Raja benar-benar terlelap beberapa jam setelah masuk ke kamar. Tepat pukul sepuluh lebih lima belas menit, pria itu membuka mata. Rasa pegalnya sedikit berkurang setelah tidur beberapa jam.
Raja masih merebah, tapi kali ini lengannya yang kekar ia gunakan sebagai bantal. Masalah di galian C sudah selesai malam tadi. Sekarang, haruskah ia menyelesaikan masalah yang lain?
Sudut bibir Raja berkedut pelan. Ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, lalu pergi mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin demi mengembalikan staminanya yang terkuras semalam. Baru setelah itu, ia turun ke meja makan karena perutnya terasa lapar.
Kembang sedang duduk di sofa ruang tuang ketika Raja turun. Di sana, di atas sofa abu-abu yang luas, Kembang sedang bersandar dengan santai. Ia tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Dilingkupi oleh suara musik dari headphone yang menutupi telinganya. Penampilannya pagi itu sangat sederhana, jauh dari kesan glamor atau provokatif yang biasa ia tunjukkan.
Kembang mengenakan kaus katun berwarna abu-abu muda yang sedikit longgar dan celana panjang kain berbahan jatuh yang menutupi seluruh kakinya. Tidak ada kulit yang sengaja dipamerkan, tidak ada lekuk yang sengaja ditonjolkan. Ia hanya seorang wanita yang sedang menikmati pagi yang tenang dengan wajah polos tanpa riasan, membiarkan rambutnya terikat asal ke atas hingga menyingkap leher jenjangnya yang putih.
Ada sesuatu tentang bagaimana kaus itu jatuh di bahu Kembang, atau bagaimana celana tipis itu membungkus kakinya saat ia menyilangkan kaki di atas sofa. Yang membuat Raja tak bisa memalingkan wajah. Cahaya pagi yang menyentuh helai rambut halusnya memberikan kesan hangat dan rumahan yang belum pernah Raja rasakan sebelumnya.
Di mata sang bos tambang itu, Kembang terlihat sangat cantik dengan cara yang begitu tulus, hingga rasa tegang yang tadi ia bawa dari urusan pekerjaan mendadak berubah menjadi desiran aneh di perutnya.
Raja menyandarkan bahunya di kusen pintu, tangannya bersedekap. Ia mengabaikan rasa laparnya sejenak, hanya untuk menikmati siluet Kembang yang sedang memejamkan mata sambil menggoyangkan kepala pelan mengikuti irama musik. Ia merasa seperti seorang pencuri yang sedang mengamati porselen indah di rumahnya sendiri. Sampai akhirnya Kembang menyadari kehadiran pria itu.
Buru-buru ia melepas headphone dan berdiri dengan cepat.
“Kamu … udah bangun?” tanyanya gugup.
Raja mengangguk lemah, lalu mendekati Kembang yang mendadak berdebar-debar.
“Aku lapar. Ada makanan?”
“Ada. Ada … sebentar. Aku siapin,” katanya.
Kembang melepas ponsel dan headphone-nya ke sofa. Lalu bersiap pergi ke dapur. Namun, ketika melewati Raja yang berdiri di samping kusen, tubuhnya ditahan dan ditarik paksa ke dalam pelukan pria itu.
Walaupun terkesiap, tapi Kembang sama sekali tidak melawan.
Lengan kekar Raja melingkar di pinggang rampingnya dengan sangat protektif. Sementara wajahnya sudah berada tepat di depan wajah wanita itu. Memberikan efek gugup yang membuat napas Kembang jadi ngos-ngosan karena berebut oksigen dengan bos besar.
“Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Raja lirih.
Kembang menggeleng pelan. Jawaban jujur yang membuat wajahnya kembali memerah hingga ke telinga.
“Maaf. Aku harus pergi mendadak semalam.”
“Nggak apa-apa. Kan, itu kerjaan kamu.”
Raja mengangguk. Pagi ini, tidak ada siapapun di rumah ini selain ia dan Kembang. Satpam juga berada di posnya di depan. Sementara Adel akan pulang sekitar dua jam lagi. Jadi, bisakah mereka memanfaatkan waktu itu untuk melanjutkan sesi menegangkan semalam.
“Kembang.”
“Iya.”
Keduanya saling tatap. Gelenyar dalam hati menjadi latar suasana intim itu. Raja tidak tahu bagaimana memulainya. Wanita sudah ada di hadapannya. Dia pasti juga akan pasrah dengan apa yang akan Raja lakukan. Namun, kenapa ia malah jadi kikuk begini?
Setelah meredam dadanya yang bergolak, Raja akhirnya menyentuh bibir Kembang dengan bibirnya ringan. Hanya sekilas, tapi efeknya benar-benar dahsyat. Ia mengulanginya lagi, kali ini lebih dalam dan menuntut. Hingga akhirnya Kembang pun ikut larut.
Sialnya, tepat saat itu suara Sultan menggema dari teras rumah besar itu.
Penyatuan rasa yang baru saja dimulai itu terputus paksa. Bunyi sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer teras terdengar seperti suara guntur di siang bolong. Belum sempat bibir mereka terlepas sepenuhnya, suara bariton yang berat dan penuh nada jahil sudah lebih dulu menerobos masuk melewati pintu utama yang memang tidak terkunci.
"Woi, Ja! Tumben jam sepuluh pagi belum balik ke kantor? Mau pamer jadi Bos paling santai se-Kalimantan atau gimana?"
Sultan melangkah masuk dengan gaya santainya. Raja dan Kembang sontak menjauh satu sama lain. Kembang menggeser tubuhnya lebih jauh. Sementara Raja berdiri tegak dengan gerakan kaku, berpura-pura sedang merapikan jam tangannya dengan konsentrasi yang luar biasa tinggi.
Sultan menghentikan langkahnya tepat di ambang ruang tengah. Matanya yang tajam langsung menangkap sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Ia melihat wajah Kembang yang merah padam dan napas Raja yang masih sedikit tidak teratur.
"Eh? Ada Kembang juga di sini?" Sultan menyeringai lebar, sorot matanya yang jenaka berpindah-pindah di antara mereka berdua. "Kayaknya gue datang di waktu yang … sangat tepat ya?"
“Tan, nggak usah mulai," desis Raja dengan nada memperingatkan, berusaha mengembalikan wibawa Bos Rajawali Borneo Corp-nya. "Ngapain kamu ke sini?"
Sultan tertawa kecil sambil berjalan mendekat, sengaja melewati Raja dan berdiri di depan Kembang yang kini sedang berusaha keras membetulkan kausnya.
"Nggak ada apa-apa sih, Ja. Cuma mau nganter berkas site yang tadi lu minta. Tapi nggak sangka, ternyata suasana di rumah ini jauh lebih 'panas' daripada cuaca tambang."
Kembang, yang merasa jantungnya hampir meledak karena malu sekaligus kesal, segera baranjak. Ia tidak sanggup menatap mata Sultan yang seolah-olah bisa membaca apa yang terjadi beberapa detik lalu.
"Aku … permisi dulu ke dapur. Mau siapin makan siang buat," ujar Kembang terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melesat pergi menuju dapur dengan langkah seribu, meninggalkan dua pria itu di ruang tengah.
Sultan menepuk bahu Raja dengan kencang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gila lu, Ja. Bibir merah begitu, mau bilang lagi bahas perkembangan Adel di sekolah? Lu jago di tambang, tapi payah kalau soal nutupin muka grogi!"
“Bisa diem nggak? Kita bicara di teras,” kata Raja seraya berlalu.
Sultan masih saja menggoda dan suara itu terdengar sampai ke dapur di mana Kembang berada. Wajah wanita itu masih panas, sedangkan bibirnya yang terasa kebas beberapa kali ia gigit sendiri. Ciuman itu cuma sebentar, tapi benar-benar membekas bahkan sampai ke hati.
***
“Jadi, job desk-nya Kembang di sini apa aja, Ja? Jangan bilang ngerapel semuanya. Sampai ke ranjang,” tanya Sultan penuh godaan.
Raja membuang napas kasar seraya pura-pura fokus pada laporan yang Sultan bawa. Padahal pikirannya masih tertinggal di ruang tengah tadi bersama Kembang.
“Ngomong apa, sih, Tan?”
“Halah, nggak usah ngelak lagi. Aku tadi lihat, ya, kalian ciuman.”
Raja berdeham pelan, tapi sama sekali tak beralih dari dokumen di hadapannya yang seolah-olah tak terbaca sama sekali. Angka-angka itu mengambang tanpa makna saat ini.
“Nggak usah bahas itu. Aku minta kamu ke sini di jam makan siang. Kenapa jam segini udah muncul?”
“Kalau aku datang nanti, aku nggak bisa lihat dong, gimana bos besar kita yang kaku, takhluk di pelukan Kembang.”
Sultan masih terkekeh. Sementara Raja hanya bisa menggeleng lemah. Ia tak mau berdebat seperti biasanya dengan Sultan jika masalah sudah menyangkut hal-hal yang sedikit membuatnya jengah.
Setelah tawanya reda, Sultan berdeham, lalu mencoba bicara serius kepada sang sahabat.
“Ja, mendingan udahan aja nyari Mamanya Adel. Toh, udah bertahun-tahun dan dia nggak diketahui di mana keberadaannya sama sekali. Mungkin aja dia udah … maaf, nih. Udah meninggal. Lagi pula, Adel udah bahagia banget sama Kembang. Kamu juga kayaknya,” jelas Sultan panjang lebar.
Raja menyudahi aksinya mengecek dokumen dan menatap Sultan lama. Ucapan sahabatnya itu ada benarnya. Namun, mana bisa begitu saja ia hentikan. Walau bagaimanapun Kembang memberikan kasih sayang, tetap saja ia perlu menemukan mamanya Adel demi meminta maaf atas kesalahan keluarganya di masa lalu.
“Tetap aja. Aku tetap harus nyari Mamanya Adel. Aku harus nebus kesalahan keluargaku dulu,” jelas Raja.
Saat itu, tanpa keduanya ketahui Kembang sudah ada di belakang pintu. Di tangannya nampan bergetar usai mendengar ucapan Raja. Ada sisi hatinya hang terasa perih walaupun ia seharusnya tak berhak merasakan itu. Senyumnya terbit sekilas, tapi sedikit getir. Ia mencoba menguatkan hatinya yang kadung jatuh pada pesona Raja. Ya, siapalah dia yang sempat berpikir bisa menggantikan sosok berharga bagi Raja dan Adel.
“Aku hanya gundik, kan,” bisiknya pahit.