Ayah Nayra menghanpiri Afnan dan Nayra yang sedang istirahat makan, “Nak..” ucap ayah Nayra yang membuat Afnan menghentikan suapannya.
“Ayah..” Afnan langsung berdiri.
“Tidak usah berdiri nak, duduklah ayah juga akan duduk disana,” ayah Afnan memutari kursi dan duduk pada kursi yang kosong disamping Afnan.
“Ayah membutuhkan sesuatu,” tanya Afnan dengan sopa, meskipun Afnan tidak menyukai Nayra api dia harus tetap sopan pada mertuanya itu.
“Tidak ayah hanya ingin mengatakan ini padamu,” ayah Nayra menatap Afnan dengan dalam.
“Ayah sudah tidak memilki tanggung jawab lagi dengan hidup Nayra, semuanya telah berpindah padamu nak, karena itu ayah minta jaga Nayra dengan baik.”
“Ayah tidak meminta apapun padamu, ayah hanya ingin kau menjaganya dengan baik, dan soal hutang ayah padamu, ayah tetap akan membayarnya, jadi tolong hargai Nayra sebagai istrimu.”
Sunaryo sadar bahwa dia masih memiliki hutang yang sangat banyak pada menantunya itu, Sunaryo tidak ingin kehilangan wajah nya didepan menantunya karena hutangnya yang banyak itu.
“Ayah apa yang ayah katakan, sekarang aku adalah menantu ayah, jadi ayah tidak perlu lagi membayar hutang-hutang itu,” karena putrimu sudah membayar nya dengan hidupnya sendiri.
Sunaryo menggeleng pelan, “Jangan buat ayah tidak memiliki harga diri didepanmu nak, ayah akan tetap membayarnya, jadi bisakah kau kabulkan permintaan ayah untuk menjaga Nayra dengan sepenuh hatimu.”
“Nayra adalah putri yang sangat ayah sayangi..”
“Tentu ayah, saya akan menjaga Nayra dengan baik,” Afnan memotong perkataan ayah mertuanya bicara seolah-olah dia benar-benar akan menjaga Nayra dengan baik.
“Baik hanya itu yang ayah ingin dengar darimu,” Sunaryo berdiri lalu membelai kepala Nayra dan pergi meninggalkan meja Afnan dan Naya.
Nayra terpaku, jika ayahnya tetap akan membayar semua utangnya lalu untuk apa dia menikah dengan Afnan, untuk apa samai dia merelakan hidupnya sendiri jika ujung-ujungnya begini.
“Kenapa kau menyesal sudah menikah denganku hah,” Afnan tersenyum miring melihat Nayra yang melamun setelah kepergian ayahnya.
“Sayang nya kau tidak akan bisa lari dari pernikahan ini jadi mulai detik ini jalani hidupmu sebagai nyonya Gulfrom Nayra, kau akan mendapat banyak pujian diluar dan kesakitan didalam.”
Nayra menatap Afnan, “Kalau begitu tepati juga janjimu untuk melunasi semua hutang ayahku, aku tidak perduli bagaimana kau meyakinkan ayahku, yang jelas aku menikah denganmu karena hutang, jika ayahku masih membayar semua hutangnya lalu untuk apa aku menikah denganmu.”
Sial wanita ini sama sekali tidak bisa ditekan rupanya, aku jadi penasaran sampai mana dia bisa bertahan untuk tetap pura-pura kuat seperti ini.
“Kau mau memerintah diriku hah,” ucap Afnan dengan sedikit tekanan dari nada bicaranya.
“Tidak mana aku berani memerintahmu, tapi bukankah itu adalah kesepakatan awal kita, jadi aku hanya menagihnya, jika bukan karena hutang ayahku, untuk apa aku berada disini, jadi jika ayahku tetap membayar hutang maka aku rasa kita harus membatalkan kesepakatan ini.”
Enak saja sudah nantinya dia hidup menderita lalu ayahnya tetap membayar hutang-hutangnya, ini tidak akan adil untuknya karena itu dia harus mengambil keuntungan dari pernikahan ini.
Setidaknya agar Nayra tetap menjadi waras akan segala tingkah yang akan Afnan lakukan pada dirinya nanti.
“Baiklah aku akan mengurus itu semua, sekarang kendurkan ketegangan diwajahmu kau mau semua orang mengira aku memaksamu untuk menikah denganku hah?”
“Hahaha.. bukankah memang kenyataannya begitu kau memaksa diriku menikah, aku jadi sangsi kau ini gay atau tidak ada wanita yang mau menikah denganmu,” sahut Nayra merasa apa yang dikatakan oleh Afnan sangat lucu.
“Jaga ucapanmu, banyak wanita yang mengantri untuk menikah denganku, aku hanya perlu memilih salah satu darinya,” Afnan mulai terpancing emosi dengan balasan dari Nayra yang tidak pernah Afnan duga.
Dia pikir Nayra akan menerima begitu saja semua perlakuannya tanpa perlawanan dan bantahan seperti ini, ternyata gadis ini menipu dirinya dengan kepolosan wajahnya.
“Oh ya, lalu kenapa kau memaksaku jika memang banyak yang mau menikah denganmu,” ejek Nayra mulai mendapatkan ritme nya untuk membuat Afnan semakin emosi.
“Wah pengantin baru main bisik-bisik, kalian pasti membisikkan malam pertama ya,” Keyra muncul dari belakang membuat Nayra dan Afnan menjauhkan tubuh mereka berdua.
“Heyy Keyra, astaga kau cantik sekali hari ini,” puji Nayra dengan jujur karena saat ini memang Keyra terlihat sangat cantik, kecantikannya begitu natural hari ini.
“Benarkah aku cantik..” sahut Keyra dengan malu-malu lalu mulai duduk disamping Nayra.
“Benar.. kalau tidak percaya tanyakan saja pada kakakmu, iya kan Afnan Keyra sangat cantikkan hari ini?”
Afnan menatap Keyra dan Nayra secara bergantian, “Wajah jelek begitu dibilang cantik, coba sana berkaca yang benar, dia mengatakan itu untuk menyenangkan mu saja,” jawab Afnan sambil tersenyum mengejek pada Keyra.
“Kak Nay lihat kan, dia memang menyebalkan begitu, kenapa kau mau menikah dengannya, dia itu menyebalkan kau tahu itu,” rengek Keyra sudah menempel pada Nayra.
Nayra mengedipkan matanya cepat dia kira Afnan akan kaku juga dengan adiknya, ternyata laki-laki ini bisa bercanda juga ya, pikir Nayra.
Afnan sudah tersenyum karena berhasil mengerjai adiknya, senyuman Afnan tercetak jelas sehingga bisa terlihat oleh Nayra.
Wah dia bisa tersenyum juga aku pikir yang dia bisa hanya marah dan menghujat, laki-laki ini ternyata masih memiliki hati juga.
Nayra mulai berharap bahwa Afnan akan luluh pada dirinya nanti, melihat sikap Afnan dengan adiknya, Nayra yakin jauh dilubuk hati Afnan sebenarnya laki-laki ini adalah orang yang baik.
Karena Nayra mempercayai seseorang yang menyayangi keluarganya pasti memiliki hati yang baik, jadi Nayra mulai menaruh harapan pada keyakinannya itu.
“Percuma kau merengek padanya itu tidak akan membuat dirimu cantik, lihat sampai sekarang tidak ada yang mau dekat denganmu kan,” tambah Afnan lagi yang makin membuat wajah Keyra sudah hampir mau menangis.
“Afnan hentikan, kenapa menggoda adikmu begitu.”
“Sudah Key jangan dengarkan kakakmu ya, kau sangat cantik percaya padaku okey,” Nayra mulai merapihkan rambut Keyra persis seperti seorang kakak pada adiknya.
Dari dulu Nayra memang memiliki keinginan untuk memiliki adik perempuan tapi sayangnya dia hanya memiliki adik laki-laki, jadi ketika bertemu dengan Keyra Nayra seperti menemukan keinginannya yang lama terpendam.
“Waw.. lihat kan sekarang sudah ada lagi yang membelaku, pokoknya kak Nay harus berada dipihakku selalu.”
“Okey..” sahut Nayra dengan senyuman, jika dilihat dari jauh mereka seperti pasangan yang terlihat sempurna semua orang akan iri melihat Nayra.
Afnan yang melihat Keyra yang bisa cepat dekat dengan Nayra merasa aneh, pasalnya adiknya itu sangat susah untuk dekat dengan orang lain, karena itu Keyra sangat sedikit memiliki teman, bahkan yang tergolong teman dekat pun tidak ada.
Melihat Keyra dan Nayra yang tertawa bersama disampingnya tanpa sadar Afnan menarik sudut bibirnya ikut tersenyum.