Ma-bo 3- gemuk bodo amat!

2025 Words
Menjalani hari seperti gadis biasanya mungkin adalah hal menyenangkan bagi mereka, bisa berkumpul bersama teman, menghabiskan waktu berlibur untuk berbelanja atau mengunjungi tempat yang mereka inginkan. Dan jelas akan lebih menyenangkan jika bisa mendapat kekasih dan hengout, bermesraan bahkan bermalam mingguan ria, mungkin akan menjadi dambaan para gadis di luaran sana. Hanya saja berbeda dengan Cila, menjadi seorang gadis dengan tubuh gembul atau bisa di katakan gemuk menjadi masalah dalam urusan asmara. semua seolah surut, kepercayaan diri dan segala sesuatu yang di butuhkan untuk menggaet laki-laki. Cila tak lagi banyak berharap, lebih baik diam dan tak mau semakin di cemo'oh, belum lagi dengan setatus yang menyatakan jika dirinya sudah memiliki satu ekor, itu semua menjadi alasan kuat kenapa dirinya masih menjomblo hingga sekarang. bahkan bukan hanya Soal cinta, dalam urusan berkawan pun ia tak terlalu pandai, tentu saja alasannya karena tubuh gemuknya itu. Namun semua itu tak menyurutkan bagi dirinya untuk menjalani hidup, menjadi sosok seorang singel mom, membuat Cila mau tak mau harus mengutamakan kepentingan Caca si putri kesayangannya dan mengesampingkan urusan yang lain. Bagaimanapun Caca adalah prioritas utama, bahkan untuk ukuran seorang pendamping Cila harus berfikir ulang. Bukan hanya dirinya yang membutuhkan seorang tempat bertopang hidup. tapi juga Caca yang membutuhkan sosok pelindung dan bersandar, maka dari itu Cila juga harus pintar dalam memilih pasangan. Pasangan yang harus mau menerima keberadaan Caca, bukan hanya keberadaan dirinya. Namun yang menjadi masalah adalah "apakah masih ada orang yang mau menerima Cila dengan kondisi fisik seperti dirinya" bahkan jika adapun sepertinya harus menuggu kumpulan lemak dalam tubuhnya menghilang dan menjadikan tubuhnya langsing seperti si Ratna sang sahabat yang memiliki tubuh bak gitar sepanyol, -kata para p****************g- walau nyatanya itu fakta. Cila gadis yang paling hobi dalam urusan makan. Apapun makanannya asal itu halal dan tak mengganggu pencernaanya akan selalu masuk kedalam perut gembulnya. Diet? Bukan tak pernah memikirkan hal itu. Cila bahkan sering melakukannya namun bukan kurus yang Cila dapat, malah dia harus mengalami kelaparan hebat yang memaksa dirinya untuk memasukan segala jenis makanan kedalam perut kesayangannya seperti orang kesetannan. Dan karenanya ia benci dengan segala urusan diet. Bahkan ucapan para sahabatnya kala itu pun tak berefek sama sekali. Tepat saat mereka berada di cafe langganannya untuk santap siang dan berkumpul menghabiskan waktu bersama, saat itu seperti biasanya Cila sudah memesan berbagai jenis makanan yang menjadi favorit nya. Tak peduli dengan segala tatapan aneh, heran dan segala jenis ucapan sang sahabat, ia lebih peduli akan kondisi perut dan kemakmuran hidupnya. "Lo bener-bener deh, Cil. Kira-kira geh kalo pesen makanan. Gak liat itu badan, tiap hari bukannya nyusut malah makin melar aja. Gak bisa jalan baru nyahok lo." seperti itulah ucapan yang keluar dari mulut Sila sahabat Cila sejak mereka menginjak masa SMA yang kala itu ikut menemani Cila santap siang. Kadang para sahabat susah untuk mengerti akan jalan pikiran Cila. Namun bagi Cila ucapan pedas seperti itu sudah seperti makanan yang ia santap setiap hari. Tak berefek dan tak mengena. Semua di anggap bagai angin lalu, Tak peduli orang akan memandangnya seperti apa. Bahkan kala itu Cila bisa dengan santai menjawab ucapan Sila. "Badan-badan gua, makan juga gua bayar sendiri dan yang pasti gemuk juga gua yang ngerasain, jadi biarin aja lah yang penting gua makan ini." Ya seperti itulah Cila, tak pernah mau pusing dengan apa yang dimilikinya, baginya hidup ada untuk di nikmati dan di syukuri bukan untuk di eluhkan. Atau di sesalkan. Apalagi harus menyiksa diri untuk menahan segala lapar, lebih baik makan dan makan, asal perut kenyang hati pun senang. Bahkan walau Sila, Agnes dan Ratna mencerca dengan berbagai banyak perkataan pedas, tetap saja Cila tak pernah mau mendengarkan. Dirinya selalu Cuek dengan semua itu. "Ya tapi kan setidaknya lo harus jaga pola kesehatan geh, Cil. kalo gini terus kapan lo nyusutnya yang ada malah melar. Emang lo nggak pengen gitu punya bentuk badan kayak gua." Si Ratna pemilik tubuh bak gitar sepanyol pun masih saja kalah jika berdebat dengan Cila. "Udah sih lo orang ini, toh gua juga gak sesering ini kan makan sebanyak ini. lagian ini juga karena kalian yang maksa gua buat diet." satu kata telak membuat ketiga Orang di hadapannya itu membungkam mulut seketika. Kemudian Cila melarikan sepasang netranya menatap Ratna. "Gua sih mau, tapi pas gua pikir-pikir lagi kayaknya nggak deh. Punyak badan kayak lo yang ada malah nyiksa batin, di bikin baper mulu sama cowok nggak jelas, yang kepastiannya berakhiran koma bukan malah bertitik." Sekali lagi Ratna kalah telak, menatap kedua teman yang kini menatap kearahnya sembari mengedikan bahu.Ratna Memilih diam dan mengaduk minumannya dengan kesal. Sila dan Agnes hanya bisa memutar bola matanya malas. Bicara dengan Cila sama saja berbicara dengan tembok alias susah dan tak pernah mendengar, jangankan di dengar, di jawab aja kadang-kadang. "Yaudah lah serah lo aja. Kita cuma bisa ngingetin dan untuk selebihnya ya terserah di elo. mau dapet cowok apa nggak geh, sebodo amat di elo." ujar Sila yang ikut kesal. Namun tak lama setelahnya mereka mau tak mau harus menutup mulutnya tepat setelah Cila meletakan sendok dan garpu di atas meja dan menatap mereka santai. Tatapan yang sangat khas jika Cila sudah marah, terlihat santai memang, tapi efeknya bisa bikin dompet tipis dalam sekejap. "Emang kenapa kalo gua gak punyak cowo? masalah gitu? atau dunia bakal berhenti kalo sampek gua gak punyak cowok? enggak kan? Jadi dengerin ya, bagi gua Caca udah lebih dari cukup. Dan apa lo semua udah pada lupa kalo gua sama sekali nggak peduli punyak cowo atau nggak. yang lebih gua pentingin cuma Caca dan kehidupan gua sendiri. Jadi udah lah buat apa lo orang capek-capek buat ngingetin gua. Yang ada malah buang buang tenaga." ucapan bernada santai namun sanggup membuat ketiga gadis bermulut gatal karena ingin mengomentari segala tingkah laku Cila bungkam, mereka lupa satu hal. Cila tak pernah peduli dengan urusan pacar, laki-laki dan pendamping hidup. Di saat mereka di luaran sana menyibukan diri mereka demi mendapatkan sosok impian, atau bahkan rela melakukan apa saja demi menarik perhatian lawan jenisnya, namun tidak untuk Cila. Cila gadis mandiri yang tak pernah memusingkan berat badan dan selalu PeDe dengan apa yang dimilikinya. Bahkan dengan tubuh gempal dan paha yang terbilang besar, Cila tak pernah malu untuk memakai rok mini ataupun jeans pendek, bahkan kaki mininya itupun tak segan ia pakaikan heels tinggi, walau terkadang ia sering terkilir karenanya. "Astaga guys. sumpah, kok kita keliatan bodoh banget sih kalo berhadapan sama ni emak. Dan bisa-bisanya gua lupa kalo ni emak gak pernah punyak perasaan kalo udah ngomongin tentang cinta." ujar Ratna dramatis sembari menepuk jidatnya. Kini gadis bertubuh sexy itu hanya bisa menatap prihatin pada sosok Cila. Yang di ikuti oleh kedua gadis lainnya. "Lo aja heran, apa lagi gua yang hampir tiap hari ketemu sama ini bocah!" Jawab Agnes selaku kakak ipar Cila. Merasa di sindir Cila kembali memincingkan matanya, membawa titik gelap pada bola mata itu kesudut mata. "Gak usah lebay, abisin makanan lo atau gua tinggal." Ketiga sahabat itupun hanya bisa diam. Menuruti apa kata Cila melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Bukan takut atau apa, hanya saja jika Cila sudah berkata seperti itu bisa saja Cila nekat dan meninggalkan mereka, pengalaman dari kejadian yang sudah-sudah, saat Ratna, Sila maupun Agnes mengajukan ancaman kepada Cila. Cila pernah beberapa kali pergi dengan alasan ingin ke toilet, namun bukan toilet yang menjadi tujuannya tapi pintu belakang cafe. dan parahnya lagi Cila meninggalkan ketiga sahabatnya itu dengan bon yang menumpuk dan membiarkan mereka pulang dengan naik angkutan umum. "Well, lo bayar bonnya gua tunggu di mobil" ujar Cila pada Sila sembari memberikan dompetnya yang di angguki oleh Sila. "Dan gak pake lama!" Beranjak dari sana yang di ikuti oleh Agnes dan juga Ratna yang menatap prihatin pada Sila, atau malah tatapan mengejek?. Entah lah ?? Setelah keluar dari cafe langganannya, kini Cila dan kedua sahabatnya sudah sampai di tempat parkir sebuah bangunan yang tak lain adalah sekolah dimana Caca mengenyam pendidikan usia dini. Sekolah yang sekaligus menjadi tempat penitipan anak. Bukan karna Cila tak sanggup menjaga Caca, atau tak percaya pada Fisa ibunya yang sekaligus nenek Caca. Hanya saja Cila ingin jika Caca tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan mengenal dunia sosial dan tentu saja agar Caca tak menjadi anak yang manja. Tujuan Cila menitipkan Caca pun supaya putri kecilnya itu bisa berbaur dan memiliki banyak teman, bermain sebagaimana masa kecilnya dulu. Cila sama sekali tak mau jika sang putri nya hanya di kurung di dalam rumah dan hanya mengenal dunia luar dari sebuah layar monitor. Cila ingin putrinya itu tak ketergantungan pada alat canggih bernama android yang sekarang sudah bertebaran bagaikan sampah plastik yang begitu mudah di mainkan dan dimiliki oleh kisaran umur berapa saja. Dan parahnya lagi anak usia dini jaman sekarang pun sudah memiliki smartphone sendiri, bukan untuk belajar namun sibuk dengan firur kekinian yang terdapat pada ponsel pintar itu hingga akhirnya mereka lupa bagaimana bersosialitas dengan keadaan sekitar. Bukan, bukan Cila tak sanggup membelikan Caca satu dari sekian banyaknya merek ponsel pintar yang bertebaran, karena nyatanya Caca pun memiliki apa itu yang biasa di sebut ipad berlogo apel bekas gigit. Hanya saja Cila tak mau membiasakan putrinya bermain dengan benda itu terlalu sering, ibu satu anak itu sudah memiliki jadwal khusus untuk putrinya bermain elektronik pintar itu. Cukup dua jam setelah mengerjakan pekerjaan rumah dan setelah itu Caca di larang keras memegang ponsel. Untuk menyiasati waktu bermain dan agar Caca lupa dengan ponselnya, Cila memiliki cara tersendiri, seperti mengajak putri kecilnya itu bermain permainan sederhana yang dulu sering ia mainkan bersama saudara-saudaranya. Seperti congkak ataupun permainan lainnya. Cila sosok ibu yang disiplin itu bergerak turun dari mobilnya yang diikuti kedua sahabatnya. Perlahan kaki besarnya melangkah masuk kedalam ruangan dimana putri kecilnya berada. Begitu kaki gempal itu menginjak ruangan kelas putrinya. Sudut matanya menemukan putri kecilnya tengah asik tertawa bersama taman seumurannya. Berbicara dengan nada dan cara anak usia balita bercerita, bahkan beberapa kali Caca menunjukan hasil gambarannya pada taman sebangkunya yang berakhir gelakan tawa dari keduanya. Sadar akan kedatangan mommynya Caca menolehkan kepalanya kearah pintu kelas, begitu sadar dengan apa yang di lihatnya Caca langsung berlari dan menghampiri mommynya yang langsung saja di sambut oleh Caca dengan berjongkok dan merentangkan tangannya. "Hap. Putri mommy kenapa lari-lari nanti jatuh loh." tegur Caca begitu putrinya sudah berada dalam pelukannya. Caca mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar hingga menampakan deretan gigi gupis khas balita. "Hehe maaf mom. Caca angen omy" Cila ikut tersenyum. Kemudian membawa Caca kedalam gendongannya "yaudah kita ke bu Monic yuk, sekalian pamit pulang." Caca mengangguk kemudian melingkarkan tangan mungil itu ke leher Cila. Sesuatu yang selalu saja di sukai oleh putri kesayangannya, dan Cila selalu nyaman dengan pelukan hangat itu. "Mom?" Bisik Caca pelan di telinga Cila. "Em. Kenapa sayang?" "Caca mau mamam es klim boleh mom?" Cila mengerutkan keningnya, menatap Caca heran. "Es krim?" "He'um mom. Caca kan dah lama ndak mamam es klim mom." Cila sedikit berfikir akan permintaan Caca, kemudian mengangguk. "Tapi jangan banyak-banyak dan hanya boleh kalo mommy yang buat. Gimana?" Mendengar itu, kedua netra Caca berbinar, "Benelan mom?" "He'em" dan setelahnya pun Caca langsung berteriak Riang. "Eits tapi Cila harus bantuin mommy buat eskrimya ya" "Ote mom" Melihat reaksi ibu dan anak itu, kedua sahabat Cila, karena memang hanya Ratna dan Sila yang ada di sana, tentu saja Agnes pun harus menjemput Aurel di sekolah dan membuat kakak ipar Cila tak bisa ikut bergabung. Mereka hanya tersenyum kemudian secara bersamaan mereka bergerak mendekat dan ikut memeluk keduanya. "Em tante boleh ikut gak nih?" Caca segera menaruh jari telunjuknya tepat di dagu mungilnya itu. Mendongak sebentar kemudian menjawab dengan anggukan dan cengiran polos dan langsung di hadiahi banyak ciuman dari Ratna dan Sila yang merasa gemas dengan tingkah Caca. "Yaudah yuk langsung ijin pulang terus beli bahan-bahannya" ajak Cila yang di angguki penuh antusias oleh kedua sahabatnya dan tentu saja putri kecilnya itu. "Makacih mom, Caca cayang omy" bisik Caca kemudian memberikan kecupan manis di pipi Cila, setelah kedua tante narsis nya itu menjauh. "Mommy juga sayang Cila." Balas Cila mengecup pipi putrinya itu lama. "Selalu sayang" lanjutnya lagi lebih menyerupai bisikan halus yang hanya bisa di dengar oleh Caca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD