Pada jarak beberapa meter lagi menuju Masjid, langkah Bayu, Fajar dan Satria dihentikan. Tenang, kali ini mereka dihentikan bukan oleh penjahat apalagi oleh orang dengan niat jahat.
"Mas Bayu, mau pergi ke Masjid ya? Ayo sama-sama, Mas." Bono datang menghampiri mereka dan mengajaknya untuk pergi ke Masjid bersama.
Masih ingat pada Bono-kan? Orang yang sudah menabur racun ikan di tambak milik keluarga Bayu. Tapi malah berpura-pura tidak tahu, juga bersikap seperti pahlawan.
"Iya, mari-mari." Bayu mempersilakan semuanya untuk jalan bersama-sama.
Sikap Bono setelah interogasi di rumah saat itu, kini jadi lebih baik. Darminah juga tidak mengganti Bono maupun Trisna sebagai karyawan di tambak ikannya. Bagi Darminah, orang yang bisa belajar dari kesalahan adalah orang yang lebih baik daripada orang yang malah tidak mau belajar. Kejujuran Bono saat mengakui kesalahannya telah menyelamatkan hidupnya sendiri.
"Bagaimana kabar Trisna, apa kamu sudah menjenguk dia lagi?" tanya Bayu. Aji mumpung bertemu dengan Bono, dia jadi bisa menanyakan keadaan Trisna yang saat itu sedang sakit.
"Masih sakit, Mas. Tapi sudah lebih baik sih. Mungkin dua atau tiga hari lagi, Trisna sudah bisa menjaga tambak ikan lagi. Untuk sementara Bono sendiri dulu saja, Mas," tutur Bono.
"Dia juga titip pesan untuk berterimakasih pada Mas Bayu, karena sudah mau memaafkannya. Bukan hanya Trisna sih, Bono juga berterimakasih, karena Mas Bayu sudah mau memberi kesempatan kedua lagi, Mas," tambah Bono lagi.
"Sudah, kamu jangan penah membahas hal yang seperti itu lagi. Hemmm, tapi aku ingin tahu sekarang. Di mana Fadli? bagaimana keadaannya?" tanya Bayu lagi dengan penasaran.
"Dia, masih belum kembali ke rumahnya, Mas. Rencana kami saat itu, Fadli akan pura-pura menghilang. Tapi sekarang, sepertinya Fadli memang benar-benar hilang."
Sekarang, Bayu akan dihantui oleh rasa bersalah dan takut lagi. Harusnya saat itu Bayu tidak pergi sendiri. Harusnya ia ikut membawa Fadli juga. Membiarkan Fadli bersama komplotan itu, sama saja artinya dengan mengantar nyawa. Bayu tahu aturan mainnya. Dan sekarang Fadli akan terancam.
Bayu tidak ingin ada kematian lain yang ia sebabkan lagi. Pria itu tertunduk memikirkan nasib satu orang lagi yang belum jelas bagaimana keadaannya.
Fajar menepuk punggung Kakaknya, agar dia tidak melamun saat berjalan. Agaknya, Fajar mengerti, ada banyak sekali kekhawatiran yang singgah di dalam benak Bayu.
Sesampainya di Masjid para pria itu langsung mengambil air wudhu. Mereka kemudian duduk bersama dengan jamaah lain, menunggu hingga Adzan selesai berkumandang juga menunggu kedatangan imam.
Sekarang tidak ada intimidasi yang begitu kentara lagi di dalam masjid itu pada Bayu. Di bawah atap yang sama itu, mereka semua hanya memiliki satu tujuan yaitu beribadah melaksanakan Shalat, menunaikan kewajibannya pada Allah Swt.
Sudah lama sekali, Satria tidak berbaur dengan keadaan seperti ini. Tenang, hening, hanya ada suara lantunan ayat-ayat suci Al-quran yang menggema. Setiap kali ia bangun dari sujud, seolah ada beban berat yang berhasil lepas dari pundaknya. Tubuhnya semakin ringan setiap kali ia berdiri. Hingga akhirnya, ia merindukan sujud-sujud yang berikutnya.
Mungkin inilah perbedaan ketenangan antara Satria dan Bayu. Ketenangan yang di maksud Satria adalah sesuatu yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Sedangkan ketenangan yang di maksud Bayu tentu saja berhubungan dengan jiwa dan hati.
Selesai shalat, Bayu tak langsung pergi. Dia menadahkan tangan, seraya memanjatkan doa pada Yang Maha Esa.
"Ya Allah, berikanlah Rahmat dan Ridho-Mu, agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik."
Itu hanyalah salah satu. Ada begitu banyak doa lain yang tidak bisa jabarkan begitu saja. Tapi yang pasti, Bayu percaya Allah akan selalu mendengarkan doa-doanya. Dan mengabulkan permintaannya dalam bentuk ataupun jalan yang tak di sangka-sangka.
Fajar dan Satria menunggu di depan Masjid karena mereka sudah lebih dulu keluar. Keduanya berdiri sembari bersandar pada tiang besar di luar, yang menjadi penopang kekokohan Masjid itu hingga saat ini.
"Memangnya, Bayu kalau berdoa setelah shalat, akan selama ini?" tanya Satria membuka topik pembicaraan pada Fajar. Ya ... daripada nganggur, lebiih baik mereka berdua ngobrol.
"Biasanya bisa lebih lama malah. Sejak Mas Bayu pulang, Mas Bayu memang lebih rajin," balas Fajar.
"Memang, apa yang biasanya Bayu doakan?" tanya Satria dengan begitu polos. Fajar jadi tertawa kecil sesaat sebelum dia menjawab.
"Mas Satria ini ada-ada saja. Mana Fajar tahu Mas Bayu berdoa apa? Untuk apa Fajar menanyakannya. Tapi, Fajar yakin kalau Mas Bayu pasti meminta yang baik-baik pada gusti Allah."
"Kok kamu bisa seyakin itu, Jar?" tanya Satria lagi.
"Ya konsepnya kan memang begitu, Mas. Setiap orang pasti akan mendoakan sesuatu yang baik-baik. Memang Mas Satria kalau berdoa minta apa?" tanya Fajar.
Berdoa? Meminta? Satria tidak tahu dengan pasti apa yang bisa ia doakan atau ia minta. Ia bahkan merasa tidak tahu, masih pantaskah dirinya untuk meminta.
Bayu menghampiri Fajar dan Satria yang sudah menunggunya cukup lama. Ia tidak pernah memaksa Fajar untuk menunggunya. Jika kesal, Bayu mempersilakan Fajar untuk pulang duluan. Tapi anak itu tetap selalu menunggu Bayu, agar bisa pulang bersama-sama.
"Maaf, lama menunggu. Padahal kalian bisa pulang saja duluan. Aku pasti akan menyusul." Bayu lantas memakai sendal bersamaan dengan Fajar dan Satria.
"Katanya aku tamu di rumahmu. Masa tamu dibiarkan pulang sendiri?" protes Satria.
Ketiganya lantas mulai menyusuri jalan untuk kembali pulang ke rumah. Suasananya sudah mulai agak sepi dan ini jelas sangat jauh berbeda dengan di Kota.
Di tengah perjalanan, saat ketiganya tengah asyik berbincang, mereka berpapasan dengan seorang gadis. Gadis itu berjalan sambil menunduk, mungkin merasa malu karena dari arah yang berlawanan ada tiga orang pria tampan yang akan berpapasan dengannya.
"Loh, Mbak Rusmi! Mas Bayu, itu Mbak Rusmi, Mas!" Dengan semangat Fajar memberitahu Bayu, siapa yang saat ini berpapasan dengan mereka.
Sontak saja pandangan mata Bayu membulat. Sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu kala itu.
Ketiga pria itu beserta Rusmi berhenti begitu langkah kaki mereka akhirnya sudah kian dekat. Rusmi mengangkat kepalanya, menatap satu persatu pria yang saat ini ada di hadapannya. Pandangannya langsung berhenti pada Bayu yang mengernyit agak heran.
Bayu akhirnya menghampiri Rusmi karena tak tahan lagi jika harus diam. Mantan kekasihnya berjalan sendirian di jam segini. Bagaimana Bayu tak cemas.
"Rus, ini kan masih masuk waktu Maghrib, kamu kenapa sendirian? Mau pergi ke mana?" tanya Bayu mendahului rasa penasaran Fajar dan Satria.
"Ehm, Rusmi dari rumah Ibu Dian. Anaknya sakit. Kebetulan Rusmi punya stok obat untuk anak di rumah. Kasian kalau Ibu Dian harus bawa anaknya ke klinik yang jauh dari sini. Mereka ada keterbatasan biaya, Mas," jawab Rusmi panjang lebar.
"Ya tapi kenapa harus sekarang? Kenapa ndak besok saja? Memangnya ndak ada orang yang bisa mengantar. Kamu ini perempuan, Rus!" Bayu agak sedikit meninggikan suaranya, membuat Rusmi merasa agak kesal juga.
"Rusmi ndak mau merepotkan orang lain. Dan lagi urusan orang sakit apalagi anak kecil. Ndak boleh ditunda-tunda!" tegas Rusmi.
Satria yang saat ini hanya menjadi penonton, kemudian berbisik di telinga Fajar, seraya bertanya, "Jar, itu siapa sih?"
"Itu mantan pacar Mas Bayu, yang Mas Bayu sendiri masih cinta, " jawab Fajar.
Satria manggut-manggut, ber oh ria dengan amat pantas. Akan tetapi, ada lain yang kini mengganjal pada diri Satria.
"Ck ... gawat!"