"Assalamualaikum, Bu." Satria mengucap salam sembari mencium punggung tangan Ibu Darminah begitu masuk ke rumah Bayu.
"Wallaikumsalam. Silahkan duduk ya, Ibu ambilkan minum dulu ke dalam," pamit Darminah.
"Nggak usah Bu, jangan repot-repot," tolak Satria dengan halus. Tapi Darminah tentu saja bersikeras. Mana mungkin wanita itu akan membiarkan tamu dari anaknya nganggur begitu saja.
Bayu menahan tawa pada rasa sungkan Satria yang berlebihan karena dia sudah kenal betul dengan sahabatnya itu. Merasa ditertawakan, Satria menepuk bahu Bayu kuat-kuat. Hingga tawa pria itu akhirnya justru pecah.
"Kenapa kamu malah tertawa seperti gitu. Ada yang aneh? Apa di sini mengucap salam pada yang lebih tua sudah tidak berlaku lagi?" tegur Satria.
"Pffttt, ha-ha-ha. Sudah berapa lama kita ndak bertemu. Aku sampai pangling pada sikapmu yang sok pemalu itu," balas Bayu.
"Hiisshhh, aku nggak seperti dulu lagi, Bay. Sama sepertimu. Hidupku sekarang sudah lebih baik." Satria mengangkat kedua alisnya.
Bayu lalu berdesis mengejek Satria. Hidup yang lebih baik bagi Satria pastilah berbeda dengan persepsi Bayu.
"Hiiissshh, baiklah aku percaya. Coba kita lihat dulu semua itu. Hemm ... pakaian, sepatu, jam tangan. Juga mobil mengkilat yang ada di luar sana. Jadi ... kau masih menjadi anak buah Damar sekarang?" tanya Bayu lagi.
Satria melirik ke segala arah, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan.
"Tak ada alasan bagiku untuk nggak bergabung dengan mereka lagi."
"Jadi ... kau yakin sekarang hidupmu lebih baik?" tanya Bayu lagi untuk meyakinkan.
"Ya ... aku sudah memiliki usaha showroom mobil dengan beberapa karyawan. Aku juga sudah membuka bengkel dengan beberapa cabang di Jakarta. Istriku cantik, Anakku lucu, dan orang tuaku juga sejahtera di masa tua mereka. Semua orang menghormati ku. Kurasa aku sudah mendapatkan apa yang ku mau," tutur Satria dengan jelas.
"Ahh, benar hidupmu jelas baik-baik saja. Agaknya, aku hanya terlalu khawatir. Jika tidak, perbedaan di antara kita, tidak akan sekentara ini. Tapi ... tidakkah kamu ingin keluar dari sana. Dari lubang hitam itu. Apakah kamu akan terus menjadi antek-antek Damar sampai kamu masuk penjara dulu sepertiku?" tanya Bayu kemudian.
"Jangan samakan aku dengan kau, Bayu. Aku lebih pintar. Jika tidak, mana berani aku kemarin pergi ke lapas untuk menjengukmu. Polisi pasti bisa mencium bau kebusukan ku dengan mudah, jika aku tidak pintar. Think smart! Jangan belajar munafik Bayu. Hidup kita nggak akan berjalan tanpa uang. Benarkan?"
"Ya ... tentu saja benar. Sudah, jangan di pikirkan lagi. Kita bertemu bukan untuk saling adu nasib-kan? Sekarang ayo ceritakan. Bagaimana kau bisa menemukan rumahku yang ada di pedalaman kampung ini?"
Bayu tidak ingin membuat sahabatnya tersinggung. Ia juga tidak suka mengintimidasi orang lain. Meski jawaban Satria terdengar agak memaksa dan tidak mau di salahkan. Lagipula setiap orang memiliki pilihan masing-masing juga jalan tersendiri untuk meraih hidup.
Fajar menoleh ke belakang merasakan ada hembusan nafas hangat di belakang kepalanya.
"Astagfirullah, Mbak Rani! Ngapain sih di situ?" Fajar terkejut. Awalnya bocah laki-laki itu sedang mengintip Satria dan Bayu yang sedang mengobrol dari balik tembok ruang tengah sendirian. Tapi rupanya, Rani benar-benar menyusul dan berdiri di belakang Fajar, karena ikut penasaran pada kawan dari Bayu.
"Apa sih, Jar. Berlebihan banget. Baru begitu saja sudah kaget kamu!" kata Rani sambil mengejek.
"Ini namanya ndak berlebihan, cuma emang beneran bikin kaget, Mbak!" Fajar tak mau kalah.
Sementara itu, Bayu dan Satria yang tadinya sedang asyik mengobrol, mendengar keributan Fajar dan Rani. Satria mengerutkan kening. Seolah mengisyaratkan pertanyaan pada Bayu bahwa, "Ada apa sih di dalam?"
"Fajar, Rani, ada apa ibut-ribut di dalam. Coba ke sini dulu. Beri salam pada teman, Mas." Bayu memanggil adik-adiknya dengan suara yang lantang.
"Tuh kan, kamu sih, Jar. Kita jadi ketahuan-kan? Coba tadi kamu diem-diem aja. Kita pasti ndak akan ketahuan!" protes Ranii dengan sebal.
"Salah Mbak Rani sendiri sudah membuat Fajar kaget," balas Fajar tak mau kalah lagi.
Keduanya baru berhenti beradu mulut setelah Bayu memanggil mereka lagi. Fajar dan Rani akhirnya keluar dari tempat persembunyian dengan kaki yang terus saling beradu.
"Kalian sedang apa? Kenapa malah ribut. Itu kaki juga kenapa ndak bisa diam?" tanya Bayu heran.
Rani dan Fajar saling menatap, kemudian memalingkan wajah bersamaan. Layaknya sepasang Adik dan Kakak yang sedang saling berseteru. Tapi tingkah mereka justru tampak lucu di mata Bayu dan Satria.
"Coba sini, kalian kenalan dulu. Ini Satria, teman Mas Bayu dari Kota," perintah Bayu.
Fajar menghampiri Satria sesuai perintah Bayu begitu pula Rani yang kali ini mengikuti Fajar lagi dari belakang.
Fajar memberi salam dengan ramah tapi tidak dengan Rani. Sepasang matanya menelisik ke segala arah. Memperhatikan detail demi detail seseorang yang Bayu sebut sebagai kawan.
Penampilan oke, wajah tampan, postur tubuh bagus, suara enak di dengar, terlalu sempurna. Lalu apa yang kira-kira kurang. Saat tangan Rani bermaksud untuk mencium tangannya, barulah ia sadar. Ada hal lain yang menjadi celah ketidak sempurnaan itu.
Satria menggerakkan satu jari saat tangannya saling bertaut dengan Rani. Refleks Rani mengernyitkan kening saat merasakan ada sesuatu yang menggelitik di tangannya. Sedangkan Satria malah bersikap biasa saja, tak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Satria memiliki sikap yang buruk terhadap wanita padahal Rani adalah adik dari kawannya.
***
Bayu mengajak Satria untuk berjalan-jalan di tambak ikan miliknya sore hari kemudian. Satria menghembuskan nafas panjang berkali-kali di tempat itu. Rasanya bergitu melegakan, menghirup udara yang begitu bersih di pedesaan.
Bayu berjalan dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya. Dari tambak ikan itu, pemandangan hamparan area persawahan yang belum panen, berpetak-petak terlihat sangat jelas. Membangun ilusi undakan-undakan cantik dengan warna hijau yang bagus untuk penglihatan.
"Hey, Bayu. Adikmu yang perempuan itu cantik juga ya. Sayang sekali dia sepertinya jutek dan sulit didekati," celetuk Satria.
"Kamu jangan coba berpikir yang aneh-aneh soal adikku, Satria. Ingatlah dari mana kau berasal," tegas Bayu.
"Hiihh, nggak bisa pula kau ku ajak bercanda. Aku memang orang jahat, tapi jahatku juga pilih-pilih. Bisa habis aku jadi rempeyek di tanganmu," balas Satria.
"Tapi ... barangkali kalau Ibumu sudah nggak tahan ingin punya menantu, aku nggak akan menolak," tambah Satria lagi dengan senyum yang jahil.
Bayu langsung melayangkan bogem mentah pada Satria. Tapi Satria berhasil menghindar.
Sebelum menjadi orang terpandang juga sahabat Bayu di Jakarta, Satria adalah orang biasa yang sedang ingin mengadu nasib. Langkah membawanya untuk menjadi salah satu komplotan Dari Damar bersama dengan Bayu. Merintis sebuah karir kejahatan yang tak kenal ampun pada korban.
Di saat Bayu telah berhenti, Satria saat ini justru sedang naik daun. Siapa yang tidak bisa menolak, diiming-imingi kehidupan layak yang sejahtera, hanya dengan menjadi kurir barang-barang ilegal. Penyelundup di perbatasan laut dan udara.
Meski usaha dengan hasil sebenarnya sama sekali tak sebanding. Resiko yang amat besar menunggu setiap saat. Karena sepandai-pandainya tupai melompat, tetap akan ada masanya dia terjatuh juga.
"Bayu ... apa kamu sungguh nggak tertarik untuk kembali lagi pada Bang Damar?" tanya Satria.
"Setelah mereka menjebakku? Setelah mereka menghanyutkan tubuhku? Setelah mereka mencoba membunuhku?" Bayu balik bertanya. Tapi tidak dengan otot tentunya.
"Aku tahu kehidupanmu di sini sangat buruk! Jika kau kembali, kau bisa membawa seluruh keluargamu pindah ke tempat lain. Membuat identitas baru, dan hidup dengan tenang," tawar Satria.
Ya, siapa yang tidak ingin hidup sejahtera dengan ketenangan tentunya. Tapi semuanya tidak sesederhana itu. Tenang dalam otak Satria, adalah berupa pangkat dan harta yang banyak. Sedangkan Bayu ...
"Sat ... apa, aku bisa percaya padamu sekarang?" tanya Bayu tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke arah satu gunung besar yang jaraknya memang tak jauh dari Desa tempatnya berpijak.
"Kenapa kamu bertanya seperti kita baru saling mengenal saja?" ujar Satria seraya memicingkan mata.
"Karena mulai saat ini. Aku sudah tidak bisa percaya lagi pada siapapun!" tegas mantan narapidana itu.