"Aku sudah tahu!" sahut Bayu kemudian.
Orang yang Rani jadikan sebagai ancaman pada Bono, baru saja datang dan sempat mendengar penuturan dari Rani. Semua orang kini menoleh pada sumber suara yang tiba-tiba saja datang.
Bono semakin ketakutan begitu sosok Bayu terus melangkah maju, hingga akhirnya ia benar-benar berada dalam satu atap dengannya.
"Assalamu'alaikum, Bu, Rani, Fajar dan juga Bono?" seru Bayu, mengucap salam.
Bono tidak berani balik menatap pada wajah pria itu. Gambaran pertarungan hebat yang di saksikannya tadi sudah cukup menyebarkan satu kengerian di dalam tubuhnya. Bono sudah terburu-buru kabur dan menjadi seorang pengecut hingga tidak tahu akhir dari perkelahian yang sempat terjadi di kebun pisang itu.
Alhasil, pemuda itu mengira kawan seperjuangannya telah mati bersama dengan preman pembawa senjata tajam itu.
"Mas, ampun. Jangan bunuh saya, Mas. Bono khilaf, Bono sudah mengakui segalanya pada Ibu. Bono akan kembalikan semua uang yang sudah Bono dapatkan. Tolong, Mas." Bono memohon.
"Jadi, Mas Bayu ngebunuh orang lagi!" pekik Rani.
Bayu menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Terus kenapa, Mas Bono kayanya ketakutan banget liat Mas Bayu datang?" tanya Rani bersikeras. Ia ingin tahu, kejahatan macam apalagi yang telah dilakukan oleh Kakaknya. Jika benar demikian Bayu telah membunuh lagi, maka cukup sudah. Rani sendiri yang akan menyeret Bayu keluar dari rumah. Meski tanpa persetujuan dari Darminah.
"Sebegitu, ndak percayanya kamu pada Mas, Rani? Sudah ku bilang, aku tidak berani membunuh siapapun lagi. Agaknya Bono hanya melihat sedikit cuplikan kisah yang sempat terjadi tadi. Hemmm benarkan itu Bono?"tanya Bayu pada Bono.
Bono tersentak kaget. Memang benar, ia hanya melihat sepenggal dari cerita yang terjadi tadi. Ia terburu-buru menyimpulkan kalau orang-orang itu berikut Fadli sudah mati di tangan Bayu.
Keringat pria itu bercucuran. Canggung, gugup dan bingung. Apa yang mau Bono jelaskan. Apapun alasannya, dia ada di pihak pelaku dan bersalah.
"Maaf, Mas Bayu. Maaf Bu, Bono minta maaf sebesar-besarnya," pinta Bono lagi.
Baik Bayu dan Darminah, tidak terlalu mempermasalahkan hal itu lagi. Kedatangan Bono yang mau berkata jujur saja, sudah menjawab teka-teki seharian penuh ini.
Hanya Rani yang belum rela dengan semua kejadian ini. Tak habis pikir gadis itu pada keluarganya terutama pada Bayu dan Darminah. Meski ia tahu betul, Darminah adalah seorang wanita yang begitu baik. Melepaskan Bono begitu saja tanpa sanksi, bukanlah hal yang wajar baginya. Ia tidak bisa berperilaku sebaik itu.
***
Rani berjalan membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar Bayu begitu saja tanpa permisi.
"Mas Bayu, Rani perlu bicara!" tegas Rani. Tapi yang terjadi berikutnya, benar-benar tak terduga.
Bayu sedang menanggalkan baju saat Rani tiba-tiba saja masuk. Sebagian tubuh Bayu yang kekar itu tertangkap oleh penglihatan Rani. Tentu saja hal ini membuat Rani jadi malu, meskipun dia adakah Kakaknya. Begitu pula Bayu, yang kini jadi ikut canggung.
"Maaf Rani, ndak tahu kalau Mas Bayu sedang ganti baju!" ucap Rani sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Bayu tidak jadi melepaskan pakaian, dan kembali menggunakannya.
"Mas ndak jadi buka baju. Kamu bisa buka mata sekarang!" ujar Bayu kemudian.
Rani menurunkan kedua tangannya dan keadaan Bayu sudah terlihat lebih baik.
"Sini duduk," ajak Bayu pada Rani sambil melambaikan tangan.
Keduanya duduk di tepi ranjang berdampingan. Rani hampir saja lupa apa tujuannya datang menemui Bayu.
"Lain kali, kalau ndak mau ucap salam, minimal panggil nama, atau setidaknya ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang," kata Bayu menasehati Rani.
"Jangan ceramah. Rani sedang ndak butuh itu!" bantah Rani.
Tangan Bayu terulur mengacak rambut Rani dengan lembut. Jantung Rani mendadak kalang kabut, berdetak lebih kencang dari biasanya tatkala sentuhan itu sampai di kepalanya.
"Iya. Mas tahu, tapi kamu sudah besar sekarang. Dan, Mas itu laki-laki. Jadi ndak bisa kamu sembarangan masuk. Kaya tadi contohnya, Mas baru mau buka baju loh. Bagaimana kalau, Mas tadi malah membuka bagian yang lain!" goda Bayu.
Jangan pikir Bayu sedang coba bergenit ria pada Rani. Pria itu hanya ingin bercanda mencairkan suasana, karena tatapan pertama pada gadis itu seolah mengisyaratkan ada masalah di antara mereka.
Kedua pipi Rani bersemu memerah. Tapi yang dikatakan Bayu itu benar kok. Untung saja Rani tidak mendapati Bayu tengah membuka bagian lain.
"Mas Bayu, Mas ini pulang tujuannya apa? Kenapa kepulangan Mas Bayu ini malah membuat keluarga kita yang tadinya sudah rusak dan mulai baik-baik saja ... sekarang malah jadi rusak lagi!" ucap Rani.
Rani menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan unek-unek di kepalanya yang belum keluar.
"Ibu sudah tua, Mas. Kalau ndak bisa bikin Ibu bahagia, setidaknya jangan nambah masalah Ibu," seru Rani.
"Kamu pikir, Mas sengaja bikin masalah? Memangnya Mas tahu kalau saat itu Toni berniat mencelakai kamu? Siapa yang tiba-tiba pergi dari rumah dan dengan sukarela mau di ajak anak itu!" Sergah Bayu kemudian.
Untuk masalah Toni, meski semua berawal dari dendamnya pada Bayu, Rani juga ikut andil dari semua penyebab ia celaka.
"Dan masalah ikan-ikan itu. Kamu juga pikir, Mas yang sengaja untuk menggagalkan panen keluarga kita? Kamu akan menyalahkan semua hal itu pada Mas?" tambah Bayu lagi.
"Tapi memang itu nyatanya, Mas. Toni ndak akan memiliki dendam kalau bukan karena Mas Bayu. Dan panen ikan itu ndak akan gagal juga kalau bukan karena orang-orang itu berurusan dengan Mas Bayu. Mas, kenapa nggak pergi aja sih? Bawa semua masalah itu sendiri. Mas pasti ndak tahu kan, bagaimana perlakuan warga pada Rani dan Fajar huh?" sentak Rani seraya berdiri membelakangi Bayu.
Bayu mengangkat kepala memandang punggung Rani. Punggung seorang gadis yang tidak seharusnya memikul beban terlalu banyak.
"Sekarang ... tiap kali Rani lewat di depan orang-orang, mereka menyingkir. Menciptakan jarak yang begitu kentara. Setiap Rani pergi ke warung, tatapan mereka berubah tajam. Seolah mereka takut, kalau Rani akan mencuri atau tidak bisa membayar apa yang Rani beli. Dan Fajar!" Rani berbalik dengan tangan menunjuk ke arah Bayu.
"Tahu kenapa dia lebih sering berada di rumah sekarang? Tahu kenapa dia ndak lagi kumpul dengan kawan-kawannya. Kenapa juga juga dia hanya pergi untuk sekolah, lalu pulang dan ndak kemana-mana lagi seperti dulu?" Rani mencecar begitu banyak pertanyaan 'kenapa' pada Bayu. Yang Bayu sendiri tahu jawabannya.
"Ya, ya, ya. Mas Bayu terlalu sibuk jadi pahlawan kesiangan. Sampai ndak tahu kalau adik-adik Mas ini lebih banyak dikucilkan sekarang. Teman-teman Fajar itu takut kalau mereka akan terlibat masalah, atau terbawa pengaruh buruk karena Kakaknya adalah ..."
"Mantan narapidana!" potong Bayu kemudian.
Rani terpaku, karena apa yang ingin diucapnya, sudah lebih dulu ditebak oleh Bayu.
"Itu yang mau kamu bilang kan? Penjahat, orang gila, mantan narapidana, begal, pencuri, preman, pembunuh, pemabuk dan semua hal yang buruk itu ada di, Mas! betulkan, Ran!" ulang Bayu dalam sentakan dengan volume yang tinggi. Rani memalingkan wajah tak mau balas menatap sang Kakak.
Bayu meremang dalam rasa kesal dan sedih. Ia ikut berdiri lalu membawa Rani ke dalam peluknya.
"Maaf, Rani. Mas ndak maksud untuk bentak kamu!" bisik Bayu.
Rani terdiam dalam pelukan Kakaknya. Aneh, kemarahannya seperti tiba-tiba hilang begitu saja.
Bayu merasa bersalah karena sudah membentak adiknya. Tapi bagaimanapun juga, meski Bayu memiliki kelebihan ia adalah manusia yang memiliki emosi.
Beberapa menit kemudian, Bayu melepaskan tubuh Rani. Rani masih memalingkan wajahnya. Pikirannya kebingungan di antara rasa muak dan entahlah.
"Kalau itu mau kamu, secepatnya Mas akan pergi. Kamu jangan khawatir!" kata Bayu kemudian.
Tok, tok, tok, suara ketukan pintu membuyarkan adegan drama yang terjalin pada sepasang Adik dan Kakak itu. Si bungsu ternyata sedang berdiri di dekat pintu.
"Mas, ada yang mencari di depan," kata Fajar.
"Siapa, Jar?" tanya Bayu.
"Katanya teman Mas Bayu dari Kota. Namanya, Satria," jawab Fajar.
Mendengar nama Satria, wajah Bayu yang semula suram kini berubah. Guratan senyum halus muncul di sana. Eskpresi yang berseri itu, menggantikan emosinya sesaat. Tanpa memperdulikan Rani dan Fajar, Bayu bergegas pergi ke depan rumah, menemui seseorang yang kata Fajar bernama Satria.
Siapa Satria ini?