Part 9

1226 Words
Ada rindu yang kutanam. Lalu mawar yang tumbuh. Kemudian sekujur tubuhku berdarah. Kau datang, menusukan durinya. -Mawar Hitam-   Banyak hal mustahil yang kuharapkan terjadi padaku saat ini. Adio menemuiku misalnya. Ouch! Olivia! Kau benar-benar menyedihkan. Aku tahu, aku adalah salah satu dari perempuan yang gagal move on. Namun sepertinya dari semua perempuan itu, Aku lah yang paling menyedihkan. Karena saat ini, aku menginginkan Adio datang padaku, membawa boneka pink yang selalu ia jadikan hadiah saat aku merajuk padanya. Tapi saat ini, kalau pun Adio datang, dia hanya akan melayangkan pandangan benci padaku karena berhasil merengek pada Bunda untuk menyeretnya kemari. Tidak. Aku tidak memaksa bunda melakukan itu saat ini. Karena aku sudah cukup malu bahkan untuk menatap wajahnya yang masih sudi menjengukku di rumah sakit sekarang. "Via lapar? Bunda kupas apel mau?" Aku hanya menggeleng saat bunda kembali mengusap kepalaku dengan lembut. "Via harus makan. Biar nanti cepat keluar dari rumah sakit. Kasian kak Oliver belum istirahat dari kemarin." Aku tahu, semua orang yang datang menjengukku di rumah sakit akan mengatakan itu. Mengasihani kakakku yang terlihat begitu lelah dan merutuki sifatku yang keras kepala. Dokter bilang aku terkena hipotermia dan magh yang cukup parah karena pola makanku yang tidak teratur selama kuliah. Tentu saja aku lah objek yang patut disalahkan atas penyakitku sendiri. Bahkan Mama yang datang menjengukku terlihat muak kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Hanya tinggal kak Oliver yang bertahan di sampingku karena Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. "Bunda pulang saja. Udah malam. Sekalian ajak kak Oliver pulang. Nanti Fathan datang kesini temenin Via." Fathan memang datang ketika aku sampai rumah sakit bersama Adio dua hari yang lalu. Tapi dia tidak bisa menemaniku terlalu lama karena bibinya yang ada di Bandung baru saja melahirkan dan dia harus menjenguknya ke sana. Lalu hari ini dia janji akan menjagaku. "Bunda tahu, Fathan memang teman baik kamu. Tapi Kak Oliver akan sedih kalau kamu memilih di temani teman kamu dari pada kakakmu sendiri. Jangan seperti ini ya, nak. Kasian orang yang sayang padamu." Bunda berucap memang begitu lembut. Namun aku tahu, dia menyalahkanku melalui semua nasihatnya. "Ya, Via tahu bunda. Tapi dari semua yang terjadi sama Via selama ini Via cuman merasa memiliki Fathan di hidup Via. Via tahu, semua salah Via. Mengganggu hidup kak Dio dan membuat orang benci sama Via itu salah Via sendiri. Apalagi hal yang terakhir Via lakukan pada Ghea. Tapi bunda tenang aja. Via udah dapat ganjaran atas itu semua. Seharusnya bunda gak usah datang karena jujur aja Via masih malu bertemu bunda. Via malu bertemu orang-orang yang tahu betapa bodoh hal yang Via lakukan. Mungkin orang-orang juga masih merutuk pada Via karena Via pindah kesini seperti parasit yang terus nempel dan menyusahkan Kak Dio. Tapi Via gak maksud seperti itu." Aku terisak. Namun cukup lega telah mengungkapkan segalanya pada bunda. Mungkin memang aku yang bodoh. Aku yang seharusnya sadar sejak awal. Sejak Adio masih mau memperingatiku dengan cara yang baik. Namun aku hanyalah gadis manja dan egois yang sejak kecil sudah bergantung pada Adio. Sudah menjadi parasitnya. "Maaf Via berkata kasar sama bunda. Via hanya butuh istirahat. Terimakasih bunda masih sudi menjenguk Via setelah semua yang terjadi. Setelah Fathan datang, Via janji akan makan." Kemudian aku terdiam. Melihat bunda yang meneteskan air mata juga menyakitkan untukku. Selain Adio, aku juga menyayangi Bunda seperti aku menyayangi Mama. Aku menghormati Bunda seperti aku menghormati Mama. Dan kini, aku membuat wanita yang kuanggap ibuku sendiri menangis. Karena sikap burukku padanya. Juga pada anaknya. "Maafkan bunda Via. Bunda bukan mau menghakimi Via. Bunda cuman berharap Via menjadi Via bunda yang dulu." Setelahnya Bunda keluar dan aku hanya menatap kosong pada ruangan ini. Bahkan ketika Kak Oliver bangun dari tidurnya menatap bingung ke arahku. "Sebaiknya kak Oliver antar Bunda ke Jakarta. Nanti Fathan akan datang dan menemani Via di sini. Lain kali Via gak akan menyusahkan semua orang. Maaf sudah membuang waktu kakak." Aku memunggungi Kak Oliver dan menutup semua tubuhku dengan selimut. Membiarkan kak Oliver yang membuang napasnya kasar yang aku yakini tengah menatapku muak.   [*__*]   Terkadang, semua rencana yang kususun untuk melindungi diriku sendiri hancur berantakan. Hanya karena melihat Adio aku kembali lupa dengan yang telah kupersiapkan. Yang kupikirkan hanyalah aku menginginkannya ada di dekatku. Se-bodoh itulah aku. Silahkan merutuk atas sikapku. "Keadaan kamu sudah membaik. Besok sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tapi tetap harus dijaga pola makannya, yah." Aku diam saja tak menatap dokter yang berkata ramah padaku. Karena mataku hanya menatap pada laki-laki di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sini. Tapi itu membuatku merasa bahwa Adio masih menaruh perhatiannya padaku. Bahkan aku semakin yakin saat dokter sudah meninggalkan ruangan tapi Adio masih berdiri di sini. Seharusnya Adio mengikuti dokter itu. Memeriksa kondisi pasien yang lain. "Kamu berhasil buat bunda menangis hari ini. Pencapaian yang luar biasa setelah sekian lama tidak bertemu." Adio berkata dingin. Dan seharusnya aku tahu. Dia kesini hanya untuk menusukan duri atas mawar yang  aku tanam. "Aku gak bermaksud buat bunda menangis," jawabku. "Kamu juga bilang tidak pernah bermaksud melakukan semua itu saat itu." Aku diam. Tahu maksud perkataan Adio. Tentu saja tingkah Jahatku. Pada semua perempuan yang mampir dalam hidupnya. "Kak Dio benar. Via memang sengaja. Manusia harus melindungi dirinya sendiri," kataku. "dengan menyakiti orang lain?" tambah Adio yang membuatku tersenyum masam. "Ya. Kalau itu bisa membuat Via tidak tersakiti." Mungkin aku tak percaya atas yang kukatakan tadi. Berbicara begitu santai pada Adio. Mungkin ini efek obat yang bekerja pada tubuhku. "Kemudian semua orang membencimu." Aku kembali tersenyum masam. Perkataan Adio begitu telak. Menancap di jantungku dan bersarang di sana. "Ya. Dan Via menyalahkan kak Dio atas itu." "Kamu selalu menyalahkan setiap orang. Itu sikapmu sejak dulu." "Karena kamu pantas disalahkan!" Aku berteriak tidak peduli lagi akan semuanya. "Aku pikir bisa merelakan semuanya waktu kamu pergi. Aku hampir berhasil. Tiba-tiba kamu datang begitu aja. Mengantar jemput aku ke sekolah. Kamu pikir Aku gak salah paham?" Aku terengah. Mencoba meredam amarahku. "Saya mengantar kembar. Dan kebetulan bunda menyuruh saya sekalian mengantarmu. Itu salah?" Dia berkata seenak jidatnya dengan wajah dinginnya. Membuatku semakin muak dan ingin menjerit mencakar wajahnya. "Salah! Semua salah kamu! Kalau memang gitu, kenapa kamu jemput aku di tempat les?! Kembar gak les di tempatku! Kenapa kamu jemput saat aku kehujanan di tengah jalan? Aku pikir semua sudah membaik. Kamu sudah lebih baik sama aku. Tapi tiba-tiba kamu memacari Ghea yang bahkan sangat mengenal siapa kamu di hidupku. Siapa menurutmu yang salah?! Seharusnya kamu gak usah peduli. Kamu tahu? Sekecil apapun perhatian itu aku bisa salah paham. Jadi lain kali, kamu gak usah memperdulikan aku meskipun aku hampir mati. Anggap saja aku adalah makhluk tak kasat mata yang tidak bisa kamu lihat! Jangan pernah peduli sama aku lagi atau aku akan mengganggu hidupmu selamanya." Aku terdiam. Berikut isak tangisku yang membuatku sulit bernafas. Aku masih menunduk. Takkan sanggup aku menatapnya atau aku akan melemah. "Saya peduli karena saya memiliki sikap kemanusiaan. Maaf membuat kamu salah paham. Lain kali saya tidak akan melakukannya seperti katamu." "Ya! Jangan pernah lakukan itu. Aku selalu berdoa agar kamu gak pernah bahagia selama hidupmu. Gak pernah menemukan perempuan yang akan cinta sama kamu sedalam aku mencintaimu. Dan kamu akan menyesal selama hidupmu pernah melakukan ini padaku. Keluar kamu sekarang dan jangan pernah ketemu sama aku lagi! Keluar!" Aku berteriak mengeluarkan semua tenagaku. Meluapkan semua emosiku. Tak memperdulikan apa yang terjadi saat ini. Bahkan saat orang-orang mulai berdatangan ke kamarku. Lalu sampai aku merasakan dekapan hangat melingkupi tubuhku. Mengusap lembut kepalaku. Saat itu aku bersyukur, Tuhan mengirimkan Fathan di hidupku. Aku bersyukur, masih ada yang memberiku sebuah pelukan hangat. Meski dia tahu, aku menempel pada mawar hitam yang kutanam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD