Bab 22

1087 Words
"Bono," panggil Bayu begitu menghampiri Bono yang tengah memberi makan ikan. Laki-laki yang umurnya di bawah Bayu itu menoleh. Dia tidak terkejut, tapi ada rasa takut di hatinya mengingat citra buruk Bayu yang sudah tersohor. "Ma ... Mas Bayu," kata Bono. Bono dan Bayu beralih, duduk berdampingan di sebuah gubuk atau bangunan kecil dari bambu yang berada di sekitar kolam. Bono berusaha keras untuk menyembunyikan rasa gemetarnya. Aura Bayu itu memang terasa berbeda sekali. Sebenarnya daripada takut, Bono itu merasa segan. Bayu menyadari Bono yang sedari tadi memainkan jarinya sambil menunduk. Ia tidak berani melihat ke arah Bayu. "Kamu ndak usah takut begitu. Saya ndak menyalahkan kamu soal ini," kata Bayu seraya menepuk bahu Bono. "Iya ... iya, Mas. Anu ... Bono cuma agak takut. Mas Bayu akan berpikir ini cuma karangan saya saja," jawab Bono dengan ragu. "Siapapun pasti akan tahu, kalau semua ini tidak wajar. Yang saya ingat, kamu mengurus tambak ikan ini tidak sendiri? Ke mana yang lain?" tanya Bayu kemudian. "Ohh, itu. Di sini biasanya kami bertiga bergantian jaga. Bono, Trisna dengan Fadli. Tapi Trisna sedang sakit. Sudah tiga hari ndak bisa ke mana-mana. Sedangkan Fadli, sudah dua hari ini ndak pulang ke rumah katanya," jelas Bono kemudian. Dari cerita Bono, entah mengapa Bayu merasakan adanya kejanggalan. Tapi Bayu tidak mau menjadi orang yang mudah seuzon. Hal seperti ini sangatlah sensitif. Apalagi banyak dari warga sini yang masih belum bisa menerima kehadirannya. Sedikit saja kesalahan yang di buat Bayu, maka emosi warga akan mudah sekali tersulut. "Jadi kamu sudah cek keadaan mereka berdua?" tanya Bayu lagi untuk memastikan. "Iya, sebelum bertemu Ibu Darminah, Bayu ke rumah mereka dulu. Tadinya Bono takut untuk menemui Ibu Darminah sendirian," jelas Bono lagi. Bayu manggut-manggut mendengar penuturan dari Bono. Cukup banyak ia bertanya-tanya soal apa yang terjadi pada Trisna dan Fadli. Sebenarnya tidak ada kecurigaan yang terlalu kentara di sini. Tapi ... firasat Bayu mengatakan salah satu dari mereka memang mendapatkan bayaran lebih atas semua yang terjadi. Selepas mengobrol dan mengecek keadaan kolam, Bayu kembali pulang melewati jalan yang sama. Hari sudah semakin siang, aktifitas warga kini semakin terlihat. Tak ayal pemandangan ini agak membuat Bayu canggung. Ia coba bersikap ramah pada semua orang yang di temuinya dengan memberikan senyum, atau sekedar menyapa selamat pagi. Respon warga juga berbeda-beda. Ada yang membalas senyumannya, ada yang memalingkan wajah, ada yang membalas sapaannya dan ada juga ikut canggung lalu berpaling pergi karena takut. Rasanya mulai melelahkan di pandang sebelah mata oleh semua orang. Manusia akan cenderung lebih ingat pada kesalahan orang lain daripada kebaikannya. Meski dalam kasus ini, Bayu pun sadar diri belum pernah melakukan kebaikan. Bayu berjalan dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celana. Mulutnya bersiul, pura-pura menutupi rasa canggungnya pada semua orang yang ditemui. Jalanan sudah mulai sepi hingga menyisakan satu orang yang jalan berlawanan arah dengan Bayu. Tak ada yang aneh. Bayu hanya berusaha tersenyum lalu menyapanya seperti biasa. Dan yang disapa ternyata juga ramah. Setelah lewat beberapa langkah, Bayu baru menyadari sesuatu. Ingatannya mulai kembali. Ia berbalik seraya menatap punggung seorang yang baru saja di sapanya. "Rusmi ... Rusmi!" pekik Bayu kemudian. Tidak salah lagi, orang itu adalah Rusmi. Seorang gadis dengan rok payung hitam panjang, dan kaos lengan pendek berwarna pink itu adalah Rusmi. Rambutnya yang panjang itu diikat ekor kuda, menyisakan poni yang sejak tadi bergerak-gerak tertiup angin. Gadis bernama Rusmi itu juga berhenti melangkah begitu namanya dipanggil tapi ia tidak berbalik. Gadis itu hanya diam menunggu tindakan. Apakah Bayu akan menemuinya. Saat Bayu menyapa, Rusmi tahu kalau dia itu Bayu. Tapi ... agaknya perlu waktu bagi Bayu untuk menyadarinya. Dan benar saja, Bayu menghampiri Rusmi, ia berdiri di depan seorang gadis yang menjadi bunga Desa di kampung itu. Gadis yang sudah bertahun-tahun terpisah jarak karena jeruji besi penjara. Gadis yang dulu berjanji akan menunggunya. Rusmi, adalah kekasih Bayu beberapa tahun yang lalu. Gadis yang saat ini semakin cantik setelah ditinggalkan. "Mas ... Mas Bayu," kata Rusmi pelan. Bayu mengambil tangan Rusmi dengan paksa, kemudian menarik gadis itu untuk mengikutinya. Untunglah, keadaan sudah mulai sepi. Bayu mengajak Rusmi, melewati semak-semak juga persawahan warga menuju hutan kecil di sisi kampung. Tempat di mana mereka dulu sering kali menghabiskan waktu berdua untuk melepas rindu. Bayu melepaskan tangan Rusmi begitu mereka sampai di sebuah pohon besar yang terlihat berbeda dengan pohon-pohon lain di sekelilingnya. Bayu mengelilingi pohon itu, mencari-cari sesuatu. Sampai akhirnya dia terdiam, lalu menyentuh apa yang dicarinya. Sebuah ukiran. Ukiran tanda cinta dimana tertulis nama Rusmi dan Bayu disana. Sebuah ukiran yang sudah tertutup lumut, tapi masih tetap ada. Begitu pula cintanya pada Rusmi. Meski telah tertutup kejahatan yang pernah ia perbuat, Bayu masih amat mencintai Rusmi. "Kau tahu aku sudah pulang sejak lama?" kata Bayu kemudian. Membuat Rusmi yang awalnya berdiri mematung, kini mengangkat kepalanya. Gadis itu mengangguk pelan sebagai sebuah jawaban. "Kenapa? Kenapa kamu ndak datang? Kenapa kamu ndak menemuiku?" tanya Bayu lagi. "Mas ... sebenarnya aku ..." "Sudahlah. Jangan di bahas, sekarang aku hanya ingin tahu. Bagaimana kabarmu?" potong Bayu kemudian di selingi pertanyaan lain. "Rusmi baik, Mas. Rusmi selalu baik-baik saja, meskipun harus menunggu kamu selama ini," jawab Rusmi. Keduanya sama-sama diam, sampai akhirnya Bayu tak bisa bertahan lagi. Pria itu lantas mengangkat kedua tangannya memeluk gadis itu. Melepaskan rindu yang selama ini ditahannya selama di dalam penjara. "Aku ... merindukanmu, Rusmi. Aku merindukanmu," bisik Bayu di telinga Rusmi. Rusmi begitu ragu untuk bertindak. Ada sesuatu yang harus ia ceritakan pada Bayu selepas kepergiannya dulu. Meski pada akhirnya, Rusmi juga membalas pelukannya. Sama seperti Bayu. Rusmi juga mencintai pria itu. Tapi ... sekarang semuanya telah berbeda. "Terima kasih sudah menungguku Rusmi. Terima kasih!" ucap Bayu kemudian. Semakin Bayu berucap, semakin Rusmi merasa bersalah. "Mas Bayu. Ada yang harus Rusmi sampaikan, Mas," kata Rusmi. Bayu melepaskan pelukannya, ia memegangi bahu Rusmi dengan lembut, menatap sepasang mata Rusmi yang selalu membuatnya mabuk. Jernih, bersinar tak akan bisa dia melupakan itu. "Apa, apa yang ingin kamu katakan?" "Aku memang baik-baik saja, Mas. Aku bisa menunggumu. Bahkan sampai sepuluh tahun lagipun aku sanggup, tapi keluargaku ndak bisa, Mas," tutur Rusmi kemudian. "Maksud kamu ini apa, Rus? Mas sama sekali ndak paham?" ujar Bayu sambil mengernyitkan dahi. "Rusmi, sudah dijodohkan dengan orang lain oleh Bapak," kata Rusmi dengan ragu. Genggaman tangan Bayu pada bahu Rusmi terlepas. Bukan main kagetnya Bayu saat ini, mendengar sang kekasih hati ternyata telah dijodohkan dengan orang lain. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat. Bayu tak bisa berpikir, juga tidak ingin mencerna semua ini di dalam otaknya. Tapi kata-kata Rusmi sungguh terdengar begitu jelas. "Apa katamu tadi, Rusmi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD