Bab 28

1091 Words
Bayu bergegas pergi ke depan untuk menemui Satria. Menyisakan Rani dan Fajar yang saat ini saling bersitatap. Fajar lantas menghampiri Rani yang saat ini malah memalingkan wajahnya dari sang adik. Tangannya mengepal dengan kuat seperti tengah mencengkeram sesuatu. Fajar meraih tangan Kakaknya. Kini ia bisa merasakan betapa kuatnya kepalan tangan Rani. "Tenang, Mbak. Tenang ... istighfar," Fajar mengingatkan. Tapi Rani sedang tidak mau mendengarkan. Bukannya mengikuti saran Fajar. Dia malah menepis tangan adiknya itu dengan kasar. Namun, hal itu tidak serta merta membuat Fajar marah. Ia justru ingin menenangkan Kakaknya. Sudah agak lama dia berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan Rani dan Bayu. Tetapi tak berani ikut campur atau menegur. "Mbak Rani, kenapa sih ngomong kaya gitu sama Mas Bayu. Mbak Rani, kan tahu, Mas Bayu itu sudah berusaha keras untuk berubah. Kita sebagai adik harusnya suport Mas Bayu, Mbak!" kata Fajar kemudian. "Heh!" ujar Rani seraya mengangkat tangan sambil menunjuk ke arah Fajar. Otomatis Fajar memundurkan kepalanya karena jarak telunjuk Rani yang begitu dekat, tepat di depan wajahnya "Kamu sekarang berani nyalahin, Mbak ya? Harusnya kamu itu ngedukung aku, Jar. Kamu mau diasingkan terus sama orang-orang cuma karena punya Kakak macam dia!" tunjukan tangan Rani beralih pada sebuah potret wajah Bayu yang ada di meja. "Tapi, Mbak ..." "Kamu jangan nutup mata deh, Jar!" potong Rani kemudian. "Kamu nyaman hidup kaya gini? Mbak itu sudah dewasa! Mbak Rani harus punya pasangan hidup. Kamu tahu sendiri, jati diri semua perempuan di Desa ini adalah mendapatkan jodoh yang berpangkat. Baru kita bisa dipandang semua orang. Tapi sekarang ... karena Mas Bayu itu. Semua laki-laki akan takut buat mendekati aku!" tutur Rani panjang lebar. "Konsepnya bukan gitu, Mbak. Jodoh itu ada di tangan Allah. Bukannya, Mas Bayu!" bantah Fajar. Bagi Fajar, Bayu adalah sosok yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Apapun kejahatan Bayu di masa lalu, semua itu semata-mata karena dia tidak bisa melihat keluarganya terus berada di posisi bawah. "Mbak jangan lupa. Mas Bayu berbuat seperti itu, cuma karena nggak ingin lihat Ibu dan adik-adiknya hidup susah!" protes Fajar. "Heh, lagak kamu, Jar ... Jar. Apa sekarang kita nggak hidup kesusahan? Pemberian apa dari Mas Bayu yang masih bertahan, Jar?" ejek Rani. Semasa kejayaan Bayu saat masih menjadi penjahat, keluarganya memang sejahtera. Bayu berhasil membeli tanah dan perkebunan yang luas. Membangun usaha, membeli kendaraan, hingga membuat nama keluarganya perlahan-lahan kian terpandang. Cita-cita Bayu yang lainnya adalah ingin memboyong Ibu dan adiknya ke rumah baru yang lebih baik. Tapi Darminah tidak menginginkan itu. Darminah lebih ingin rumah warisan Almarhum suaminya di renovasi agar dia bisa tetap tinggal di situ. Di rumah yang saat ini mereka tempati. Namun, baru setengah jadi Bayu mewujudkan impian untuk merenovasi rumah itu. Kejahatannya sudah keburu terungkap. Setelah Bayu tertangkap dan berurusan dengan Polisi, aset-aset atas nama Bayu di sita. Sisa-sisa harta yang ditinggalkan Bayu juga sengaja Darminah bagikan pada siapa saja yang mau dengan cuma-cuma. Bukan karena ingin sok kaya atau menampik harta. Tapi Darminah tidak ingin harta haram hasil rampasan Bayu terus terbawa hingga ia mati. Tambak ikan dan beberapa petak sawah atas nama Darminah adalah satu-satunya sumber penghasilan yang berhasil ia selamatkan karena merupakan peninggalan dari Almarhum sang suami. Dan ironisnya, Darminah masih sangat sering di curangi oleh para pekerjanya. Harusnya dengan pengelolaan yang baik, hidup keluarga Darminah justru bisa lebih baik perlahan-lahan. "Kenapa? Ndak bisa jawab kamu, Jar. Percuma kamu sampai jadi juara kelas, kalau yang seperti ini saja ndak bisa masuk di otak. Tahu kenapa? Karena uang yang Mas Bayu gunakan untuk sekolah kamu itu adalah uang haram!" cibir Rani. "Mbak Rani salah. Fajar itu sekolah pake uang hasil kerja kerasnya Ibu. Karena Mas Bayu saat itu sudah di penjara. Justru Mbak Rani yang ndak akan bisa lulus kalau bukan karena uang haramnya, Mas Bayu. Iya kan?" Skakmat, Fajar berhasil membuat Rani berpikir ulang karena telah salah bicara. Membicarakan harta benda yang haram sungguh bukanlah perkara yang mudah. Butuh ilmu yang mendalam apalagi jika menyangkut soal ilmu Agama Islam. Tapi karena tak tahan dengan penuturan Rani, Fajar terpaksa melawan sebisanya dengan ilmu sangat minim. Ia hanya ingin agar Rani tidak terlalu menyalahkan Bayu atas segala hal. Mulut Rani sudah terbuka lebar, bersiap-siap untuk mengeluarkan suara protesnya terhadap penuturan Fajar. "Waw, tunggu sebentar, Mbak!" belum sempat Rani bersuara, Fajar sudah lebih dulu menahannya. "Fajar ndak mau ribut lagi. Udah selesai stop sampai di sini. Silahkan Mbak lanjutkan kemarahan, Mbak Rani sendiri. Dan biarkan Fajar memilih untuk bertahan pada kepercayaan Fajar. Sekarang Fajar mau ke depan. Mau lihat temannya Mas Bayu yang datang dari Kota, pake mobil mentereng!" Fajar tidak menggubris Rani yang ingin membalas semua perkataannya. Semakin dilayani, maka Rani justru akan semakin kacau. Satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh hanyalah pergi dan tidak perlu menjadi pendengar. "Ahhh dasar si Fajar ini. Otaknya pasti sudah di cuci oleh Mas Bayu. Sampai dia berani melawan!" gerutu Rani. "Eh tapi ...." Rani terdiam sejenak mengingat perkataan Fajar sebelum pergi tadi. "Siapa temannya, Mas Bayu yang dari Kota dan pakai mobil itu?" pikir Rani. Dia yang semula begitu kesal jadi ikut terpancing rasa penasaran juga. Jarang ada orang Kota yang mau mampir ke pedesaan kecil dengan akses jalan yang begitu sulit dilalui. Semua orang pasti akan bertanya-tanya. "Kayanya, aku juga harus tahu. Siapa si Satria ini!" kata Rani. Ia keluar dari kamar Bayu lalu pergi menyusul Fajar. *** Bayu keluar melewati pintu depan untuk bertemu dengan tamu yang Fajar katakan tadi. Begitu sampai di luar sosok pria yang saat ini tengah berdiri di depan rumah Bayu itu menjadi sorotan warga sekitar yang lewat. Tubuh tinggi, tegap, atletis. Kulit sawo matang tapi begitu bersih dan tampak terawat. Hidungnya yang bangir mampu menahan kaca mata hitam yang bertengger pada agar tidak jatuh. Semua benda bermerek mulai dari pakaian, celana, jam tangan, sepatu dan aksesoris lainnya benar-benar menyilaukan. Belom lagi mobil merah mentereng yang terparkir di pelataran. "Satria!" panggil Bayu. Mendengar namanya di panggil pria itu menoleh. Senyum berkembang di antara sepasang bibir merah agak kehitaman dari pria pemilik nama lengkap Satria Danuarta. "Hey ... Bayu!" balasnya kemudian. Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan lalu berpelukan sambil saling menyikut geli. Sebuah salam pertemuan ala-ala pria yang sudah lama sekali tak bersua. "Heh, sudah berapa lama kau bebas hah? Aku pergi ke lapas tempo hari. Dan mereka bilang kau sudah bebas," ujar pria bernama Satria itu. "Ahh soal itu ..." "Bayu, temannya di ajak masuk nak." Darminah tiba-tiba saja datang dari dalam rumah menghampiri ke dua sahabat yang sedang saling melepaskan rindu itu. "Iya Bu! Ahhh, ayo kita masuk dulu. Nggak enak kita ngobrol di luar!" ajak Bayu sembari merangkul bahu kawannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD