"Ini kita mau kemana?" tanya Riana yang sedang mengaca pada spion motor.
"Banyak nanya Lo, diam aja kenapa sih. udah cepetan naik, jangan sibuk berkaca. Mau Lo berkaca ribuan kali dalam sehari, Itu juga nggak akan membuat wajah Lo berubah jadi cantik kali. Tetap aja muka lu b***k, mirip sama orang utan" timpal Alana sambil terkikik geli membuat Riana merasa sangat kesel ketika mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut teman nya itu, apalagi saat Alana terkikik, seolah-olah dia menertawakan kejelekan hakiki nya seorang Riana. Padahal wajah Riana bisa dikatakan cantik, omongan Alana hanya untuk membuat Riana kesal. Apalagi Riana itu orang yang sangat mudah overthingking dan juga sering merasakan insecure.
"b*****t Lo setan" celoteh Riana sambil berdecak kesal, lalu menjitak jidat nya Alana dengan begitu keras.
"Ih sakit, anjirr" ketus Alana kesal sambil mengelus-elus jidatnya.
Setelah mereka berdua siap, Alana pun segera melajukan motornya. Mereka berjalan sepanjang jalan raya, tapi tidak ada sedikitpun tanda-tanda jika Alana akan berhenti di mana. Riana yang duduk di belakang cukup resah, dia takut Alana akan ketempat yang tidak diinginkan nya.
Tiba-tiba, Alana menghentikan motor nya di depan sebuah cafe. Mata Riana seketika terbelalak, gadis itu menelan Saliva nya.
Tuh kan, sudah gue duga kalo Alana bakalan ketempat seperti ini. Dia itu memang benar-benar sudah tidak punya otak, apa dia tidak tau kalo aku sedang tidak punya uang.
"Lo ngapain kesini sih? emang Lo punya uang? sok sok-sokan mau duduk di cafe segala, Lo mau malu-maluin gue ya?" tanya Riana ketus sambil menatap tajam kearah Alana.
"Udah Lo tenang aja kenapa sih, gue punya uang kok" jawab Alana dengan suara yang begitu lantang, kemudian tertawa kecil.
Riana menghela nafas sejenak.
"Empat puluh ribu" lanjut Alana pelan sambil berbisik di telinga nya Riana, detik selanjut nya gadis itu terkikik.
Mata Riana seketika terbelalak, mulut nya juga membulat sempurna. Dia tidak menyangka Alana akan berbuat hal gila seperti ini. Aku pasti akan dipermalukan kali ini.
Ya begitulah kehidupan sehari-hari mereka, tidak bekerja tapi bisa menghabiskan banyak uang. Benar-benar tidak tahu diri bukan? Bagaimana Riana tidak takut, secara mereka berdua sama-sama pengangguran, tapi gaya nya selangit. Pake acara mau nongkrong di cafe pula, dasar jangkrik burik
"Gue nggak mau masuk pokoknya, Lo aja sana. urat malu gw masih bagus" kata Riana bersikeras.
"Udah deh Na, jangan malu-maluin terus. Gue bisa bawa Lo aja udah malu banget, jadi please jangan ditambah lagi" ketus Alana sambil menyunggingkan senyum nya.
"Tapi masalah nya, Lo sama Gue itu nggak punya uang markonah, justru Lo yang selalu malu-maluin gue" balas Riana sambil meninggikan suara, dia tidak terima di bilang suka malu-maluin. Mereka berdua sekarang sudah seperti orang bertengkar, bahkan ada beberapa pasang mata yang melirik ke arah mereka sambil bergidik geli.
"Emang nya Lo sama sekali nggak bawa uang, serius? sepeserpun gaada gitu?" tanya Alana sambil mengerutkan kening nya, sementara Riana menggeleng cepat.
"Gue cuma punya uang sepuluh ribu, eh salah salah. Kayak nya sebelas ribu deh, nah iya itu baru benar" Jawab Riana yang awal nya sedikit berbisik, namun tiba-tiba dia meninggikan nada bicara nya.
Alana cukup terkejut, mata nya membulat sempurna. Gadis itu dengan sigap membungkam mulut nya Riana, sambil melirik ke arah sekeliling nya.
Alana tersenyum kecut, dia merasa sangat malu sekali.
"maaf mba, udah di pesan menu nya?" tanya seorang pria yang masih sangat muda, yang berdiri di belakangnya Riana. sontak mereka berdua dibuat terkejut dengan suara itu.
"boleh kami minta menu makanan sama minuman nya dulu mas?" sahut Riana sambil menahan malu.
"baiklah, ini mba. Silahkan dipilih dulu menu apa yang mau di pesan" sambil tersenyum ramah, pelayan cafe tersebut menyerahkan kertas menu yang ada ditangan nya untuk Riana.
Riana langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alana, sambil mengangkat kedua alisnya.
"aku mau pesan" Alana menggantung kan kalimat nya, membuat Riana mengerutkan keningnya.
"ini aja deh" lanjut Alana cepat sambil menunjukkan menu yg mau dia pesan.
"oke mas, minuman nya sanger expresso satu, sama taro satu. Snack nya nugget sama sosis aja ya mas" ujar Riana sambil mengembalikan kertas menu tersebut dan tak lupa tersenyum ramah.
"baik, minuman dingin mba?" tanya sang pelayan, sontak keduanya pun mengangguk cepat.
"baik terimakasih, silahkan ditunggu dulu ya mba" pelayan cafe tersebut pun langsung pamit sambil sedikit menundukkan kepalanya dan tak lupa tersenyum lebar.
"Anjir, tuh orang ganteng banget ya" ucap Alana sambil terus memandangi punggung pria tersebut.
"dasar Mata jelalatan" ketus Riana.
***
Setibanya di rumah, Riana dibuat terkejut dengan kedatangan sosok yang selama ini sangat dia damba dan rindukan.
"Maaa" lirihnya pelan, lalu dengan sigap wanita paruh baya dihadapan nya itu memeluk hangat tubuh sang gadis berusia 21 tahun yang telah beliau lahirkan dan besarkan selama ini.
Tanpa dia sadari sesuatu yang hangat kini sudah memenuhi kelopak matanya, matanya berbinar dan sedikit demi sedikit butiran bening jatuh dengan cukup deras hingga membasahi kedua pipinya.
"Mama kenapa ngga bilang-bilang dulu sama adek kalo mau pulang?" tanya Riana yang masih mendekap erat tubuh sang ibu, sambil mengusap wajah nya yang telah dibasahi oleh air matanya dan tak lupa sambil memajukan bibirnya, manyun.
"Kan biar ala ala suprise gitu" jawab sang wanita paruh baya tersebut sambil mengusap kepala nya Riana dengan penuh kasih sayang dari seorang ibu.
"Halah, Mama sok-sokan suprise segala. Tau adek kangen udah kangen banget nih" rengek Riana sambil memajukan bibirnya manyun.
"Putri bungsu Mama ini memang tidak pernah berubah yaa, selalu saja cemberut" ucap sang Mama sambil menirukan gaya mulutnya Riana, lalu mereka berdua pun saling tertawa dan memandang satu sama lain.
"Ayo kita masuk Ma, Mama pasti cape kan" ajak Riana sambil merangkul tangan sang Mama.
Mereka pun masuk ke dalam istana yang bisa dibilang sederhana, tapi begitu nyaman.
***
"Aduh, gabut banget gaada kawan" celetuk Riana sambil memainkan benda pipih yang ada ditangannya.
"mau lanjut nulis novel tapi malas" lanjut nya sambil terkekeh kecil.
Riana memang seorang penulis pemula, dia hanya iseng-iseng menulis novel, akan tetapi dia beruntung karena salah satu novelnya berhasil di rilis. Walaupun banyak kata-kata yang masih amburadul dalam cerita novel nya itu, tapi dia berhasil menarik perhatian para pembaca.
"Download aplikasi kencan buta bisa kali yaa, siapa tau bisa dapat pujaan hati disana, kan bosan juga sendiri Mulu" ucap Riana sambil memainkan ujung jari nya yang lembut dan lentik itu, dia tersenyum miring.
Kemudian, gadis itu membuka aplikasi play store dan langsung mendownload salah satu aplikasi untuk mencari jodoh. Gabut nya gadis itu memang sangat berbeda yaa, dasar Riana.