"Iya, Bilqis mau nggak?".
"Bilqis enggak kepikiran sampai kesana Tan, Bang Sadam udah kayak...." ucapan Ayuna terhenti karena ponsel Tante Dewi berdering.
"Tante angkat telepon dulu Bil, Mama kamu yang telepon nih".
"Loudspeaker aja Tan, Bilqis mau dengar teleponnya Mama" ucap Ayuna.
"Okey" ucap Tante Dewi segera menggeser tombol hijau dan memencet layar 'Loudspeaker' di handphonenya.
'Hallo Mba Wi, maaf ganggu' ucap Tante Ria dari sebrang telepon.
'Hallo Ri, gak apa-apa aku lagi santai kok. Sama Bilqis sama Dea. Kenapa Ri?'.
'Oh Ayuna disana? Oke, gapapa Mba Wi, ini sebenarnya aku gak enak ngomongnya'.
'Iya, kenapa Ri?'.
'Titip Ayuna yah, soalnya aku kayaknya beberapa hari enggak ada dirumah' ucap Tante Ria.
'Oalah, it's okay Ri, gak apa-apa. Nanti aku coba bujuk Bilqis tinggal disini aja selama kamu pergi'.
'Ok Mba Wi, thanks banget yah, titip Ayuna yah Mba? Oh iya, aku transfer yah kebutuhannya Ayuna' ucap Tante Ria, 'Sudah aku transfer Mba, maaf banget Mba Wi, aku ngerepotin'.
'No Ri, jangan. Aku enggak masalah soal Bilqis disini' ucap Tante Dewi.
'Gak apa-apa Mba Wi, aku terimakasih banyak loh Mba, udah mau jagain Bilqis'.
'No, gak usah Ri, gak usah pikir macam-macam. Oh iya, nanti habis kamu pulang, bisa kita ketemu gak Ri?' tanya Tante Dewi.
'Boleh, sekarang aja gimana Mba? Aku berangkat malam ini jam 10 malam' ucap Tante Ria.
'Ok, kita ketemuan di tempat biasa yah Ri, aku siap-siap dulu'.
'Oke Mba Wi, aku tunggu disana yah, bye'.
'Bye Ria....'.
Telepon ditutup. Tante Dewi menarik napas panjang.
"Kapan sih, Mama enggak sibuk kerja melulu" ucap Ayuna kesal.
"Bilqis ngertiin Mama yah. Anggap saja Tante Mama kamu sendiri" ucap Tante Dewi.
"Mama gak punya waktu sama sekali Tan, buat Bilqis. Bahkan acara pentingnya Bilqis pun Mama gak pernah datang" ucap Ayuna.
"Sabar yah Na, sabar...." ucap Dea.
"Dea tolong tenangin Bilqis yah. Mama ada perlu sama Tante Ria. Mama tinggal dulu yah kalian" ucap Tante Dewi.
"Ya udah Ma, hati-hati Ma" ucap Dea berpindah mendekat ke arah Ayuna, menepuk-nepuk puncak kepala Ayuna.
"Tante tinggal yah Bil, jangan sedih. Keluarga kami tetap ada kok buat Bilqis, Tante tinggal dulu yah" ucap Tante Dewi.
"Hati-hati Tante" ucap Ayuna.
"Ok thanks guys" ucap Tante Dewi segera beranjak dari sana.
Tante Dewi segera melakukan ritual mandi dan mengenakan blouse navy, dan rok plisket mocca, tak lupa juga Tante Dewi mengenakan heels bertali mocca setinggi 6 cm. Rambut Tante Dewi di biarkan diikat kuncir separo, menampilkan kesan mudanya. Meski umurnya sudah menginjak 47 tahun, tapi aura awet mudanya memancar jelas. Setelah dirasa siap, Tante Dewi bergegas turun dan meminta supir kepercayaan keluarganya mengantarnya ke restoran langganan Tante Dewi bertemu dengan Tante Ria.
Tante Dewi meminta tempat private room hari ini, dan memesan beberapa makanan dan camilan.
Sambil menunggu kedatangan Tante Ria, beliau duduk santai dan menikmati camilan. Kurang lebih lima belas menit menunggu, Tante Ria datang, mereka pun langsung melakukan ritual perempuan bila bertemu, cipika-cipiki. Seperti ini lah kebiasaan mereka jika bertemu.
"Lama Mba? Maaf yah, tadi agak macet" ucap Tante Ria.
"Gak apa-apa Ri, santai aja. Aku juga gak lama kok sampai disini baru aja" ucap Tante Dewi.
"Tumben kita di ruangan private Mba, mau bicara apa ini, kayaknya penting banget" ucap Tante Ria.
"Udah duduk dulu, makan-makan dulu Ri" ucap Tante Dewi.
Setelah duduk santai berhadapan, Tante Dewi pun mencoba memberanikan diri untuk memulai percakapan. Ini pembahasan penting sih, harus dibicarakan matang-matang.
"Gini Ri.... Aku, berniat ngajak kamu besanan" ucap Tante Dewi.
"Hah? Besanan? Maksudnya Mba Wi, Sadam sama Ayuna?" Tante Ria cukup kaget mendengar ucapan Tante Dewi.
"Iya Ri, karena memang anak aku suka banget sama Ayuna. Kamu ngerti kan suka yang aku maksud apa?" tanya Tante Dewi.
"Aku ngerti Mba, cuma.... Aku takut, Sadam kecewa" ucap Tante Ria.
"Kecewa karena?" tanya Tante Dewi mengerutkan kening.
"Ayuna enggak sesuai ekspektasi Sadam. Mba tau kan, Ayuna pribadi yang seperti apa? Dan Mba Wi pasti ngerti maksud aku" ucap Tante Ria.
"Bilqis sesuai sama ekspektasi keluarga Sadam. Aku, Mas Har, Sadam, Dea. Semua klop sama Bilqis. Aku enggak berharap Sadam nikah sama wanita lain. Karena menurut aku Bilqis pantas sama Sadam. Sadam cinta sama Bilqis Ri, tolong.... Restui niat baik aku, Mas Har, dan Sadam" ucap Tante Dewi.
"Aku setuju banget Mba Wi, aku restui. Cuma, Ayuna tahu rencana ini gak Mba?" tanya Tante Ria.
"Aku belum bisa bicara sama Bilqis, aku mau Sadam sendiri yang bicara soal ini berdua. Sadam enggak berani bicara ini karena dia bilang belum waktunya. Aku mewakili Sadam izin untuk melamar Bilqis" ucap Tante Dewi.
"Aku terima Mba, dengan tangan terbuka, semoga ini semua berkah buat keluarga kita" ucap Tante Ria tersenyum.
Tante Dewi tersenyum, "Aamiin, terimakasih yah Ri, aku janji, Sadam enggak akan menyakiti Bilqis, apapun yang terjadi" ucap Tante Dewi.
"Aku percaya Mba, dan semoga, Ayuna enggak mengecewakan keluarga Mba Wi" ucap Tante Ria.
"Aamiin.... Bilqis enggak akan mengecewakan aku, ataupun keluarga Sadam yang lain" ucap Tante Dewi.
"Aamiin...." ucap Tante Ria.
"Tapi, aku minta satu permintaan Ri. Tolong jangan bahas percakapan kita hari ini sama Bilqis yah, biar Sadam yang urus semua" ucap Tante Dewi.
"Ok Mba, aku enggak akan bahas masalah ini sama Ayuna" jawab Tante Ria.
"Ok Ri, terimakasih" ucap Tante Dewi.
"Terimakasih kembali Mba".
~
Tante Dewi tiba dirumah ketika Ayuna dan Sadam hendak keluar dari rumah, mereka berdua sudah mengenakan pakaian olahraga.
"Ma, Sadam sama Ay berangkat gym dulu yah" ucap Bang Sadam.
"Ok Bang, hati-hati bawa Bilqis" ucap Tante Dewi.
"Siap Mama" ucap Bang Sadam tersenyum, "Yuk Ay".
"Pamit dulu yah Tante" ucap Ayuna tersenyum.
"Ok hati-hati sayang" ucap Tante Dewi.
~
Sadam dan Ayuna sudah tiba di Nuri Gym, sebelum mereka memulai olahraga, mereka menimbang berat badan masing-masing. Awalnya Ayuna bersikeras untuk tidak menunjukan angka timbangan berat badannya pada Sadam. Dengan paksaan dan omelan Sadam, Ayuna mengalah dan menunjukan berat badannya pada Sadam.
Sadam hampir terkekeh ketika ekspresi Ayuna takut menunjukan berat badannya. Namun begitu ia tahan karena tak ingin Ayuna mengira ia menertawakan berat badannya.
Tidak, Sadam tidak berpikiran yang buruk-buruk ataupun aneh soal berat badannya.
Tujuh puluh lima kilogram, Sadam rasa hanya perlu waktu 3 bulanan untuk membuat Ayuna tampil makin cantik. Meskipun di berat badan segini saja Sadam sudah jatuh cinta setengah mati. Apalagi ketika sudah turun berat badan? Makin glowing, shimering, splendid deh wanitanya ini.
"Ayo! Ngelamunin apaan sih lo Bang? Berat badan gue yah?" tanya Ayuna kesal.
"Ah! Enggak, nggak apa-apa. Yuk Ay, pemanasan dulu" ucap Bang Sadam.
Merekapun segera melakukan pemanasan dan melakukan gym bersama-sama. Sesekali Sadam tertawa melihat tingkah Ayuna yang kesal kadang salah menggunakan alat gym.
Banyak pasang mata menatap penuh kagum pada Sadam dan Ayuna, sepasang pasangan yang memulai hidup sehat dengan cara berolahraga bersama.
Setelah kurang lebih satu setengah jam, merekapun mengakhiri olahraga mereka. Ayuna banjir keringat dibagian celana, ia memang fokus dengan olahraga untuk mengecilkan bagian pinggul ke kaki, kakinya terlalu besar daripada tubuhnya yang masih tidak terlalu besar.
Lebih baik ia memperbaiki dari sekarang, sebelum semuanya makin membengkak.
"Yuk Ay, balik" ucap Bang Sadam.
Ayuna mengangguk menyetujui.
"Gue ambil motor gue Bang, jadi nanti pulang gue sendiri aja" ucap Ayuna.
"Jangan Ay, lo capek habis gym. Besok-besok aja ngambilnya" ucap Bang Sadam.
"Gue ngerepotin lo melulu Bang, gak bisa gue" ucap Ayuna.
"Gue suka lo repotin Ay, emang salah?".
"Gak salah Bang, lo gak salah. Cuma gue takut. Kebaikan lo gue salah artiin".
"Emang lo ngartiinnya kaya gimana Ay?" tanya Bang Sadam terkekeh, "Kalau yang dipikiran lo sama kayak gue, ya, jawabannya benar".
Ayuna hanya bisa terdiam. Ia takut ketika ia mengucapkan, Sadam membenarkan.
'Apa Sadam melihatnya lebih dari sekedar sahabat dari Adiknya Dea? Melihatnya sebagai wanita yang patut dikejar cintanya?'.
Kalau Sadam berpikiran seperti itu, Ayuna harus lebih dulu menjaga jarak. Ini bukan karena Sadam Abang dari sahabatnya sendiri. Akan banyak ketidak mungkinan untuknya dan Sadam. Ayuna jauh dari ekspektasi seorang Sadam. Dia hanya gadis 20-an yang masih egois, moody-an, suka marah-marah hanya karena tidak ada sama sekali bagi orang tuanya waktu untuk memperhatikan dirinya layaknya anak-anak yang lain.
Ayuna masih kekanakan untuk Sadam yang sudah dewasa, bukan karena alasan usia. Ia dan Sadam hanya berjarak beberapa tahun.
Tapi karena pemikiran Sadam yang dewasa, ia tahu bagaimana cara menghargai wanita, bahkan memperlakukan wanita dengan amat sangat sopan dan hati-hati.
Itu yang membuat Ayuna takut, takut tidak bisa mengimbangi sosok Sadam. Yang menjadi impian banyak wanita diluaran sana yang jauh lebih sempurna daripada Ayuna.
"Semoga pemikiran gue enggak sama dengan yang lo pikirin" ucap Ayuna bergegas melepas seatbeltnya begitu Sadam sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Ayuna, "Thanks Bang, hati-hati di jalan".
Ayuna bergegas keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa perlu lagi menengok ke belakang untuk memastikan Sadam sudah pulang atau belum.
~BERSAMBUNG~