Adek Abang random

1050 Words
"Bukankah Adek bilang mau pergi jalan-jalan tadi? kenapa malah tidak senang sekarang?" tanya Abang Ryan dengan memasang kan ekspresi wajah datar membuat Riana semakin merasa sangat geram. Riana menghela nafas sejenak, lalu mengangguk pasrah dan tersenyum hambar. "sudah nasib ku lah, harus memiliki Abang seperti beliau ini" gumam Riana sambil berjalan di belakang nya Abang Ryan. "Adek mengatakan sesuatu?" tanya Abang Ryan menoleh ke belakang. "tidak, Adek hanya diam sedari tadi kok" jawab Riana sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akhirnya mereka pun tiba di tepi sungai, Abang Ryan berencana untuk memancing ikan di sungai tersebut. Ternyata dia juga sudah mempersiapkan semua bahan dan alat untuk memancing ikan. Abang Ryan pun segera melempar kan pancingan nya yang sudah di letak kan umpan ikan tersebut ke arah sungai. Awalnya Riana hanya memerhatikan nya dari jarak jauh, tapi sekarang dia menghampiri sang Abang nya dan berdiri tepat di belakang Abang Ryan. "Abang, lagi ngapain Abang?" tanya Riana sambil menepuk pelan pundak nya Abang Ryan. "Adek kagak liat dek? Abang ini lagi mancing g****k" jawab Abang Ryan tanpa menoleh ke arah sang Adek, dengan mata yang tetap fokus pada pancingan nya. "Emang udah dapat Abang?" tanya Riana lagi membuat sang Abang sudah mulai merasa sangat geram. "Belum g****k, berisik ah! banyak kali bacot Adek, udah pergi aja sana". Usir Abang Ryan yang mulai gagal fokus. "Emang umpannya pakai apa, Abang?" tanya Riana yang masih berdiri kokoh di belakang Ryan tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Ya pakai cacing lah, g****k! Terus mau pakai apa lagi kalo bukan cacing." Ketus Ryan tanpa menoleh kearah Riana. "Oooh, pantesan gak dapat lah. Orang Abang pakai umpannya cacing, kan ikannya jadi jijik. Coba aja Abang pakai biji pala terus ditumbuk sampai halus, habis itu dicampur pakai saos ABC rasa tomat, terus dibikin bulat- bulat deh." Ujar Riana dengan memasangkan ekspresi wajah yang sangat serius, membuat Ryan menyerngitkan dahinya, lalu menoleh kearah Riana. "Loh, emang bisa yah Adek?" tanya Ryan dengan wajah polos nya. "Ya kagak bisa lah, g****k!" jawab Riana sambil tertawa getir membuat Ryan seketika terkejut bukan main. Riana kemudian bergegas kabur dari hadapan sang Abang dengan tawanya yang terbahak-bahak tanpa henti, dia takut Ryan mengamuk, bisa-bisa dia yang dijadikan umpan setelah itu. Saking kaget nya Abang Ryan pun hampir saja serangan jantung, sang Abang baru pertama kali nya di g****k-in sama adek nya sendiri. "Dasar Adek kurang ajar, titisan Dajjal emang, keturunan Fir'aun, sialan" umpat Abang Ryan kepada sang Adek dengan pekikan suara yang sangat keras, dia pun baru kali ini mengatakan Adek nya seperti itu. Benar- benar keluarga yang sangat bar- bar sekali ya, padahal kan mereka itu saudara kandung dan juga satu keturunan. Tapi, tidak ada sopan- sopan nya sedikit pun. *** Setelah tiba dirumah, Riana pun langsung menuju ke dalam kamar nya untuk menggantikan pakaian nya yang sudah lumayan kotor, apalagi dia memakai celana warna putih. "Abang sialan, bisa-bisa nya dia bawa aku ke tempat yang berlumpuran seperti itu". umpat Riana, dia merasa sangat kesal sekali dengan Abang nya yang satu ini. Setelah beberapa menit kemudian, Riana pun bergegas keluar dari kamar nya, lalu menuju ke dapur untuk memeriksa makanan. Sesampainya di dapur, Riana menghela nafas panjang. "Ya Tuhan, kok gini amat ya nasib aku. Mau makan aja nggak ada makanan untuk di makan, aku benar-benar rindu sama mamak". lirih Riana pelan, tak terasa air mata nya pun meluncur tanpa seizin dari nya. "Kenapa kamu dek?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang nya Riana, dan gadis itu pun dengan sigap menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya tersebut. "Aku lapar kak, nggak ada makanan disini. Kakak ada masak apa dirumah?" tanya Riana dengan memasang kan ekspresi wajah datar sambil menatap ke arah kakak nya. "Mau masak apa, orang di rumah juga nggak ada apa-apa" sahut Kakak nya Riana, kemudian ia bergegas menuju ke kamar mandi. Riana pun meninggalkan dapur, lalu kembali masuk ke dalam kamar nya. "Kok aku ngerasa kayak anak yatim-piatu sih, mau makan aja harus nangis dulu" gumam Riana yang kini sudah diiringi dengan isakan yang keluar dari mulut nya. Mau ke pasar pun kendaraan tidak ada, lantaran di rumah nya Riana hanya ada kereta Vixion punya Abang Ryan. Bukan nya tidak bisa, hanya saja dia malu jika harus mengendarai motor laki-laki seperti itu. Memang lah nasib anak ini yang diluar selalu terlihat baik-baik saja, ternyata dia juga memendam rasa sedih nya seorang diri. "Kalo aku tidur, itu bisa menghilangkan rasa lapar ku tidak ya?? tapi aku tidak bisa tidur Jika perut ku sedang lapar, aduh kenapa sih nasib aku harus seperti ini" Riana mengoceh tentang hidup nya sendiri sedari tadi, tanpa dia sadari tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh suara nada dering telepon. Dan ternyata itu adalah telpon masuk dari Alana, sahabat nya Riana. "Halo, kenapa?" tanya Riana dengan suara ketus. "Aku mau keluar nih, kamu mau ikut keluar nggak?" tawar Alana di seberang telepon. "sekarang juga? emang mau ngapain?" tanya Riana lagi, padahal dalam hatinya dia emang sangat ingin keluar. "Tahun depan, yaiyalah sekarang. cepetan mandi, gak pakek lama!! biasa, kita cuci mata sebentar. Siapa tau dapat suami nanti di jalan kan" ucap Alana sambil tertawa. "Suami orang maksud kamu kan!! emang udah nampak sejak saat ini ya bibit pelakor nya" balas Riana sambil ikut tertawa. "Yauda, aku mandi dulu. byy!!" sambung Riana, kemudian langsung memutuskan sambungan telepon nya. Tak lama kemudian, setelah dia mandi dan berpakaian dengan sangat rapi. Alana pun datang ke rumah nya Riana untuk menghampiri gadis tersebut, dan langsung menyelonong masuk ke dalam kamar nya Riana. "Nah kan, sudah kuduga!! Na, ayolah cepat. Gak usah bersolek lama sekali, emang kamu mau memikat siapa sih hah? masih kecil udah gatal duluan" ketus Alana, sambil mengambil lipstik yang ada di tangan nya Riana, lalu segera memakai nya. "udah ambil punya orang, gatau diri juga ternyata kamu ini ya" balas Riana tak kalah ketus, Alana pun hanya melirik sekilas sambil menampilkan deretan gigi nya. "Udah ayok, aku udah siap ini". ujar Riana, kemudian langsung bergegas keluar dari kamar meninggalkan Alana yang sedang sibuk memperbaiki lipstik nya yang berantakan itu. Tak lama kemudian, dia juga langsung keluar dan berlari mengikuti Riana. Tiba-tiba Riana menghentikan langkahnya. "Tutup pintu nya, bodoh!!!" teriak Riana sambil berbalik arah dan menatap wajah nya Alana dengan tatapan tajam dan mematikan. Alana hanya bisa menelan Saliva nya, lalu segera kembali untuk menutupi pintu kamar nya Riana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD