Bab 12 – Hasrat yang Tertunda

1096 Words
Tatapan Raja fokus pada layar laptop yang menampilkan angka-angka yang harusnya ia cermati dan hitung malam ini. Sialnya, pikirannya malah berlarian ke mana-mana. Ke tadi sore, kepada Kembang, juga ke malam sebelum ini. Ketika wanita itu telah pasrah di bawah kungkungannya. Pria itu memejamkan mata. Mencoba mengingat bagaimana aroma nafsu yang sudah di ubun-ubun dari wanita yang ia kontrak menjadi mama Adel itu meledak pelan-pelan ketika ia menjamahnya. Belum lagi suaranya yang serak dan sedikit menuntut. Sayangnya, Raja memilih untuk tetap menjaga diri karena merasa belum benar-benar bisa melakukannya. Namun malam ini, ketika ia melihat sendiri bagaimana Adel begitu bahagia bersama Kembang, melihat gadis kecil itu tampak ceria, Raja tidak lagi bisa menahan diri. Ia sudah terlalu lama larut dalam pencarian tak berujung yang menyita banyak waktunya selama ini. Entah apakah ini keputusan benar atau tidak. Yang jelas, hanya Kembanglah wanita yang mampu menyusup dalam kehidupan Raja diam-diam, lalu mengusik hatinya yang telah lama sengaja ia matikan. Dan malam ini, ketika wanita itu datang sendiri dengan alibi secangkir kopi, Raja tak lagi mau menahan diri. Ia melupakan siapa dirinya dan Kembang dalam detik-detik penuh debaran gairah dan rasa kepemilikan yang bukan hanya sekedar mau, tapi juga janji. Tak ingin memikirkan apa pun yang terjadi di depan, Raja mencoba bicara dengan bahasa tubuhnya pada Kembang yang awalnya enggan. Wanita itu menolak bukan karena tidak suka, salah. Kembang hanya sadar diri siapa dirinya di rumah ini. Namun, tatapan Raja menggoyahkan segala yang coba Kembang jaga. Ketika kemudian lenguhan pelan meluncur dari bibirnya yang digigit sendiri. “Emmh ….” Kembang menyadari ketegangan itu lebih dari siapa pun ketika jemari Raja mulai menurunkan tali spageti pakaian Kembang di dari bahu kanannya perlahan. Jemari itu dingin, tapi penuh dengan getaran yang membuat kulit putih Kembang meremang. Sementara bibir Raja mulai menjelajahi semua yang kini terpampang di hadapannya dengan nyata. Ia menikmati setiap denyut kecil tubuh Kembang yang terpengaruh oleh isapan dan sentuhannya. Sampai akhirnya dering ponsel di meja menginterupsi perhatian keduanya. Kembang menegang dengan napas memburu yang membuat dadanya naik turun, sedangkan Raja berniat tidak peduli dengan suara itu. Namun, deringnya makin memekkakan telinga sampai akhirnya ia menyerah ketika Kembang membuka suara. “Ada telepon.” Raja mengangguk. Ia meraih ponsel di meja. Sementara Kembang membenarkan pakaiannya yang sudah melorot sampai ke pinggang. Raja menggeram rendah, sebuah suara frustrasi yang tertahan di tenggorokan. Sebelum ia akhirnya menerima panggilan itu. Nama Yanto – Site Manager, tertera di layar. Ini bukan panggilan sembarangan. Jika Yanto menelepon selarut ini, artinya ada masalah besar di konsesi tambang batu bara mereka. Raja menggeser layar hijau dengan cepat. "Ada apa?" Suaranya berubah menjadi sangat dingin dan profesional, kontras dengan posisinya saat ini yang masih memangku Kembang. "Pak, gawat. Lahan di sektor C longsor karena hujan deras tadi sore. Dua unit dump truck tertimbun dan warga sekitar mulai melakukan blokade di akses masuk jalan hauling. Mereka menuntut ganti rugi segera malam ini juga, atau alat berat kita akan dibakar," lapor suara di seberang sana dengan nada panik. Rahang Raja mengeras. Masalah di Rajawali Borneo Corp tidak pernah main-main. Konflik lahan dan bencana alam di medan tambang adalah makanan sehari-harinya. Namun kali ini waktunya benar-benar buruk. Ia adalah nakhoda perusahaan besar, dan ribuan nyawa serta aset bergantung pada keputusannya. "Tahan massa. Jangan ada tindakan provokatif. Saya akan ke sana sekarang juga," titah Raja tegas. Ia menutup telepon dan menatap Kembang yang masih duduk di pangkuannya dengan nanar. Matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam. Namun tanggung jawab sebagai pemimpin raksasa tambang di Kalimantan Timur itu tak bisa ia tanggalkan begitu saja. “Aku harus pergi,” katanya kemudian. “Ah … iya.” Tanpa aba-aba, Kembang berdiri dari pangkuan Raja. Ia merapikan dresnya, sedangkan pria itu berdiri di sampingnya. “Tidurlah! Sepertinya aku nggak akan bisa pulang malam ini.” Kembang mengangguk lagi. Wajahnya masih diselimuti hasrat yang terpotong paksa dan gemuruh di d**a karena sikap Raja yang demikian mengesankannya. “I–iya. Hati-hati,” sahut Kembang lirih. Seolah-olah enggan untuk meninggalkan keintiman mereka barusan, Raja akhirnya membuang napasnya dengan kasar. Ia meraih jaket di sandaran kursi dan berjalan cepat usai menyahut kunci mobil. Pria itu meninggalkan Kembang di ruangannya dengan rasa yang campur aduk. Separuh kecewa, tapi separuh lagi begitu bahagia. Yang barusan itu, Raja benar-benar membuatnya seperti ratu yang dipuja bukan hanya karena kenikmatan semata, tapi juga dengan getaran tanpa nama. Kembang tahu, baik ia maupun Raja sama-sama tidak menyebut satu rasa dengan nama yang spesifik. Namun, ia paham. Gelenyar itu sama-sama ia rasakan. “Ya Tuhan, aku deg-degan.” *** Pagi menyapa dengan hangatnya sinar matahari. Kembang sudah menyiapkan sarapan untuk Adel seperti biasanya. Namun, kali ini benar-benar dibuat dengan penuh cinta. Entahlah, rasanya ia sangat bahagia hari ini. “Nita, mana Adel?” tanyanya ketika melihat pengasuh gadis kecil itu membawa tas Barbie kesukaannya. “Masih di dalam, Mbak. Udah siap, kok. Cuma masih asyik sama crayon barunya,” jelas Nita. Kembang tersenyum, lalu berkata jika ia akan memanggil Adel sendiri. Ia pun masuk ke kamar gadis kecil itu. Di depan meja belajarnya, Adel asyik memoles crayon pada bidang gambar di meja. “Adel, Sayang. Lagi apa? Kok, nggak keluar. Ayo sarapan. Nanti telat sekolah,” kata Kembang. Gadis kecil itu menoleh, lalu tersenyum kecil. “Iya, Ma.” Bocah itu pun turun dari kursi dan meninggalkan media gambarnya. Kembang sempat melihatnya. Ia tertegun ketika melihat objek yang Adel gambar. Dua pria dengan gestur berbeda. Salah satunya duduk di kursi roda, tapi ada yang aneh. Namun, belum sempat Kembang bertanya, Adel sudah menarik lengan wanita itu menyuapi makan. “Iya. Hati-hati. Jangan lari-larian.” Adel menarik lengan Kembang sampai ke meja makan. Tepat saat itu, Raja muncul dengan wajah kurang tidurnya. Matanya merah dengan mata panda yang begitu kentara. Kemeja yang semalam sudah kusut. Namun, ia tetap mengulas senyum untuk Adel yang menyapanya pagi ini. “Papa lembur?” “Iya. Sarapan yang banyak. Papa mau istirahat sebentar,” kata Raja. “Ok, Pa.” Raja yang sempat duduk di sebelah Adel akhirnya bangkit. Ia menatap wanita yang masih berdiri di belakang kursi sang putri dengan saksama. Sudut bibirnya bergetar sedikit. Hampir tidak terlihat, tapi kedipan matanya sudah dimengerti Kembang tanpa pria itu perlu mengeluarkan suara. Raja melangkah, tapi tangan kekarnya sempat menyambangi punggung Kembang sekilas. Sentuhan kecil yang kemudian membuat perut Kembang terasa menegang. Seolah-olah banyak kupu-kupu terbang di sana menggelitiknya hingga membuatnya meremang. Tubuhnya makin kaku ketika napas Raja berembus hangat di telinganya. “Aku istirahat dulu.” Hanya bisikan kecil. Namun, melemaskan setiap sel saraf yang ada dalam tubuh Kembang. Hingga wanita itu hanya bisa mengangguk lemah. “Iya,” sahutnya singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD