Bayu menggaruk belakang lehernya yang jujur saja, sama sekali tidak gatal. Sepasang matanya, menilik ke arah lain. Meski sesekali ia gunakan untuk melirik rusmi juga. Bingung juga bila sudah putus dengan kekasih, tapi masih cinta. Setiap perkataan yang ingin ke luar dari mulutnya, terasa amat canggung dan ragu.
Tapi bila seperti ini, tidak ada bedanya dengan berjalan sendirian. Karena hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang menemani langkah keduanya.
"Ehhh, eerrhhmm. Lain kali, jangan pergi malam-malam lagi. Bahaya." Bayu memberanikan diri untuk berucap pertama kali. Meski ia masih juga tidak bisa menoleh. Bukan tidak bisa, hanya ... merasa enggan.
"Memangnya, kamu masih perduli ...," jawab Rusmi seraya memandang ke arah lain.
"Kenapa aku harus ndak peduli. Kamu kan pac ... maksudku. Kita masih bisa jadi teman. Aku khawatir sebagai teman," kilah Bayu. Jelas sekali, jawabannya bukanlah itu. Ia khawatir karena meski tahu Rusmi telah dijodohkan, bukan hal yang mudah baginya untuk menghapus sebuah perasaan.
"Ehhm, jadi ... hanya karena kita berteman ya." Nada sumbang dari gadis itu menandakan dia agak kecewa, dengan jawaban Bayu.
Namun, apa pula yang harus Bayu jawab. Bisakah Bayu berharap lebih di saat orang-orang masih memandang dirinya sebagai sampah masyarakat.
"Kau pasti lebih dari tahu aku berharap yang lain, Rusmi," batin Bayu kemudian.
"Ahh, sudahlah. Jangan dibahas, jadi kapan orang itu akan melamarmu? Sudahkah kalian menentukan tanggal pernikahan?"
Rusmi memutar pandangan. Setelah merasa sebal dengan pernyataan Bayu, kini dia merasa sebal lagi dengan pertanyaan Bayu.
"Dua minggu lagi. Orang itu akan datang ke rumah dengan keluarganya. Sebenarnya ... aku ndak suka!" keluh Rusmi.
"Tapi ... nasib gadis-gadis di Desa ini seperti tidak memiliki harapan. Semua sudah ditentukan," keluhnya.
Bayu mengiba ingin memberi tanggapan. Tapi toh, dia juga tidak bisa mencegahnya. Melawan putusan Kepala Desa di sana, hampir sama dengan melawan titah kaisar. Yang bilamana dilakukan, hidupnya juga Ibu dan adik-adiknya tidak akan bisa tenang.
Cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya sampai di depan rumah Rusmi. Keduanya berhenti tepat di depan gerbang rumah gadis itu. Mereka saling berhadap-hadapan. Bayu menggerakkan tangannya, mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke rumahnya.
Sebenarnya tidak ada yang berubah dari perilaku Bayu saat ini. Sejak jaman dulupun tidak ada hal istimewa selain genggaman tangan atau hanya sekedar sebuah rangkulan, yang jika tak sengaja tertangkap mata oleh warga, keduanya akan sama-sama saling menjauh dalam rasa malu
"Ayo masuk, sudah malam," perintah Bayu dengan lembut.
"Makasih, Mas. Sudah repot-repot mengantarkan Rusmi pulang." Rusmi tersenyum dengan amat manis. Seulas senyum yang mampu mengalihkan dunia seorang Bayu dengan mudahnya.
Dan baru saja gadis itu akan bebalik, Bayu justu berkata,,
"Tunggu sebentar, Rus," pinta Bayu.
Sontak saja Rusmi kembali menghadap pada Bayu. Karena sebelumnya Rusmi hanya baru berbalik saja, belum sempat melangkahkan kaki. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya pada Bayu, sebagai isyarat dari pertanyaan, 'ada Bayu memintanya menunggu.'
Bayu menggerakkan tangannya, ia menyelipkan beberapa helai rambut Rusmi yang terlepas dari ikatannya ke belakang telinga.
Rusmi hampir tidak bisa berkedip, membalas tatapan Bayu yang sayu. Ia kesulitan untuk mengendalikan detak jantung, juga perasaannya kali ini. Berada dalam jarak yang amat dekat, di tambah kelembutan pria itu. Sekarang, bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari jerat cinta masa lalu yang seharusnya dia lupakan.
Begitu pula dengan Bayu. Jangan dikira dia merasa biasa-biasa saja, saat tangannya kembali menyentuh kelembutan pipi Rusmi.
"Astagfirullah," sebut Bayu. Buru-buru ia menurunkan tangannya, lalu kembali meletakannya di belakang punggung.
"Maaf, Rus. Aku ndak bermaksud ...."
"RUSMI!" Teriakan seorang pria dengan suara yang terdengar amat berat memotong permintaan maaf dari Bayu. Sontak saja Rusmi dan Bayu terkejut. Keduanya menoleh pada pintu rumah Rusmi yang sudah terbuka lebar. Bersamaan dengan itu pula dua pria berjalan mendekat ke arah mereka.
Yang satu sudah jelas adalah Bapak Kepala Desa yang terhormat alias Ayah dari Rusmi. Dan satunya lagi, Bayu tidak mengenalnya. Tapi Rusmi jelas tahu. Terbukti saat dia menatapnya dengan rasa yang tak suka sembari berucap, "Mas Retno."
"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang bersama ..."
"Assalamualaikum, Pak," potong Bayu kemudian.
Mendengar Bayu mengucap salam, mau tak mau dengan terpaksa Bapak Kades pun harus menjawabnya terlebih dahulu sebelum lanjut menegur.
"Wa ... Wallaikumsalam!" tuturnya dengan agak kesal.
Bayu melirik pada Rusmi yang terlihat amat tak nyaman dengan kehadiran pria di sebelah Bapak Kades tersebut. Terlebih lagi saat pria itu meraih tangan Rusmi, menarik gadis itu untuk berdiri di sampingnya.
"Darimana saja kamu, jam segini baru pulang? Dan kamu, belum lama kembali ke Desa ini, sudah banyak berulah. Saya ndak peduli kalau kamu mau buat masalah dengan orang lain. Tapi jangan pernah kamu bawa-bawa anak saya ke dalam pergaulan kamu yang ndak jelas itu!" ancamnya.
Bayu tidak berniat untuk menyanggah, karena dalam posisi ini, apapun pembelaan yang dibuatnya, tidak akan mungkin digubris. Akan tetapi tidak dengan Rusmi dan justru sebaliknya.
"Bapak salah. Mas Bayu hanya mengantar Rusmi pulang, Pak. Kami ndak sengaja bertemu di jalan. Mas Bayu hanya ndak tega membiarkan Rusmi berjalan sendirian malam-malam." Rusmi membela Bayu terang-terangan. Dia lebih dari sekadar tahu, kalau Bayu tidak akan punya niat jahat padanya.
"Lalu untuk apa dia tadi pegang-pegang pipi kamu. Dengar Rusmi kita ini akan segera menikah. Bapakmu akan menjadi calon Kepala Desa lagi. Jadi jangan mempersulit langkah Bapakmu dengan membuat rumor buruk di antara kita!"
Retno, seseorang yang saat ini tengah menggenggam tangan gadis itu, adalah calon suami Rusmi. Seseorang yang dijodohkan oleh Bapak Kepala Desa untuk anak gadisnya. Anak juragan perkebunan dan peternakan yang cukup tersohor. Tapi kendati demikian, Bayu tetap tidak terlalu mengenal pemuda itu.
Bersikap sok over protective di depan Bayu, memperlihatkan padanya, bahwa Rusmi adalah miliknya. Yup, bisa dipastikan Bayu 100 persen cemburu. Daripada terpancing emosi lebih baik Bayu mengalah. Apa yang harus ia bela. Rusmi bukan sudah hak-nya lagi.
Beruntung tadi Bayu hanya sempat menyentuh pipinya saja. Tidak melakukan hal lebih yang bisa mengundang decak perkelahian.
"Ndak apa-apa, Rus. Toh kamu juga pulang dengan selamat. Aku juga harus pulang. Pak saya pamit dulu," pamit Bayu kemudian.
"Ya, pergilah. Jangan biarkan aku melihatmu dengan Rusmi lagi! Atau bukan hanya kamu yang nantinya akan mendapat masalah," ancam Retno kemudian.
"Aku bukan berpamitan padamu. Jangan terlalu percaya diri. Tapi ... terima kasih karena sudah repot-repot memikirkanku, heh," ejek Bayu dengan setitik senyum di ujung bibir yang nyaris tak terlihat.
Glek ... Retno menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Jika bukan karena memiliki embel embel anak juragan kaya raya, tidak akan pria itu memiliki keberanian. Tatapan Bayu yang baru saja di luncurkan, membuatnya merasa terintimidasi, padahal hanya sekilas.
Setelah berpamitan Bayu meninggalkann rumah itu juga Rusmi. Penolakan mentah-mentah atas kehadirannya, sudah biasa Bayu dapatkan, ia hampir sudah tidak peduli lagi. Orang baik atau bukan, pernah di penjara atau tidak, Ayah dari Rusmi tetap akan bersikap angkuh pada Bayu.
Namun, hal terberat yang saat ini hampir tidak bisa diterimanya adalah ia harus meninggalkan Rusmi dalam genggaman pria yang menurutnya sangat jelas tak baik.
"Bisakah, aku merebutnya kembali? Aku tidak rela Rusmi-ku harus menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak bisa menghargainya di depanku," ujar Bayu dalam hati.