Part 4

1386 Words
“Sayang, kamu hati-hati ya disana, inget kabarin Mamah terus ya, jangan telat makan” ucap Odellina saat ingin melepaskan kepergian Raniesha. “Iya Mahh, Ica udah gede kok, kalo laper, pasti makan” ucap Raniesha melebarkan senyumannya, ia melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya, itu adalah mobil Doni yang saat itu sedang bersama Fatma. “Tuhh mereka udah dateng” ucap Raniesha, Odellina menghela nafas sejenak, begitu berat baginya untuk jauh dari anak tersayangnya tersebut. “Haii Tante” ucap Fatma menghampiri Odellina dan memeluknya. “Haii sayang, kamu tolong jagain Ica ya” ucap Odellina, Raniesha memutar bola matanya ketika mendengarkan hal itu. “Tenang aja Tante, Raniesha ga akan kenapa-kenapa kok” ucap Fatma. “Ohh ya, ini Pak Doni, manager keuangan yang akan bawa aku sama Ica ke Jakarta” ucap Fatma mengenalkan Doni. “Saya Doni Tante” ucap Doni mengulurkan tangannya pada Odellina, Odellina menyambut uluran tangan tersebut dan tersenyum. “Masih muda ya, saya kirain seumuran Papanya Ica” ucap Odellina. “Keliatannya aja muda Tan, anaknya udah 3” ucap Fatma, Odellina dan Doni pun tertawa. “Wahhh, kalo gitu saya yang kalah” ucap Odellina tertawa. “Berapa umur Doni?” tanya Odellina. “28 Tahun Tante” ucap Doni. “Ohh masih muda dong, bener yang dibilang Fatma” ucap Odellina. “Terima kasih, kalau begitu kami berangkat yah, takutnya telat untuk meeting hari ini” ucap Doni. “Ahh iya, jagain mereka ya” ucap Odellina. “Baik Tante” ucap Doni, ia masuk ke dalam mobilnya, Raniesha pun berpamitan kembali dan memeluk Odellina. “Ica pergi ya Mahh” ucap Raniesha. “Hati-hati ya sayang” ucap Odellina, Raniesha menganggukkan kepalanya, ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang, sedangkan Fatma dan Doni di depan, mereka pun langsung pergi meninggalkan rumah Raniesha menuju ke Jakarta. “Kita mampir ke rumah Devan ya, dia akan ikut bersama kita” ucap Doni, Raniesha dan Fatma pun kaget. “Devan? Bukannya dia pergi dengan rekannya?” ucap Fatma. “Sebelumnya dia memang ditugaskan pergi bersama Pak Julio, tapi Pak Julio mengabari saya untuk membawa Devan bersama kita karena beliau tidak bisa pergi, dia ada rapat yang sangat penting besok di Bandung, jadi dia hanya memberangkatkan Devan saja” ucap Doni menjelaskan, Raniesha menghela nafas sejenak, meskipun mereka dekat, namun sejak gosip yang beredar di kantor, ia merasa risih mendengar semua cerita tentang dirinya dan Devan yang terlalu dilebihkan oleh orang-orang. Stella berjalan membawa beberapa berkas menuju ruangan Elvano, sudah 1 minggu Elvano mengambil alih perusahaan sang ayah, Stella yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris Hartono kini tetap menjadi skretaris untuk Elvano. Tok…tok…tok… “Masuk” ucap Elvano, Stella berjalan masuk dan menutup pintu ruangan itu. “Ini berkas yang harus ditanda tangani segera” ucap Stella meletakkan berkas tersebut dimeja Elvano. “Setelah makan siang kita ada jadwal meeting untuk sistem keuangan baru” ucap Stella. “Bukankah itu tugasnya bagian keuangan?” tanya Elvano. “Memang benar, tapi pak Hartono meminta saya untuk semua sistem bapak harus tahu dan memperlajarinya meski hanya sekali, setelah itu boleh diwakilkan, manager keuangan juga akan hadir disana, bahkan dari beberapa perusahaan luar kota juga turut hadir karena mereka juga akan menggunakan sistem yang sama karena kerja sama kita” ucap Stella menjelaskan, Elvano mengangguk paham. “Baiklah, dimana meeting itu?” tanya Elvano. “Di perusahaan kita, tepatnya di aula meeting” ucap Stella, Elvano hanya menganggukkan kepalanya. “Ada lagi yang ingin bapak tanyakan?” ucap Stella, Elvano menggelengkan kepalanya, Stella pun pamit untuk keluar dari ruangan Elvano, sebagai anak dari pemilik perusahaan, Stella tidak terlalu kewalahan meski kini harus berganti atasan karena Elvano bekerja dengan baik sama seperti ayahnya. * 3 Jam Kemudian… Raniesha dan yang lainnya pun sampai di Jakarta setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka istirahat sejenak sembari menikmati makan siang disebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan yang akan mereka tuju. “Aku denger perusahaan tersebut baru saja mengangkat CEO baru, bener kan?” ucap Fatma, Doni menganggukkan kepalanya. “Yapp bener banget, dia anak tunggal dari pemilik perusahaan tersebut, bisa dibilang dia pewarisnya, sistem ini juga sebelumnya memang sudah disetujui oleh Pak Hartono dan kini akan dilanjutkan oleh penerusnya, yaitu anaknya” ucap Doni. “Benarkah? Siapa nama anaknya? Masih single gak?” ucap Fatma begitu antusias. “Gak cocok ama lo” ucap Devan, Fatma menatap sinis kearah Devan. “Sirik aja lo” ucap Fatma kesal, Doni hanya tertawa. “Namanya Elvano, dia sekolah dan kuliah di Inggis, dia juga baru saja kembali ke Indonesia untuk meneruskan perusahaan itu, dia belum menikah, itu yang aku tahu” ucap Doni, mereka mengangguk paham dengan semua yang dijelaskan oleh Doni, Raniesha hanya diam dan menyimak setiap pembicaraan mereka, tak terasa waktu pun berputar begitu cepat, mereka membereskan berkas yang akan mereka bawa dan pergi melanjutkan perjalanan ke perusahaan itu. Mereka sampai diperusahaan itu dan langsung diarahkan menuju sebuah ruangannya yang begitu luas, terdapat meja yang berbentuk melingkar dan panjang, banyak kursi yang tertata rapi mengelilingi meja tersebut, laptop pun sudah disiapkan disana dan satu persatu mereka mempunyai kursi dan laptop sendiri. Tak berapa lama orang-orang pun datang dan duduk disana, dan kursi pun penuh, seperti sudah disusun berapa banyak yang akan datang, tak lama kemudian Elvano pun masuk ke dalam ruangan tersebut, memperkenalkan diri sekaligus memimpin pembukaan meeting tersebut. Raniesha memandang Elvano begitu kagum, semua ucapan yang dikeluarkan dari mulut Elvano seakan begitu menarik perhatiannya, kalimat-kalimat yang keluar begitu tegas dan bijaksana, semuanya terususun rapi seolah tidak ada celah sedikitpun dari setiap kalimat itu. “Icaaa” panggil Fatma pelan, Raniesha tersadar. “Ehh iya, ada apa?” ucap Raniesha pelan, Fatma menghela nafas, ia tahu bahwa sejak tadi Raniesha memperhatikan Elvano dengan seksama. “Dipanggilin dari tadi, terpesona ya sama Elvano?” ucap Fatma melirikkan matanya, Raniesha langsung memukul pelan lengan Fatma. “Apaan sih” ucap Raniesha malu, Devan mendengarkan percakapan mereka berdua yang berada disampingnya, meskipun dalam nada yang begitu pelan, ia juga memperhatikan Elvano yang terlihat begitu memikat siapa saja yang melihatnya. “Udah dimulai tuh penjelasannya, jangan melamun yah, pulang dari sini kita kerja keras” ucap Fatma, Raniesha tertawa pelan. “Siappp” ucap Raniesha. Elvano duduk dikursinya memperhatikan setiap orang yang hadir disana, tak satupun ia kenal dari mereka, namun mereka semua begitu mengenal Hartono ayahnya. Pandangan Elvano terhenti tatkala ia melihat Raniesha yang begitu fokus bersama Fatma saat itu. Elvano pun tersadar bahwa saat ia tadi membuka meeting tersebut, matanya sempat bertatapan dengan Raniesha, ia menyunggingkan senyumannya kecil saat melihat Raniesha seakan ia tahu harus melakukan apa. Beberapa jam kemudian acara tersebut pun selesai tanpa ada kendala, setelah ucapan terima kasih dari Elvano, ia pun membubarkan meeting hari itu. Elvano masih terus memperhatikan Raniesha dari kejauhan, ia merasa senang setiap kali melihat Raniesha yang tampak begitu serius dan sibuk dengan pekerjaannya, namun sedikit kesal dengan pria disampingnya yang selalu saja mendekatkan diri pada Raniesha. Devan begitu antusias saat Raniesha banyak bertanya dengannya mengenai sistem baru tersebut, ia juga tahu bahwa sejak tadi Elvano mencuri pandang terhadap Raniesha, hal itu yang membuatnya terus mendekatkan diri pada Raniesha seolah ingin membuktikan bahwa Raniesha adalah miliknya. Doni mengajak mereka untuk menghampiri Elvano dan berbincang sejenak memperkenalkan diri, mereka pun ikut dan Fatma yang begitu senang bisa bertemu langsung dengan Elvano, ternyata fikirannya tadi tentang Elvano tidak meleset sedikitpun karena Elvano begitu tampan menurutnya. “Saya Doni, dari Bandung, ini rekan-rekan saya” ucap Doni, ia memperkenalkan mereka satu persatu, kini Elvano pun tahu siapa nama wanita yang diperhatikannya sejak tadi. Mereka mengulurkan tangannya bergantian untuk memperkenalkan diri pada Elvano, Elvano menyambut baik mereka semua, terutama karena Raniesha. “Saya Raniesha” ucap Raniesha tersenyum dan mengulurkan tangannya, Elvano pun tersenyum lebar dan menggenggam tangan itu dengan begitu lembut, ia terpesona melihat wajah Raniesha untuk pertama kalinya. “Eheemmmm” dehem Devan yang saat itu memperhatikan mereka yang terlalu lama bersalaman, Raniesha pun kaget dan langsung melepaskan tangannya, ia menjadi salah tingkah saat itu. Mereka pun berbincang sebentar, karena waktu yang ternyata sudah sore, mereka mengakhiri obrolan itu, Elvano mengundang mereka semua untuk makan malam direstoran sebelum keesokan harinya mereka kembali ke Bandung. Doni dan Fatma menyambut baik tawaran Elvano hari itu, namun tidak dengan Devan yang terlihat tidak menyukai Elvano yang ternyata mempunyai maksud tersendiri terhadap Raniesha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD