~
"Makan dulu yah?" ucap Om Azhari.
"Ok Pa" ucap Mama Dewi dan Dea berbarengan.
"Bilqis, Sadam gimana? Makan dulu yah?" tanya Om Azhari.
"I, i, iya Om...." ucap Ayuna.
"Kita makan beda resto Pa, dia gak suka makanan favorit Papa, Mama, sama Dea" ucap Sadam cepat.
"Kata siapa? Suka kok" ucap Ayuna heran.
Sadam memberi kode agar Papanya paham maksud perkataannya, Om Azhari mengangguk satu kali.
"Ya sudah, Papa, Mama, sama Dea makan di sana, kamu sama Bilqis makan-makanan favorit Bilqis kalau begitu" ucap Om Azhari.
"Tapi Om, Bilqis bisa kok ikut makan disana, Bilqis gak pilih-pilih makanan" ucap Ayuna, "Biasanya juga gitu kan De?" Ayuna berharap Dea membantunya.
"Lo sama Bang Sadam aja Na, makanan favorit kita beda sama lo. Biasanya pas Bang Sadam gak ikut kan kita ikut makan makanan kesukaan lo, sekarang lo ada temennya, Bang Sadam suka makanan kesukaan lo" ucap Dea menatap ke arah Bang Sadam memberi kode jika ia membantunya. Dan minta imbalan setelah ini.
"Ya sudah, Bilqis sama Sadam yah. Nanti ketemuan disini lagi" ucap Tante Dewi.
"Tapi Tante, Bilqis kan...." ucapan Ayuna terhenti karena Sadam sudah menggenggam tangan halus Ayuna menuju ke restoran cepat saji favorit Ayuna.
"Lo suka makan-makanan disini kan? Sama. Gue juga suka pedes, apalagi pink lavanya nyegerin ke tenggorokan. Yuk" ucap Sadam.
Ayuna melepas paksa pegangan tangan Sadam.
"Berhenti kayak gini Bang ihh!" ucap Ayuna sedikit kesal.
"Kenapa? Lo gak suka?" tanya Bang Sadam.
"Jangan kayak gini, gue bisa salah paham. Gue bisa jalan sendiri tanpa perlu lo gandeng-gandeng" ucap Ayuna berjalan lebih dahulu masuk ke dalam restoran.
Ayuna berdiri di barisan nomer 3, ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu, sambil membaca menu yang terpampang dibagian atas para pelayan yang merangkap sebagai kasir lengkap dengan pakaian khas dan logo restoran cepat saji ini.
Sadam ikut berdiri disamping Ayuna. Ayuna menyadari kehadiran Sadam, namun ia biarkan Sadam disini. Selagi tidak mengganggunya dengan meng gandeng-gandeng tangannya seperti anak kecil saja.
Tibalah giliran Ayuna dan Sadam memesan.
"Mba, paket fire chicken doublenya 2, sama pink lava ukuran besar 2. Sama kentang gorengnya 1 yah. Berapa?" tanya Sadam.
"Semuanya jadi seratus empat puluh lima ribu lima ratus rupiah, Kak".
Ayuna belum memesan, tapi Sadam sudah memesankannya untuknya dan Sadam.
"Ok ini Mba" Sadam berikan dua lembar uang seratus ribu.
Mba kasir itu segera memberikan uang kembalian dan struk belanja, "Nomor antrian ada di struk, nanti kami panggil ketika sudah siap yah Kak. Terimakasih banyak".
"Siap Mba, terimakasih" ucap Sadam segera menatap Ayuna.
"Kak, ini teman saya minta nomor w******p boleh gak?" ucap seseorang disamping Mba kasir yang tadi masih senyum-senyum pada Sadam.
"Yuk Ay" ucap Sadam tersenyum.
"Ih malu-maluin gue lo!" ucap Mba kasir yang kaget melihat Ayuna yang berdiri disamping Sadam. Wanita yang menjadi pacar Sadam memang cantik, tapi.... Gendut.
"Ih udah punya pacar" celetuk teman Mba kasir tadi.
Tanpa peduli dengan ucapan selanjutnya, Ayuna memilih berjalan lebih dulu untuk mengambil tempat duduk diujung dekat jendela, yang menatap lapangan parkir di luar.
"Kenapa sih, mesti manggil-manggil Ay, orang salah paham jadinya" ucap Ayuna buka suara ketika Sadam duduk dihadapannya.
"Lah, lebih bagus begitu dong? Gue gak mau dicap buaya" ucap Sadam santai bersandar pada kursi, sambil tersenyum melihat wajah Ayuna yang kesal.
"Coba panggil Ayuna aja, atau Bilqis. Jangan Ay dong Bang" ucap Ayuna sudah capek berhadapan dengan Sadam bawaannya naik darah terus.
"Terus apa? Panggilan Ay itu udah melekat dalam kepala gue Ay. Gak bisa diganti. Kecuali...." ucapan Sadam sengaja menggantung 'Sayang atau Istriku' ucap Sadam dalam hati.
"Kecuali apa? Kecuali apa coba? Jadi gue ini gak enak Bang, udah enggak cantik, gendut lagi. Lo yang kayak gini jadi incaran banyak cewek. Lo manggil gue kayak tadi orang salah paham. Dan endingnya? Lihat gue dari bawah sampai atas. Gue yang gini Pacar lo? Jauh banget kayak langit dan dasar palung laut".
"Biarin aja, toh gue enggak perduli" ucap Sadam santai.
"Gue insecure Bang. Please ngerti dong Bang" ucap Ayuna.
"Ya udah, kalau lo insecure gue panggil Ay tanpa status. Kita resmiin aja yah?".
"Apaan sih!" ucap Ayuna kaget dengan ucapan Bang Sadam.
"Nomor antrian seratus satu" ucap Mba kasir sedikit kencang.
Sadam memandang struk nya, benar, ini struk pesanannya.
"Gue ambil dulu makanannya, lo disini aja yah Ay" ucap Sadam berdiri lalu menuju ke tempat pengambilan makanan pesanannya.
Ayuna pandangi punggung tegap dengan badan atletis milik Sadam. Ya, Sadam memang ganteng, ganteng banget. Sadam mirip dengan Teuku Ryan, suami dari youtuber Ria Ricis. Tapi versi lebih tinggi dan tegap lagi.
"Ngelamunin apaan Ay? Serius banget" tanya Sadam sudah meletakkan makanan dan minuman ke atas meja.
"Eh? Gak ada Bang, gak ada" jawab Ayuna kaget.
"Yuk makan" ucap Sadam menahan senyumnya melihat wajah kebingungan Ayuna.
Ayuna pun mengikuti ucapan Sadam untuk segera memakan makanannya. Ia makan dengan tenang berusaha tak terpancing dengan tatapan-tatapan wanita yang menatap ke arahnya. Berusaha untuk fokus dengan makanannya.
"Kenapa muka lo begitu?" tanya Sadam melihat wajah Ayuna yang terlihat tidak nyaman.
"Dilihatin cewek-cewek yang naksir lo" ucap Ayuna santai.
"Tau darimana lo mereka naksir gue?" tanya Sadam terkekeh menertawakan ucapan Ayuna.
"Kelihatan lah, orang mereka lihat kesini melulu. Mereka tuh kalau enggak nge-ghibah gue, ya elu Bang. Kok bisa jalan sama buntelan kentut begini" ucap Ayuna.
"Gue suka kok, dan enggak masalah bagi gue selagi sama lo" ucap Sadam santai.
"Becanda lo gak lucu Bang".
"Gue serius, masa iya gue kayak gini lagi becanda?".
"Udah ah, cepetan makannya, lo yang bayar yah?".
"Buat lo apa sih yang enggak Ay?" Sadam tersenyum manis.
Untung lo Abangnya Dea Bang, kalau bukan, gue udah naksir kali....
Ayuna menggeleng-gelengkan kepalanya menyangkal pemikirannya tadi.
"Mau nambah? Gelang-geleng begitu kenapa si?".
"Enggak Bang" jawab Ayuna.
~
Keluarga Sadam sudah berkumpul ditempat yang mereka janjikan setelah makan.
Dea sejak tadi senyam-senyum melihat Ayuna yang mengekor dibelakang Sadam seperti anak ayam dengan induknya.
"Ngapa muka lo kayak gitu?" tanya Ayuna berbisik pada Dea.
"Lo kayak anak ayam lagi jalan sama induknya ayam, dibelakang Bang Sadam melulu" bisik Dea.
"Terus, gue gandengan sama Bang Sadam gitu?".
"Boleh, kalau lo gak keberatan" ucap Dea.
"Bilqis, Dea, temenin Mama belanja baju yuk?" ajak Tante Dewi.
"Ok Ma, Dea satu yah?" Dea memeluk manja Mamanya.
"Enggak ah, kamu udah belanja online baju, jangan kira Mama gak tahu yah" ucap Tante Dewi.
"Idihh Mama, Dea cuma beli baju harga merakyat doang kemarin" ucap Dea.
"Udah ayo temenin. Papa sama Sadam keliling aja dulu yah...." ucap Tante Dewi.
Tante Dewi berjalan di sebelah kiri, Ayuna ditengah, dan Dea di sebelah kanan, mereka berjalan beriringan bertiga. Persis seperti Ibu dengan dua anaknya.
"Buat apaan lo beli gaun?" tanya Ayuna keheranan.
"Buat reunian, masa lo lupa sih? Sabtu depan kan kita reuni SMA. Bukannya lo udah gue kasih tahu? Kok lo lupa sih Ayuna" ucap Dea kesal dengan sifat pelupa Ayuna yang masih kumat.
"Malam minggu nanti? Yang di grup w******p rame kemarin?".
"Iyaa atuh Ayuna, masa lo lupa sih?".
"Gue lupa" jawab Ayuna santai, ia juga tidak berminat untuk datang, tapi Dea datang.
"Lo gak berniat mau absen kan?" tanya Dea menebak isi pikiran Ayuna.
"Gue gak ikut lah" ucap Ayuna.
"Idih ikut lah Na, masa iya gue pergi sendiri?" tanya Dea.
"Minta anter Bang Sadam, biar lo gak dikira jomblo" celetuk Ayuna asal.
"Wahh bagus juga ide lo, kita berangkat bareng Bang Sadam. Ntar lo ditemenin Bang Sadam. Asik banget nih. Gue izin sama Valdo buat ajak Bang Sadam ah" ucap Dea.
"Gue kasih ide lo berdua perginya. Gue enggak ikut" ucap Ayuna.
"Lo sahabat gue gak sih Na?" tanya Dea kesal.
"Gue enggak mau datang, biar pun lo paksa" ucap Ayuna.
"Gue bakalan datang ke rumah lo, lihat aja lo" ucap Dea.
"Tinggal kunci pintu pagar sama pintu rumah".
"Ok, gue marah" ucap Dea beralih berjalan ke kiri, bersebelahan dengan Mamanya, sehingga posisinya berubah Tante Dewi berada di tengah-tengah Ayuna dan Dea.
"Apaan sih lo De, kayak anak kecil" ucap Ayuna.
"Ada apa Bilqis, Dea? Kok malah berantem sih?" tanya Tante Dewi.
"Ini Ayuna diajak reunian SMA gak mau ikut. Padahal kan acara ini positif Ma" ucap Dea, "Udah berapa tahun kita enggak ketemu sama teman satu SMA, satu kelas juga".
"Bilqis kenapa gak mau ikut?" tanya Tante Dewi.
"Males Tan, Bilqis malu" ucap Ayuna.
"Ngapain malu? Kan teman sekolah?".
"Gak ada kenangan yang manis-manis di SMA Tante, dari dulu Ayuna kan dibully melulu".
"Kamu cantik loh Bilqis, dulu ya emang dekil, sama kok, Tante dulu juga dibully, malah Tante hitam loh badannya, tapi Tante balas dengan perawatan, jadi cantik, reunian banyak yang ngajak jalan Tante loh".
"Ya kan Tante cantik, hitam bisa di rubah dengan perawatan. Gendut gini gimana ngubah nya, sedot lemak kan mahal" ucap Ayuna.
"Yeee masih aja dong-dong lemotnya juga, ya lo diet lah! Kalau enggak mau dibully ya lo diet, lo cantik lo langsing semua cowok di SMA kepincut lah sama lo" Dea menasihati Ayuna.
"Ya ini gue lagi diet, enggak belanja stock snack. Udah berusaha ini Dea ih!" ucap Ayuna kesal.
"Yaudah, konsisten, lo diet. Ntar gue temenin, gue bantuin" ucap Dea.
"Temenin jogging yah?".
"Gue punya mentor yang cocok bimbing lo jadi langsing cantik dan good looking" ucap Dea.
"Siapa? Siapaaaa?" tanya Ayuna antusias.
"Bang Sadam, dia kan juga jago olahraga" ucap Dea.
"Ya bukan Bang Sadam juga kali. Tiap hari gue ketemu dia melulu, dirumah lo, bosan. Yang lain ada?" tanya Ayuna.
"Ada, namanya Azhari".
Wajah Ayuna mengingat-ngingat nama ini. Seperti pernah dengar. Dan ia langsung berubah ekspresi. Dengan melotot ia bicara.
"Itu sama aja, Abang lo. Sadam Azhari tipuan lo gak mempan Dea Azhariiiii".
Dea hanya bisa tertawa mendengar ucapan terakhir Ayuna.
~ BERSAMBUNG ~