Bab 11 – Temani Aku Malam Ini

1808 Words
“Gimana kabarmu, Kembang?” Suara Seruni terdengar segar di seberang telepon. Pagi itu, Kembang sengaja menghubungi sahabatnya itu demi mengurai pelik hatinya sendiri. Tentang Bos Besar yang tiap hari makin membuatnya kelimpungan. “Sehat, Run. Ragaku. Jiwaku …entah.” Wanita itu membuang napas kasar, lalu berjalan dari sandaran balkon untuk mengambil duduk di kursi santai di sana. “Ha-ha-ha. Kenapa emangnya? Pak Bos galak, ya?” tanya Seruni lagi. “Iya. Makin dia galak, makin bikin aku deg-degan. Sumpah, Run. Di hadapan dia, semuanya jadi nggak terkendali. Termasuk nafsuku,” jelas Kembang panjang lebar. Seruni makin kencang tertawa. Ia tak menyangka jika pada akhirnya seorang Kembang merasakan debaran itu. Hal yang selalu wanita itu hindari demi terus bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Sebab, karena perasaan itulah ia dihukum sampai separah ini. Oleh semesta, dan oleh orang-orang yang tidak pernah menganggapnya indah. “Ya, udah. Jangan dipaksa berhenti. Mungkin Tuhan memang kirim Pak Bos buat jadi penawar rasa sakitmu selama ini.” Kembang membuang napasnya dengan kasar. Ia menyugar rambut panjangnya sembarangan, baru kemudian menimpali ucapan Seruni. “Nggaklah. Aku tahu diri buat nggak berharap terlalu tinggi. Kamu lupa siapa kita ini? Cuma wanita malam yang sibuk menyambung hidup,” ujar Kembang. Ia ingat statusnya di rumah ini. Jelas, tak berani berharap lebih. Semalam saja, ketika keduanya sudah di ujung jurang neraka, Raja seperti tersadar dan kabur begitu saja. Walaupun sudah memberikan pengalaman berbeda, tetap saja pria itu mungkin tidak menginginkannya. “Tapi takdir nggak ada yang tahu, Kembang. Udahlah, fokus sama kebahagiaan dirimu. Aku tunggu kabar baiknya, ya.” Kembang tersenyum dan mengangguk, meski tahu Seruni tidak bisa melihatnya. Sambungan telepon terputus dan ia memilih masuk ke kamarnya. *** “Saya yang akan jemput Adel hari ini. Kamu di rumah saja.” “Siap, Pak.” Raja menyimpan ponselnya di saku celana usai menghubungi sopir pribadi di rumahnya. Ia berniat menjemput Adel sendiri siang ini. Alih-alih ingin bertanya pada gadis kecil itu, apakah ia bahagia saat ini bersama Kembang? Walaupun ia tahu, salah membawa wanita lain demi menggantikan ibu Adel yang saat ini, entah di mana keberadaan. Setelah berkendara selama beberapa menit, Raja akhirnya sampai di sekolah Adel. Sudah banyak para orang tua yang menjemput. Sampai salah satunya menyapa Raja yang seolah-olah sibuk memainkan ponsel. “Pak Raja.” Pria itu mendongak, lalu menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. “Pak Roy. Apa kabar?” Pria itu mengulurkan tangannya untuk kemudian dijabat oleh Hermanto yang siang itu menjemput putrinya bersama sang istri. “Sehat, Pak. Oh, iya. Maria bilang, Adel udah ketemu sama Mamanya? Saya ikut senang, Pak. Akhirnya keceriaan gadis itu kembali. Pak Raja pasti memilih wanita yang tepat hingga membuat Adel merasa sebahagia sekarang.” Pernyataan itu membuat Raja terdiam. Ia hanya mengangguk lemah sebagai jawaban dan terima kasih sekenanya. Semua orang mengira jika Kembang benar-benar jadi Mama untuk Adel. Bahkan sebelum ia bertanya pada Adel mengenai hatinya, jawaban itu sudah datang dari pengamatan banyak orang yang melihat bagaimana gadis kecil itu berubah ceria sejak Kembang hadir dalam hidupnya. Tak lama kemudian, Adel berlari ke arah Raja dengan Nita yang mengekor di belakangnya. “Papaa ….” Raja tersenyum, lalu berjongkok demi menyambut pelukan hangat yang Adel berikan. Gadis kecil itu menenggelamkan wajahnya di leher pria yang selama ini ia panggil papa. “Ayo Pa, kita pulang. Mama janji bikinin puding buat kita siang ini,” kata Adel. “Iya. Ayo.” Adel melompat ke dalam mobil. Diikuti Nita yang kemudian menutup pintu kendaraan itu. Sepanjang jalan, Adel berceloteh tentang banyaknya kegiatan di sekolah yang menyenangkan hari ini. Hal yang tidak pernah ia lakukan. Kadang, perjalanan pulang mereka hanya diisi keheningan saja. “Oh, iya, Pa. Kita jadi beli crayon baru buat Adel, kan?” tanya gadis itu di sela cerita serunya. “Iya, jadi. Kita pulang dulu, ganti baju terus berangkat.” Adel mengangguk lemah. Sisa perjalanan masih diisi dengan cerita gadis itu. Baru setelah beberapa menit, mobil Raja menepi di halaman rumahnya. Adel langsung turun dan berlari ke dalam rumah sambil memanggil ‘mama’. Sementara Raja mengekor di belakangnya bersama Nita. Pria itu terpaku melihat Adel yang langsung memeluk Kembang dengan erat di hadapan matanya. Lantas, membuang napasnya dengan kasar. Jika nanti mamanya Adel ketemu, pasti akan sulit memisahkan keduanya. Namun, bagaimana? Bahkan sampai detik ini ia masih kehilangan jejak Denayu yang diusir mamanya setelah melahirkan Adel. “Pa, ayo makan puding. Ini enak, loh.” Panggilan Adel membuat Raja tersentak. Ia kembali dari kelana angan dengan cepat dan mengangguk. Langkahnya pelan mengikis jarak dengan Adel dan Kembang di meja makan. Setelah mengambil duduk, Kembang menyodorkan puding dalam piring kecil ke hadapan Raja dengan sedikit gemetar. “Silakan dimakan,” katanya lirih. Tatapan mereka bertemu. Gelenyar asing yang mampir sejak semalam muncul lagi. Kali ini lebih dahsyat hingga membuat keduanya jadi salah tingkah. “Iya. Terima kasih. Setelah ini, ganti baju Adel. Kita akan pergi ke mall untuk beli crayon baru,” kata Raja. Suaranya dibuat sedingin mungkin. Meski begitu, Kembang bisa merasakan jika ada kecanggungan yang mati-matian ia tahan setelah kejadian semalam. “Iya,” sahut Kembang singkat. “Pa, Mama diajak, ya.” Suara Adel yang jernih akhirnya menginterupsi ketegangan di antara kedua orang dewasa itu. Raja menoleh, lalu mengangguk lemah. “Iya.” “Horee ….” Sorakan Adel menggema di ruang makan itu. Gadis kecil itu benar-benar senang karena ini pertama kalinya ia pergi bersama Papa dan Mama. Setidaknya begitulah yang ada di pikirannya. *** Raja sudah bersiap di dalam mobil ketika Adel datang. Ia menarik tangan Kembang yang berjalan pelan di belakangnya. Kembang mengenakan floral sundress berbahan jatuh yang panjangnya sedikit di atas lutut. Potongan kerah V-neck yang cukup rendah memberikan kesan berani. Sementara motif bunga-bunga kecil berwarna pastel membuatnya terlihat manis sekaligus segar. Gaun itu memeluk lekuk pinggangnya dengan sempurna, namun tetap memberikan kesan sopan bagi seorang pendamping anak. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai lurus, berkilau setiap kali terkena pantulan cahaya lampu teras. Meski wajahnya tertutup masker medis berwarna hitam, sorot mata Kembang yang dihiasi maskara tipis sudah cukup untuk membuat siapa pun yang menatapnya kehilangan kata-kata. Raja terpaku. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ada gejolak panas yang kembali menyerang hatinya saat melihat betapa cantiknya wanita ini. Kecantikan yang terasa meriuhkan hati dan isi kepalanya. Namun hanya bisa ia puji dalam angan. “Pa, kita udah siap.” Suara kecil Adel menginterupsi Raja yang masih terpaku. Pria itu mengangguk, lalu mulai menyalakan mesin. Tujuan utamanya adalah mall, tapi entah kenapa ia mendadak enggan membawa Kembang keluar rumah. Wanita itu terlalu cantik untuk dinikmati semua mata pria di luar sana. Setelah menempuh waktu beberapa menit, mereka akhirnya sampai di Lembuswana Mall. Usai memarkir mobilnya, Adel menarik lengan Raja dan Kembang untuk masuk melalui pintu selatan. Lalu menuju toko peralatan sekolah di lantai atas. Adel dan Kembang sibuk memilih crayon ketika kemudian Raja disapa oleh salah satu pebisnis Samarinda kenalannya. “Wah, akhirnya Pak Raja go public juga sama keluarganya. Semoga selalu bahagia, ya, Pak. Istrinya tampak cantik sekali. Sama seperti anaknya.” Raja hanya bisa membuang napas dan tersenyum kecil. Tatapannya beralih pada Kembang dan Adel yang masih sibuk dengan pilihan crayon mereka. Sementara di hati Raja, diam-diam ada yang membara. Satu pikiran terbersit di kepalanya sesaat. “Bagaimana jika aku berhenti mencari Mamanya Adel?” *** Setelah jalan-jalan dan beli ini itu di mall, Adel terlelap di pangkuan Kembang dalam perjalanan pulang. Malam sudah turun dan gadis itu pasti kelelahan. Setelah mobil berhenti di garasi rumah, Raja mematikan mesin. “Biar aku yang gendong Adel ke kamarnya,” katanya kemudian. “Iya, Bos.” Raja turun lebih dulu, lalu membuka pintu mobil di sampingnya. Tubuh Adel yang lemas berpindah dengan cepat dalam pelukannya. Pria itu lantas berjalan lebih dulu ke kamar Adel. Diekori Kembang yang sibuk membawa crayon dan beberapa makanan yang tadi mereka beli. Keduanya masuk ke kamar Adel. Menidurkan gadis kecil itu dan menyelimutinya. Sebelum keluar dari ruangan penuh mainan itu, Raja menoleh sekilas ke arah Kembang yang sibuk meletakkan crayon di meja belajar di sudut ruangan itu. Ia ingin mengucapkan selamat malam pada wanita itu, tapi lidah dan tenggorokannya terasa enggan membuka suara. Jadi Raja berlalu lebih dulu menuju ke ruang kerjanya. Kembang melangkah menuju kamarnya tak lama kemudian. Ia menanggalkan sundress bunganya dan berganti dengan baju tidur berbahan sutra tipis bertali spaghetti yang sangat minimalis. Namun, saat melewati lorong menuju dapur, matanya menangkap seberkas cahaya yang menyelinap dari bawah pintu ruang kerja Raja. Pria itu masih terjaga. Dengan gerakan canggung yang jarang ia miliki, Kembang menyeduh secangkir kopi hitam. Ia tidak bersenandung nakal atau melangkah dengan berisik. Perasaannya masih campur aduk. Antara sadar diri dan getaran yang tak bisa ia sangkal sejak gairah singkat malam itu. Ia mengetuk pintu perlahan, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Raja tampak serius menatap layar monitor, kacamata bertengger di hidung bangirnya. Membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih berwibawa. Kembang meletakkan cangkir itu di sudut meja dengan hati-hati. "Kopinya, Bos," bisiknya lirih, hampir tak terdengar. "Jangan kerja terlalu malam. Tubuhmu juga butuh istirahat." Biasanya, Kembang akan menyertakan godaan tentang bagaimana Raja akan menjadi keriput jika kurang tidur. Namun kali ini, ia langsung memutar tubuhnya dan bersiap pergi. Karena memang, niatnya datang hanya untuk membuatkan kopi untuk Raja. Namun, sebelum langkah pertamanya jatuh, sebuah tangan besar yang hangat menyambar lengannya. Sentakan itu tidak kasar, tapi penuh tuntutan. Dalam satu gerakan yang begitu luwes, tapi bertenaga, Raja menarik Kembang hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas pangkuan kokohnya. Kembang terkesiap, tangannya secara refleks bertumpu pada bahu bidang Raja. Napasnya memburu saat mendapati wajah Raja hanya berjarak beberapa inci dari miliknya. Pria itu sudah melepas kacamatanya, menyisakan tatapan kelam yang sarat akan dahaga emosi yang tak tersampaikan. "Temani aku malam ini,” Raja berbisik, suaranya parau dan berat, menggetarkan d**a Kembang yang menempel erat pada kemejanya. “Tapi Bos … aku–” “Mau atau tidak?” sahut Raja. Kembang tak menjawab. Tubuhnya berkhianat lebih dulu. Suasana ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat intim, seolah-olah oksigen di sekitar mereka baru saja menguap terbakar oleh ketegangan yang memuncak. Raja tidak menunggu jawaban. Hidungnya yang bangir menempel di kulit Kembang yang langsung meremang. Pria itu menghidu sejenak aroma tubuh wanita di pangkuannya. Memastikan bahwa ini benar-benar yang ia mau. Jemarinya yang kasar tapi lembut menyentuh kulit bahu Kembang yang putih pualam. Dengan gerakan yang sangat lambat, seolah-olah ingin menikmati setiap detik keberaniannya, Raja menarik turun tali spaghetti hitam itu dari bahu Kembang. Kain sutra itu merosot separuh, menyingkap keindahan yang selama ini tersembunyi di balik kain tipis yang sering dikenakan Kembang. Di bawah pendar lampu meja yang remang, kulit wanita itu tampak seperti rembulan yang tertutup awan tipis, berkilau dan mengundang. Raja membiarkan jemarinya menari di atas lekuk bahu yang terbuka, menghapus batas antara kontrak dan rasa, antara bos dan wanita yang diam-diam telah mencuri kewarasannya. Sampai lenguhan kecil lolos dari bibir Kembang yang sedikit terbuka. “Emmhh ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD