“Kamu libur Ca?” tanya Odellina saat melihat Raniesha mengambil minuman di dapur rumah mereka, Raniesha menoleh dan melihat ibunya sedang duduk dibelakang rumah sambil membaca buku.
“Inikan hari sabtu, libur dong” ucap Raniesha berjalan menghampiri Odellina.
“Ahh iya, Mamah lupa” ucap Odellina.
“Papa dan Ella kemana?” tanya Raniesha.
“Papa pergi memancing bareng temen-temennya, Ella katanya ada janji dengan temen kampusnya, engga tau kemana, kamu tau sendiri adikmu itu seperti apa” ucap Odellina tertawa, Raniesha duduk disamping Odellina dan menikmati pagi itu dengan begitu tenang.
“Gimana pria yang bernama Elvano itu?” ucap Odellina, Raniesha kaget saat mendengar Odellina mengucapkan hal itu, ia bingung kenapa ibunya bisa mengetahui hal itu.
“Mamah.. tau dari mana?” ucap Raniesha bingung, Odellina tersenyum.
“Dari Fatma, malam saat kamu jalan dengan pria itu, Mamah menelfon Fatma untuk menanyakan keadaan kamu, dan dia cerita semua ke Mamah” ucap Odellina, Raniesha menghela nafas kesal, padahal ia sendiri tidak ingin terlalu mengumbar semua hal itu.
“Ica cuma temenan aja kok Mah, kebetulan dia waktu itu ngajakin Ica ngobrol, ga mungkin Ica tolak kan? Secara dia itu atasan Ica” ucap Raniesha menjelaskan, Odellina menganggukkan kepalanya.
“Tapi Mamah rasa ada yang special” ucap Odellina.
“Maaahhhhh, Ica udah gede, Ica juga butuh privasi, ga semua hal harus Ica ceritain ke Mamah, sama kayak Ella, Ica juga pengen seperti Ella, maafin Ica, tapi untuk hal seperti itu Ica rasa tidak perlu diperdebatkan, jika memang Ica punya pacar, Ica pasti akan kasih tau Mamah dan yang lainnya” ucap Raniesha, Odellina menghela nafas, ia sadar bahwa dirinya selama ini selalu ikut campur dengan semua urusan Raniesha.
“Maafin Ica ya udah ngomong kaya gitu, Ica ga seharusnya marah” ucap Raniesha merasa bersalah.
“Mamah ngerti, Mamah ga marah kok, kamu benar, anak-anak Mamah sekarang sudah dewasa, sudah bisa memilih mana yang baik dan tidak, Mamah hanya berfikir selama ini kalian adalah anak-anak Mamah yang masih kecil” ucap Odellina merasa bersalah.
“Mungkin sebelum Ica mengenal dunia kerja, Ica masih berfikir bahwa teman dan pacar hanya akan menambah masalah dalam hidup Ica, namun setelah Ica mengenal dunia kerja, Ica bertemu dengan banyak orang, terlebih saat Ica bertemu dengan Fatma, ada hal yang belum pernah Ica rasakan sebelumnya, Ica ngerasa bebas, terlebih saat Ica pergi ke Jakarta dengan mereka, Ica ga tau apa yang membuat Ica merasakan itu semua” ucap Raniesha.
“Apakah selama ini kamu merasa terkekang oleh sikap Mamah?” tanya Odellina sedih, Raniesha menggelengkan kepalanya.
“Mamah selalu meminta kalian untuk mengatakan apapun yang kalian rasakan, Mamah selalu ingin tau dengan siapa saja kalian berteman, Mamah selalu ingin tau saat kalian sedang pergi, kemana saja kalian singgah, Mamah selalu memaksa kalian untuk berkata jujur, tanpa Mamah sadar bahwa kalian juga butuh ruang privasi untuk diri kalian sendiri, Mamah fikir apa yang Mamah lakukan selama ini sudah benar, ternyata Papa benar, Mamah terlalu fanatik menyayangi kalian berdua” ucap Odellina, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri.
“Maafkan Mamah Ca, kamu adalah hasil dari semua rasa kekhawatiran Mamah yang terlalu berlebihan itu, Mamah hanya takut kesepian dirumah sebesar ini” ucap Odellina sedih, ternyata memberikan apa saja yang anak-anaknya mau akan membuat mereka menjadi seperti apa yang ia mau, namun justru malah menghancurkan anak-anaknya sendiri yang seperti hidup dalam penjara.
“Ica sayang sama Mamah, Ica sayang sama keluarga Ica, Ica tau apa yang Mamah lakukan selama ini karena Mamah sayang dengan Ica dan Ella” ucap Raniesha memeluk Odellina dengan lembut, Odellina menghela nafas, meskipun ia sedikit merasa lega, namun masih ada ketakutan tersendiri dihatinya mengenai Raniesha, ia tidak mau kehilangan Raniesha.
“Kamu jangan tinggalin Mamah ya” ucap Odellina.
“Memangnya Ica mau pergi kemana sampe harus ninggalin Mamah” ucap Raniesha tersenyum.
“Kalo pun Ica suatu hari nanti akan menikah, Ica pasti akan tetap datang kerumah ini, tidak akan meninggalkan Mamah” ucap Raniesha, Odellina tersenyum bahagia. Raniella berdiri dibalik dinding mendengarkan semua percakapan mereka, jantungnya berdebar begitu kencang, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan sang ibu yang berharap Raniesha tidak meninggalkannya.
“Ellaa” panggil Raniesha, Raniella pun kaget mendengar suara Raniesha, ia langsung berbalik dan melihat mereka, mencoba melebarkan senyumannya.
“Haii” ucap Raniella berjalan menghampiri mereka berdua.
‘Kamu udah pulang? Sejak kapan?” tanya Odellina.
“Barusan aja kok” ucap Raniella, Odellina menatap curiga ke Raniella.
“Kak Ica ga ada rencana hari ini?” tanya Raniella.
“Engga ada, kenapa?” tanya Raniesha.
“Nonton yuk” ucap Raniella.
“Bolehh, Mamah ikut yuk” ucap Raniesha.
“Engga dehh, Mamah dirumah aja, temen Mamah mau dateng” ucap Odellina.
“Ehmm yasudah dehh, aku pergi dengan Ella yah” ucap Raniesha, Odellina menganggukkan kepalanya.
“Kakak ganti baju sebentar yah” ucap Raniesha, ia pun bergegas ke kamarnya.
“Kamu bilang tadi sampe sore” ucap Odellina.
“Dibatalin gitu aja sama temen-temen, banyak yang ga bisa hari ini” ucap Raniella.
“Ehmm begitu” ucap Odellina.
“Mahhh, boleh Ella tanya sesuatu?” ucap Raniella.
“Boleh” ucap Odellina.
“Tadi aku ga sengaja denger percakapan Mamah dan Kak Ica, aku cuma ga ngerti, kenapa Mamah harus takut kehilangan kak Ica? Bukankah dia akan tetap disini? Apakah ada sesuatu yang harus membuat dia pergi?” ucap Raniella, Odellina kaget dengan pertanyaan itu.
“Bukan apa-apa kok, sama seperti kamu, Mamah hanya takut berjauhan dengan kalian” ucap Odellina mencari alasan yang tepat, Raniella mengangguk meskipun jawaban itu tak memuaskan hatinya.
*
“Icaaa” panggil Devan, Raniesha menoleh saat mendengar suara yang memanggil namanya, ia pun melihat Devan berjalan kearahnya.
“Ga nyangka ketemu kamu disini, kamu sendiri?” tanya Devan, hari itu Raniesha memutuskan untuk pergi sendiri ke toko buku untuk mencari beberapa novel baru.
“Yahh, aku sendiri, kamu?” tanya Raniesha.
“Aku sendiri juga, cari buku juga” ucap Devan, Raniesha melihat ditangan Devan sudah ada beberapa buku yang sedang ia pegang.
“Kamu masih kuliah?” tanya Raniesha saat ia melihat semua buku yang Devan adalah buku untuk seorang mahasiswa.
“Ohh ini” ucap Devan tersenyum, mereka pun memutuskan untuk ngobrol di café yang ada disamping toko buku tersebut.
“Jadi, aku ngambil S2 dan lagi nyusun tesis” ucap Devan, Raniesha mengangguk paham, ia sejenak kagum dengan apa yang dilakukan oleh Devan karena ia sendiri tahu bahwa karir Devan di perusahaan itu sudah cukup bagus.
“Tapi aku lihat karir kamu sudah begitu bagus disana” ucap Raniesha.
“Memang benar, tapi aku mau mendapatkan lebih, aku ga mau selamanya menjadi seorang karyawan, entahlah, tapi dari dulu aku memang begitu ambisius dengan pendidikan, aku pengen membangun bisnis” ucap Devan, Raniesha tersenyum, dibalik semua gosip tentang Devan yang seorang playboy, namun ia selalu melihat sisi baik dari pria itu.
“Lagi nunggu telfon seseorang?” tanya Devan, sejak tadi ia melihat Raniesha yang terus memperhatikan HP nya.
“Ahh, engga kok, tadi aku minta jemput adikku disini” ucap Raniesha tersenyum, senyuman itu penuh arti sejak ia kembali ke Bandung, sejak itu pula ia tidak pernah mendapat kabar lagi dari Elvano, bahkan obrolan mereka terakhir kalinya tidak dibaca bahkan dibalas oleh Elvano membuat Raniesha bingung.
“Aku anter kamu pulang yah, ini sudah sore, aku yakin adik kamu pasti kejebak macet” ucap Devan, Raniesha tampak berfikir sejenak, ia tidak enak jika harus merepotkan orang lain.
“Halo La” ucap Raniesha saat mengangkat telfon Raniella.
“Kak aku kejebak macet nih, macet parah sih ini, ga tau berapa lama sampe disana, kakak sendiri disana? Lagi dimana?” ucap Raniella, Raniesha menatap Devan sejenak.
“Kakak lagi sama temen kakak, yasudah kamu putar balik saja dan pulang, kakak bisa minta anterin temen kakak” ucap Raniesha.
“Serius ga apa-apa? Tapi aku juga belum bisa jalan, padet banget jalanan” ucap Raniella.
“Engga apa-apa kok, kamu hati-hati ya” ucap Raniesha.
“Ehmm yasudah, kakak juga hati-hati” ucap Raniella menutup telfonnya.
“Bener kan apa yang aku bilang?” ucap Devan, Raniesha mengangguk tersenyum malu.
“Aku anterin ya” ucap Devan.
“Sorry ya ngerepotin kamu” ucap Raniesha.
“Engga kok, santai aja” ucap Devan, mereka pun keluar dari café tersebut.
Mereka saling diam selama diperjalanan menuju rumah Raniesha, Devan ingin segera menyatakan perasaannya, namun melihat Raniesha yang sepertinya terlihat cuek membuatnya mengurungkan niatnya sampai saat yang tepat nantinya, ia juga masih penasaran bagaimana hubungan Raniesha dan juga Elvano setelah malam itu.
“Gimana hubungan kamu dengan Elvano?” tanya Devan penasaran, Raniesha kaget dengan pertanyaan Devan tersebut.
“Memangnya kenapa?” tanya Raniesha.
“Yahh pengen tahu saja, aku cuma ga mau kamu terlalu berharap dengan pria sepertinya” ucap Devan, Raniesha tertawa pelan.
“Pria seperti apa dia menurut kamu?” tanya Raniesha membuat Devan salah tingkah.
“Yahh, menurut aku, dengan jabatan dan apa yang dia miliki saat ini tidak memungkinkan bahwa dia bebas memilih apapun yang ia suka, dia masih muda, tampan dan memiliki segalanya, dia pasti akan melakukan apapun yang ia inginkan dengan mudahnya” ucap Devan.
“Contohnya?” tanya Raniesha.
“Kamu” ucap Devan, Raniesha tidak mengerti dengan maksud Devan.
“Maksud kamu?” tanya Raniesha.
“Dia bisa memiliki wanita mana saja yang ia mau dan ia anggap menarik baginya, setelah mendapatkan dan tidak sesuai dengannya, ia melepaskannya begitu saja dengan mudah” ucap Devan.
“Termasuk kamu?” ucap Raniesha membuat Devan terdiam, Raniesha pun kesal dengan Devan yang terlalu mudah menjudge seseorang tanpa ia tahu apapun.
“Tadinya aku sempat kagum dengan kamu yang masih memikirkan pendidikan, namun kamu terlalu mudah untuk menjudge seseorang hanya karena apa yang kamu lihat, tanpa kamu tahu sebenarnya seperti apa” ucap Raniesha, Devan tersenyum kecut.
“Sorry, bukan maksud aku untuk menjatuhkannya, tapi memang itu yang selama ini aku lihat, maaf ya kalo kamu tersinggung” ucap Devan, ia kesal pada dirinya sendiri setelah niatnya ingin mengambil semua perhatian Raniesha, kini ia malah membuat wanita itu kesal dengannya.
“Berhenti disini saja” ucap Raniesha, Devan memperhatikan sekitar tempat itu dan melihat sebuah perumahan elit disana.
“Ini rumah aku” ucap Raniesha menunjuk rumahnya, mereka pun berhenti didepan pagar rumah Raniesha. Raniesha pun keluar dari mobil sebelum Devan berhasil membukakan pintu untuknya.
“Makasih banyak yah, udah nganterin aku, maaf ngerepotin kamu” ucap Raniesha.
“Ehmm.. kamu.. ga nawarin aku mampir?” ucap Devan gugup.
“Ohh itu, lain kali aja ya, aku ga bilang sama Mamah kalo pulang sama kamu, ga apa-apa kan?” ucap Raniesha.
‘Memangnya kenapa?” tanya Devan penasaran.
“Engga apa-apa kok, lain kali saja ya, maaf banget” ucap Raniesha.
“Hmm baiklah, kalo gitu aku pamit yah” ucap Devan, Raniesha tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia melihat Devan pergi meninggalkannya dengan tatapan kecewa dari wajah pria tersebut.
“Temen kamu Ca?” ucap Anugrah membuat Raniesha kaget, ia melihat dibagasi mobilnya ternyata Anugrah berdiri disana.
“Papa ngagetin aja” ucap Raniesha, Anugrah tertawa.
“Kok ga diajak masuk temennya?” tanya Anugrah menghampiri Raniesha, Raniesha pun menjadi salah tingkah.
“Ohh dia ada urusan, jadi ga bisa mampir” ucap Raniesha.
“Hmm yasudah, Papa kirain kamu pulang bareng Ella” ucap Anugrah.
‘Ella belum pulang?” tanya Raniesha kaget.
“Belum, katanya tadi kejebak macet, Papa kirain bareng kamu” ucap Anugrah.
“Tadi aku suruh dia gausah jemput aku karena takut kelamaan dijalan, tapi malah dianya yang belum sampe” ucap Raniesha, tak berapa lama mereka melihat sebuah mobil masuk, mereka pun melihat Raniella baru saja sampai.
“Kak Icaaa, kirain aku belum sampe” ucap Raniella turun dari mobilnya.
“Barusan aja sampe” ucap Raniesha.
“Temen kakak mana? Katanya pulang bareng temen kakak” ucap Raniella.
“Ohh itu, temen kakak langsung balik, ada urusan” ucap Raniesha.
“Hemmm, ada urusan atau kakak yang suruh pulang” ucap Raniella menggoda.
‘Ellaaaaaa” ucap Anugrah, Raniella pun tertawa sedangkan Raniesha hanya terdiam, ia masih merasa tidak enak jika harus membawa teman pria kerumah tanpa ada hubungan apapun, ia sendiri sejak dulu sudah berkomitmen pada dirinya sendiri akan mengenalkan seorang pria kepada keluarganya jika pria tersebut memang serius menjalin hubungan dengannya.