Pagi-pagi sekali Dimas datang ke kampus, karena hari itu Dosen mata kuliahnya akan mengadakan evaluasi materi. Ruang kelasnya sudah ramai padahal jam belum menunjukkan pukul delapan.
"Kamu dari mana saja Akh?" tanya Fikri.
"Perpustakaan, aku mengembalikan buku sebelum kena denda," jawab Dimas yang segera sibuk mengeluarkan alat tulis dari dalam tas.
"Sudah belajar?" tanya Ibrahim.
"Sudah," jawab Dimas.
"Ada yang nempel di otakmu?" tanya Fikri.
"Tidak."
Fikri dan Ibrahim pun melemparnya dengan gumpalan kertas bekas. Dimas hanya bisa terkekeh senang karena dua orang sahabatnya menjadi kesal.
BRAKKK!!!
Semua mata tiba-tiba tertuju ke arah Silvi yang terdiam di tempatnya. Rika berdiri di hadapannya dengan wajah penuh amarah. Ternyata dialah yang memukul meja milik Silvi.
"Kamu kan pintar, kenapa harus takut berbagi jawaban denganku? Takut nilaimu tersaingi? Atau, takut beasiswamu jatuh ke tanganku?" bentak Rika.
"HEI!!! CUKUP!!! MENJAUH DARI DIA!!!" teriak Dimas, tiba-tiba.
Rika beralih menatap ke arah Dimas yang duduk di bagian belakang.
"ORANG g****k NGGAK USAH BANYAK OMONG! DIAM SAJA DAN JANGAN IKUT CAMPUR!" balas Rika, tak kalah nyaring.
Silvi menutup kedua telinganya dengan tangan, ia merasa sangat terganggu dengan suara teriakan Rika. Rika melihatnya menutup telinga dan merasa tersinggung.
"Kenapa? Kamu nggak suka dengar suaraku?" tanya Rika.
Silvi menatapnya.
"Kamu tersinggung? Kan yang teriak bukan cuma kamu," balasnya.
Dosen mata kuliah hari itu pun masuk ke kelas tersebut. Rika buru-buru duduk ke tempatnya sendiri.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," sapa Hilda.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh."
"Hari ini kita akan melaksanakan evaluasi materi, jadi kumpulkan buku catatan kalian semua sebelum saya membagikan soal," pinta Hilda.
Semua orang maju ke depan dan mengumpulkan buku catatan mereka. Hilda menjatuhkan ballpoint ke bawah meja saat Rika sedang mengumpulkan bukunya, sehingga ia memiliki kesempatan untuk mengambil buku milik Silvi.
Hilda mulai membagikan soal, semua orang dalam kelas itu mengerjakan dengan tenang. Rika mengeluarkan buku milik Silvi yang ia sembunyikan dan menyimpannya ke bawah meja Wanita itu melalui celah kursi depan. Tak lama kemudian saat dirinya yakin bahwa tak ada yang melihat perbuatannya, Rika pun mengangkat tangannya untuk menarik perhatian Hilda.
Hilda menatap Rika yang mengangkat tangannya, namun tak ingin menanyakan apa yang wanita itu inginkan. Rika mulai kesal karena Hilda tak juga bertanya padanya.
"Bu Hilda, saya mau mengatakan sesuatu," ujar Rika, yang sudah tak tahan karena tangannya mulai pegal.
"Oh, kamu ingin mengatakan sesuatu. Saya pikir kamu sedang olahraga untuk meregangkan otot-otot tanganmu," ujar Hilda, santai.
HAHAHAHA!!!
Semua orang dalam kelas itu pun tertawa sambil menatap ke arah Rika. Rika merasa kesal setengah mati karena dijadikan bahan bercanda oleh Dosen dan teman-temannya.
"Bu Hilda, saya mau memberitahu Ibu kalau Silvi menyontek jawaban dari bukunya! Dia tidak mengumpulkan bukunya dan menaruhnya di bawah meja," fitnah Rika.
Silvi yang duduk tepat di belakangnya pun mengerutkan kening karena merasa heran. Hilda pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja Silvi. Ia mengecek bagian bawah meja milik Silvi dan mengambil buku yang Rika maksud.
Semua mata menatap ke arah Silvi.
"Tidak mungkin Bu, saya sudah membawanya ke depan tadi," sanggah Silvi.
"Alah! Mana ada sih maling yang mau ngaku? Buku itu sudah membuktikan bahwa kamu itu sebenarnya tidak pintar, makanya kamu mau menyontek jawaban dari sana," tambah Rika, memanas-manasi Hilda.
Hilda menatap Rika dengan sambil tersenyum.
"Jadi kamu merasa pintar? Coba lihat pertanyaan nomor tiga puluh empat dan berikan saya jawaban sekarang juga," tantang Hilda.
Rika gelagapan ketika diminta menjawab secara tiba-tiba oleh Hilda.
"Loh kok jadi saya Bu? Silvi kan menyontek, dia nggak dapat sangsi gitu Bu?" Rika mencoba mengalihkan perhatian.
Hilda mendekat pada Rika.
"Saya percaya pada Silvi, bahwa dia tadi sudah mengumpulkan bukunya ke depan. Saya jamin, dia tidak akan berbohong," ujar Hilda.
"Bu Hilda, jelas-jelas buku itu ada di bawah mejanya dan Ibu masih mau mempercayainya?" Rika bertanya sambil mengejek.
"Dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat dua belas dijelaskan yang artinya, wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." balas Hilda.
Ia semakin mendekat ke arah Rika hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
"Jika saya mempercayai kamu maka artinya saya akan termakan oleh fitnah dan Silvi akan menerima ketidak adilan. Kamu selalu membuat masalah, Ummi Kalsum dan Abah Adi sudah memperingatkan saya ketika saya diminta untuk menggantikan Ibu Sulham mengajar di kelas ini. Jadi..., saya lebih mempercayai Silvi. Lagipula, di buku ini pasti ada sidik jari kamu. Kalau saya melaporkan kamu ke Polisi, pasti kamu akan berada di penjara paling sedikit enam bulan karena berusaha mencemarkan nama baik orang lain," jelas Hilda.
Rika gemetaran antara takut dan emosi karena tak bisa menjatuhkan Silvi. Hilda masih saja berdiri di hadapannya.
"Sekarang keluar dari kelas ini, kamu tidak perlu lagi datang ke sini. Kamu sudah bukan lagi mahasiswi dari kelas ini dan saya jamin kamu tidak akan diterima di kelas manapun di Jurusan Tarbiyah," tambahnya.
Rika menatap Silvi dengan tatapan penuh kebencian. Ia benar-benar tak terima karena selalu dikalahkan oleh Silvi. Ia meraih tas dan bukunya lalu keluar meninggalkan gedung fakultas itu.
Hilda menatap semua anggota kelasnya.
"Hari ini ada pelajaran besar yang kalian saksikan, di mana kalian tidak boleh langsung mempercayai sebuah tuduhan yang tidak berdasar. Karena jika sampai kalian mempercayai fitnah, maka kalian pun akan ikut menanggung dosa bersama orang yang memfitnah," ujar Hilda.
"Astaghfirullah, semoga kita dijauhkan dari hal-hal keji seperti itu," Ibrahim berdo'a, pelan.
"Amiin," jawab Fikri dan Dimas, yang berbisik.
'Insya Allah..., aku akan selalu mempercayaimu.'
* * *
Besok episode 12 - 13