~
Ayuna sudah siap dengan Dress Sabrina berwarna biru navy selutut, dan bagian belakang bahunya sedikit terbuka, dibagian pinggangnya juga berserut. Ayuna pandangi paha dan pinggulnya yang besar tertutup oleh dress itu, ia terlihat cukup ramping.
Tersenyum, Ayuna melanjutkan kerjaannya untuk mempoles wajahnya. Ia hanya mengenakan lipstik ombre, mascaara, dan pensil alis sedikit. Ayuna tak suka kelihatan menor. Nanti dikira dia Ibu-Ibu anak 2 dengan bodynya yang begini.
Selesai berdandan, Ayuna segera membuka lemari berisi sepatu dengan sol yang tinggi tebal ada juga flat shoes dan sandal tali sol tinggi, ada beberapa heels lancip, tapi Ayuna sudah tidak pernah menyentuh heels lancip itu setelah berat badannya seberat ini. Terakhir kali memakainya di acara perpisahan SMA saja.
Ayuna memilih untuk mengambil sandal tali bersol tinggi, sandal yang biasa dipakai anak-anak ootd. Ayuna memilih mengambil yang berwarna putih, karena ia akan memakai tas berwarna putih juga.
Setelah mengambil dompet dan handphonenya yang ada di atas nakas meja riasnya. Ayuna pun memasukan handphone dan dompetnya ke tas selempang putih yang ia jadi pilihannya untuk dipakai.
Setelah selesai mematut dirinya dicermin, ketukan pintu terdengar dari luar kamar Ayuna. Segera Ayuna pun membuka pintu kamarnya yang tertutup.
Bi Yayuk tersenyum melihat Nona majikannya ini, yang berdandan sederhana tetap cantik.
"Non, Den Sadam sudah ada di ruang tamu Non" ucap Bi Yayuk.
"Ok Bi, tolong bilang tunggu sebentar yah Bi" ucap Ayuna tersenyum pada Bi Yayuk.
"Gak usah dipoles lagi Non, udah cantik banget" ucap Bi Yayuk tersenyum menggoda Ayuna "Bibi ke Den Sadam dulu yah Non".
"Iya Bi, makasih Bi Yayuk pujiannya. Bibi juga cantik daripada Ayuna" ucap Ayuna tersenyum lalu menutup pintu kamarnya lagi.
~
Bi Yayuk menghampiri Sadam yang masih jatuh cinta dengan potret Ayuna dalam foto. Ia senyam-senyum sendiri, dan kaget sekali ketika menoleh Bi Yayuk sudah disana, Bi Yayuk juga tersenyum.
"Cantik yah Bi" ucap Sadam cengengesan, takut Bi Yayuk mengadu pada Ayuna kalau Sadam seperti orang gila senyam-senyum sendiri hanya karena melihat foto Ayuna.
"Cantik banget Den. Non Ayuna memang cantik" ucap Bi Yayuk, "Den Sadam naksir Non Ayuna yah sampai tadi ngelihat foto Non Ayuna kayak begitu?".
"Ah, enggak Bi. Ayuna sama seperti Dea, sama-sama Adeknya Sadam" ucap Sadam takut ketahuan Bi Yayuk. Cintanya cukup dalam hati saja. Tak usah orang lain tahu.
"Kelihatan kok Den, Bibi bisa tahu ya karena Bibi sudah pernah merasakannya. Tatapan Den Sadam ke foto itu, persis seperti Almarhum suami Bibi pandang Bibi pas zaman pacaran dan setelah nikah. Tatapan penuh cinta" ucap Bi Yayuk tersenyum.
"Wah, gak bisa bohong sama Bibi nih. Iya Bi, tapi Ayuna jangan sampai tahu yah? Ini rahasia kita berdua" ucap Sadam.
"Jangan sampai tahu apa Bi?" tanya Ayuna yang sudah ada diatas mereka berpegangan dengan sisian tangga rumahnya.
Sadam terperangah melihat Ayuna yang hari ini terlihat cantik sekali. Make up sederhana dan dress navy-nya hari ini membuatnya makin bersinar.
"Enggak apa-apa Non, ini Den Sadam minta rahasiain sesuatu" ucap Bi Yayuk.
"Iya, rahasiain apa Bi? Soal apa?" Ayuna melangkah cepat hingga sudah turun ditangga paling bawah. Menatap Sadam yang cengengesan dan Bi Yayuk yang senyam-senyum.
"Bibi...." panggil Ayuna dengan nada yang biasanya ia keluarkan ketika sudah mulai marah.
"Rahasia ya nggak bisa Bibi kasih tahu Non, kan rahasia Den Sadam sama Bibi" ucap Bi Yayuk.
"Hmm gitu, oke deh Bi. Kita mau berangkat yah Bi" ucap Ayuna berpamitan pada Asisten rumahnya.
"Iya Non, hati-hati Non Ayuna" ucap Bi Yayuk.
"Iya Bi, makasih. Ayo Bang!".
Sadam bergegas berpamitan juga pada Bi Yayuk lalu mempersilakan Ayuna masuk ke mobil duduk disampingnya.
Ayuna menatap curiga pada Sadam yang mulai senyum-senyum juga.
Tapi Ayuna tak ambil pusing ia masuk ke dalam mobil, dan memasang seat beltnya. Sadam menutup pintu mobil tempat Ayuna duduk. Ia berputar dan masuk ke kursi kemudi, memasang seat beltnya dan mulai menjalankan mobilnya.
"Ngerahasia-in apa sih lo sama Bi Yayuk, hah?".
"Rahasia, lo gak boleh kepo" jawab Sadam santai.
"Bisa gak sih jangan nyebelin?" tanya Ayuna kesal membuang napasnya kasar dan menatap ke jalanan.
"Lah gue enggak nyebelin Ay, gue kan emang begini kalau sama lo?".
"Tau ah gelap!".
Mobil Sadam sudah masuk ke pekarangan rumah keluarganya. Tante Dewi dan Dea sudah menunggu di kursi depan rumah.
"Pa, cepetan Pa. Bang Sadam sudah datang" panggil Dea memanggil Papanya.
Om Har keluar dengan setelan santai khas baju lengan pendek warna putih, serta celana jogger hitam selutut, beliau hanya membawa dompet dan ponselnya.
Ayuna turun dari mobil bersama dengan Sadam. Ayuna dengan sopan menyalimi tangan Om Har dan Tante Dewi.
"Ayuna, lo duduk di depan aja sama Bang Sadam, Papa Mama di tengah, gue paling belakang aja" ucap Dea sudah membuka pintu tengah untuk masuk ke kursi paling belakang, tapi Ayuna sudah mencekal lengannya.
"Enggak mau. Gue aja di paling belakang lo di depan Dea!".
"Ih apaan sih, gue sambil rebahan enak dibelakang" ucap Dea menepis pelan lengan Ayuna dan masuk ke kursi belakang.
Ayuna berdecak kesal melirik ke arah Sadam yang menahan senyumnya.
"Sudah, Bilqis di depan saja sama Bang Sadam. Biar Tante sama Om di belakang aja yah" ucap Tante Dewi mengusap bahu Ayuna lembut.
"Ini enggak Om aja yang di depan nih?" Ayuna ingin memastikan sekali lagi.
"Enggak Bilqis, kamu saja" jawab Om Har mempersilakan Istrinya masuk duluan, lalu ia juga masuk.
Sadam sudah membukakan pintu lagi untuknya, mau tak mau Ayuna pun masuk dan duduk disamping Sadam yang akan fokus menyetir.
"Makasih" ucap Ayuna lalu masuk ke dalam mobil.
"Sama-sama Ay" ucap Sadam tersenyum senang ia pun masuk ke kursi kemudi.
Mobil pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah keluarga Dea.
"Kemana Pa?" tanya Sadam sambil fokus menyetir.
"Ke Galaxy Mall aja, Bang" jawab Om Har.
"Siap Bos!!!" ucap Sadam segera mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di Mall, mobil sudah terparkir sempurna dibasement mall. Mereka pun berjalan beriringan layaknya keluarga harmonis dengan 3 anak.
Tapi Sadam sengaja membuat Mama, Papa, dan Dea berjalan duluan, dan ia bersisian dengan Ayuna. Ketika Ayuna hendak menyusul Dea, lengannya dicekal dan digenggam oleh tangan Sadam.
"Ihh Bang Sadam apaan sih? Ngapain pegang-pegang gue gini coba" tanya Ayuna melotot tajam pada Sadam yang sejak tadi senyam-senyum seperti orang gila.
"Kayak gini kalau mau dikira orang kita saudaraan Ay" Sadam makin memper-erat genggamannya.
"Jangan kayak gini Bang, gue malu tau dilihatin orang-orang tuh!".
"Gapapa, ada gue" Sadam tak menggubris ucapan Ayuna, bahkan ketika Ayuna berusaha melepaskan genggaman tangannya, Sadam makin memper-erat genggaman itu.
Tante Dewi dan Om Har juga terlihat santai ketika melihat Sadam yang menggenggam erat tangan Ayuna. Dalam hati mereka berharap semoga Ayuna menjadi menantu mereka. Karena sangat terlihat sekali, Sadam berubah drastis karena Ayuna.
Sadam yang dahulu adalah Sadam yang jutek dengan lingkungan sekitar. Ya, dia memang mengenal Ayuna, hanya dibeberapa momen saja Sadam mau berkumpul weekend bersama Ayuna, Papa, Mama, dan Dea. Tiap weekend orang tuanya, Dea, dan Ayuna yang pergi. Sadam hanya sibuk dengan dunianya.
Entah ditahun keberapa, perhatian Sadam teralihkan oleh sosok Ayuna. Yang makin kesini makin cantik, meski dengan tubuhnya yang sedikit berisi, dan dibeberapa bagian tubuhnya yang membesar, Sadam makin tertarik dengan Ayuna.
Sadam berani mengatakan kalau ia menyukai Ayuna dihadapan Papa dan Mamanya. Respon mereka? Ya pasti mendukung Sadam.
Karena memang Papa dan Mamanya Sadam sudah kepikiran untuk menjodohkan Sadam dengan Ayuna.
Tapi belum waktunya niat mereka disampaikan kepada teman mereka yaitu orang tua Ayuna, karena belum tepat waktunya.
~ BERSAMBUNG~