"Bilqis mau baju yang mana buat reuni? Pilih aja Tante yang bayar" ucap Tante Dewi sesampainya di Butik.
"Ah, enggak usah Tan. Bilqis pakai baju yang ada aja Tan" ucap Ayuna sungkan. Keluarga Dea ini keluarga-able keluarga impiannya.
Sayangnya, keluarga Ayuna kurang harmonis. Orang tua Ayuna sibuk bekerja, tak peduli dengan Ayuna. Dan apa yang dilakukannya setiap hari, banyak momen yang hilang dan berlalu begitu saja.
Dan karena Reuni ini juga, Ayuna takut flashback. Bayang-bayang masa lalu yang cukup 'Suram' bagi Ayuna. Dia diejek, dihina, dan Ayuna trauma akan hal itu.
Dea tidak tau perasaan Ayuna sebenarnya ketika teman sekolahnya mengejek Ayuna, hatinya terluka dan ia merasa makin kerdil. Ya, pantas saja mereka menghinanya, memang begitu kenyataannya.
Gendut, dekil, overweight, dan lain-lain yang menyakiti hatinya.
Ayuna tak bisa menolak kali ini, berusaha mencari alasan untuk tidak datang ke Reuni, karena Dea sudah memberikan ultimatum untuknya.
Siapa sih? Yang gak mau datang ke Acara Reuni? Bertemu teman-teman lain yang dulu berbagi canda, tawa, suka-duka, saling contek-mencontek berbagi jawaban ulangan harian-bulanan, bahkan ulangan tengah semester.
Masa-masa berkesan yang tak akan terlupakan juga mungkin dihukum bersama dibawah tiang bendera, ketika matahari sedang terik-teriknya. Atau dihukum karena datang terlambat, bahkan di-setrap berdiri di dekat papan tulis menghadap teman sekelas yang cekikikan.
Ayuna rindu sebenarnya, untuk satu momen dan lain alasan. Ia takut kembali dibully. Dengan kata-kata yang mungkin makin 'Pedas'.
"Ngelamunin apa sih lo Na?" tanya Dea membuyarkan lamunan Ayuna.
"Ah, enggak enggak. Apaan sih lo".
"Lo aneh tahu gak sih Na. Lo gak mau datang ke Reuni kah? Jadi lo begini? Heran tahu gak sih?".
"Lo aja yang mikir gue aneh. Gue gak kenapa-napa kok".
"Lo berat hati yah ke Reuni?" tanya Dea melemahkan bicaranya melihat Ayuna yang gelagatnya tidak nyaman.
Walau bagaimanapun Ayuna adalah sahabat Dea, sampai kapanpun akan begini kenyataannya. Dea tahu betul Ayuna perempuan seperti apa.
Dea, sayang Ayuna. Sayang sebagai sahabat, bahkan keluarga. Ia berharap sekali Ayuna benar-benar berjodoh dengan Abangnya, Bang Sadam.
Karena Ayuna baik, Dea tahu itu. Tapi, hati dan perasaan seseorang siapa yang bisa memaksa?.
Dea tahu, ada satu nama yang masih terkunci rapat didalam hati Ayuna, meskipun lelaki itu menyakiti hati dan perasaan Ayuna.
Dea tahu, Ayuna tidak nyaman datang ke reuni karena dia. Mungkin Ayuna takut kembali jatuh cinta bahkan lebih dalam dengan lelaki itu.
Teman masa SMP Ayuna, dan Dea juga.
Orang yang pernah menolak Ayuna sejak SMP. Orang yang pernah mempermalukan Ayuna dengan menolak pernyataan cinta Ayuna di sekolah, bahkan sampai SMA lelaki itu tetap mengganggu Ayuna.
"Lo takut ketemu dia?" tanya Dea hati-hati ketika menyebut nama lelaki itu.
Rahang Ayuna sedikit mengeras mendengar ucapan Dea.
"Gue belum kurus De, masalahnya. Kalau kayak gini kan datang percuma. Dia enggak akan lirik gue yang kayak gini" jawab Ayuna jujur.
"Setelah apa yang dia lakukan ke lo bertahun-tahun lo tetap berharap dia naksir lo? Wake up Na, Arka enggak akan suka sama lo. Ingat itu! Kalau pun dia ada niat dekat-dekat lo gak boleh welcome, siapa tahu lo cuma jadi bahan taruhan dia sama anak-anak!" peringat Dea.
"Lo tahu kan De, sampai sekarang pun.... Gue masih berharap dia naksir gue apapun caranya".
"Ya gak usah ngarep dia lah! Lihat lo kalau lo kesana cuman mau dapat notice dari dia doang mah, mending lo gak usah ikut" ucap Dea, "Udah kali Na, lo pergi sama Bang Sadam, tinggal ngakuin aja Bang Sadam pacar lo. Simple" ucap Dea memberikan ide gila.
Ayuna hanya bisa menepuk pelan lengan sahabatnya ini.
"Ya kali gue ngaku-in Bang Sadam pacar gue. Emang sudi dia punya pacar gendut kayak gue?".
"Sudi kok, gue Adeknya juga sudi ikhlas lahir bathin dunia akhirat" celetuk Dea.
"Yang ada malu-maluin Bang Sadam doang, jangan ajarin gue ilmu kehaluan lo deh De, bikin malu ntar".
"Ck! Udah dengerin dan lakuin aja yang gue bilang!" ucap Dea memberikan gaun yang terlihat sangat cantik jika Ayuna pakai, Ayuna menerima gaun yang diberikan Dea.
"Serem banget lo" celetuk Ayuna heran dengan Dea.
Tante Dewi menghampiri Dea dan Ayuna yang masih berdebat, tersenyum beliau menepuk lembut bahu kedua perempuan muda sebaya yang ia sangat sayangi. Meski yang satu bukan anak kandungnya, tapi ia berharap perempuan ini lah yang akan menjadi menantunya nanti.
"Udah pilih bajunya, sayang?" tanya Tante Dewi.
"Oh, udah Tante. Bilqis ambil yang ini aja" ucap Ayuna memilih gaun yang diberikan Dea padanya.
"Ambil lagi sayang, kok cuman satu sih?".
"Dea aja Ma, kalau Na gak mau" ucap Dea cengengesan.
"Enggak, kamu sudah habisin uang belanja online yah, jangan kira Mama enggak tahu pakai uang siapa kamu beli" ucap Tante Dewi menyeramkan.
"Ini Mama kok kaya Mama tiri yah" ucap Dea bercanda.
"Ini Dea ambil yang satunya aja yah Tan, Bilqis udah ambil yang ini. Biar nanti bisa pakai couple-an. Boleh gak Tan?" tanya Ayuna hati-hati takut Tante Dewi salah paham atau menganggapnya yang aneh-aneh.
"Kalau gitu oke deh. Karena Bilqis kamu bisa ambil baju lagi nih" ucap Tante Dewi bercanda, "Ya sudah, Mama bayar sebentar yah De, kamu sama Bilqis duluan aja ke Papa sama Bang Sadam".
"Alhamdulillah, berkat Na yang baik hati, thank you so much Mama, ya sudah kita duluan yuk Na" ajak Dea.
"Terimakasih banyak Tante, Bilqis duluan yah Tante. Terimakasih udah di traktir baju baru" ucap Ayuna tersenyum manis.
"Sama-sama sayangku, udah sana duluan" ucap Tante Dewi.
Ayuna dan Dea bergegas menuju tempat Om Har dan Bang Sadam santai. Ternyata mereka nongkrong di sebuah tempat minuman terkenal.
Ayuna memperhatikan kedua lelaki yang sedang berbicara serius itu, dua lelaki beda generasi yang sama tampannya itu tak menyadari kedatangan Ayuna dan Dea karena mereka sibuk bicara berhadapan.
"Sebaiknya lebih cepat kamu bicara serius Bang, takut dia diambil orang lain. Papa dan Mama merestui kalian berdua" ucapan Om Har terdengar jelas ditelinga Ayuna.
"Sadam enggak mau gegabah Pa, takut dia gak mau dan ngehindar setelah itu" ucap Bang Sadam dengan wajah khawatirnya, "Tips bikin jatuh cinta cewek kayak begitu gimana Pa?".
"Papa, Bang Sadam" Dea segera duduk di hadapan dua lelaki itu.
Menghentikan pembicaraan serius dari kedua lelaki itu.
"Bang Sadam lagi jatuh cinta?" tanya Ayuna penasaran.
"Iya Na, Abang mah jatuh cintanya udah lama, cuman takut ditolak cemen dia mah jadi lelaki" ucap Dea mengompori.
Ayuna tersenyum menanggapi ucapan Dea, Sadam hanya meringis menanggapi ucapan Dea.
"Gak mungkin ditolak kan Bang? Kan Abang baik, ganteng juga" ucap Ayuna menatap mata Sadam telak.
Sadam terkunci dengan tatapan cantik itu, tersenyum, jantungnya makin berdebar tak beraturan. Ayuna dan pesonanya, makin membuat Sadam jatuh cinta berkali-kali.
"Sadam perlu waktu Bil, gak bisa gegabah kata dia sih. Kalau menurut Om ya, harus dihajar aja dulu tembak ceweknya, urusan ditolak belakangan. Yang penting kejar dulu sampai mau" ucap Om Har menimpali.
"Enggak mungkin ditolak kalau sekelas Bang Sadam. Mau dibantuin Bang? Yang mana sih orangnya? Gue kenal gak Bang?" tanya Ayuna bersemangat menggoda Sadam.
"Kepo lo" ucap Dea menyenggol lengan Ayuna, "Yang pasti, kita semua kenal ceweknya".
"Wahh, udah lampu hijau dong. Udah kenal keluarga Bang Sadam. Tunggu apa lagi coba?".
"Masalahnya orangnya disini" celetuk Dea.
"Hah disini yang mana De?" Ayuna celingukan mencari ke sekitar tempat nongkrong.
"Orangnya disini maksud Dea" ucap Bang Sadam.
"Disini mana? Siapa? Yang mana coba Bang?" tanya Ayuna keheranan.
"Disini, dikepala gue" ucap Bang Sadam dengan mata yang menatap Ayuna dan tangan kanannya menunjuk kepalanya sendiri.
"Astagaaa, dikira siapa. Hampir kaget kirain Mba-mba yang jaga stand itu loh" canda Ayuna.
"Ini orang bodo apa gimana, masa gak paham-paham sih di kodein" ucap Dea pelan pada Abang dan Papanya yang lagi menatapnya.
"Bilqis kan emang se-polos itu" ucap Om Har menanggapi anak bungsunya yang bicara ceplas-ceplos itu.
"Calon Kaka Ipar lo" ucap Bang Sadam tanpa suara tapi ucapannya bisa Dea mengerti, yang langsung disetujui Dea dengan anggukan kepala.
~ BERSAMBUNG ~