Aldan mengusap wajahnya frustrasi. Mondar mandir tidak jelas di kamar yang ia tempati. sungguh otaknya buntu seketika saat dua orang yang penting dalam hidupnya membutuhkannya. Ibram sahabatnya da Zee adalah perempuan yang ia cintai seumur hidupnya. Mana yang lebih penting? “Ah, sial!” Aldan menatap ponselnya dan hendak memutar kembali video di mana Zee mengamuk, tapi ia urungkan lagi lantaran hatinya tidak tega dan juga merasa bersalah. Ting pesan masuk dan itu lagi-lagi dari Dokter Natasya. [‘Lo bakal balik hari ini juga, kan?’] Dia harus jawab apa coba? Mengatakan belum tahu atau menetap dalam beberapa hari? Gila, apa ia sanggup tidur nyenyak sedangkan Zee mengamuk di Jakarta. “Gue harus apa,Tuhan?” Sungguh ia sangat bingung ditambah lagi urusan pada pihak berwajib Singapura. Ia

