“Jadi, Fatma sudah berapa lama kerja disana?” tanya Odellina saat mereka makan malam bersama, setelah mengantar Raniesha sampai dirumahnya, Odellina dan Anugrah menyambut baik kedatangan Fatma, Fatma pun akhirnya percaya betapa menyenangkannya keluarga tersebut, seketika ia merasakan kembali bagaimana dulu ia hidup bahagia bersama keluarganya.
“Sudah 3 tahun Tante” ucap Fatma tersenyum.
“Sudah lumayan lama dong, kamu tinggal dengan siapa di Jakarta?” tanya Odellina.
“Saya ngekos bareng adik perempuan saya, dia masih kuliah” ucap Fatma, ia merasa saat ini sedang di introgasi dan pantas saja Raniesha tidak pernah membawa teman lelaki, ternyata seperti ini yang akan ia alami, namun Fatma memaklumi hal itu karena ia tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.
“Keluarga?” tanya Odellina.
“Maahhhhh, udah kaya interview kerja aja dehh, nanyainnya detail banget” ucap Anugrah, mereka pun tertawa.
“Paahh, jarang-jarang loh Ica bawa temen kerumah, bisa dibilang ini temen keduanya setelah masa SMA dulu saat mereka belajar kelompok, inget kan?” ucap Odellina membela dirinya sendiri, Anugrah hanya menggelengkan kepalanya.
“Engga apa-apa kok Om, saya juga seneng temenan dengan Ica” ucap Fatma tersenyum, Raniesha pun tersenyum senang, ternyata seperti itu rasanya punya teman selain keluarganya sendiri.
“Tuhh kan, Fatma aja tidak keberatan” ucap Odellina, Anugraha hanya menganggukkan kepalanya, ia sedikit malas jika harus berdebat dengan istrinya tersebut.
“Jadi, sampe dimana kita tadi?” ucap Odellina, Fatma pun tertawa pelan.
“Keluarga saya ada di Jogja, saya di Bandung dari kuliah sampe sekarang, adik saya baru saja di Bandung karena kuliah dan ikut tinggal dengan saya” ucap Fatma, Odellina mengangguk mengerti.
“Hebat dong kak Fatma, dibolehin jauh dari orangtua, coba aja aku boleh, udah pergi deh kemana pun aku mau” ucap Raniella, Anugrah dan Odellina menatap Raniella tajam.
“Hehe, becanda doangg” ucap Raniella tertawa.
“Maklumi saja kedua anak tante, memang begitu” ucap Odellina tertawa.
“Tidak apa Tante, saya juga dulu begitu saat mau pergi dari rumah, akhirnya kabur sendiri dan mereka menyerah dan yahh seperti inilah jadinya” ucap Fatma.
“Seriusss?! Akan aku coba nanti” ucap Raniella begitu semangat, Anugrah dan Odellina hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, mereka sudah maklum dengan sikap Raniella yang seperti itu, jauh berbeda dibandingkan Raniesha yang lebih penurut dan pendiam.
Mereka pun menikmati makan malam itu dengan obrolan yang ringan dan penuh canda tawa yang dihadirkan oleh Raniella, Fatma seketika merasakan berada dikeluarganya sendiri hari itu, rasa rindu terhadap masakan ibunya kini terobati setelah merasakan makanan yang dibuat oleh Odellina. Ia pun jadi lebih semangat untuk lebih dekat berteman dengan Raniesha, meskipun saat ini Raniesha belum sepenuhnya ingin berteman dekat dengan siapapun.
“Jadi, gimana Raniesha di kantor?” tanya Odellina pada Fatma saat mereka sedang berdua di dapur, Odellina menawarkan makanan untuk Fatma bawa pulang dan Fatma senang sekali dengan hal itu.
“Yahh dia cepat beradaptasi dan bekerja dengan sangat baik” ucap Fatma.
“Kalo, cowok gimana? Apa Raniesha sedang dekat dengan pria?” tanya Odellina berbisik.
“Memangnya kenapa Tante?” tanya Fatma.
“Hehe, Tante pengen tahu saja, Tante pengen lihat dia jatuh cinta dan jalan dengan pria, selama ini dia selalu cuek dengan hal seperti itu” ucap Odellina, Fatma pun tertawa.
“Yahh, dikantor juga seperti itu, banyak yang berusaha deketin tapi tidak satupun ia tanggepin” ucap Fatma.
“Haduuuhhh, memang anak Tante yang satu itu susah banget” ucap Odellina.
“Tapi ada satu cowok yang sampe sekarang ngejar-ngejar Ica terus Tan” ucap Fatma.
“Ohh ya? Siapa namanya? Gimana orangnya?” ucap Odellina begitu antusias.
“Namanya…”
“Eheemmm pasti lagi gosipin aku kannn” ucap Raniesha menghampiri mereka ke dapur, Odellina dan Fatma menoleh kearah Raniesha.
“Hahaha, Tante, kayanya kita ketahuan dehh” ucap Fatma, Odellina tertawa.
“Apakah Mamah ingin menambah anak lagi?” ucap Raniesha.
“Haha, sayanggg kok seperti itu ngomongnya” ucap Odellina tertawa.
“Yahh habisnya, baru juga ketemu Fatma, udah akrab banget” ucap Raniesha cemberut.
“Jadi ini alasan kamu ga pernah bawa temen kerumah, takut nyaman sama Mamah?” ucap Odellina tertawa, Raniesha hanya menaikkan bahunya sejenak, Fatma tertawa melihat mereka yang tidak hanya terlihat seperti seorang ibu dan anak, namun lebih seperti seorang sahabat.
“Nihh, udah beres, kamu makan bareng adik kamu ya, sering-sering main kesini, ajak juga adik kamu” ucap Odellina menyerahkan tas bekal pada Fatma.
“Pasti tante, aku suka masakan Tante, rinduku dengan Mamah terobati dehh dengan masakan Tante, makasih banyak yahhh” ucap Fatma memeluk Odellina, Raniesha hanya melihat mereka dengan tatapan cemburu.
“Sama-sama sayang, Icaa, jangan larang Fatma ya kalo mau datang kerumah” ucap Odellina.
“Hmmm” gumam Raniesha membuat mereka berdua tertawa.
“Yasudah anter Fatma ke depan gihh, Mamah mau beresin ini” ucap Odellina.
“Yukk” ucap Raniesha.
“Aku pamit yah Tante, sekali lagi makasih banyak lohh” ucap Fatma, Odellina pun tersenyum, Raniesha mengantarkan Fatma ke depan.
“Makasih banyak ya Ca, ga nyangka ternyata yang kamu ucapkan selama ini beneran” ucap Fatma.
“Terusss? Maksud kamu aku bohong gitu?” ucap Raniesha.
“Hahaha, becanda kali, jangan bete gitu” ucap Fatma, Raniesha tersenyum.
“Aku becanda kok, aku juga makasih kamu udah anterin aku, kamu hati-hati dijalan yahh” ucap Raniesha.
“Shiipppp, adikku juga uda nunggu di kost, dia pasti seneng banget makan ini” ucap Fatma, Raniesha menganggukkan kepalanya.
“Yaudah aku pamit yahh, byeee Ica” ucap Fatma.
“Byee, hati-hati” ucap Raniesha, ia pun melihat mobil Fatma meninggalkan rumahnya. Raniesha berjalan masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke kamarnya, namun saat ia membuka pintu kamarnya ia melihat Raniella tidur ditempat tidurnya.
“Ella” ucap Raniesha, ia menutup pintu kamarnya.
“Sooo, siapa pria yang tergila-gila dengan kakak di kantor? Seperti yang diceritakan oleh kak Fatma tadi di dapur” ucap Raniella, Raniesha menghela nafas, ia berjalan dan merebahkan tubuhnya disamping Raniella.
“Apaan sih La” ucap Raniesha, Raniella menatap Raniesha serius.
“Ehhmmm, kakak selalu begitu, apa susahnya sih kasih tau aku, aku kan pengen tahu” ucap Raniella cemberut.
“Cuma sekedar rekan kerja kok La, Fatma saja yang melebihkan seperti itu” ucap Raniesha.
“Kayanya sekarang aku lebih percaya kak Fatma dehh” ucap Raniella, Raniesha menatap Raniella tajam.
“Ahh kamu sama saja seperti Mamah” ucap Raniesha kesal, Raniella hanya tertawa saat ia berhasil menggoda Raniesha.
“Malem ini aku tidur disini ya, lebih nyaman tidur bareng kakak daripada sendiri” ucap Raniella, Raniesha tersenyum dan memeluk Raniella hingga adiknya tersebut tidur, ia begitu menyayangi keluarganya hingga kehidupannya diluar tidak terlalu ia hiraukan.
“Fatma?” ucap Devan saat ia melihat Fatma sedang di sebuah mini market, Fatma melihatnya kaget.
“Devan, ngapain kamu disini?” tanya Fatma.
“Memangnya tidak boleh aku kesini?” ucap Devan, Fatma pun tertawa sinis.
“Yahh, wathever” ucap Fatma, ia meletakkan barang belanjaannya di kasir, setelah pulang ke kostnya dan melihat adiknya makan, ia pergi ke mini market yang berada disamping kostnya untuk membeli keperluan kostnya yang sudah habis.
“Gimana Raniesha? Kamu anter dia dengan baik kan?” ucap Devan.
“Hmmm” gumam Fatma, ia sedikit malas bicara dengan pria tersebut.
“Kenapa sih cuek banget sama aku sekarang?” ucap Devan.
“Kenapa? Lo mau baik-baik sekarang sama gue karena gue deket dengan Raniesha? Iyakan? Lo mau dapetin informasi tentang dia dari gue? Iyakan?” ucap Fatma kesal, Devan pun tertawa.
“Kok lo bisa tau gitu sih” ucap Devan.
“Itu yang lo lakuin dulu ke gue” ucap Fatma kesal, ia pun pergi meninggalkan Devan yang wajahnya terlihat kesal, ingatannya masih begitu jelas dikepalanya setelah dulu Devan mendekatinya hanya untuk mendapatkan informasi tentang wanita yang saat ini posisinya digantikan oleh Raniesha dan ia tida ingin hal itu terulang kembali.
Fatma sadar bahwa dulu memang ia yang salah karena telah menilah bahwa Devan mendekatinya karena menyukainya, namun harapan yang ia bangun sendiri terpatahkan begitu saja saat melihat Devan dan wanita itu dekat, dan sekarang ia tak ingin hal itu terjadi lagi meskipun ia tidak tahu bagaimana perasaan Raniesha pada pria tersebut.
*
“Icaaaa” panggil Devan, Raniesha menoleh kebelakang dan melihat pria itu berlari kearahnya.
“Aku baru lihat kamu sekarang, kirain kamu ga masuk kerja hari ini” ucap Devan.
‘Aku nemenin pak Doni meeting, ada apa?” tanya Raniesha.
“Ehmm ga ada sih, aku cuma kangen sama kamu aja” ucap Devan tersenyum, Raniesha langsung mengabaikan wajah pria tersebut, ia pun berjalan menuju ruangannya.
“Gimana soal keberangkatan besok?” tanya Devan basa-basi namun ia sedikit senang karena Raniesha ikut dalam perjalanan itu.
“Seperti yang kamu tahu, ini kali pertamaku” ucap Raniesha, Devan menganggukkan kepalanya.
“Kalo ada kesulitan, hubungi aku ya, aku pasti akan bantu kamu” ucap Devan.
“Baiklah, terima kasih atas tawarannya” ucap Raniesha tersenyum lalu meninggalkan pria itu karena ia sudah sampai didepan ruangannya, Devan tersenyum kecut, belum pernah ia merasakan sesulit itu mendekati seorang wanita.
“Ca, besok kita berangkat jam 7 pagi, pastiin kamu sudah siap dengan semuanya, pak Doni yang akan jemput kita kerumah masing-masing, mungkin dia akan jemput aku terlebih dahulu baru kita kerumah kamu” ucap Fatma saat melihat Raniesha baru saja datang.
‘Baiklah, ada lagi yang harus aku siapkan?” tanya Raniesha.
“Engga ada sih, semuanya sudah disiapkan oleh perusahaan disana, kamu hanya bawa pakaian saja” ucap Fatma, Raniesha mengangguk mengerti.
“Gimana Mamah kamu? Mereka setuju kamu pergi?” tanya Fatma.
“Yahh mau bagaimana lagi, mereka belum pernah melepasku pergi sendirian, padahal aku sudah bisa kemana-mana sendirian, tapi aku yang tidak mau, makanya mereka selalu berfikir aku belum bisa mandiri” ucap Raniesha tertawa.
“Haha, orangtua selalu melihat anaknya seperti masih kecil meski usianya sudah dewasa” ucap Fatma.
“Kamu bener” ucap Raniesha tersenyum, kini ia sudah lebih nyaman dekat dengan Fatma yang ternyata begitu nyambung disetiap obrolan mereka.