“Icaaaaa, tungguu Caaa” panggil Devan sembari berlari menghampiri Raniesha, Raniesha berhenti dan menoleh kebelakang.
“Ada apa?” tanya Raniesha, Devan mengatur nafasnya setelah berhenti berlari.
“Kamu ada waktu sebentar? Ada yang harus aku obrolin dengan kamu” ucap Devan, Raniesha tampak berfikir sejenak, ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 1 siang, waktu istirahatnya sudah habis.
“Jam istirahat aku sudah habis” ucap Raniesha.
“Kasih aku waktu 5 menit aja” ucap Devan.
“Maaf Devan, mungkin lain kali saja, atau kamu chat aku saja” ucap Raniesha, ia pun berjalan meninggalkan Devan.
“Ini soal Elvanooo!!!” ucap Devan, Raniesha menghentikan langkahnya, jantungnya seketika berdetak dengan kencang ketika mendengar nama itu, akhirnya Raniesha memberi waktu Devan soal apa yang akan ia katakan, mereka pun pergi ke atap tempat dimana dulu mereka berkenalan.
“Ini” ucap Devan menyerahkan HP nya kepada Raniesha, Raniesha mengambil HP milik Devan dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Devan, ia melihat sebuah foto disana, 2 orang pria dan satu wanita yang berada disamping pria yang ia kenal, Elvano.
“Apa ini?” tanya Raniesha bingung.
“Itu Pak Julio, atasan aku, dia saat ini lagi di Jakarta, dia bilang ga sengaja ketemu Elvano di restaurant, bersama wanita itu, aku juga denger Pak Julio bilang kalo Elvano ngenalin perempuan itu sebagai tunangannya” ucap Devan, Raniesha tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Devan, masih jelas diingatannya bahwa Elvano pernah mengatakan padanya saat di Jakarta bahwa ia sedang tidak dekat dengan wanita manapun.
“Maaf kalo aku ngasih tau ini ke kamu, aku tau kamu ga percaya hal ini, aku cuma ga mau kamu berharap terlalu jauh padanya” ucap Devan, meskipun Raniesha belum mempunyai hubungan yang special dengan Elvano, namun tidak memungkiri hatinya bahwa ia menyukai pria tersebut.
“Aku ga apa-apa kok, lagian aku emang ga ada hubungan apapun sama dia” ucap Raniesha tersenyum, ia menyerahkan HP Devan.
“Aku harus balik, udah lewat jam istirahat aku, aku duluan yah” ucap Raniesha, ia pun pergi meninggalkan Devan dengan mencoba tersenyum pada pria itu. Langkahnya begitu berat setelah melihat foto tadi, Raniesha berbelok ke toilet dan mencuci wajahnya diwastafel, fikirannya butuh ketenangan untuk befikir, entah apa yang membuat dadanya begitu sesak saat itu. Meski tidak lagi berkomunikasi dengan Elvano, namun ia masih mengharapkan pria itu membalas pesannya meski itu adalah kata perpisahan mereka.
“Icaaa, kamu kenapa? Sakit?” ucap Fatma yang baru saja keluar dari toilet dan melihat Raniesha didepan wastafel sedang melamun.
“Ehh, Fatma” ucap Raniesha kaget, dengan cepat ia mengambil tissu dan mengeringkan wajahnya.
“Engga kok, aku ga apa-apa, cuma rada ngantuk aja jadi cuci muka” ucap Raniesha, Fatma menganggukkan kepalanya.
“Ehmm yasudah, yuk” ucap Fatma mengajak Raniesha, Raniesha mengangguk dan mengikuti Fatma masuk ke ruangan mereka.
Setelah beberapa jam bekerja dengan tidak adanya semangat, Raniesha pun memutuskan untuk pulang sendiri tanpa dijemput siapapun, ia ingin berjalan kaki selama beberapa meter dari kantornya setelah itu memutuskan untuk naik taksi.
“Makasih ya pak” ucap Raniesha pada supir taksi saat ia tiba dirumahnya, ia berjalan masuk dengan tubuh yang begitu lelah hari itu.
“Icaaa, kamu baru pulang? Tumben ga mau dijemput” ucap Odellina.
“Engga apa-apa kok Mah, tadi pengen keliling sebentar didekat kantor” ucap Raniesha.
“Kamu sakit? Wajah kamu pucat” ucap Odellina memperhatikan Raniesha yang terlihat begitu lelah.
“Ehmm, engga kok Mah, Ica istirahat dulu ya, Ica capek banget” ucap Raniesha.
“Ohh ya Mah, entar, Ica ga ikut makan malem yah, tadi Ica udah makan sebelum pulang, Ica mau langsung tidur aja” ucap Raniesha.
“Kamu yakin ga apa-apa?” tanya Odellina, Raniesha menganggukkan kepalanya.
“Yasudah kalau begitu, kamu istirahat saja ya” ucap Odellina.
“Iya Mah, Ica ke kamar yah” ucap Raniesha, Odellina menganggukkan kepalanya dan membiarkan Raniesha masuk ke kamarnya. Raniesha merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya tanpa mengganti pakaiannya, ia hanya ingin memejamkan matanya dan menenangkan fikirannya.
“Ica mana Mah?” tanya Anugrah.
“Iya kak Ica mana?” ucap Raniella.
“Ica ga ikut makan malem, katanya sebelum pulang tadi udah makan, dia mau istirahat, capek banget katanya” ucap Odellina.
“Kalo capek kenapa tadi ga mau Ella jemput” ucap Raniella.
“Tadi Ella bilang mau keliling sebentar didekat kantor, yahh mungkin mau ngilangin sedikit capeknya, kayanya dia lagi banyak kerjaan setelah dari Jakarta” ucap Odellina, Anugrah mengangguk paham, mereka pun makan malam tanpa kehadiran Raniesha disana.
Tok…tok…tok…
“Kak Ica” panggil Raniella setelah ia menyiapkan makan malamnya terlebih dahulu, namun saat ia ingin membuka pintu kamar Raniesha, pintu itu terkunci.
“Yahh, malah dikunci” ucap Raniella kesal, ia kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Raniesha.
“Ellaaaa” panggil Anugrah.
“Papa” ucap Raniella.
“Biarkan saja kakak kamu istirahat, jangan diganggu, mungkin dia beneran capek banget” ucap Anugrah, Raniella menghela nafasnya, ia pun mengalah meskipun rasanya ia ingin sekali masuk ke kamar Raniesha dan bertanya tentang keadaannya.
“Yaudah deh” ucap Raniella, ia pun masuk ke kamarnya.
Odellina mengetuk pintu kamar Raniesha, ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi namun ia masih belum melihat Raniesha keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi.
“Icaaaaa” panggil Odellina sembari mengetuk pintu kamar Raniesha.
“Mamahh” ucap Raniesha saat ia membuka pintu kamarnya.
“Tumben jam segini belum turun, kamu ga kerja? Kamu sakit?” ucap Odellina.
“Engga kok Mah, aku ambil cuti hari ini, pengen istirahat” ucap Raniesha.
“Hmm, yasudah, turun yuk sarapan” ucap Odellina, Raniesha menganggukkan kepalanya dan ikut turun kebawah. Raniesha duduk disamping Raniella seperti biasanya, Anugrah memperhatikan Raniesha yang terlihat begitu lemas dan pucat.
“Kamu sakit Ca? Ke dokter ya, biar Papa anter” ucap Anugrah, Raniesha menggelengkan kepalanya.
“Engga kok Pah, Ica lagi pengen istirahat aja dirumah, Ica kecapean aja banyak kerjaan di kantor” ucap Raniesha.
“Besok, Papa, Mama dan Ella mau ke Jakarta liburan, kamu ikut?” ucap Odellina, Raniesha menatap Odellina dengan seksama.
“Kalo kamu ga enak badan, ga apa-apa kok kita batalin aja, Mamah ga mungkin ninggalin kamu kalo kamu sakit” ucap Odellina.
“Ica ikut Mah, jangan dibatalin, Ica ga sakit kok” ucap Raniesha tersenyum.
“Kakak yakin? Aku bisa kok tinggal, lagian itu kan rencana Mamah sama Papa, aku dirumah aja ga apa-apa jagain kak Ica” ucap Raniella.
“Engga apa-apa kok La, kakak ikut” ucap Raniesha tersenyum, mereka pun menghela nafas lega setelah memastikan bahwa Raniesha baik-baik saja.
Keesokan harinya…
Mereka pun berangkat ke Jakarta jam 8 pagi, Raniella pun begitu semangat dengan liburan mereka hari itu setelah sekian lama mereka tidak pernah pergi liburan sejak Raniesha bekerja. Mereka menempuh perjalanan selama lebih dari 3 jam hingga akhirnya mereka sampai di hotel yang sudah mereka pesan secara online.
Mereka melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam hotel tersebut, setelah mengambil kunci di receptionist mereka berjalan menuju 2 kamar yang mereka pesan. Langkah kaki Raniesha terhenti ketika tak sengaja ia berpapasan dengan seorang pria yang ia kenal, pria yang pernah berjanji padanya untuk terus memberi kabar padanya namun kenyataannya menghilang, dia adalah Elvano.
Elvano berjalan begitu saja melewati Raniesha tanpa melihat sedikitpun wajah Raniesha yang saat itu terdiam membisu menatap wajahnya. Raniesha bahkan berbalik untuk memastikan bahwa itu benar-benar Elvano, ia yakin bahwa Elvano masih mengenalnya.
“Kak Icaaaaa” panggil Raniella saat ia melihat Raniesha tertinggal dibelakang mereka, Raniesha menghela nafas dan berbalik menghampiri keluarganya, hatinya merasa sakit saat itu, kini ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Devan bahwa pria seperti Elvano akan memilih apapun yang ia mau.
Elvano menghentikan langkahnya, ia mendengar dengan begitu jelas nama itu, nama yang kini masih tersimpan dihatinya namun masih belum bisa ia gapai, banyak hal yang kini ia lewati setelah bertemu dengan wanita itu, meskipun kini ia tak lagi memberi kabar kepada Raniesha, namun ia masih terus memperhatikan wanita itu dari jauh, suatu hari nanti akan ia jelaskan kenapa ia tidak membalas pesan itu.