Part 5

1094 Words
“Jadi.. besok kalian akan pulang ke Bandung?” tanya Elvano saat mereka makan malam bersama. “Lusa kami akan kembali ke Bandung, besok masih ada pekerjaan yang harus kami lakukan” ucap Doni, Elvano mengangguk mengerti. “Ehmm seperti itu, saya fikir ini malam terakhir kalian disini” ucap Elvano tersenyum kearah Raniesha, Raniesha yang merasa begitu diperhatikan hanya bisa diam menundukkan wajahnya. “Bagaimana kabar Pak Hartono?” ucap Doni basa-basi, ia sendiri sedikit canggung sebenarnya karena Elvano merupakan atasanya jika dilihat dari data pemegang saham diperusahaan tempat ia bekerja. “Papa baik, dia sedang menikmati masa tuanya” ucap Elvano tertawa, Doni ikut tertawa. “Ohh ya, kamu atasan mereka kan?” ucap Elvano. “Yahh, saya atasan Fatma dan Raniesha, kalau Devan, dia bagian IT, kebetulan atasannya tidak bisa ikut hadir, jadi dia berangkat bersama kami” ucap Doni, Elvano mengangguk paham. “Saya mau meminta izin kamu” ucap Elvano, Doni berfikir sejenak. “Izin?” ucap Doni bingung. “Yahh, setelah makan malam ini selesai, saya ingin mengobrol berdua bersama Raniesha, bolehkan?” ucap Elvano membuat mereka semua terkejut, terlebih Raniesha yang terlihat diam membisu. “Ohh itu, haha” ucap Doni salah tingkah setelah semua orang seketika terdiam membisu. “Yahh boleh, tapi saya tidak tahu apakah Raniesha mau atau tidak, jadi silahkan meminta izinnya saja” ucap Doni gugup, ia sendiri tak mungkin memaksa Raniesha jika wanita itu tidak mau. Elvano menatap Raniesha dengan tatapan lembut dan penuh harapan. “Baiklah” ucap Raniesha tersenyum malu, Devan mengepalkan tangannya dibawah meja, ia fikir Elvano hanya akan diam saja namun pria itu malah bertindak jauh, fikir Devan kesal. Setelah beberapa saat mereka menyelesaikan makan malam itu, Doni mengajak Fatma dan Devan pamit kembali ke hotel tempat mereka menginap, sedangkan Raniesha tinggal disana bersama Elvano. “Kalo ada apa-apa, telfon aku ya” ucap Devan sebelum ia pergi, ia pun menatap tajam kearah Elvano, begitu pun dengan Elvano yang menatap Devan dengan senyuman lebar dibibirnya. “Mau jalan keluar?” ucap Elvano, Raniesha melihat sekitarnya yang tampak mulai ramai. “Tidak perlu takut, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin mengenal kamu” ucap Elvano tersenyum lembut, membuat hati Raniesha berbunga melihat senyuman itu. “Baiklah” ucap Raniesha tersenyum, mereka pun keluar dari restoran tersebut dan Elvani mengajak Raniesha berkeliling di Jakarta, meskipun bukan kali pertama Raniesha ke Jakarta, namun itu adlah kali pertamanya pergi bersama pria yang ia baru saja kenal. ‘Kita belum berkenalan secara resmi” ucap Elvano, ia menyodorkan tangannya pada Raniesha, Raniesha membalas uluran tangan tersebut. “Elvano, panggil saja El” ucap Elvano. “Raniesha, panggil saja Ica” ucap Raniesha, Elvano tersenyum. “Icaa, pasti nama kecil pemberian orangtua kamu” ucap Elvano, Raniesha tertawa. “Kamu tau?” ucap Raniesha. “Yahh, sama sepertiku, El adalah panggilan kecil yang diberikan oleh mendiang ibuku, hanya orang-orang terdekat saja yang memanggilku nama itu, termasuk kamu” ucap Elvano tersenyum, lagi-lagi Raniesha menjadi salah tingkah dengan senyuman itu. Elvano menghentikan mobilnya disebuah parkiran, Raniesha melihat sekelilingnya yang tampak ramai oleh pengunjung, Elvano mengajak Raniesha berkeliling di taman pada malam hari itu, mereka banyak berbincang dan mengobrol mengenal satu sama lain. Elvano senang dengan perkenalannya malam itu yang meninggalkan kesan dihatinya, ia melihat Raniesha adalah wanita yang baik dan lemah lembut, dari banyak yang mereka obrolkan adalah Elvano kagum bahwa Raniesha begitu menyayangi keluarganya, sama seperti dirinya. “Jadi, kamu punya adik perempuan” ucap Elvano. “Yahh, namanya Raniella, dia masih kuliah saat ini” ucap Raniesha. “Nama kalian hampir mirip, apakah sifatnya sama sepertimu?” tanya Elvano. “Orang-orang bilang kami begitu berbeda, tapi menurutku dia sama sepertiku, sama-sama mempunyai sifat saling menyayangi” ucap Raniesha tersenyum. “Aku tebak kenapa orang bilang dia berbeda denganmu” ucap Elvano. “Apa?” ucap Raniesha. “Pasti dia paling berisik dirumah” ucap Elvano, Raniesha tertawa, Elvano terdiam melihat tawa itu, jantungnya berdetak begitu kencang. “Yahh, kamu benar, dia memang paling berisik dirumah, tapi kalau tidak ada dia dirumah, semuanya begitu sepi” ucap Raniesha. Mereka mengobrol banyak hal malam itu, Elvano begitu senang bisa mengenal Raniesha, ia berjanji akan terus melanjutkan semuanya, hatinya merasa nyaman berada di dekat Raniesha, ia merasa wanita itu begitu pantas untuk diperjuangkan. “Makasih banyak yah, makasih banget udah ajak aku jalan-jalan” ucap Raniesha setelah mereka sampai dihotel tempat Raniesha menginap. “Aku yang harusnya makasih, kamu nerima permintaan aku” ucap Elvano, Raniesha tersenyum. “Aku.. masuk dulu ya, kamu hati-hati dijalan” ucap Raniesha. “Pasti, nanti aku hubungin ya” ucap Elvano, Raniesha menganggukkan kepalanya. Raniesha masuk ke dalam hotelnya setelah Elvano pergi meninggalkan tempat itu. “Icaaaaaaaaa” teriak Fatma saat ia melihat Raniesha masuk ke dalam kamar, ia berlari menghampiri Raniesha dengan penuh semangat. “Fatmaaa, ada apa sih teriak-teriak begitu” ucap Raniesha, ia berjalan menuju tempat tidur. “Gimana-gimana?” ucap Fatma. ‘Gimana apanya?” tanya Raniesha. “Ya gimana? Elvano? Dia baik? Kalian kemana aja? Apa aja yang kalian bahas?” tanya Fatma, Raniesha memutar bola matanya melihat Fatma. “Ada deeehhhhh” ucap Raniesha membuat Fatma kesal, Raniesha pun tertawa, entah apa yang mmebuatnya begitu bahagia saat itu, namun fikirannya kini hanya tertuju pada Elvano. “Tuhhh kaannnnn, ngeselinnn, aku iri banget sama kamu” ucap Fatma, Raniesha hanya tertawa. “Apasih yang harus diirikan” ucap Raniesha. “Yaa iri lah, seorang Elvano tiba-tiba mengajak wanita yang baru saja dikenalnya dengan tatapan yang begitu lembut, sumpah ya, padahal aku yang awalnya suka banget sama dia, malah kamu yang diajak jalan, kesel tauuu” ucap Fatma cemberut. “Aku ga ngapa-ngapain kok sama dia, cuma jalan bareng aja, sekalian beliin oleh-oleh buat keluargaku, kami ngobrol biasa aja, ga ada yang serius” ucap Raniesha, tatapan Fatma penuh kecurigaan. “Gue ga percaya” ucap Fatma, Raniesha tertawa pelan, belum sempat ia berbicara HP nya berdering, ia melihat sebuah panggilan masuk dari nomor yang baru saja ia simpan dengan nama El. Fatma yang melihat hal itu pun langsung tertawa karena apa yang ia rasakan benar. “Tuhh, bener kan” ucap Fatma, Raniesha tertawa dan meninggalkan Fatma untuk mengangkat telfon tersebut, ia berjalan kearah balkon kamar mereka. “Halo” ucap Raniesha. “Haii” ucap Elvano. “Kamu udah sampe rumah?” ucap Raniesha. “Sudah, baru saja, kamu mau tidur?” ucap Elvano. “Belum, masih ngobrol dengan Fatma” ucap Raniesha tersenyum, mereka pun melanjutkan obrolan itu hingga larut malam, membuat Fatma bosan menunggu dan meninggalkan Raniesha untuk tidur terlebih dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD