Bab 32

1026 Words
Rusmi dan Bayu saling bersitatap dengan geram. Ke duanya memiliki satu sifat keras kepala yang sama dan tidak mereka sadari. "Ndak mau merepotkan orang lain huh?" tanya Bayu dengan nada mengejek pada Rusmi. "Ini apa namanya kalau bukan merepotkan orang lain. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat dan kamu malah di culik, yakin kamu? Ndak akan merepotkan?" ujar Bayu memperjelas. Sepasang tangan Rusmi mengepal, lengkap dengan yang kiri dan juga kanan. Ia menatap Bayu dengan kian kesal karena telah meremehkan. "Terserah, Mas Bayu saja. Yang penting orang yang ku repotkan nantinya itu bukan kamu!" jawab Rusmi dengan ketus. Bayu sudah akan membalas perkataan Rusmi sebelum akhirnya Satria ikut turun tangan, karena tidak tahan mendengar pertengkaran Rusmi dan Bayu. "Eeehhhh, sudah-sudah. Kalian ini kenapa malah ribut. Sudah semakin malam nih! Bayu, kau antar dulu saja itu Mbak Rusmi. Sudah malam, kasihan dia!" perintah Satria pada Bayu. Rusmi mengangkat kepalanya, mendelik pada Satria. "Ndak perlu. Untuk apa main antar-antar segala. Aku bisa pulang sendiri, kakiku Alhamdulillah masih lengkap dan bisa digunakan untuk berjalan. Lagi pula Rusmi ndak mau merepotkan orang yang tidak ingin direpotkan," celetuk Rusmi yang sudah barang tentu mengarah pada Bayu. Bayu mengerutkan kening sebagai bentuk protes. Ini tidak benar, bukan itu maksud Bayu. Dia bukannya tidak ingin direpotkan oleh Rusmi. "Bukan itu maksudku, Rus. Kenapa kamu belum berubah sih, masih saja keras kepala. Seperti dulu!" sergah Bayu kemudiam. Maksud Bayu adalah dia kesal. Dia kesal karena Rusmi malah berjalan sendirian sekarang ini, tapi dia tidak berani menawarkan diri untuk mengantarkannya. Bayu kesal, karena ia khawatir pada Rusmi. Ada sebuah jarak atau batas di antara mereka yang saat ini begitu sulit di tembus. "Wah, hebat! Jadi kamu sudah nggak keras kepala lagi begitu, Mas. Sudah merasa paling baik sekarang?" Rusmi berkacak pinggang dengan meledek Bayu. Satria maju lagi dan kali ini dengan satu bentakan yang lebih keras. "Ku bilang, SUDAH!" bentak Satria hingga membuat semua orang kaget. Dan setelahnya dia malah tertawa kecil. "He he he, kaget ya kalian. Habisnya kalian malah ribut sendiri. Sekarang kalian berdua sadar diri saja. Orang yang sama-sama keras kepala, nggak boleh saling menyalahhkan!" Satria lantas beralih dan berdiri di belakang Bayu. Ia mendorong pria itu hingga hampir jatuh pada tubuh Rusmi. Membuat Rusmi dan Bayu kian dekat dengan begitu banyak rasa canggung. "Satria!" pekik Bayu. Fajar yang sejak tadi hanya menjadi penonton, menahan tawa. Orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya ini malah membuat keadaan jadi lucu dan konyol. "Sudah, kau nggak usah sebut-sebut namaku terus. Aku tahu kau ngefans sama aku. Tapi maaf, aku sudah punya istri," jawab Satria sekenanya sambil mengangkat tangan. "Sekarang kau antarlah si Rusmi itu, meskipun dia menolak. Itu menjadi tanggung jawabmu karena malah berpapasan dengannya," tegas Satria kemudian. Satria mengedipkan sebelah matanya pada Fajar. Fajar langsung memberikan dua acungan jempol pada Satria. Bahkan jika bisa, dia seharusnya menganugerahkan piala sebagai tukang ngawur paling hebat. Bayu beralih pada Rusmi yang memalingkan wajahnya. Ragu untuk mengantarkannya, atau jangan. "Rus ... Mas boleh antar kamu pulang? Sebenarnya, Mas hanya khawatir karena kamu perempuan," kata Bayu dengan agak ragu. Rusmi mengerdikkan bahu dengan mata mendelik. "Terserah! Aku ndak peduli." Rusmi langsung saja berjalan lebih dulu, melewati Fajar dan Satria. Sementara Bayu sempat beradu mata dengan Fajar dan Satria sebelum menyusul Rusmi. Satria mengangkat jempolnya pada Bayu. Mulutnya bergerak, seraya berbisik "Semoga sukses!" Tentu saja semua ini adalah hasil rencana dan ide dadakan dari Satria itu. Gelagat Bayu dan Rusmi itu sangat jelas. Yang satu ingin memperhatikan tapi tidak bisa melaksanakan. Yang satu ingin diperhatikan tapi tidak berani mengungkapkan. Keduanya menyimpan perasaan, tapi sama sekali tidak berani mengungkapkan. Sebagai pakar wanita yang baik, Satria mana bisa membiarkan sahabat karibnya itu gagal dalam percintaan tanpa perjuangan. Selain itu ... Satria melemparkan pandangan ke segala arah. Sekarang pria itu benar-benar khawatir. Ia tidak tahu mereka ada di mana. Tapi mata-mata dari Damar jelas tersebar. Rusmi itu tidak tahu kalau Desa ini sudah mulai tidak aman. "Mereka ini konyol bangt sih, Jar. Sudah jelas-jelas masih saling cinta. Tapi malah pura-pura saling nggak peduli," celetuk Satria. Ia merangkul bahu Fajar sambil mengajaknya berjalan. "Mbak Rusmi dulu ndak begitu, Mas. Tapi dengar-dengar dia itu sudah di jodohkan. Makanya Mas Bayu ndak berani mendekat lagi. Di sini wanita yang sudah dijodohkan punya hak paten, untuk ndak boleh di ganggu," jelas Fajar yang langsung membuat Satria tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha, sungguh? Ada aturan sekonyol itu di kampung ini. Benar-benar kalian itu orang yang unik. Hak paten macam apa itu? Kita ini manusia, bukan onderdil mobil. Sebelum janur kuning melengkung, semua orang bisa saling berjodoh, bahkan ... termasuk denganku." Satria kembali tertawa. Meksi hati Satria yang sebenarnya malah di landa rasa khawatir. Fajar ikut tertawa, baru sadar kalau kawan dari Kakaknya ini, mungkin agak sedikit gila. Ya semua mungkin adil dalam segala hal. Kegilaan Satria ini mungkin tertutup dengan kekayaan yang ia miliki sekarang. Dan lagi, memang hanya orang-orang yang cukup gila yang bisa menjadi anak buah atau komplotan dari Damar. *** Rusmi dan Bayu berjalan berdampingan. Tanpa saling melihat apalagi melirik. Keduanya memalingkan wajah tanpa berani untuk saling berucap. Bayu merasa malu jika ingat hampir saja melecehkan Rusmi kala itu dan bersyukur karena hawa nafsunya masih bisa terlindungi. Rusmi juga merasa malu jika mengingat apa yang terjadi di hutan tempo hari. Untung saja Bayu malah sadar lebih dulu. Hingga kegiatan mengerikan itu tidak sampai terjadi. Bagaimana ini? Sudah jalan sampai sebegitu jauh, keduanya masih tetap tak berani bicara. Suasana malam menjelang isya yang begitu hening ini, jadi semakin hening saja. Sampai pada suatu waktu, Bayu dan Rusmi tertangkap basah sedang saling lirik. Begitu sadar, keduanya membuang muka lagi dengan canggung. Bayu mengusap wajahnya, kemudian menutup mulutnya. Berpura-pura batuk untuk menutupi rasa canggungnya yang sudah mulai berlebihan ini. "Ehhmm, hok ohok. Eehhrmm." Bayu batuk dan berdehem di saat yang bersamaan. Tak ayal, hal ini membuat Rusmi jadi ingin tertawa. Tapi sebisa mungkin ia menahannya karena tidak ingin menarik perhatian Bayu. Sampai pada akhirnya Rusmi juga mulai tidak tahan lagi. "Pffttt ha ha ha. Eh!" buru-buru Rusmi menutup mulutnya, begitu dia sadar kalau suara tawanya sudah mulai keluar. Bayu melirik dan tersenyum pada Rusmi. Keduanya kini berjalan sambil senyum-senyum sendiri, seperti anak muda jaman dulu yang masih malu-malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD