Bab 23

1077 Words
Rusmi memalingkan wajahnya dari Bayu. Tak sanggup ia membalas tatapan pria yang saat ini masih begitu mencintainya. Bukan hanya Bayu, Rusmi juga merasakan sakit yang teramat sangat. Tapi apa mau di kata. Seorang gadis Desa seperti Rusmi ini tidak memiliki wewenang untuk menolak perjodohan. Begitulah adat istiadat yang masih kentara ada di Desa itu. "Jadi ... itukah alasannya. Itu alasan kenapa kamu ndak pernah muncul setelah aku kembali?" tanya Bayu selanjutnya. Rusmi anak Kepala Desa yang ramah dan banyak di puji orang-orang. Pendidikannya memang tidak tinggi hingga bisa mencapai sarjana. Dia ini hanya lulusan SMA. Tapi mengingat tingkat pendidikan pada wanita di Desa itu cukup rendah, maka Rusmi bisa dikatakan memiliki status yang cukup di eluh-eluhkan oleh masyarakat. Selain itu, Rusmi juga seringkali aktif mengikuti kegiatan Desa dan memberi pengarahan pada orang-orang betapa pentingnya akan emansipasi wanita meski mereka hidup di Kampung dan harus mengikuti adat istiadat. "Jawab, Rus?" desak Bayu. Rusmi mengangguk pelan. Pada kenyataannya dia yang memperjuangkan haknya akan kebebasan wanita, masih tetap tak bebas memilih jodoh. "Astagfirullah, Rus. Aku ndak tahu lagi harus ngomong apa?" sergah Bayu kemudian. Itu benar, alasan kenapa Rusmi selama ini tak muncul adalah karena dia tidak ingin menyakiti Bayu. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan perihal jodohnya yang sudah ditentukan oleh Bapak Kepala Desa selaku Ayah kandungnya. "Aku harusnya sadar diri. Bahkan saat aku masih menjadi orang baik-baik pun, Bapakmu ndak akan pernah setuju dengan hubungan kita, karena keluarga orang miskin," tegas Bayu. Rusmi mengangkat kepalanya. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Bayu berkata dengan kasar pada Rusmi. "Mas Bayu!" sentak Rusmi. "Apa ada yang salah dengan omongkan ku tadi, Rus? Benar bukan. Aku ... terlalu berharap banyak pada anak Kepala Desa yang jelas saja terhormat. Apalagi sekarang, aku adalah mantan narapidana. Semakin kuat saja alasan Bapak mu untuk menolak aku, Rusmi!" jelas Bayu. Rusmi tak bisa lagi membantah, karena memang itu kenyataannya. Beberapa hari yang lalu seusai kasus Bayu dan Toni. Bapak Kepala Desa itu bicara pada anak gadisnya atau Rusmi. Kala itu Rusmi baru saja menyajikan kopi panas di teras depan rumahnya untuk sang Bapak. "Rus, jangan dulu masuk ke dalam. Bapak mau bicara, ayo duduk," perintah Sang Bapak. "Nggeh, Pak," kata Rusmi dengan sopan. "Kamu tahu, kalau Bayu anaknya Ibu Darminah sudah kembali dari penjara?" Rusmi mengangguk pelan siapa yang tidak akan tahu soal kembalinya Sang Petarung jalanan. Terlebih lagi itu adalah Bayu, kekasih dari Rusmi. Meskipun itu dulu sebelum ... "Kamu ingat dengan jodoh yang sudah Bapak putuskan?" Dan lagi Rusmi mengangguk pelan. "Jangan sampai kamu kecewakan Bapak, atau punya hubungan lagi dengan anak itu. Kamu tahu? Belum lama kembali, Bayu sudah membuat warga geger karena kasusnya dengan anak Pak Handa!" jelas Pak Kades pada Rusmi. "Ndak begitu, Pak. Sudah terbukti kok, kalau malah Bayu yang menolong anaknya Pak Handa. Rusmi ada di sana, Rusmi lihat waktu anaknya Pak Handa mengakui kesalahannya sendiri, Rusmi juga tahu ..." "Cukup, Rusmi!" potong Pak Kades sambil membentak anaknya. Sontak Rusmi terdiam lalu menundukkan kepalanya. "Tahun depan, Bapak ini mau nyalon lagi. Kalau sampai ada yang lihat anak Bapak berhubungan dengan mantan nara pidana, nggak akan ada yang milih Bapak. Jodoh yang Bapak pilihkan itu sudah paling benar! Dan dia juga mau membantu Bapak untuk nyalon lagi tahun depan," jelas Pak Kades pada Rusmi. Yang disebut membantu oleh Pak Kades tentu saja adalah soal penyuntikan dana untuk memperlancar semuanya. Sebagai anak perempuan yang patuh, Rusmi tidak bisa menolak. Dan imbasnya sekarang, hubungan Rusmi juga Bayu tentu tak bisa di selamatkan lagi. Bayu menatap Rusmi dari ujung kaki hingga berhenti di wajahnya. Dia sangat cantik, sebuah kecantikan natural khas orang Desa yang belum terjamah apapun. Sangat berbeda dengan kecantikan orang-orang kota yang selama ini seringkali ia temui apalagi saat di Jakarta. "Kenapa sepertinya tidak ada tempat bagi orang sepertiku untuk mendapat kebahagiaan?" lirih Bayu kemudian, seraya kembali mendekat pada, Rusmi. Sampai di hadapan Rusmi, Bayu meraih dagu gadis itu, mengangkatnya, membuat wajah mereka saling bertemu dalam tatap. "Kamu ndak cinta aku lagi kah, Rus?" tanya Bayu setengah berbisik pada Rusmi. Sepasang mata mereka yang saling bertemu, memaksa Rusmi untuk jujur pada Bayu juga pada dirinya sendiri. "Ma ... masih, Mas. Selamanya Rusmi akan tetap cinta dengan, Mas Bayu," jawab Rusmi. Bayu menundukkan kepalanya mendekati wajah Rusmi. Jantung keduanya begitu berdebar. Darah panas mendesir di antara urat nadi. Membisikan kalimat-kalimat halus bahwa tidak ada yang salah. Mereka saling mencintai, dan orang yang saling mencintai boleh melakukan apa saja. Jarak antara Rusmi dan Bayu semakin dekat saja. Hingga pada akhirnya satu buah kecupan berhasil mendarat pada bibir keduanya. Bayu bukanlah perjaka. Entah sudah berapa banyak wanita yang ia cicipi saat masih menjadi penjahat. Tapi tidak dengan gadis ini. Bayu tidak pernah berani sedikitpun bertindak di luar batas norma terhadap Rusmi. Bahkan ini adalah kali pertama Bayu mulai berani. Ia berani untuk menautkan bibirnya dengan bibir milik Rusmi yang tampak kemerahan dan ranum. Memberinya sebuah sensasi pertukaran cinta yang memabukkan. Hingga pada satu titik, di saat tangan Bayu ingin mengagapai sesuatu yang lebih, kewarasannya mulai kembali. Dengan tergesa-gesa, Bayu melepaskan Rusmi kemudian mundur beberapa langkah. "Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim," sebut Bayu sebanyak tiga kali sambil mengelus d**a. "Maaf, maafkan aku Rusmi. Ya Allah, ampuni aku Ya Allah," tambah Bayu. Rusmi tercengang mengingat ia sama sekali tak melakukan perlawanan. Betapa malunya gadis itu sekarang, karena telah terbawa suasana. Ia menunduk, tak berani menunjukkan pipinya yang merah. "Maaf, Mas Bayu. Ini ... ini juga salah Rusmi," balas gadis itu kemudian. "Pergilah, kamu pulanglah lebih dulu. Kita berjalan masing-masing. Bukan aku tidak mau mengantarmu, bukan juga karena aku tidak ingin bertanggung jawab padahal aku yang menyeretmu ke sini. Tapi sekarang aku takut ..." Bayu berhenti sejenak kemudian meneruskan kalimatnya. "Aku ... takut khilaf padamu, Rusmi. Bahkan jikapun kita masih memiliki hubungan, tidak seharusnya aku menyentuhmu sejauh itu. Ya Allah, maafkan aku, Rusmi. Maaf!" Bayu berbalik, tanpa tahu ekspresi apa yang Rusmi keluarkan dari wajahnya saat ini. Rusmi kecewa, pada dirinya sendiri juga pada hubungannya dan Bayu. Ia menyesal tidak bisa berbuat apa-apa. Demi nama baik keluarga, demi sang Bapak yang akan menjadi Kepala Desa lagi, Rusmi mengorbankan penantiannya selama bertahun-tahun. "Rusmi ... juga minta maaf," lirihnya sebelum pergi meninggalkan Bayu sendirian. Langkah kaki Rusmi yang mulai menjauh terdengar nyaring di telinga, Bayu. Bayu harus bersyukur karena dia berhasil menekan hawa nafsu untuk tidak melukai Rusmi dan menghancurkan masa depannya. Meski hatinya terasa amat sakit dan perih. Ternyata cinta dan harta, tak akan mungkin jauh berpisah. Di mana ada harta, maka disitulah ada cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD