongan lagi yang berhasil kuciptakan. "Masih ada waktu setengah jam lagi. Mending di pake buat tidur. Dari pada nanti ngantuk terus dimarahin." Aku tersenyum saja kemudian melihat Shabia kembali memejamkan matanya. Shabia benar-benar orang yang sangat peka dengan keadaan sekitarnya. Sepertinya juga dia mudah menyerap emosi seseorang dan menganalisanya dengan baik. Tidak buruk juga. Namun buruk jika dia terus menganalisaku.   [*__*]   Aku benar-benar tidak tidur semalaman dan memutuskan mandi saat lima belas menit lagi menunjukkan pukul 3 pagi. Terdengar gila memang mandi di pagi buta seperti ini dengan udara di Lembang yang sangat dingin. Namun jika tidak mandi sekarang, aku yakin tidak akan punya kesempatan untuk mandi nantinya. "Liv, lo mandi? Serius?! Di suhu 13° dan semalam hujan lebat?" Aku tak menjawab pertanyaan Raline dan malah merapatkan jaket yang kukenakan. Aku tidak tahu akan sedingin ini setelah mandi. Sebelum memutuskan untuk mandi tadi otakku sedang panas memikirkan Adio. Betapa bodohnya aku melupakan bahwa aku tidak tahan dingin. "Cepat kumpul! Cepat!" Obrolan kami terputus begitu saja setelah salah satu panitia menggedor pintu kamar dan teriak begitu keras. Membuat kami semua terburu-buru mengambil perlengkapan dan segera keluar dari kamar sebelum kena omelan panjang nantinya. Sekali lagi aku merutuki diriku sendiri yang dengan bodohnya mandi pagi buta. Akibatnya aku tanggung sekarang karena kedinginan dan tidak fokus dengan apa yang panitia sampaikan di depan sana. Bodohnya aku! "Liv lo gak apa-apa?" Aku hanya mampu menganggukan kepalaku sebagai jawaban untuk Raline yang terlihat mengkhawatirkanku. Aku benar-benar sudah kehilangan fokus sepenuhnya saat dingin ini terasa begitu Menusuk ke tulangku. Merambat melalui pori-poriku dan seperti menghancurkan tulang-tulangku. Rasanya aku ingin menangis sekarang. Merutuki kebodohanku pagi tadi tidak akan mengubah apapun. Bahkan aku sudah tidak sadar tengah berjongkok dan memeluk diriku sendiri. Berupaya agar dingin ini benar-benar menghilang. Mengabaikan entah suara apa yang ku dengar di sana. "Kalau tau gak kuat dingin, setidaknya siapin syal biar gak ngerepotin orang." Sesaat, aku merasakan hangat saat sebuah syal melingkar di leherku. Lalu topi yang menutupi kepalaku. Serta tanganku yang tadi di dalam saku jaket keluar begitu saja di tarik seseorang kemudian terbalut sarung tangan hangat. Adio? Apa aku bermimpi? Ini benar-benar seperti mimpi melihat Adio memperlakukanku seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD