Elvano berjalan dengan gagah memasuki sebuah perusahaan milik keluarganya, ini pertama kalinya setelah 10 tahun menempuh pendidikan di Inggris, hari ini juga ia akan mewarisi semua kekayaan dari orangtuanya karena ia adalah pewaris tunggal keluarganya dan dinobatkan menjadi CEO diperusahaannya sendiri.
Semua mata tertuju pada Elvano yang tinggi, kulit kecokelatan, kepala dengan gaya rambut seperti TNI, menggunakan kacamata hitam dengan dikawal oleh 4 bodyguard. Dengan senyum miring ia memperhatikan setiap wanita yang melihatnya dengan penuh kekaguman.
Salah satu bodyguardnya membukakan pintu utama sebuah ruangan yang berada dilantai tertinggi di perusahaan tersebut, Elvano masuk dan melihat seorang pria yang usianya sudah 55 Tahun berdiri menatapnya begitu bangga, pria itu bernama Hartono.
“Selamat datang Elvano, anakku tersayang” ucap Hartono mengembangkan kedua tangannya dan memeluk Elvano, Elvano tersenyum dan memeluk sang ayah begitu erat, ia begitu rindu setelah beberapa tahun belakangan tidak bertemu dengan sang ayah karena kesibukan mereka masing-masing.
“Aku kangen banget” ucap Elvano.
“Papa juga kangen dengan kamu, gimana kabar bibi kamu di Inggris?” ucap Hartono.
“Mereka sehat dan baik, bulan depan mereka akan pulang ke Indo, sepertinya sehari tanpaku hidup mereka begitu kesepian, apalagi sikembar” ucap Elvano tertawa, 10 Tahun hidup di Inggris ia tak pernah sekalipun hidup terpisah dengan paman dan bibinya yang merawatnya dengan sangat baik, mereka pun sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
“Hahaha, yahh Papa tau itu, sepertinya kali ini akan benar-benar terjadi perang dunia ketiga untuk mendapatkan kamu kembali” ucap Hartono tertawa, Elvano pun ikut tertawa.
“Gimana kabar Papa?” tanya Elvano, Hartono menghela nafas sejenak.
“Yahh begini lah” ucapnya tersenyum meskipun di dalam hatinya ia merasa sedih setelah kepergian sang istri yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan, Elvano mengerti dengan apa yang dirasakan oleh ayahnya karena ia sendiri pun merasakan itu semua, itulah yang menyebabkan ia enggan pulang sejak sang ibu pergi untuk selamanya.
“Kemarin ada perempua nge DM Vano di i********:, katanya lagi deket sama Papa, masih muda juga aku lihat, beneran itu?” ucap Elvano, Hartono pun tertawa terbahak, meskipun sudah berumur 55 Tahun namun penampilan dan wajahnya masih terbilang tampan dan terlihat muda karena ia masih rajin olahraga dan menjaga tubuhnya.
“Beneran? Jangan sampe Vano dapet kabar Papa menikah dengan cewek seumuran dengan Vano” ucap Elvano, Hartono menghela nafas.
“Tidaklah, satu minggu yang lalu Papa memenuhi undangan wisuda di salah satu universitas negri di Bandung, selesai acara tiba-tiba ada seseorang menghampiri Papa minta foto bareng, katanya dia sudah lama mengagumi Papa yang seorang pengusaha sukses, yah Papa fine-fine saja, beberapa jam setelah itu ada DM masuk ke Papa, ngetag foto Papa, dan dia banyak cerita panjang lebar, sedikit saja Papa tanggapin karena dia bertanya-tanya soal bisnis, namun sepertinya dia mengharap lebih, jadi yahhh, Papa biarkan saja, Papa juga bingung harus bagaimana mengadapinya, hahaha” ucap Hartono, Elvano hanya diam sejenak, ia tahu sang ayah banyak diincar para wanita muda sejak dulu, bahkan sejak ibunya masih ada, tak heran jika sekarang wanita-wanita itu semakin menggila untuk mendekati ayahnya.
“Kamu tenang saja, Papa tau apa yang kamu khawatirkan, kamu juga tau Papa seperti apa, tidak mudah bagi Papa menerima seorang wanita begitu saja, meskipun naluri Papa masih membutuhkan itu” ucap Hartono, Elvano hanya menganggukkan kepalanya, meskipun nanti ia akan tahu bahwa sang ayah ingin menikah lagi, namun ia hanya berharap sang ayah mendapatkan seseorang yang benar-benar layak untuknya dan juga untuk ayahnya.
“Hmm baiklah, aku percaya Papa” ucap Elvano.
“Yasudah, 2 jam lagi kita ada meeting, sekaligus Papa akan mengumumkan jabatan kamu, Papa sudah tidak sabar untuk menikmati hari tua Papa” ucap Hartono tersenyum.
“Huuhhh dasar” ucap Elvano tertawa.
“Ini sudah tugas kamu meneruskan semuanya, kamu satu-satunya anak Papa, siapa lagi yang Papa harapkan jika bukan kamu, nanti kalau kamu menikah, kamu harus punya banyak anak agar tidak kesepian disaat umur seperti Papa” ucap Hartono, Elvano hanya tersenyum getir, tadinya ia memang memiliki seseorang yang sudah ingin ia seriuskan, namun ternyata hubungan itu kandas begitu saja, seketika ia sudah malas dengan sebuah hubungan yang seperti itu.
“Kenapa bengong? Atau sampai sekarang kamu belum menemukannya?” ucap Hartono, Elvano hanya menggelengkan kepalanya.
“Ahh kamu, dasar payah, lalu kamu gunakan untuk apa wajah tampanmu itu?” ucap Hartono kesal, Elvano tertawa.
“Apaan sih Pah, udah deh, nanti akan datang waktunya” ucap Hartono.
“Tak perlu lah cari yang cantik sekali, hati yang baik, sopan santun, itu sudah cukup, tidak apa tidak kaya, karena kamu sendiri sudah mapan” ucap Hartono, seketika Elvano merasa bangga dengan ayahnya yang begitu bijaksana dalam hal seperti itu, ia tidak pernah membedakan seseorang hanya karena hartanya, itu yang membuat sang ayah dikenal banyak orang sebagai pengusaha yang baik dan bijaksana, dan hal itu menurun padanya.
“Yang penting bukan hasil perjodohan” ucap Elvano, Hartono pun tertawa.
“Papa tau kamu tidak suka perjodohan, bibimu sudah cerita banyak ke Papa, dia bilang satu hari selalu ada wanita bule yang mencari kamu kerumahnya” ucap Hartono tertawa lepas, Elvano hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lalu bagaimana dengan wanita yang bernama Claudia? Bibimu bilang kamu pernah mengenalkannya pada mereka, kenapa tidak dengan Papa?” ucap Hartono yang baru saja mengingat hal itu.
“Ahh itu” ucap Elvano tertawa.
“Biasalah, putus” ucap Elvano, Hartono kembali tetrawa.
“Perempuan mana yang berani menyia-nyiakan anak kesayangan Papa?” ucap Hartono.
“Sudahlah, biarkan saja, I’m fine Pah” ucap Elvano, Hartono hanya tersenyum dan maganggukkan kepalanya, ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh untuk masalah privasi ananya tersebut, karena ia tahu bahwa Elvano adalah anak yang setia dan baik.
*
“Raniesha” panggil Fatma.
“Iya Ma” ucap Raniesha yang sejenak mengalihkan pandangannya dari komputernya, ia melihat fatma menyerahkan sebuah amplop putih dan meletakkannya dimeja Raniesha.
“Apa nih?” tanya Raniesha.
“Itu surat perjalanan, minggu depan kamu, aku dan juga pak Doni ditugaskan untuk ke Jakarta, ikut pelatihan sistem baru, 3 hari” ucap Fatma, Raniesha membuka surat itu dan melihat namanya tertera disana untuk emngikuti pelatihan tersebut.
“Kenapa harus ke Jakarta?” tanya Raniesha.
“Sistemnya baru saja dikembangkan disana, jadi kita harus ikut, anak IT juga ikut 2 orang, salah satunya Devan” ucap Fatma tersenyum, Raniesha pun mengerti dengan arti senyuman itu seolah gosip kedekatannya dengan Devan tersebar begitu cepat padahal mereka belum ada hubungan apapun.
“Hmm, makasih ya” ucap Raniesha tersenyum, Fatma menganggukkan kepalanya dan kembali ke meja kerjanya, meskipun ia pernah menyukai Devan namun melihat kedekatan pria itu dengan Raniesha membuatnya sedikit kesal, bukan ia kesal dengan Raniesha, namun kesal dengan sikap Devan yang seolah-olah selalu mempermainkan hati wanita, ia sendiri tahu bahwa Raniesha adalah wanita baik-baik yang tak pantas disakitin.
“Ehmm, Ica” panggil Fatma pelan, Raniesha menoleh kearah Fatma yang meja kerjanya berada disampingnya.
“Yahh” ucap Raniesha.
“Kamu beneran udah pacaran dengan Devan?” tanya Fatma serius, Raniesha pun tertawa.
“Memangnya kenapa?” tanya Raniesha.
“Ga apa-apa sih, aku banyak denger gosip karyawan lain, banyak yang nyeritain kamu soal hubungan kamu dengan Devan” ucap Fatma.
“Aku juga denger kok” ucap Raniesha tersenyum.
“Lalu? Kamu diem aja?” ucap Fatma.
“Apa yang harus aku jawab Ma? Aku sama Devan masih temenan kok, belum ada hubungan apapun” ucap Raniesha tersenyum.
“Aku mau jelasin juga rasanya percuma, orang-orang ga akan merubah fikirannya jika sudah itu yang ada difikiran mereka, jadi biarkan sajalah, gausah diambil pusing” ucap Raniesha, Fatma hanya menghela nafas, ia hanya kesal dengan omongan orang-orang namun lebih kesal melihat kebaikan Raniesha.
“Malah aku yang kesel sama kamu, bisa-bisanya digosipin diem aja, kalo aku yang digosipin, udah aku tampar wajah-wajah mereka itu’ ucap Fatma kesal, Raniesha hanya tertawa.
“Sudalah, gausah diambil pusing” ucap Raniesha tersenyum.
“Hmm, kamu mah selalu seperti itu, entar kalo ada yang jahatin kamunya malah diem aja, orang-orang akan semakin suka ngejahatin kamu” ucap Fatma.
“Asal bukan keluarga aku saja yang jahatin, aku ga apa-apa kok, karena aku tau keluargaku ga akan ninggalin aku sekalipun satu dunia membenciku” ucap Raniesha tersenyum, Fatma pun ikut tersenyum, rasanya ia begitu iri dengan Raniesha yang memiliki keluarga begitu harmonis, karena setiap kali mereka mengobrol tak pernah sekalipun Raniesha tidak membahas keluarganya.
“Yahh, kali ini kamu benar dan aku mengalah, aku iri sama kamu” ucap Fatma.
“Kapan-kapan datanglah kerumah, aku akan kenalin kamu ke keluarga aku” ucap Raniesha.
“Okey, aku akan senang sekali jika diterima disana” ucap Fatma.
“Pastinya, mereka semua baik” ucap Raniesha tersenyum senang, Fatma menganggukkan kepalanya, ia pun kini semakin penasaran sebaik apa keluarga Raniesha yang selalu ia banggakan.
“Halo La, kamu dimana? Kakak uda di lobi kantor nih, tumben belum sampe sini” ucap Raniesha saat ia menelfon Raniella.
“Aku kejebak macet kak, salah ambil jalan tadi, aduhhh pusing aku kalo udah macet gini” ucap Raniella, Raniesha menghela nafas, ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17:30, ia juga melihat sekitar kantornya yang sudah sepi karena memang sudah jamnya pulang kerja.
“Kamu sekarang dimana?” tanya Raniesha.
‘Belum jauh dari kampus, tadi ada mata kuliah dadakan soalnya, makanya telat jemput kakak” ucap Raniella.
“Yasudah kamu pulang kerumah saja, tidak perlu mampir jemput kakak” ucap Raniesha.
“Terus kakak gimana dong? Entar Mamah marahin aku lagi karena ga jemput kakak” ucap Raniella.
“Kakak naik taksi saja, entar kakak yang jelasin ke Mamah kao Mamah marah ke kamu, pasti dia ngerti kok” ucap Raniesha.
“Tapi kak…” ucap Raniella.
“Ga apa-apa La, kamu mau kita nyampenya malem?” ucap Raniesha, Raniella sejenak berfikir, apa yang dikatakan oleh Raniesha memang benar, mereka akan lebih terlambat pulang kerumah jika ia harus menjemput Raniesha.
“Hmm baiklah, kakak hati-hati ya, jangan sampe salah pilih taksi” ucap Raniella.
“Iya Ella, kamu juga hati-hati” ucap Raniesha.
“Oke, byee” ucap Raniella.
“Byee” ucap Raniesha, ia pun menutup telfonna dan berjalan keluar dari kantornya untuk mencari taksi.
“Icha, belum pulang?” ucap Devan yang berhenti tepat dihadapan Raniesha saat ia tak sengaja melihat Raniesha baru saja keluar.
“Baru aja mau pulang, mau cari taksi” ucap Raniesha.
‘Taksi? Adik kamu ga jemput?” tanya Devan.
“Engga, dia kejebak macet” ucap Raniesha.
“Aku anter aja yuk” ucap Devan, Raniesha pun kaget mendengar hal itu.
“Ehmmm….” Raniesha tampak berfikir sejenak, belum pernah ia membawa teman pria kerumahnya dan apa jadinya nanti jika ia membawa Devan kerumah.
“Ichaaaaa, yukkkk” teriak Fatma saat ia tak sengaja melihat Raniesha dan Devan, Raniesha pun tersenyum pada Fatma, ia bersyukur Fatma datang.
“Van, sorry yah, aku balik sama Fatma aja ya” ucap Raniesha, Devan menghela nafas kesal.
“Hmm yaudah deh, hati-hati ya” ucap Devan tersenyum, Raniesha pun meninggalkan Devan dan masuk ke dalam mobil Fatma.
“Huuhhh, makasih ya” ucap Raniesha tersenyum.
“Sama-sama” ucap Fatma.
“Tapi.. kamu tau kalo tadi Devan ngajak aku pulang bareng?” tanya Raniesha.
“Aku tadi ga sengaja denger kamu nelfon Ella di lobi, makanya aku langsung ke parkiran, terus tadi m ngeliat kamu dengan Devan, aku taulah dia pasti nawarin buat nganterin kamu pulang kan?” ucap Fatma, Raniesha mengangguk.
“Aku bingung aja tadi, ga tau bilang apa ke Mamah nanti, aku belum pernah bawa temen cowok ke rumah” ucap Raniesha tersenyum.
“Serius?” tanya Fatma kaget.
“Iyaaa gitudeh” ucap Raniesha tersenyum malu.
“Jadi kamu belum pernah pacaran?” tanya Fatma, Raniesha menggelengkan kepalanya.
“Waaawww, hebat banget kamu bisa ga tertarik dengan hal seperti itu, hahaha” ucap Fatma tertawa, dijaman secanggih ini ternyata masih ada wanita yang belum pacaran diusia 23 Tahun, fikirnya.
“Bukan ga tertarik sih, Mamah sama Papa sebenernya ga ngelarang, cuma mereka selalu mengatakan untuk mencari yang serius saja, tidak untuk main-main, kalo temen sih ga masalah, tapi emang aku yang ga mau” ucap Raniesha, Fatma pun mengangguk mengerti.
“Kalo Ella adik kamu, gimana? Sama juga seperti kamu?” tanya Fatma.
“Kalo Ella, engga sih, dia sering ajak teman-temannya main kerumah, laki-laki dan perempuan, dia suka berteman dari dulu dengan siapa saja, beda denganku” ucap Raniesha tersenyum.
“Ella pernah pacaran? Atau bawa pacarnya kerumah gitu?” tanya Fatma penasaran.
“Belum pernah sih, tapi kalo temen cowok sering main kerumah, bareng temen ceweknya yang lain, sejauh ini dia ga pernah cerita kalo dia punya pacar” ucap Raniesha.
“Bisa jadi dia ga cerita ke kamu” ucap Fatma, Raniesha tertawa.
“Aku rasa sih engga, karena dari dulu Papa sama Mamah selalu bilang kalo kami boleh pacaran asalkan dikenalin ke mereka biar mereka tau siapa saja orang-orang yang pergi dengan kami, jadi kao terjadi sesuatu, mereka akan tau harus mencari kemana” ucap Raniesha, Fatma kini mengerti bagaimana keluarga Raniesha yang terlihat begitu disiplin soal kejujuran.
“Yahh, aku ngerti sekarang, jadi keluarga kamu itu selalu mengedepankan kejujuran dalam hal apapun” ucap Fatma.
“Yaapp bener banget, itu yang buat aku sayang banget sama mereka semua” ucap Raniesha, Fatma pun tersenyum kagum dengan Raniesha, ia bener-bener percaya sekarang bahwa Raniesha adalah orang yang baik, tidak hanya baik tapi ia begitu pantas untuk disayangi dan dilindungi, Raniesha juga mempunyai paras yang cantik dan tinggi, begitu perfect dilihat, itu juga yang membuat Ranisha kini jadi idola baru yang disukai banyak pria di perusahaannya, selain cantik, tinggi dan memiliki postur tubuh yang bagus, Raniesha juga termasuk orang yang cerdas dilihat dari cara kerjanya yang baru beberapa bulan namun sudah bisa menguasai semuanya.