Gue tertawa, Ayuna hanya memutar bola matanya kesal.
"Kalau mau panggil 'Ay' itu ke cewek lo, jangan gue" ucap Ayuna datar kembali fokus melihat jalanan.
"Gak ah, khusus buat lo Ay itu. Gak bisa ganti lagi gue, udah nama Ay lo yang melekat diotak gue" jawab gue fokus dengan jalanan.
"Serah lo deh" ucap Ayuna.
Sesampainya di rumah Ayuna dan calon mertua gue, Ayuna bergegas melepas sabuk pengamannya dan turun sesudah mengucapkan terimakasih singkat sama gue.
Gue ikut turun karena mau menyapa Mertua gue, enggak enak kalau langsung balik. Gue ngikutin langkah Ayuna menuju teras rumahnya. Rumah calon mertua gue ini gak terlalu luas tapi tingkat dua. Kalau rumah Papa Mama kan, luas tanpa tingkat dua.
"Lah ngapain lo turun juga Bang?" tanya Ayuna keheranan.
"Lah, masa gue gak boleh mampir ke rumah lo sih?" tanya gue, 'Sama rumah calon mertua gue?' kalimat terakhir ini hanya bisa gue ucapkan dalam hati. Kalau diucapkan langsung, yang ada Ayuna malah nggak mau lagi gue deketin.
"Suka-suka lo deh. Gue ngomong sama lo kayak ngomong sama anak kecil, bedanya ngomong sama lo bawaannya emosi melulu" ucap Ayuna mengetuk pintu dan memencet bel beberapa kali terlihat tak sabaran, memang begitulah Ayuna.
Pintu terbuka dan terlihat Bi Yayuk yang tersenyum sambil mengangguk menyapa Ayuna dan gue.
"Bi, Mama Papa ada?" tanya Ayuna.
"Ada di kamar Non, baru pulang" jawab Bi Yayuk.
"Kerjaan melulu yang diurusin" celetuk Ayuna pelan lalu berlalu dari sana.
Ucapan Ayuna tadi bisa gue dengar. Gue memilih tersenyum sambil mengangguk sopan pada Bi Yayuk.
"Silahkan masuk Den Sadam" ucap Bi Yayuk membukakan pintu lebih lebar.
"Permisi yah Bi" ucap gue sopan lalu masuk ke dalam rumah.
"Saya panggilkan Tuan dan Nyonya dulu yah Den Sadam" ucap Bi Yayuk.
"Oh iya Bi, silahkan Bi" ucap gue lagi.
Bi Yayuk berlalu dari sana, Ayuna juga sudah hilang tadi, mungkin sedang mandi dan ganti baju, ini hanya prediksi gue sih.
Gue tersenyum memandang ruang tamu ini, masih seperti beberapa tahun yang lalu sejak gue sering mampir kesini, hanya perlengkapannya yang kadang diganti oleh sang empu-nya rumah.
Gue dan Dea sudah dianggap seperti keluarga juga di sini. Bedanya, Papa dan Mama gue lebih banyak waktu untuk kami berdua. Berbeda dengan Ayuna yang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya karena sibuk bekerja masing-masing.
Dan gue tersenyum lagi memandangi foto dalam bingkai di dinding ruangan ini, beberapa foto keluarga, serta ada foto Ayuna kecil yang sudah chubby dari kecil berada diatas nakas meja. Terkekeh gue angkat bingkai foto itu, memandangi foto cewek yang gue taksir beberapa tahun ini.
"Cantik...." ucap gue pelan, pose Ayuna menggembungkan pipinya dengan lipstik merah dan poninya yang on dengan rambut dikepang dua. Beda jauh dengan masa sekarang yang makin cantik, bagi gue.
"Hah? Siapa yang cantik? Gue cantik Bang?" tanya Ayuna yang tiba-tiba muncul sudah dengan baju lain, baju tidur satin bergambar unicorn pink. Dan rambutnya digulung dengan handuk, sehabis keramas.
Aroma vanila menguar ketika Ayuna berada disini. Aroma yang selalu gue hirup ketika berada didekat Ayuna. Vanila ini sudah menjadi candu bagi gue.
"Iya lo dulu lucu, cantik. Sekarang kebalikannya" ucap gue meletakkan kembali bingkai foto itu, lalu kembali duduk disofa tempat gue duduk tadi.
"Lo mending balik deh, pasti Papa Mama enggak mau turun, capek karena sibuk kerja doang" ucap Ayuna terdengar mengusir. Tapi gue harap maklum. Karena gue tahu kedua orang tua Ayuna seperti apa.
Ayuna melihat ke lantai atas, yang belum ada tanda-tanda orang tuanya akan turun.
"Gak suka lo gue apelin? Suguhin air dulu kek" ucap Bang Sadam protes.
"Bawel ih! Bentar gue ambilin" ucap Ayuna berlalu.
Gue refleks tersenyum melihat gadis montok berisi itu berlalu dari hadapannya. Gue suka ganggu Ayuna, hobby sejak beberapa tahun belakangan ini sih.
Dulu, gue cuek dengan kehadiran Ayuna yang sering mampir ke rumah, hampir setiap hari.
Tapi sekarang, sehari saja Ayuna tidak mampir, rasanya sepi. Ya, gue kesepian kalau dia enggak ke rumah. Gue akui saja sekarang dengan kalian para pembaca Kilo(ve)gram, gue suka Ayuna, bisa dikatakan lebih dari rasa suka, dia first love gue. Dan mimpi akhil baligh gue, ya Ayuna.
Kata orang kan, siapapun cewek yang ada dalam mimpi akhil baligh para lelaki, cewek itu benar-benar jodohnya. Gue harap sih iya.
Tapi gue akui, gue cupu. Enggak bisa bilang gue suka Ayuna. Sebenarnya Adek gue Dea tahu gue, Abangnya ini naksir Ayuna, tapi ia biarkan Abangnya yang berani bicara pada Ayuna. Dea tak ingin ikut campur, soal perasaan.
Itulah alasan gue yang selalu menyediakan camilan untuk Ayuna yang sering ke rumah, dan camilan juga khusus untuk Dea, biar ajak Ayuna kerumah.
Biar Ayuna bergantung ke gue soal camilan, karena hanya soal makanan saja Ayuna mau banyak bicara sama gue.
Selebihnya Ayuna cuek. Papa dan Mama gue juga tahu kok, gue naksir Ayuna. Tapi mereka biarkan gue Anak lelaki kebanggaannya ini berjuang sendiri. Toh gue ganteng, siapa yang enggak mau sama gue? Kecuali mungkin Ayuna sih.
Ayuna gak lebih memandang gue adalah Abang sahabatnya, orang yang baik selalu bersedia memberikannya camilan, apapun camilan yang dia mau gue punya stocknya. Dan Ayuna lebih senang makan coklat, segitu tahunya gue tentang Ayuna, gue gak pernah absen stock aneka macam merk.
Umur gue 25 tahun, beda 2 tahun dengan Ayuna dan Dea. Gue bekerja di perusahaan Papa, sebagai Manager Pemasaran. Kerjaan gue lebih banyak dihabiskan dirumah, karena ya, kerjaan gue cukup santai.
Gue udah punya ide bisnis sih, sama sahabat gue Devan, tapi belum terealisasikan dan bicara serius lebih dalam.
Gue hobby baca novel, lebih tepatnya pembaca setia cerita yang dibuat oleh Ayuna guys. Banyak koleksi buku Ayuna yang dicetak gue beli, tanpa endorse dan minta yah. Gue beli paling sering ya di Gramed, Ayuna gak pernah tahu gue fans semua cerita yang dia buat, dan dia enggak pernah tahu kalau gue juga baca ceritanya. Sebegitu bucinnya gue yah.
Novel-novel itu gue simpan di lemari dan tertutup kardus khusus, dengan sampul dibagian atasnya tanda 'Love' gak akan pernah ada yang tahu tempat penyimpanan pribadi gue ini.
Di kardus itu enggak hanya berisi novel karya Ayuna, ada foto masa sekolah Ayuna, gue kadang curi foto itu dari Dea, foto bagian Ayuna gue potong dan simpan. Dan foto bagian Dea gue kembaliin, meski harus dengan cubitan Dea karena gue enggak menyimpan fotonya, dia marah.
Dari situlah Dea tahu, Abangnya ini menyukai Sahabatnya sejak kecil, Ayuna. Dea dukung gue bersama Ayuna, tapi secara diam-diam.
Kalau terang-terangan takutnya Ayuna malah marah-marah kepadanya. Dea tidak ingin bertengkar hanya karena masalah sepele. Itu sih alasan Dea yang enggak mau bantu gue dekat Ayuna terus.
Dea juga sekarang bilang ke gue, kalau dia bicara dengan Ayuna sengaja dengan sedikit menyentil hati Ayuna karena memang ia ingin sekali membuat Ayuna kembali sehat, segar, dan enak bergerak. Sekarang Ayuna malah tambah membengkak dibagian lengan dan perut. Kalau dibiarkan makin membesar, takutnya Ayuna sakit. Itulah alasannya Dea ingin Ayuna langsing, karena sehat, dan.... Supaya Abangnya makin blingsatan lihat Ayuna makin cantik, ya meskipun Ayuna cantik sebenarnya meski dia berisi dan montok.
Tapi gue setuju sama pemikiran Adek gue yang satu itu, dia mau Ayuna kembali sehat, segar, dan bisa lebih lincah beraktifitas tanpa harus kelelahan karena berat badannya.
Lamunan gue terhenti ketika sapaan kedua orang tua Ayuna menyapa indera pendengar gue.
"Sadam, sudah lama?" tanya Tante Ria (Mamanya Ayuna).
"Enggak kok Tante, baru aja kok" ucap gue tersenyum sopan, lalu berdiri dan mencium kedua punggung tangan 'calon mertua' batin gue dalam hati.
"Sudah minum Dam?" tanya Om Galih (Papanya Ayuna).
"Ayuna lagi ke dapur tadi bilangnya mau bikinin minum Om".
Ayuna datang bersama Bi Yayuk dengan nampan berisi es sirup 4 gelas.
"Nih, bayar! Totalnya 100 ribu" ucap Ayuna meletakkan nampan diatas meja.
"Idih, mahal banget" celetuk gue sengaja membuatnya makin kesal, "Es sirup diwarung makan cuma 5 ribu".
"Disini bayar" ucap Ayuna lalu memilih duduk di kursi khusus satu orang dikanan gue, gue duduk disofa tengah, Mama Papanya Ayuna dihadapan Ayuna duduk bersisian.
Bi Yayuk pamit undur diri kembali ke dapur.
"Diminum Dam" ucap Om Galih.
"Iya Om, siap. Terimakasih" ucap gue tersenyum sambil meraih gelas berisi sirup buatan calon Istri, ceilah.... Calon Istri beneran nih, aamiin, "Sadam minum yah Om, Tante".
"Silahkan Sadam, kaya sama siapa aja" ucap Tante Ria tersenyum ramah.
"Ini Mama Papa mau sibuk lagi kah? Bang Sadam mampir jarang-jarang loh" celetuk Ayuna.
"Papa mau ke ruangan kerja, soalnya deadline besok ini meeting penting. Sadam, Om tinggal yah, maaf banget nih. Soalnya besok Om meeting dan bakalan lembur" ucap Om Galih beranjak berdiri.
"Oh iya Om, silahkan Om" ucap gue, karena gue tahu, Om Galih memang pekerja keras.
"Ditinggal yah Dam. Sorry banget ini yah. Salam buat Papa Mama yah" ucap Om Galih menepuk bahu kiri gue.
"Siap Om, nanti Sadam sampaikan" ucap gue mengangguk.
"Oke, thanks Dam" ucap Om Galih lalu berlalu.
"Papa tuh kebiasaan banget yah, kerjaan melulu yang diurus!" ucap Ayuna kesal, karena gue sebagai tamu ditinggal begitu aja.
Tapi gue harap maklum, toh ini calon mertua, kalau Bapak gebetan bukan Ayuna gue gak bakalan lagi mau mampir ke rumah kalau cuma ditinggal kerja melulu.
"Papa kerja buat kita Na, jangan ngomong begitu sama orang tua" ucap Tante Ria menasihati Ayuna.
"Ya buat kita, kenapa Mama juga kerja? Emang kurang uang yang Papa kasih? Yuna tuh pengen punya waktu sama orang tua Ma, bukan sendirian kayak patung" ucap Ayuna protes.
"Kamu ngomong begitu lagi, Mama potong yah uang jajan kamu" ancam Tante Ria.
"Yuna udah kerja, gak perlu uang jajan kayak anak kecil. Sekarang itu waktunya buat keluarga, bukan main-main ngehabisin duit Mama Papa" ucap Ayuna, "Yuna cuma minta waktu Mama sama Papa, bukan uang".
"Ih ini anak yah" ucap Tante Ria tak nyaman berdebat dihadapan gue mungkin, karena gue dari tadi enggak nyaman karena mendengar perdebatan kedua orang tua dengan Ayuna, Tante Ria memilih berdiri, "Sadam sebentar yah, tadi sore Tante beli kue sengaja emang buat dirumah kamu, titip yah buat kamu bawa pulang Tante ambilkan dulu sebentar".
"Oh iya Tante, terimakasih, Tante" ucap Bang Sadam.
Tante Ria pun tersenyum lalu segera berlalu dari sana. Membuat Ayuna mendengus kesal melihat Mamanya yang seolah tak ingin mendengarkan keluh kesahnya.
"Kalau kurang diperhatiin, kan Papa Mama gue ada Ay" ucap gue tulus dari hati yang terdalam menatap Ayuna yang masih kesal.
"Beda konteksnya!!!" ucap Ayuna makin kesal.
Tante Ria kembali dengan paper bag cukup besar berisi kue, yang Ayuna dan gue juga gak tahu apa isinya.
"Ini yah Sadam" ucap Tante Ria meletakkan paperbag ya diatas meja, "Oh iya, barusan Mama kamu telpon Tante, besok mau pergi sama Ayuna?".
"Iya Tante terimakasih banyak. Sekalian Sadam tadi juga mau tanya sama Tante boleh apa enggak Ayuna ikut" jawab gue sopan, menunggu jawaban dari Tante Ria.
"Boleh kok Dam, soalnya besok Om lembur, Tante mau keluar kota, ada kerjaan disana yang harus Tante handle 3 hari" ucap Tante Ria santai.
"Bisa gak sih sehari aja enggak ngurusin kerjaan, weekend bareng Papa, sama Ayuna?" gue lihat Ayuna terlihat kesal.
"Gak bisa sayang, kamu sama Keluarga Dea saja. Mama belum ada waktu buat cuti".
"Emang kenyataannya Mama dan Papa gak ada waktu cuti buat keluarga. Buat Ayuna".
~BERSAMBUNG~