Langkah Pasti

1130 Words
"Ekkh... K-Kudo-san..." Susah payah Haruka merintih hanya agar Bos Bakuto di hadapannya melepaskan cengkeraman yang menjerat leher Haruka. Pria berjas rapi itu benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada Haruka. Ia hanya fokus menatap Nakazawa Naofumi. Seluruh atensinya hanya kepada musuh bebuyutannya. Haruka benar-benar kesal, marah, dan juga lelah. Jika memang Bakuto dan Tekiya hendak membuat keributan hebat, mengapa mereka harus melakukannya di Kafe Florida? Kediaman Tekiya yang ada di Shibuya rasanya cukup luas untuk mengadakan pertarungan satu lawan satu, atau mungkin markas Bakuto yang Haruka yakini juga memiliki area luas meski Haruka belum pernah melihatnya. Pengunjung lainnya juga tidak ada yang berani menolong Haruka. Ah, jangankan menolong, untuk mendekat saja Haruka yakin nyali mereka jauh lebih ciut dari nyali Haruka sendiri. Manajer Kafe Florida saja menyerah, apalagi hanya sekadar pengunjung. Sial, sial, sial, apa sih yang mereka pikirkan? "Masahiro, tidak baik menyakiti seorang anak muda seperti itu." Seru Nakazawa Naofumi. Haruka mendecih dalam hati. Nakazawa Naofumi tidak terkesan membantu posisinya sama sekali. Bicara saja tidak akan membuat Kudou Masahiro melepaskan Haruka. Ah, Haruka benar-benar tidak bisa mengharapkan pertolongan apa-apa. Pada akhirnya, fokus Nakazawa Naofumi adalah untuk kemenangannya melawan musuh bebuyutan Tekiya sejak lama. Haruka? Berakhir sebagai pemuda tidak penting yang mendadak tersangkut masalah permusuhan dua kubu besar itu. Kudou Masahiro melirik Haruka yang meringis menahan sakit. "Oh? Dia anak barumu?" Dan dengan sialnya secara kasar menarik leher Haruka agar lebih dekat padanya. Haruka tidak tahu harus mengkategorikan kekejaman Kudou Masahiro seperti apa. Dia benar-benar tidak peduli bahwa yang sedang ia pegang adalah leher manusia. "Masahiro!" Seru Nakazawa Naofumi lebih keras. Kudou Masahiro menyeringai. "Dia cukup berharga untukmu? Aku jadi ingin menyiksanya lebih parah lagi." "Argghh..." Haruka memejamkan matanya ketika cengkeraman Kudou Masahiro semakin kuat. Tidak ada tanda-tanda bahwa telapak tangan Kudou Masahiro akan mengendur. Haruka merasa napasnya mulai tidak beraturan berkat cekikan itu. Ia juga merasakan nyeri yang luar biasa. Lehernya terasa mau patah saja. "Ambil anak ini Nao, bukankah dia berharga untukmu?" Kudou Masahiro tertawa mengejek sembari menarik dan mendorong leher Haruka seolah bagian tubuhnya itu adalah benda tak berharga. Sudah berkali-kali Haruka berusaha melepaskan cengkeraman Kudou Masahiro di lehernya, tetapi bahkan melepaskan satu jari pun Haruka tidak bisa. Ia hanya bisa berusaha mengikuti kemana tangan Kudou Masahiro menarik dan mendorong lehernya kemudian mengikuti gerakan itu untuk meminimalisir rasa sakitnya. Ya, meski sebenarnya tidak ada kata minimal dalam rasa sakit yang disebabkan oleh orang-orang Bakuto. Entahlah, bagaimana awal mulanya Bakuto berdiri sampai terisi orang-orang dengan jiwa monster seperti itu. Haruka dilemparkan dengan kasar hingga menubruk meja dan kursi kafe. Suara benda-benda jatuh memekakkan telinga, bebarengan dengan teriakan beberapa pengunjung wanita yang ketakutan. Haruka terbatuk-batuk parah. Bagian lengannya yang sebelumnya terluka karena bertarung dengan para bawahan Bakuto mengeluarkan darah dan merembes di seragam kerjanya. Lengannya terbentur kaki kursi dengan keras, sehingga luka yang sama sekali belum menutup kembali mengeluarkan darah. Orang-orang yang tidak tahu bahwa Haruka telah memiliki luka sebelumnya memekik dan mengira bahwa darah yang keluar dan merembes di pakaiannya merupakan akibat dari tindakan Kudou Masahiro yang melempar Haruka dengan brutal. Haruka meringis menahan sakit. Ia memegangi lengannya yang berdarah. Bagian itu terasa sangat perih. Haruka sampai kesulitan untuk bangun dari posisinya karena lengannya yang terasa sangat sakit hanya untuk digerakkan. Sasaki yang sejak tadi hanya berdiri di dekat pintu dapur tanpa berani bertindak apa-apa segera memberanikan diri menghampiri Haruka. Wanita itu telah merobek celemeknya dan menggunakan potongan kain itu untuk membalut lengan Haruka dengan kuat agar darah yang merembes di pakaian Haruka bisa lebih berkurang. "Shirai-kun, luka di lenganmu tampak sangat parah." Bisik Sasaki sembari berusaha mengikat kuat lengan Haruka. Haruka menggigit bibirnya dan merintih pelan. "Aku sudah memiliki luka itu sebelumnya Sasaki-san, tetapi memang lukanya masih baru." "Bagaimana bisa kau memiliki luka separah itu? Astaga." Haruka melenguh pelan. Lengannya benar-benar perih. Ia hanya menggeleng dan menggumam tidak jelas ketika Sasaki berusaha membantunya bangun dengan kondisi lengan yang terluka. Sasaki melirik juniornya itu, dan mendapati bahwa beberapa bagian wajah Haruka memar dan sengaja ditutupi dengan concealer yang dioles secara asal. Sasaki tidak menyadari itu sejak tadi karena tidak terlalu fokus dan panik dengan masalah dua pria yang tidak dikenalnya di dalam Kafe Florida, tetapi sekarang ketika wajah Haruka berkeringat, concealer yang ia aplikasikan dengan asal di beberapa bagian wajahnya mulai luntur terkena keringat dan menunjukkan kulit asli Haruka yang membiru. Sasaki juga melihat bekas cengkeraman di leher Haruka begitu memerah dan nyaris menghitam. Sepanjang ia bekerja di Kafe Florida, belum pernah sekali pun Sasaki menyaksikan seseorang bisa begitu kejam memperlakukan orang lain di tempat umum. Sasaki tidak tahu apapun masalah Haruka dengan dua pria yang berselisih itu, tetapi wanita itu yakin Haruka terkait dengan mereka meski mungkin tak secara langsung. Bagaimana Haruka memiliki luka separah itu? Tentu saja Haruka tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada Sasaki. Wanita itu tampak khawatir kepadanya, tetapi Haruka juga tidak memiliki kewajiban atau merasa harus menceritakan keterlibatannya dengan Bakuto dan Tekiya. Orang-orang di kafe ini tampaknya juga tidak tahu bahwa pria berjas formal dengan wajah intimidatif itu adalah Kudou Masahiro yang merupakan Bos Bakuto, sementara pria lainnya yang berambut panjang dan memakai yukata motif bunga tulip adalah Nakazawa Naofumi yang merupakan Bos Tekiya. "Terima kasih, Sasaki-san." Sasaki mengangguk. "Jadi, bagaimana dengan dua orang itu? Apakah kita harus lapor polisi? Bahkan Manajer tidak berani melawan mereka." Haruka meringis mendengar opsi yang direncanakan Sasaki. Entah apakah polisi sanggup menghadapi Bos Bakuto dan Tekiya. Haruka yakin sekali Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi tidak kebal hukum, tetapi mereka juga tidak semudah itu dijerat hukum. Haruka juga melihat betapa khawatirnya wajah Sasaki melihat apa yang terjadi di kafe. Diam-diam, sebenarnya Haruka merasa bersalah. Ia bahkan belum ada seminggu bekerja di kafe itu, dan masalah mendadak bermunculan karena ia secara tidak jelas terlibat dengan Bakuto dan Tekiya. “Jangan Sasaki-san, aku akan mengurusnya, hn… semoga aku berhasil.” “Eh? Tung—Shirai-kun?” Haruka terbiasa nekat sejak kecil. Apapun yang ia lakukan, selama ia merasa itu perlu maka tidak ada salahnya menantang diri sendiri dengan nekat melakukannya. Masalahnya, kenekatan yang pernah Haruka lakukan tidak pernah benar-benar membahayakan dirinya sendiri. Paling parah hanya menyebabkannya dirawat di rumah sakit. Lalu sekarang? Nekat menengahi perselisihan dua Bos yakuza terkenal dari Asakusa dan Kansai? Entahlah, Haruka hanya berharap Kami-sama masih mengizinkannya hidup setelah ini. “Sumimasen, Kudou-san, Naofumi-san, saya rasa kalian harus menyelesaikan perselisihan ini di tempat yang seharusnya.” Haruka meneguk ludahnya susah payah, ia bahkan merasa telapak tangannya benar-benar berkeringat saking gugupnya. Haruka sudah menggenggam pergelangan tangan Nakazawa Naofumi dan Kudou Masahiro dengan telapak tangan basahnya bak seorang bocah yang berusaha mendamaikan dua orang tuanya yang bertengkar. Haruka tidak tahu nasibnya setelah ini, tetapi ia benar-benar harus bertindak sebelum Kafe Florida yang damai dan menyenangkan berubah menjadi arena pertandingan dua kubu yang sejak lama bermusuhan. Kami-sama, tolong aku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD