Chapter 6

1108 Words
"Kau iri, Marc?" Ken bertanya pada pria berambut cokelat. "Wah...santai saja. Omong-omong, kamu belum mengenalkannya pada kami," kata Marc, pria berambut cokelat itu kepada Ken. "Hai! Saya Harry," pria dengan rambut pirang berkata kepadaku sambil mengulurkan tangannya. Aku membalas jabat tangannya. Ken ampak kesal, tetapi akhirnya dia berhasil mengeluarkan beberapa kata. "Nicole, kenalkan! Harry dan Marc, mereka adalah teman-temanku," Ken berkata kepadaku. Aku cukup yakin dia tidak bersungguh-sungguh ketika dia mengatakan "teman". Mereka lebih seperti saingan lama atau semacam musuh. "Jadi, kemana saja kalian semalaman? Sungguh gila kami menemukan kalian di sini," kata Marc, sebelum meneguk tequila-nya lagi. "Kami tidak ingin berbaur dengan orang banyak," kata Ken, sambil melingkarkan lengan kirinya di pinggangku. "Oke. Aku mengerti," kata Marc, sambil mengedipkan mata kirinya padaku. Dari yang ku lihat, terkesan ia sering menggoda wanita dengan cara tersebut. Kami terus minum sambil mengobrol. Setelah beberapa saat, Marc kemudian mengatakan sesuatu kepada Ken. "Bro, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?" tanya Marc, meminta Ken untuk pergi agak jauh. Dia ingin itu menjadi percakapan pribadi. "Jangan khawatir! Aku akan menemani gadismu di sini," kata Harry sambil tersenyum padaku. Ken terlihat agak kesal, tapi akhirnya mengikuti Marc ke seberang. Harry terus menanyaiku tentang hubunganku dengan Ken. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku hanya seorang teman. "Jadi ku tebak kamu belum berpindah dari Amber?" tanya Marc pada Ken, sambil mengeluarkan sekotak rokok dari saku kirinya. Ken meneguk anggur merahnya, sebelum menjawab pertanyaan Marc. "Serius, Marc? Kamu menyeretku ke sini hanya untuk membicarakan ini?" Ken bertanya pada yang disebut temannya. Sebenarnya, mereka tidak benar-benar memiliki hubungan yang baik. Satu-satunya alasan Ken berteman dengan Marc dan Harry adalah karena ayah mereka semua adalah pemegang saham Boulevard Night Club. Marc menghisap rokoknya, sebelum menjawab pertanyaan Ken sambil tersenyum. "Apakah dia pacarmu, atau hanya salah satu dari mainanmu?" "Dia hanya seorang teman," jawab Ken dengan santai. Dia meneguk anggurnya lagi. "Apakah kamu lupa menambahkan dua kata dalam kalimat itu?" tanya Marc, membuat Max menoleh. "Kata-kata apa?" Ken bertanya padanya. "Tapi mesra," kata Marc, dilanjut dengan ia tertawa. Ken hanya mengabaikan komentarnya. "Tapi serius, Amber punya beberapa teman tapi mesra dengannya sekarang," kata Marc sambil menyesap rokoknya lagi. "Dia bahkan memintaku untuk menidurkannya Jumat lalu," Marc melanjutkan. Ken mulai merasa terganggu dengan topik pembicaraan Marc. Ken menarik nafas dalam-dalam sebelum mengucapkan beberapa kata kepada yang disebut temannya. "Biarkan masa lalu menjadi masa lalu, Marc! Amber telah maju kedepan, begitu juga aku. Aku tidak akan menyia-nyiakan seluruh hidupku menunggu seorang wanita kembali, ketika dia meninggalkanku pada awal," kata Ken, sebelum meninggalkan Marc untuk kembali menemui Nicole. Sementara itu, Harry mencoba menggoda Nicole, di mana dia merasa kesal. Ken mendekati keduanya, dan melihat Harry sudah setengah mabuk. "Nicole, mari kita pulang," kata Ken. "Ya," Nicole setuju. Mereka berdua berjalan melewati klub yang ramai. Perjalanan pulang dari klub menjadi hening, karena Ken sudah setengah mabuk saat ini. Nicole, bagaimanapun, tidak minum terlalu banyak, jadi dia masih dalam kondisi baik. Rumah, 01:30... Ken sedang berbaring di tempat tidurnya sekarang, masih setengah mabuk. Nicole baru saja selesai membuatkan teh hangat untuknya, dan kini duduk di sampingnya di tempat tidurnya. Momen itu sempat diisi dengan kesunyian untuk beberapa saat, sebelum Ken akhirnya mulai memecah kesunyian. "Nicole?" katanya dengan suara mabuk. Jelas dia terdengar lemah pada saat ini. "Kenapa, Ken?" Nicole bertanya sambil menatapnya. Dia memejamkan mata, namun dia tidak tertidur. "Terima kasih sudah menemani ku malam ini," katanya, sambil meletakkan salah satu tangannya di lutut Nicole. "Sama-sama, Ken," Nicole berkata sambil menatap wajahnya. Dia harus mengakui, dia masih terlihat sangat tampan bahkan ketika matanya tertutup. "Aku benar-benar merasa kasihan padamu malam ini," kata Ken. "Mengapa?" Nicole bertanya dengan rasa ingin tahu. "Di klub, ketika Marc dan aku berbicara di sudut, dia sebenarnya berbicara kepada aku tentang mantan saya. Dia adalah cinta pertama aku dan aku tidak akan berbohong bahwa saya masih memiliki perasaan padanya," kata Ken. "Namun, aku hanya ingin memberitahumu, karena itu telah membuat ku merasa tak enak. Aku merasa kasihan padamu, karena aku merasa tidak baik membicarakan mantanku di belakangmu atau semacamnya." Ken menyelesaikan kalimatnya, membuat Nicole merasa sedikit terkejut. Sebagian dari dirinya merasa baik-baik saja karena Ken masih memiliki perasaan terhadap mantannya. Lagi pula, Nicole hanya ada di sini untuk misi, membongkar rahasia Daniel Jameson dan menjatuhkannya, bukan untuk jatuh cinta dan mengencani putranya. Namun, Nicole merasakan bagian lain dari dirinya yang ingin bersamanya. Kata-katanya membuatnya bertanya-tanya .. apakah ia hanya seorang teman tidur di matanya, tapi kenapa dia harus merasa kasihan membicarakan mantannya di belakangnya? Ken bisa mencium gadis lain di depannya, dan dia bahkan tidak punya hak untuk marah. Kenapa dia memperlakukannya seperti ini? Kata-katanya membuat Nicole heran. Nicole's POV.... Kenapa dia harus merasa tak enak? Dia membeli ku sebagai teman tidur, jadi mengapa dia harus merasa kasihan? Kata-katanya membuatku merasa aneh. Namun, aku harus menjaga perasaanku. Aku tidak bisa terganggu! Aku memiliki misi untuk diselesaikan! Aku melihat Ken yang masih memejamkan matanya. Aku menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya memikirkan kata-kata untuk diucapkan padanya. "Tidak apa-apa, Ken. Tidak perlu merasa tak enakl," kataku. "Selain itu, aku hanya teman tidurmu, bukan pasanganmu. Kenapa kamu harus merasa kasihan tentang itu?" aku menyelesaikan kalimatku. Aku baru menghabiskan satu malam bersamanya, dan ceritanya sudah sedramatis ini? Apa selanjutnya? "Kau berbeda, Nicole," kata Ken, masih dengan mata terpejam. "Kamu tidak seperti wanita di masa lalu," katanya. Aku mulai merasa bingung. Mengapa dia mengatakan hal-hal ini kepadaku? "Selama ini, saya hanya berpacaran sekali, yaitu dengan Amber. Dia adalah cinta pertama saya, dan kami berkencan sejak SMA. Namun, kami putus 6 bulan yang lalu, karena ternyata dia berselingkuh 2 bulan dengan teman lama saya, Lucas," dia berkata. "Sejak itu, aku hanya melakukan beberapa hubungan singkat dengan teman perempuanku dan beberapa perempuan, tapi itu tidak pernah berakhir dengan baik. Aku bosan dari satu perempuan ke perempuan lain, karena aku masih mencintai Amber. Setelah itu, aku meminta Tristan untuk mencarikan seorang wanita untuk saya beli. Ia kemudian mengenalkanku padamu," Ken melanjutkan kata-katanya, dan aku hanya mendengarkan setiap hal yang dia katakan. "Dan kemudian, ini dimulai." Ken menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya duduk kebingungan. Dengan serius? Aku tidak punya waktu untuk merasa seperti berada dalam drama romantis atau semacamnya. Namun, aku tidak bisa berbohong.. kata-katanya sedikit mempengaruhi saya. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Nicole Parker...tidak, kamu tidak bisa! Kamu tidak bisa jatuh cinta pada Ken Jameson! Kamu tidak bisa jatuh cinta dengan anak target mu! Sekitar satu jam kemudian, Ken akhirnya tertidur. Aku memperhatikan wajahnya yang tertidur, terlihat begitu tenang. Saat ini, aku memutuskan untuk mematikan lampu malam dan juga tidur. Aku berbaring di samping Ken dan menarik selimut untuk menutupi kita berdua. Melihatnya malam ini, itu bukan hanya tentang misi (ataupun nafsu semata). Aku justru lebih peduli padanya. Aku penasaran, dengan dirinya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD