KLG - 8 (HARI PERTAMA AYUNA DIET)

2172 Words
Hari ini adalah hari pertama Ayuna diet. Ia hanya makan salad buah campur sayur porsi kecil. Bi Yayuk sampai keheranan melihat porsi makan Ayuna yang berubah ini. "Jangan makan sedikit atuh Non, ini Bibi takut Non sakit" ucap Bi Yayuk melihat Ayuna makan sambil mengunyah buah sampai halus, tips makan "Ayuna diet Bi, udah kegendutan" ucap Ayuna santai menikmati salad buah sayurnya, "Bi, minta tolong kupas sama potongan mangga yang dikulkas yah Bi, Ayuna mau bawa ke rumah Dea. Buat camilan teman kerja nulis". "Ini kan ada nasi Non, nanti Bi Yayuk beliin beras diet itu yang merah sama Shiratal.... Shiratal, eh apa ya" ucap Bi Yayuk sambil berjalan kearah Kulkas, mengambil mangga yang diminta Ayuna untuk dikupaskan, ia tak lupa mengambil satu wadah beserta pisau. Setelah mencuci bersih mangga, Bi Yayuk mengupas dan memotong mangga. "Shirataki Bi, Shirataki. Masa iya jembatan di akhirat disebut beras" Ayuna mulai terkekeh mengingat Bi Yayuk mengucapkan beras shirataki tapi salah. "Iya itu Non, ntar Bibi beliin beras itu aja yah, makan nasi. Jangan yang kayak gini aja, enggak kenyang". "Iya Bi, nanti tolong dibeliin enggak usah banyak-banyak Bi, dicoba dulu" ucap Ayuna. "Ok Non, nanti Non pilih yang mana habis Bibi beli nanti yah". "Ok Bi, terimakasih banyak yah Bi, Bibi yang paling ngertiin Ayuna" ucap Ayuna tulus. "Sama-sama Non, Non cantik sekarang Bibi tinggal yah, makan dulu. Bibi mau belanja sebentar". "Hati-hati yah Bi di jalan. Uang belanjanya masih ada?". "Masih Non, masih. Jangan khawatir" ucap Bi Yayuk, "Sudah ya Non, Bibi tinggal, nanti kesiangan Bibi belanjanya". "Oh iya Bi, Ayuna pamit mau ke rumah Dea nanti. Bibi simpan aja barang belanjaannya nanti. Ayuna enggak usah dibeliin snack atau apapun lagi yah, Ayuna diet Bi". "Okedeh Non, siap. Kalau gitu Bibi berangkat dulu assalamu'alaikum". "Wa'alaikumsalam Bi, Hati-hati Bi". "Siap Non" ucap Bi Yayuk masih menjawab ucapan Ayuna. Setelah Ayuna menghabiskan sarapannya, Ayuna pun bergegas menuju kamarnya. Mengambil setelan baju gym nya. Serta mengambil tas mini berisi peralatan mandinya. Ya, Ayuna memilih membawa baju gym dan peralatan mandinya ke rumah Dea. Karena lebih baik nanti setelah bekerja menulis lanjutan ceritanya dirumah Dea sambil menunggu Sadam pulang, ia bisa mandi dari sana saja, lalu menuju tempat gym bersama Sadam. Setelah dirasa siap, dengan baju Sabrina kerut motif bunga kecil berwarna navy dibagian lehernya dibiarkan terbuka hingga bahunya, serta celana jeans ketat hitam Ayuna bergegas membawa satu tas yang lumayan besar tadi. Taklupa, Ayuna mengambil sebuah kotak bekal berisi buah mangga yang sudah disiapkan Bi Yayuk sambil berbincang dengannya tadi, Ayuna akan membawa ini untuk ia makan sambil santai menulis cerita. Makan siang Ayuna sudah memesan lewat aplikasi yang menawarkan jasa menyiapkan makanan sehat dengan kalori yang rendah namun tetap bisa dimakan, dan yang pasti sehat. Ayuna bergegas keluar dari rumah, ia memilih menunggu Sadam yang tadi sudah menchatnya dan mengatakan ia sudah hampir sampai di rumah Ayuna. Tak perlu menunggu waktu lama, mobil Sadam berhenti dan memberi klakson satu kali. Ayuna bergegas berjalan menghampiri Sadam. Sadam yang melihat Ayuna membawa tas lumayan besar keheranan, ia bantu Ayuna memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. "Bawa barbel? Kok berat amat nih tas" celetuk Sadam. "Iya kali bawa barbel Bang, itu bawa baju sama alat mandi. Nanti numpang mandi aja sambil nunggu lo balik kerja" ucap Ayuna. "Oh lo di rumah aja nih? Nunggu gue balik? Gimana kalau lo anter gue kerja? Nanti jadi lo sekalian jemput gue kita langsung ke tempat gym" ucap Sadam. "Enggak ngerepotin lo? Gue bawa mobil lo?" tanya Ayuna. "Gue kerja Ay, enggak ngerepotin lo kok. Justru lo yang gue repotin karena antar jemput" ucap Sadam. "Masalahnya ini kan mobil lo, bukan mobil gue Bang" ucap Ayuna. "Gapapa Ay, santai. Anter gue yah?". "Oke deh, sip!" ucap Sadam. Mereka pun berangkat menuju kantor Sadam, dengan Sadam yang menyetir mobilnya, setelah sampai di kantor Sadam. Ayuna pun bergegas ke arah kursi kemudi. Sebelum masuk ke mobil, Sadam sengaja menarik lengan kanan Ayuna. Membuat tubuh Ayuna berbalik dan berhadapan dengan Sadam. Dan dengan usilnya, Sadam mengacak rambut Ayuna. Rambut Ayuna pun berantakan. "Usil banget sih!" ucap Ayuna kesal membenarkan rambutnya. "Lo cantik kalau diacak gitu rambutnya" ucap Sadam tersenyum. "Udah sana masuk! Nanti telat lo dipotong gaji!" ucap Ayuna. "Enggak lah, gue pegawai rajin. Ganteng pula" ucap Sadam sombong. "Iya lo ganteng, tapi gak pernah gandeng cewek, gak berguna jadinya kegantengan lo Bang" ucap Ayuna. "Dibilang gue lagi naksir cewek! Lo doang yang gak tau". "Iya buruan ditembak nanti keduluan orang nanges" ucap Ayuna dengan menekankan kata 'nanges'. "Gak akan nangis, gue enggak ketikung orang kok, dia juga lagi jomblo. Cuma nunggu momen yang pas aja buat nembak" ucap Sadam santai. "Udah ah sana, gue mau balik nih, gue juga harus kerja" ucap Ayuna, "Mau cari inspirasi". "Ya sudah, berangkat. Hati-hati Ay" ucap Sadam "Salim dulu sama gue lo". Sadam ingin mengusili Ayuna lagi. Dengan wajah dibuat terpaksa Ayuna meraih tangan Sadam, dan ketika hendak mencium tangan Sadam, Sadam segera mencium tangan Ayuna. Belum sempat Ayuna tersadar, Sadam bergegas berlari sambil kepalanya masih mengarah kepada Ayuna. Ia terkekeh pelan. Asyik juga mengusili, gadis polos seperti Ayuna. "Awas yah lo, Bang Sadam!!!" teriak Ayuna kesal. Sesudah masuk di lobby kantor, Sadam menghentikan acara larinya dari Ayuna, ia melangkah ringan ke arah ruangannya. "Siapa tuh yang ngantar lo Dam? Gebetan lo?" tanya Guntur, teman satu divisi Sadam. "Kepo lo" ucap Sadam senyam-senyum. "Idih, kesambet setan tahu rasa lo!" ucap Guntur kesal. "Dia calon Bini gue" ucap Sadam. "Tipe lo yang montok montok yah Dam? Tapi by the way, cantik yah calon bini lo". "Sekali lagi lo shamming cewek gue, gue bikin keseleo bibir lo" ucap Sadam mengancam. "Ya Allah, kejam bener lo Dam. Tapi setahu gue lo gak pernah post foto cewek lo di Insta sama Status WA" ucap Guntur. "Gue gak mau cewek gue jadi konsumsi publik". "Ceilah, gaya lo yah" ucap Guntur. "Gue belum jadian, doa'in dia mau sama gue" ucap Sadam. "Anjir lo, gue kira udah jadian dan udah mau tunangan, udah persiapan nikah. Ternyata jadian aja belum" ucap Guntur. "Ya gue belum berani nembak, takut ditolak terus dia menjauh" ucap Sadam. "Sejak kapan lo, naksir dia?" tanya Guntur kepo. "Udah lama, dia masih pake seragam sekolah juga gue udah naksir" ucap Sadam. "Gue doa'in deh biar cepet jadian lo berdua" ucap Guntur. "Aamiin, makasih Tur" ucap Sadam tersenyum. "Traktir gue ngopi Bro" ucap Guntur. "Ujung-ujungnya traktir dong. Ada udang dibalik bakwan lo Tur, sialan" ucap Sadam. "Ya kali udah di do'ain gini lo enggak mau traktir, dosa lo Dam" canda Guntur. "Ya udah, naroh tas dulu. Lo pesen duluan aja, 5 menit lagi gue nyusul" ucap Sadam. "Beneran loh ya, kalo lo sampe bohong, gue sumpahin lo gak nikah sama cewek lo" ucap Guntur. "Gila lo! Kalau nyumpahin jangan seganas itu dong" ucap Sadam berlalu. "Awas lo kalau bohong beneran gue sumpahin" ucap Guntur sebelum Sadam masuk ke dalam ruangan. ~ Ayuna sudah sampai di rumah Dea, bergegas ia masuk ke rumah. Menyapa Tante Dewi, lalu naik ke lantai atas, ke kamar Dea. Sesampainya disana, Ayuna segera membuka laptop dan mulai mengerjakan kerjaannya. Beberapa konsep part ceritanya daily hari ini terinspirasi dari scene Sadam yang usil dengannya di depan kantor Sadam tadi. Bahkan sampai mencium tangannya, semua scene itu masuk ke dalam cerita Ayuna. Karena ia memang sedang mengerjakan cerita romance comedy. Dan rasanya scene Sadam tadi cocok untuk masuk di ceritanya. Sambil tersenyum, ia segera mengetik kerjaannya itu. Hingga dapat 2 Bab cerita, yang akan update sesuai jadwal yang sudah Ayuna atur. "Senyam-senyum lo, seneng banget kayaknya" celetuk Dea melihat Ayuna sejak tadi. "Gue lagi ngerjain cerita gue. Ada yang lucu, ya jadi ekspresi gue gini" ucap Ayuna santai, tak terpengaruh dengan ucapan Dea. "Gue curiga deh, lo lagi deket sama cowok yah?" tebak Dea. "Cowok siapa? Yang mana? Enggak ada De, jangan ngasal deh kalau ngomong" ucap Ayuna mencepol asal rambutnya tinggi-tinggi. "Apa lo ditembak cowok?" tanya Dea lagi. "Sumpah demi apapun enggak Dea. Enggak ada" ucap Ayuna. "Terus kenapa lo gitu coba? Mencurigakan" ucap Dea. Ayuna yang sudah selesai mengetik cerita, dan mengecek apa ada typo atau tidak, dan ternyata tidak ada, segera mematikan laptopnya dan ikut rebahan disamping Dea yang sedang menyalakan laptop juga, ia lagi tengkurap sambil mendengar materi kuliah lewat zoom meet. "Lo jadi Kakak Ipar gue kayaknya asyik deh Na" ucap Dea. "What? Gila lo De?". "Dari dulu gue mimpi lo jadi Kakak Ipar gue melulu" ucap Dea. "Masa iya gue sahabatan sama lo, Abang lo gue embat juga. Enggak lah De, gue gak berpikiran sampai kesana" ucap Ayuna menjelaskan. "Ya gue gak masalah kalau emang lo jodohnya Bang Sadam Na, yang jadi masalah gue ya lo mau gak jadi Kakak Ipar gue" ucap Dea. "Enggak akan terjadi lah De, Bang Sadam itu ganteng, banyak yang mau. Gue bukan tipenya dia lah" ucap Ayuna santai. "Ya ini kan penilaian gue Na, lo cocok sama Bang Sadam. Dan gue bakalan dukung lo berdua sampai ke pelaminan kalau bisa" ucap Dea. "Ngaco lo" Ayuna tertawa mendengar ucapan Dea, "Jangan nge-halu". "Eh beneran yah, kalau lo sampai nikah, gue minta uang amplop kalian berdua secara cuma-cuma 5 juta yah?". "Oke deal, kalau enggak, gue yang bakalan ambil duit amplop nikahan lo nanti 5 juta" ucap Ayuna. "Deal!" Dea berjabat tangan dengan Ayuna. ~ Jam makan siang, Dea dan Ayuna turun ke lantai bawah, Tante Dewi sejak tadi sudah memanggil untuk makan siang, tapi karena Ayuna tak ingin ikut makan siang, membuat Dea kesal. "Gue diet De, seriusan deh, gue udah pesan makanan, bentar lagi dianter" ucap Ayuna. "Makan dikit doang Na" ucap Dea. "Beneran deh, gue diet. Lo sendiri kan yang bilang gue kegendutan" ucap Ayuna. "Iya, tapi bukan lo gak makan karena diet". "Lemot banget lo, gue makan, lagi nunggu orangnya nganterin makanan gue. Gue udah berlangganan selama sebulan di catering sehat itu" ucap Ayuna. "Ya sudah gak papa De, jangan dipaksa Bilqis mau makan makanan dietnya. Nanti besok Tante sediain nasi merah juga buat Bilqis yah" ucap Tante Dewi menengahi. "Jangan Tante, Bilqis udah berlangganan sebulan. Mau coba dulu Tante" ucap Ayuna. "Oh, okey. Gak apa apa Bil, semangat dietnya, semoga berhasil dan jadi lebih sehat dan bugar" ucap Tante Dewi. "Lo malam ntar, makan apa?" tanya Dea. "Gue berlangganannya cuma makan siang aja, malam gue minum s**u low fat di blend sama buah aja" ucap Ayuna. "Udah beli s**u low fat nya Bilqis?" tanya Tante Dewi. "Belum Tan, nanti sekalian pulang gym aja" ucap Ayuna. "Nge-gym sama cowok yah lo?" tanya Dea meng-interogasi. "Kenapa protektif banget sih De, cowok yang mana juga. Gue sama Bang Sadam" ucap Ayuna kesal dengan Dea. "Oh Bang Sadam? Beneran sama Bang Sadam?" tanya Tante Dewi kaget. "Iya Tan, kemarin udah daftar member" ucap Ayuna. "Gak apa-apa, Bang Sadam tuh suka nge-gym kok" ucap Tante Dewi. "Do'ain Bilqis berhasil diet yah Tan, paling enggak turun 10 kilo" ucap Ayuna. "Aamiin.... Tante do'ain banget" ucap Tante Dewi. Tak lama, pesanan Ayuna pun datang, Ayuna sudah tak sabar membuka kotak makan siang sehatnya ini, duduk bersama dengan Tante Dewi dan Dea dengan menu makan siang Ayuna yang berbeda sendiri tak membuat Ayuna merasa sedih. Karena menu makannya juga hampir sama dengan sajian Tante Dewi, jadi Ayuna tak terlalu sedih. Makanannya juga berasa enak, dan tidak hambar. Jadi Ayuna merasa enjoy makan siang bersama dengan keluarga Dea meski dengan menu pesanan. Setelah selesai makan siang bersama, Tante Dewi mengajak Dea dan Ayuna menonton acara TV bersama di ruang keluarga. Di sofa yang bisa berubah fungsi jadi kasur untuk selonjoran, mereka bertiga pun rebahan dengan sajian televisi pernikahan akbar seorang selebgram yang meriah. "Bang Sadam nanti harus meriah kayak gini nikahannya" ucap Tante Dewi. "Bang Sadam enggak terkenal Ma" ucap Dea. "Masa sih? Bang Sadam yang ganteng kayak gitu loh" ucap Tante Dewi. "Buktinya aja gak bisa juga nembak cewek taksiran dia dari dulu". "Kasian Bang Sadam" ucap Ayuna menimpali. "Kok kasian Bil?" tanya Tante Dewi keheranan. "Ceweknya enggak peka-an" ucap Ayuna. "Bener banget! Nggak peka banget tuh cewek, oon" ucap Dea menggebu-gebu. "De, enggak boleh ngomong seperti itu" tegur Tante Dewi. "Geregetan Ma, maaf...." ucap Dea. "Enggak boleh ngomong kasar yah, gak baik" ucap Tante Dewi. "Iya Ma, maaf Mama yang cantik". "Bilqis nanti kalau kamu nikahan, mau di gedung apa di rumah?". "Di ballroom hotel Tante, dirumah terlalu rame nanti" ucap Ayuna, "Kalau di situ kan udah diurusin pihak hotel, makanannya, acaranya, dekornya, terus enak juga keluarga tinggal datang. Enggak perlu ribet masak-masak lagi". "Sepemikiran Bilqis sama Tante. Dea juga nikahannya kayak gitu" ucap Tante Dewi. "Dea masih lama Ma" ucap Dea, "Pacar aja enggak punya". "Makanya cari pacar!" ucap Ayuna. "Kayak lo punya aja!" Dea melempar bantal sofa pada Ayuna, membuat Ayuna tertawa, begitu juga Tante Dewi. "Malah Tante pengen Bilqis jadi menantu Tante nanti" ucap Tante Dewi jujur, "Sama keluarga Dea dekat, sahabatnya Dea juga, dekat sama Tante dan Om Har juga. Enggak perlu tes-tesan lagi buat jadi menantu, udah lolos jalur VVIP". "Lebay ah si Mama" Dea mencubit hidung Mamanya pelan. "Enggak, ini beneran, mau gak Bilqis jadi menantu Tante? Nikah sama Bang Sadam?". "Hah?" Ayuna kaget mendengar ucapan Tante Dewi. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD