Bab 10 – Terngiang Malam Penuh Keringat

1267 Words
Senyum Kembang terus terukir di bibirnya sepeninggal Raja dari kamar ini. Wanita itu masih merebah di ranjang dengan terlentang. Rambutnya tersebar berantakan di ranjang, sedangkan pakaian malamnya sudah sedikit berantakan. Ia menatap langit-langit ruangan itu, lalu tersenyum lagi. “Dasar pemalu,” bisiknya. Ia mengubah posisinya menjadi miring ke samping. Mencoba mengingat-ingat momen yang terjadi beberapa menit lalu di kamar ini. Kembang mengusap sprei yang terasa masih hangat. Baru saja, beberapa waktu yang lalu, seorang pria tergesa-gesa pergi setelah memberikannya sesuatu yang baru. Wanita itu tak tahu, tapi yang jelas baru Raja yang bisa membuatnya melayang sebegitu tingginya tanpa penyatuan. “Kenapa dia kabur begitu saja? Kan, aku bisa … ya, setidaknya aku bisa membalas apa yang dia berikan,” bisik Kembang lagi. Kali ini, ia mengusap pinggangnya. Mencoba menyusuri jejak-jejak tangan Raja yang kekar di tubuhnya yang tertinggal. Namun, makin ia mencoba mengingatnya, rasanya tubuhnya jadi makin panas. “Apa … dia secinta itu sama Mamanya Adel sampai-sampai rela berhenti tepat di … ah, sial! Kenapa jiwa jalangku terus meronta kayak gini. Apa aku susul aja Raja ke kamarnya? Aah ….” Kembang menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Sudah di depan mata, sudah tersaji, dan hanya tinggal satu langkah saja. Kenapa malah kabur? Kembang yakin Raja juga merasa tegang. Tangannya bahkan tadi sempat memastikan bahwa kenjantanan pria itu bereaksi dengan sangat sempurna sampai ia menahan napas. Namun, kenapa ia malah digantung. Nggak mungkin beneran belok, kan? Pikir Kembang. Sementara itu di kamar mandinya, Raja menguyur tubuhnya dengan air dari pancuran shower. Ia memejam, mencoba membuang memori manis yang baru saja ia lakukan dengan Kembang. Namun, bahkan setiap detik itu terasa sulit untuk dihapus. Bagaimana bibir basah Kembang menjelajahi dirinya dengan rakus, tapi terkontrol. Jemari lentiknya yang singgah di setiap ototnya yang tegang, juga jeritannya yang mengundang syahwat purba dalam dirinya. Raja akui, baru Kembang yang bisa membuatnya hampir hilang kewarasan seperti tadi. Tidak ada wanita lain, tidak pernah ada. Namun, untunglah ia bisa menahan diri di detik terakhir. Walaupun efek sampingnya, ia tetap harus mendinginkan sekujur tubuhnya seperti ini. “Sialan!” umpatnya lirih. Jujur, ia butuh wanita seperti Kembang. Yang hangat, yang ceria, dan bisa mencairkan suasana. Namun, tidak sekarang. Ia tak mau mengingkari janjinya pada diri sendiri sebelum menemukan Mama Adel. Sebelum bocah kecil itu benar-benar bisa bertemu dengan orang yang melahirkannya. Setidaknya selama pencarian itu, Raja harus menahan diri. Namun, jika ia terus-menerus dihadapkan dengan Kembang yang seperti ini, mana bisa otaknya tetap waras. Bukan hanya nafsu semata, Raja bahkan mulai melihat dari sisi lain dalam hatinya. “Nggak-nggak. Jangan berlebihan, Raja. Dia cuma kamu sewa buat jagain Adel. Jangan main hati,” bisiknya pada diri sendiri. Namun, debaran jantungnya berkhianat di depan mata. Tatapan Kembang bahkan terus membuat dadanya bergemuruh. Mengaku atau tidak, selama ini Raja hanya mencoba untuk terlihat tidak tertarik padanya. Dan tadi, ketika wanita itu telah membuka semuanya untuk Raja, bahkan telah kalah satu babak dengannya, Raja tidak bisa melanjutkannya. Ia takut menjadi candu, walaupun sekarang pun, diakui atau tidak, ia telah merindukan telaga penuh racun milik wanita itu. Bibirnya. *** Pagi datang buru-buru. Pagi ini, Kembang kembali ke setelan awal setelah semalam mendapatkan service terbaik dari sang tuan rumah, walaupun hanya dirinya, bukan Raja. Namun, suasana hati Kembang menjadi lebih baik. Ia masak banyak dan membaginya kepada Nita dan Satpam. Lalu menyiapkan segalanya di meja makan. Sereal kesukaan Adel pun sudah tersaji, tinggal menuang susunya. Ketika kemudian Raja muncul bersama Adel yang tadi menyusulnya ke kamar hanya untuk meminta dibelikan crayon baru. “Pagi, Ma,” sapa gadis kecil itu. “Pagi, Sayang.” “Mama sama Papa udah baikan, ya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Adel yang polos. Sejak beberapa hari yang lalu, ia memperhatikan sikap Kembang dan Raja yang berbeda. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi. Namun, tak berani bertanya. “Maria cerita di sekolah, kalau tempo hari Mama sama Papanya marahan. Terus setelah Papa cium Mama, mereka baikan. Papa udah cium Mama, kan? Cium yang banyak, Pa. Biar Mama nggak marah lagi. Kalau Mama marah, rumah jadi mengerikan,” jelas bocah kecil itu. Kembang dan Raja kompak saling tatap. Lalu menunduk juga dalam waktu bersama. Nita hanya tersenyum melihat ekspresi dua orang dewasa itu. Seolah-olah ia mengakui kebenaran itu tanpa bicara. Ya, Raja sudah mencium Kembang, tapi bukan hanya pipinya saja. Lebih daripada yang bocah kecil itu tahu. Kembang lantas berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia membantu Adel duduk dan menyiapkan sereal kesukaannya. “Cepat duduk dan sarapan. Mama akan tambah marah kalau Adel nggak nurut,” katanya. Adel tersenyum kecil, lalu menarik Kembang untuk kemudian dicium pipinya. Lalu menoleh ke arah Raja setelahnya. “Cium kayak gini, Pa,” katanya. Raja menelan ludahnya dengan susah payah. Ia mati-matian menahan gejolak dalam dirinya di depan semua orang. Termasuk Kembang yang semalam bahkan sudah habis ia lahap sampai ke dalam-dalam. “Iya, Sayang. Sekarang habiskan sarapannya. Papa nggak mau beliin crayon kalau kamu menyisakan makanan sedikit saja,” sahut Raja. “Iya, Pa.” Raja mencoba kembali menjadi normal. Kembang juga melakukan hal yang sama. Hanya Nita yang akhirnya menahan tawanya sendirian. Setelah selesai sarapan, Kembang mengantar Adel ke mobil. Kali ini, Raja tak mengantar. Ia meminta sopir membawa Adel ke sekolah. Sebab, ia harus buru-buru menghadiri rapat pagi. “Yang pinter di sekolah, ya. Jangan nakal,” ucap Kembang. “Iya, Ma.” “Pak sopir hati-hati nyetirnya.” “Siap, Mbak.” Kembang melambai ke arah mobil yang bergerak menjauh dari halaman. Lalu, ia masuk usai mengunci pintu gerbang. *** Raja menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, mengembuskan napas panjang setelah rentetan meeting yang menguras energi. Fokusnya kacau. Pikirannya terus melayang pada kejadian semalam di kamar bawah. Tentang bagaimana Kembang menyerahkan diri dalam kerapuhan, dan bagaimana ia memilih untuk memuaskan wanita itu dengan cara lain, tanpa penyatuan, demi menjaga sisa harga diri yang masih ingin ia lindungi. Rasa penasaran mulai menggerogoti dadanya. Dengan gerakan cepat, Raja membuka laptop dan mengakses sistem CCTV rumah pribadinya. Layarnya berkedip, menampilkan sudut ruang makan. Wanita itu tampak sedang sibuk merapikan sisa sarapan di dapur sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya, bernyanyi kecil mengikuti irama yang hanya ia sendiri yang tahu. Namun, baru saja Raja mulai menikmati pemandangan itu, Kembang melangkah keluar dari dapur dan menghilang di balik lorong menuju kamar. Raja menunggu beberapa detik, lalu beberapa menit, tapi Kembang tak kunjung muncul di area umum. "Sial," gerutu Raja pelan. Ia merasa kesal karena kehilangan hiburan paginya di tengah tumpukan berkas kantor. Penasaran bercampur tidak sabar, Raja mencoba mengakses kamera di sudut luar yang mengarah ke balkon lantai dua. Dan di sana ia menemukannya. Kembang sedang berdiri di balkon kamarnya, menghirup udara pagi yang masih segar setelah sisa hujan semalam. Napas Raja seolah tertahan di tenggorokan. Kembang tampaknya baru saja mengganti pakaiannya dengan yang lebih terbuka. Ia hanya mengenakan tank top sutra hitam tipis dengan potongan d**a rendah yang sangat berani, dipadukan dengan celana tidur satin yang sangat pendek. Kembang meregangkan tubuhnya, mengangkat kedua tangan ke atas kepala. Sebuah gerakan yang membuat kain tipis itu tertarik ke atas, menonjolkan lekuk tubuh yang semalam Raja telusuri dengan jemarinya. Rambutnya yang diikat tinggi memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih. Sinar matahari pagi yang jatuh di kulit mulusnya membuat Kembang terlihat begitu bercahaya. Raja mencengkeram pinggiran mejanya, merasakan sensasi panas yang mendadak menyerang pangkal pahanya. Miliknya menegang seketika, berdenyut menuntut perhatian hanya dengan melihat bagaimana wanita itu memejamkan mata dan membiarkan angin membelai kulitnya. “Ah … sial!” Raja menutup laptopnya dengan hentakan kasar. Ia tidak bisa bekerja jika bayangan Kembang di balkon terus menghantui kepalanya. “Enyahlah dari pikiranku, Kembang,” bisiknya seraya memejamkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD