~
• Author POV
"Dibawa aja, masalah uang transport atau apapun nanti dirinci aja, biar Tante transfer ke rekening Mama kamu yah Dam" Tante Ria tak menggubris protes Ayuna, ia lebih memilih memberikan senyuman manis kepada Sadam, berterimakasih pada lelaki ini karena sudah hadir dalam kehidupan anaknya.
Ya, Ria berterimakasih karena dengan adanya Sadam, setidaknya Ayuna tidak selalu merasa sendirian di sini. Akan selalu ada keluarga Sadam dan Dea disamping Ayuna ketika Ria dan Suaminya ada di sini.
"Nggak usah transfer-transfer! Yuna bisa bayar sendiri!" Ayuna menyahuti ucapan Tante Ria dengan nada judes.
"Ini anak yah!" ucap Tante Ria kembali melotot.
Ayuna memilih pergi dari ruangan ini, keluar rumah.
"Emmm.... Tante, Sadam bujuk Ayuna dulu yah" ucap gue, lebih baik membujuk cewek gue yang lagi marah-marah, enggak biasanya dia se-sensi ini. Lagi kedatangan tamu kali yah? Jadi wajar marah melulu bawaannya.
"Oke, kalau gitu Tante tinggal yah Dam, Tante mau istirahat, besok bangun subuh soalnya. Ditinggal yah Dam, pulang nanti hati-hati" ucap Tante Ria menasihati.
"Siap Tante, terimakasih juga kuenya" ucap gue sambil tersenyum.
"Sama-sama. Tolong jagain Yuna terus yah Dam" pinta Tante Ria, sambil mengusap bahu kiri Sadam, khas seorang Mama yang lemah lembut pada Anaknya.
"Pasti Tante, pasti Sadam jagain" jawab Sadam.
Tante Ria lalu berlalu dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Segera saja Sadam keluar mendatangi Ayuna yang duduk dianak tangga, dan bersandar di pillar besar rumahnya.
Tersenyum, Sadam segera duduk disampingnya. Ayuna menangis, air matanya jatuh ke pipi, gue refleks ingin mengusap air mata itu. Sadam tidak suka cewek yang Sadam cintai menangis, apalagi dihadapan Sadam seperti sekarang ini.
Tapi tangan Ayuna sudah menepis pelan tangan Sadam.
"Don't touch me! " desis Ayuna.
"Jangan nangis...." ucap Sadam, sedikit sakit hati dengan tepisan tangan Ayuna meski tepisan itu lembut. Tapi dia seolah enggan untuk Sadam pegang, wajar sih. Karena emang kenyataannya mereka bukan siapa-siapa.
"Maaf Bang, jangan ganggu gue. Gue lagi pengen sendirian" ucap Ayuna pelan.
"Gue duduk disamping lo gini ganggu yah? Gue cuma mau hibur lo kok Ay" ucap Sadam, berharap Ayuna menahan Sadam disini.
"Makasih Bang udah mau temenin gue. Tapi gue lagi pengen sendiri Bang, Abang pulang aja. Udah malam juga" ucap Ayuna mengusap kasar air matanya.
"Tapi janji stop nangisnya yah, besok kita kan pergi jalan-jalan. Jangan nangis udah masuk sana istirahat. Gue balik dulu yah" ucap Sadam.
~
Ayuna mengangguk membiarkan Sadam untuk segera pulang.
Sadam berdiri, mengusap sebentar puncak kepala Ayuna lalu berbalik. Baru beberapa langkah, langkah Sadam terhenti ketika mendengar ucapan Ayuna.
"Makasih Bang, udah baik banget sama gue" ucap Ayuna.
Sadam berbalik, menyunggingkan senyum manis ikhlasnya itu pada Ayuna. Ayuna dengan matanya yang masih basah dan sembab bisa melihat senyuman tulus itu, senyum yang Ayuna tak tahu, taburan cinta mengudara disana.
Sadam senang, Ayuna berterimakasih tulus padanya seperti sekarang ini, Sadam merasa Ayuna makin bergantung padanya, dan Sadam suka. Suka sekali.
"Sama-sama Ay" ucap Sadam, "Ada yang mau diomongin lagi nggak?" Sadam berharap ada lagi sih yang akan dibicarakan Ayuna padanya, agar dia bisa kembali duduk bersisian dan bicara panjang lebar bersama Ayuna, tapi Ayuna bukan tipe wanita seperti itu. Dia tak suka basa-basi.
Ayuna menggeleng, "Bang, gue boleh peluk lo sebentar gak?".
Sadam merentangkan lebar tangannya pada Ayuna, Ayuna segera berdiri, berlari pelan saja ia sudah keringatan. Segera Ayuna memeluk tubuh tinggi Sadam.
Ayuna memejamkan matanya membayangkan, seandainya ia punya Abang atau pun Kakak perempuan yang bisa menjadi temannya disaat dia kesepian dirumah.
Andai Bang Sadam ini adalah Kakak Kandungnya. Mungkin, Ayuna akan merasa hidupnya lebih berwarna. Tidak seperti sekarang. Kesepian, dan sendirian sudah biasa bagi Ayuna yang anak tunggal.
Sadam ingin sekali mendekap tubuh gadisnya ini erat. Sadar ia bukan siapa-siapa, ia biarkan Ayuna memeluknya erat. Ia hanya mengusap rambut Ayuna lembut. Ia tersenyum senang karena bahagia Ayuna memeluknya.
"Makasih Bang, lo udah kayak Abang gue asli. Cuma lo yang enggak ilfeel sama gue yang kaya gini" ucap Ayuna menengadahkan wajahnya, menatap wajah Sadam, Sadam tersenyum sambil mengangguk.
"Iya Ay, sama-sama" ucap Sadam tak mampu bicara lebih lagi, jantungnya sudah joget disko sejak Ayuna peluk dia diawal tadi.
"Lo kaya habis olahraga aja deh Bang" Ayuna mengurai pelukannya.
Sadam mengernyit keheranan, habis olahraga? Siapa? Ayuna masih waras gak sih? Dari tadi Sadam hanya berdiri dan enggak olahraga ataupun berlari kencang.
"Jantung lo kaya habis lomba lari aja" ucap Ayuna dengan wajah keheranan. Polos banget, Sadam sudah hampir ingin mencubit pipi chubby gadisnya ini.
"Iya, habis olahraga" jawab Sadam asal.
"Perasaan lo gak ngapa-ngapain deh. Kok aneh ya" ucap Ayuna keheranan.
"Efek gue sering nge-gym Ay, jadinya gini. Senam jantung sendiri. Sudah biasa gue gini mah" ucap Sadam, "Apalagi kalau sama lo kaya gini" ucap Sadam dalam hati.
"Ya udah Bang, balik gih. Besok kan lo jemput gue lagi" ucap Ayuna.
"Oke Ay, balik ya" ucap Sadam.
Ayuna mengangguk, dan memandangi Sadam yang sudah masuk dan memberikan klakson mobil sekali padanya. Ayuna melambaikan tangan sambil tersenyum kikuk. Mobil Sadam pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah Ayuna.
Ayuna pun masuk ke rumah dan bealu ke kamarnya. Tak perlu keluar kamar lagi, karena Mama dan Papanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Di dalam kamarnya, Ayuna membuka lemari khusus berisi snack dan di kamar Ayuna pun tersedia kulkas kecil untuknya. Ayuna sibuk mengecek stock snack favoritnya yang akan habis. Ternyata besok memang habis. Dan Ayuna akan list semua snacknya, ia berlanjut menuju kulkas kecil, dibukanya kulkas tersebut.
Ia mengambil sekaleng minuman cola dari sana, dan menenggaknya hampir setengah dari isi kaleng, emosi membuatnya dehidrasi. Stock minumannya juga sudah hampir habis. Ayuna kembali menutup kulkasnya dan berjalan menuju springbed queensizenya. Duduk dan menghadap langsung ke arah kaca riasnya.
Ayuna memandangi wajahnya. Dia cantik, putih, hanya saja ya dia gendut. Ayuna pandangi kaleng soda colanya yang berada ditangan kanannya melalui kaca.
Ayuna segera berlari membuang kaleng minuman itu ke bak sampah dari kamarnya. Ia menatap jijik kearah minuman itu.
"Gara-gara lo gue jadi gendut beginiiiii!" ucap Ayuna kesal menatap bak sampahnya. Lalu kembali berdiri dihadapan kaca riasnya. Tepat diantara springbed dan kaca riasnya.
Pipi Ayuna cukup chubby, tubuhnya tidak terlalu gempal, tapi dibagian pinggul ke bawah, dia sangat gemuk.
"Gue gak bisa beli snack sama minuman soda lagi! Besok gue stok air mineral dingin aja, sama roti tawar" ucap Ayuna masih memandangi wajahnya yang chubby.
Ayuna bergegas membuka handphonenya untuk mencari referensi diet, ia juga mencheckout buku tentang diet lewat aplikasi belanja onlinenya.
Ayuna sudah bertekad, besok dan hari berikutnya dia akan diet. Untuk hidupnya yang lebih sehat, dan yang pasti juga ada sesuatu yang ia ingin capai ketika langsing nanti.
Ayuna ingin menggaet Arka, Arka Gionino. Lelaki yang ia taksir sejak SMA. Lelaki tipe idealnya Ayuna. Dan lelaki yang menolaknya dan mempermalukannya di sekolah. Ya, demi bersama Arka, Ayuna akan berubah menjadi perempuan langsing yang good looking.
~ BERSAMBUNG ~