Monster

1059 Words
Sasaki meremas lengan Haruka, membuat pemuda itu mengaduh karena nyeri. Meski tubuh Sasaki tergolong kecil daripada wanita-wanita lain yang bekerja di Kafe Florida, siapa sangka jika kekuatannya malah lebih besar. Haruka bisa melihat kekhawatiran di wajah wanita itu ketika melihat Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi yang saling menatap dan siap membunuh satu sama lain. Haruka juga tidak tahu harus berbuat apa karena memang ia sebenarnya tidak memiliki urusan di antara permusuhan kubu Bakuto dan kubu Tekiya. Haruka jelas-jelas orang luar yang kebetulan terseret dalam masalah mereka karena Bakuto yang mengejar-ngejar Ryunosuke sejak lima tahun silam. “Shirai-kun, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Sasak panik. Belum ada satu pegawai pun yang berani menginterupsi dua pria yang sedang adu menatap di tengah-tengah banyaknya pengunjung kafe. Haruka menggeleng. “Mana aku tahu, Sasaki-san.” Sasaki sedikit bernapas lega ketika manajer kafe datang dan berbicara dengan Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi, namun kembali masam saat melihat ekspresi kikuk manajer mereka. Haruka juga melihatnya dengan jelas. Sudah pasti diskusi singkat itu tidak akan berjalan lancar jika yang dihadapi adalah Bos Bakuto dan Bos Tekiya. Malahan, Haruka pikir manajer kafe sebenarnya sudah tahu siapa dua orang yang berselisih di kafenya. Tampak sekali dari dia yang berusaha bersikap sopan dan tidak menyinggung kedua belah pihak. Haruka kembali mengernyit ketika manajer kafe datang padanya dan mengisyaratkan Haruka untuk menemui Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi dengan gerakan kepalanya. Haruka menganga, menuntut penjelasan dari sang manajer tetapi pria itu menatapnya dengan pandangan memohon dan permintaan maaf kemudian segera masuk ke dapur. “Tung—Aku? Eh?” Sasaki mendorong tubuh Haruka dan membisikkan kata ‘ganbatte’ dengan suara pelan. Entah sudah berapa kali kata makian yang Haruka lontarkan dalam hatinya. Rasanya ia ingin mengamuk dan meninju siapa saja yang ada di hadapannya. Masalahnya, yang sekarang berada di hadapannya bukanlah orang biasa, melainkan Bakuto dan Tekiya. Gilá, Haruka penasaran di kehidupan sebelumnya ia memiliki dosa apa sampai-sampai terlalu banyak kesialan yang ia alami semenjak Bakuto mengejar Ryunosuke. Haruka tidak berminat berurusan dengan yakuza. Seperti yang dikatakan Ryunosuke, mereka berbahaya meski diam-diam Haruka membuat pengecualian untuk Nakazawa Naofumi karena pria itu selalu bersikap baik padanya sejak pertama kali bertemu. Masalahnya, sisi lembut bak seorang Ayah baik dari Nakazawa Naofumi mendadak sirna ketika ia berhadapan dengan Kudou Masahiro. Haruka menatap keduanya dengan pandangan ragu. Ayolah, jujur saja nyalinya benar-benar ciut ketika melihat sorot mata tajam dari dua orang di hadapannya. “Maaf  Tuan-Tuan, tetapi bisakah kalian berdua tidak membuat keributan di sini?” Kudou Masahiro menatapnya tajam, membuat Haruka tanpa sadar meneguk ludahnya susah payah karena takut. Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Haruka, dan memasang seringai mengerikan ketika menyadari bahwa Haruka benar-benar ciut saat berhadapan dengannya. “Oh? Satu pengganggu kecil yang membuatku belum juga mendapatkan Mamizuka Ryunosuke sebagai anggota Bakuto. Benar ‘kan, Haruka-kun.” Haruka meremas ujung pakaiannya dengan kesal. Ia sedang tidak ingin mengungkit masalah Ryunosuke saat ini. Jika pun nantinya Kudou Masahiro hendak membahas mengenai itu, setidaknya dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Tekiya terlebih dahulu. Haruka selalu sensitif dengan pembahasan Ryunosuke. Apalagi jika yang membahas adalah orang yang membuat hubungan pertemanannya dengan Ryunosuke berantakan. Haruka tidak ingin kehilangan temannya, ia juga tidak rela melihat Ryunosuke yang terkuat harus menyia-nyiakan seluruh kekuatannya itu dan malah bekerja sebagai pengasuh Daycare. Bakuto, jelas-jelas yang pertama kali membuat masalah dengannya. Haruka harus ekstra keras bertahan agar dirinya tidak terpancing dengan apapun yang dikatakan oleh Kudou Masahiro. Manajer Kafe Florida memintanya untuk mendamaikan mereka atau semacamnya. Haruka bisa melihat bahwa manajernya benar-benar tidak memiliki kekuatan atau kuasa untuk meredam perseteruan dua pria berbahaya itu, dan Haruka yang secara sial mengenal keduanya meski bukan dengan cara normal seperti perkenalkan pada umumnya harus terseret-seret dalam masalah mereka. "Kudou-san, Naofumi-san, tolong sadari di mana posisi anda." Haruka merasa tenggorokannya benar-benar gatal karena harus berbicara sopan dengan mereka. Ia benar-benar tidak terbiasa. Ingin sekali rasanya Haruka langsung menghardik kedua pria di hadapannya karena membuat Haruka menjadi tontonan seolah ia terlibat dalam perseteruan mereka. Namun semua yang ia pikirkan juga hanya sekadar angan belaka karena Haruka jelas tidak akan berani melakukan itu. "Kebetulan sekali Haruka-kun, kau penasaran mengapa aku dan Masahiro bermusuhan sejak lama. Mungkin hari ini kau akan menyaksikan kekalahannya." Seru Naofumi santai. Kudou Masahiro mengernyit. Ia beralih kembali menatap Nakazawa Naofumi. "Benarkah? Pria cantik yang lebih mempedulikan rambut seperti dirimu tidak mungkin mengalahkanku." Haruka memaki-maki dalam hati. Apa lagi ini? Sejenis hinaan fisik? Haruka tidak menemukan kesalahan untuk mencintai rambut. Maksudnya, Haruka juga akan merawat rambutnya dengan sepenuh hati andai ia memiliki rambut hitam panjang nan berkilau seperti milik Nakazawa Naofumi. Mungkin juga Bos Tekiya itu memiliki nilai sentimentil dari rambut panjangnya. Semisalnya, orang tuanya menyukai rambutnya sehingga ia sampai pada keputusan untuk merawat rambutnya sebagai tanda sayang kepada orang tua. Ya itu semua hanya kemungkinan karena Haruka juga tidak tahu alasan lain mengapa Nakazawa Naofumi begitu mencintai rambutnya selain karena rambutnya memang indah dan mempesona. Haruka kira, orang-orang dengan level tinggi seperti Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi tidak akan saling melempar ejekan di tempat umum. Haruka yakin sekali orang-orang dewasa di hadapannya ini pastilah berkonflik dengan tata cara yang elegan. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Mereka berdua malah tampak seperti dua bocah Sekolah Dasar yang bermusuhan karena hal sepele. Atau memang, alasan permusuhan mereka karena hal sepele? "Ano, maaf tapi—" Kudou Masahiro mencekik Haruka dalam gerakan cepat. Para pengunjung kafe lainnya memekik terkejut dengan hal itu. Bahkan Haruka juga terkejut dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan olehnya. Haruka meringis sakit. Cengkeraman tangan Kudou Masahiro begitu menekan dan sangat kuat. Jujur saja, Haruka tidak berekspektasi bahwa pria itu akan langsung menyerangnya tanpa peduli di mana mereka saat ini. Yakuza memang terorganisir, tetapi mereka juga tidak kebal hukum. Apakah Kudou Masahiro tidak memikirkan reputasinya andai tindakannya tersebar dan dilihat oleh publik? Gilà, Bakuto memang berisi monster-monster gilà. “Ekkh…” Haruka merintih. Ia tidak bisa melepaskan cengkeraman Kudou Masahiro meski pria itu hanya mencengkeram lehernya dengan satu telapak tangan. Haruka bagaikan pengganggu kecil di antara perselisihan dua orang super kuat seperti Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi. Sama sekali tidak ada yang berani menginterupsi mereka, bahkan rekan kerja Haruka yang lain juga hanya diam karena takut. Luka-luka Haruka kemarin bahkan belum sembuh, dan sekarang ia harus mengalami serangan dari Bos Bakuto secara langsung? Haruka benar-benar tidak habis pikir dengan nasib sial yang selalu ia alami. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD