Part 8

998 Words
Boneka beruang pink yang kumiliki, kusayang kemudian kubuang. Kau tak menyukainya. Aku membencinya. -Gadis Kecil-   Aku menangkap lampu yang menyorot di atasku kemudian pandanganku beralih pada tembok berwarna putih. Lagi aku bangun di ruangan yang tak kukenali. Kemudian pandanganku beralih pada pintu saat seseorang membukanya dan tertegun serta jantungku berdetak lebih cepat saat orang itu masuk. Jadi yang kualami bukan ilusi? Aku benar-benar melihat Adio dengan wajah datarnya berjalan ke arahku. Memegang keningku, lalu memeriksa denyut nadiku. Kuharap ia tak mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa detak jantungku. Kupastikan ia akan ilfil setelahnya. "Tehnya diminum terus tidur lagi." Adio berkata yang membuat pikiranku tidak lagi pada tempatnya. Otak hinaku memerintah agar aku memegang tangannya. Menghentikan langkahnya yang akan meninggalkanku. Kemudian memeluknya dengan erat dan menangis di sana. Oh aku pasti sudah bodoh! Aku melakukannya sekarang. Maksudnya memegang pergelangan tangannya. Aku bersyukur tidak jadi memeluknya. "Aku mau gabung dengan yang lain." Ya, aku tahu, benar-benar perkataan aneh yang kukatakan. Namun aku tak mungkin menuruti hati dan pikiranku untuk mengatakan bahwa aku salah paham akan sikapnya. Apa aku salah paham jika berpikir bahwa Adio peduli padaku? "Disini aja. Mereka sudah pergi jauh. Gak akan ke kejar kalau kamu mau gabung sekarang." Aku melihat Adio menatap datar ke arahku. Apa ia semakin muak denganku sekarang? "Aku gak suka sendirian." Lakukanlah sesukamu Olivia. Kau yang mengatur dirimu sendiri. Biar saja Adio semakin membencimu dengan rengekanmu seperti itu. "Nanti ada panitia yang masuk ke sini." Adio hampir pergi dan aku hampir menangis. Rasanya aku ingin teriak sekarang bahwa aku ingin dia yang menemaniku di sini! Bukan panitia yang lain. "Aku gak kenal mereka," rengekku tak melihat padanya. Perlahan aku mengangkat wajahku dan mendapati Adio menghebuskan napasnya. Mungkin semakin muak melihat tingkah manjaku yang seharusnya tak kulakukan. Namun aku ingin. Jangan merutuk padaku karena aku sudah melakukannya sejak tadi. Namun sungguh ini adalah spontanitasku. "Jangan bertingkah manja dan menganggap bahwa semua yang ada di dunia ini sesuai dengan keinginanmu." Setelahnya aku benar-benar menangis dan Adio meninggalkanku. Aku semakin membuat Adio membenciku. Dan aku menyesali itu.   [*__*]   "Lo serius gak apa-apa?" Pertanyaan ke lima dari Raline dan aku hanya mengamggukkan kepalaku. "Muka Lo semakin pucat. Mata Lo sembab. Lo abis nangis? Apa yang sakit? Bilang sama gue." Lagi aku hanya menggeleng saat Raline kembali bertanya. Wajahku mungkin semakin pucat karena aku semakin merasa dingin. Lalu aku menangis karena meratapi kebodohanku yang membuat Adio semakin membenciku. Tidak ada yang sakit di tubuhku kecuali hatiku yang terasa nyeri. Aku bodoh. Karena sedikit kepeduliannya itu aku masih berharap Adio kembali seperti dulu padaku. Salahku. Seharusnya aku menyadari bahwa Adio hanya menjalankan tugasnya sebagai sarjana kedokteran dan calon dokter. Tidak mungkin karena peduli padaku. Mungkin jika itu bukan aku, Adio akan melakukan hal yang sama. Sekarang setelah terjadi, otak pintarku baru memikirkan itu. "Makan ya? Gue suapin," tawar Raline. Mataku menyorot pada Raline dan Shabia yang terlihat begitu khawatir. Beda dengan wajah Adio saat masuk ke ruanganku subuh tadi. "Habis ini gue ijinin sama panitia biar Lo di bolehin pulang aja. Lo harus di periksa ke dokter, Liv. Ada nomor keluarga yang bisa gue hubungi?" Keluarga? Aku bahkan sedikit ragu menyebutnya. Shabia bertanya itu dan aku tak yakin harus mengeluarkan jawaban apa. "Keluarga gue jauh. Gue gak apa-apa kok, Bi." Ya, aku memang harus selalu baik-baik saja. "Gue keluar sebentar." Aku hanya diam melihat Raline keluar dari ruangan. Tak lama setelah aku dan Shabia sama-sama terdiam, kami melihat Raline masuk bersama seseorang yang benar-benar tidak ingin kutemui saat ini. "Dia gak mau makan. Mukanya semakin pucat. Coba kakak periksa. Sepertinya Livie harus di bawa kerumah sakit." Aku diam saja dan tak berani menatap kemanapun selain ke lukisan di yang tertempel di tembok. Jangan katakan itu padanya Raline. Adio akan semakin membenciku. "Pakai jaketnya." Aku tak tahu sejak kapan Adio sudah berada di dekatku. Membantuku duduk dan memakai jaket yang entah milik siapa. Aku menurut saja. Lagipula dengan keadaan yang sedekat ini, mustahil aku bisa berkata. "Saya sudah menghubungi Oliver. Dia lagi perjalanan ke Bandung. Sekarang saya antar ke rumah sakit." Aku membatu. Bertemu kak Oliver hanya dapat menambah masalahku. "Aku gak mau pulang sama Kak Oliver." Melepaskan paksa jaket itu. Aku kembali tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. "Tolong jangan membuat semuanya rumit. Cuman ini yang bisa saya lakukan sebagai dokter dan tetanggamu."  Aku menangis. Adio berkata begitu kasar dan aku membenci itu. Aku tak menyuruhnya untuk datang ke sini. "Liv, jangan nangis." Aku merasakan ucapan di kepalaku dan aku tahu itu Raline yang melakukannya. "Gue udah telfon Fathan. Dia udah mau sampe sini. Ayo beresin Bareng-barang Lo." Aku tak tahu darimana Shabia tahu bahwa aku dekat dengan Fathan. Tapi setidaknya aku bersyukur akan hal itu. "Kamu harus ke rumah sakit dengan saya karena Oliver sudah mau sampai." Aku mendengar Adio berkata semakin dingin. Dan aku tahu, dia semakin  muak denganku. "Aku gak mau ketemu Kak Oliver dan kamu gak boleh paksa aku!" teriakku. Aku yakin, semua terkejut karena aku juga. Dari kecil aku tak suka dipaksa. Lagi, kudengar Adio menghebuskan napasnya semakin kasar. Lalu aku merasa melayang saat Adio mengangkat tubuhku. Aku benar-benar marah. Aku tak suka dipaksa! "Turunin! Aku gak mau ketemu Kak Oliver! Aku mau sama Fathan." Adio bisu dia diam saja meski aku memukul dadanya. "Tolong bilang Fathan suruh datang kerumah sakit saja," ujar Adio pada Raline dan Shabia. Setelahnya Adio keluar dari ruangan ini dengan aku yang masih berontak di gendongannya. Mengabaikan orang-orang yang menatap kami bingung. "Turunin aku!" Aku masih mencoba meski ku tahu percuma. Aku memang keras kepala. Namun  aku tahu, Adio lebih keras dariku. Dia tak suka dibantah. "Jangan coba keluar dari mobil." Aku diam saja dengan air mataku yang terus mengalir saat Adio menurunkanku di mobilnya.   [*__*]   "Anterin aku ke kosan aja. Aku gak mau ketemu Kak Oliver." Adio masih diam mengabaikan rengekanku sejak tadi. "Kamu dengar kan? Aku mau ke kosan. Gak mau kerumah sakit." Aku menarik tangannya dari stir. "Jangan bertingkah konyol!" Aku terhenyak kemudian diam. Meski sudah berkali-kali Adio membentakku, rasanya masih semenyedihkan saat pertama kali dia melakukannya. "Aku gak mau ketemu Kak Oliver. Gara-gara kamu, aku dibenci semua orang. Gara-gara kamu." Aku berkata di sela tangisku. "Kamu yang membuat dirimu sendiri dibenci. Jangan menyalahkan orang lain atas hal buruk yang kamu lakukan." Tangisku semakin kencang. Kalian tahukan, seberapa benci Adio kepadaku? Dan aku, masih mencoba untuk membencinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD