Chapter 7

1620 Words
08:50, Markas SOS... "Jason memberi tahu saya bahwa wanita tersebut melarikan diri dari Las Vegas ke London," kata Ralph di telepon. Dia melakukan panggilan telepon dengan Sean, salah satu agen rahasianya. "Kemungkinan mereka bisa berada di mana saja di Eropa sekarang. Hidup ataupun mati." "Sejauh ini, Kate dan saya mengetahui bahwa beberapa dari mereka masuk ke lingkaran Francis Pierre, sementara beberapa dari mereka melarikan diri," kata Sean melalui telepon. "Saya berhasil mendapatkan beberapa informasi dari salah satu mantan PSK yang sekarang berada di lingkaran Francis Pierre," lanjut Sean. "PSK tersebut bernama Lulu, sebelumnya dikenal sebagai Lucinda di lingkaran Daniel Jameson. Ketika dia melarikan diri ke Paris, dia mengubah namanya untuk lari dari anak buahnya. Dia juga menjalani beberapa operasi plastik untuk merubah penampilannya. Namun, ia kemudian berkencan dengan salah satu anak buah Francis, yang akhirnya memasukkannya ke dalam lingkaran baru, sampai sekarang," Sean menyelesaikan kalimatnya. "Kalau begitu beri tahu aku jika kamu mendapat lebih banyak informasi. Kami membutuhkan bukti sebanyak mungkin jika kami ingin menjatuhkan Daniel Jameson," kata Ralph, sebelum memeriksa waktu di arlojinya. "Yah, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu. Bicaralah denganmu nanti, Agen Sean!" "Ya, Pak Ralph," Sean menjawab dengan nada tenang, sebelum mengakhiri panggilan. Kate berjalan ke arahnya yang sedang duduk di bangku. Ia duduk di sampingnya sambil menyilangkan kakinya. "Saya melihat bahwa seseorang lupa membeberkan beberapa hal," kata Kate dengan senyuman kecil di wajahnya. Sean melihat ke arahnya dengan wajah bingung. "Kamu tidak memberi tahu pamanku bagaimana kamu bisa mendapatkan semua informasi itu dari Lulu," Kate melanjutkan, membuat Sean menarik nafas dalam-dalam dengan perasaan canggung. "Beberapa hal tak perlu dibeberkan. Pamanmu tidak perlu tahu bagaimana saya mendapatkan informasi tersebut. Yang penting baginya hanya mengetahui informasinya, bukan bagaimana saya mendapatkannya," kata Sean. Saat ini, Kate masih tersenyum, seolah merasa hal tersebut menarik. "Aku tidak tahu rekan agenku memiliki keahlian yang luar biasa di atas ranjang. Sejujurnya, aku tidak terkejut ketika kamu mendapatkan semua info dari Lulu. Kamu membuatnya berada di puncak," kata Kate. Ia akhirnya tertawa terbahak-bahak, membuat Sean menatapnya dengan tatapan terganggu. Ia merasa hal tersebut sangat konyol. "Satu-satunya hasrat yang harus dimiliki seorang agen rahasia adalah hasrat untuk misi. Aku tidak mencampurkan hati dan nafsuku dengan hasrat untuk misi, Kate," kata Sean dengan nada yang sedikit terdengar tegas namun santai. "Ya benar. Sebenarnya, aku sangat mengagumimu dan Nicole. Kalian berdua sangat bersemangat, namun kalian tidak pernah membiarkan perasaan merusak ambisi terhadap misi. Kamu fokus pada tujuan, tidak ada yang lain, dan bahkan tubuh yang seksi pun tidak bisa mengalihkan pandangan mu dan pikiranmu pergi," kata Kate kepada Sean, di mana dia tersenyum kecil. "Mungkin itu sebabnya pamanmu mempercayai Nicole dan aku untuk hal-hal seperti ini," kata Sean kepada Kate. "Karena mengenai mu, mungkin dia khawatir kamu akan jatuh cinta pada sang target," kata Sean sebelum menertawakan pernyataannya sendiri, yang membuat Kate memelototinya dengan kesal. "Oke, cukup dengan itu, dan kembali ke rencana kita! Jadi bagaimana denganmu? Sejauh ini, sudah berapa info yang kamu dapat?" Sean bertanya pada Kate. "Saya mengetahui bahwa Harper Scott baru saja meninggal 2 minggu yang lalu di sebuah klub lokal. Beberapa staf percaya bahwa dia meninggal karena overdosis obat, namun beberapa dari mereka juga percaya bahwa dia meninggal saat melakukan hubungan intim dengan seorang klien," kata Kate. "Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Apakah dia meninggal karena overdosis obat saat berhubungan intim?" tanya Sean. "Hal itu, sedang ku selidiki. Aku sedang memburu klien. Dari apa yang kudengar, namanya Willard Hales, dan dia tampaknya cukup mengenal lingkaran Francis Pierre," Kate menyelesaikan kalimatnya. Los Angeles..... Nicole sedang membuat secangkir teh panas untuk Ken. Dia pikir itu akan membantunya merasa lebih baik setelah sesi mabuk kecil tadi malam. Hanna juga membantunya menyiapkan roti panggang dengan selai stroberi dan coklat. "Terima kasih sudah membantu, Hanna," Nicole berkata pada Hanna. "Sama-sama, Nona Nicole," kata Hanna sambil tersenyum manis. Nicole membawa secangkir teh chamomile panas dan sepiring roti panggang dengan selai berry ke kamar Ken. Ken sekarang sudah bangun, meski dia masih belum bangun dari tempat tidurnya. Rambutnya sedikit berantakan setelah bangun tidur, yang menurut Nicole sebenarnya terlihat bagus untuknya. "Selamat pagi," kata Nicole, sambil meletakkan secangkir teh dan sepiring roti panggang di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. "Kupikir aku sudah membuatkanmu sarapan," dia berkata. Ken tersenyum pada Nicole, sebelum mengambil secangkir teh dan menyesapnya. "Terima kasih," kata Ken sebelum menyesap teh lagi. Nicole hanya tersenyum padanya, sementara pikirannya sedikit berputar. Melihat Ken sekarang sudah bangun, dia bertanya-tanya apakah dia ingat tentang apa yang terjadi tadi malam. Sejujurnya, dia masih sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan kemarin malam. Dia pikir dia hanya seorang wanita untuk bersenang senang sesaat di matanya. Mengapa dia harus memikirkan perasaannya atau apa pun tentangnya? Nicole sadar, bahwa dirinya dibeli sebagai mainan. Namun, mungkin inilah alasan Nicole semakin peduli pada sosok Ken. Dia tidak pernah memperlakukannya dengan buruk, meski ia telah membelinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia mulai mempertanyakan perasaannya sendiri: Apakah dia benar-benar peduli pada Ken Jameson? Atau apakah dia hanya pelarian baginya untuk mencoba melupakan Brad? Ken meletakkan cangkir tehnya dan mulai memakan roti panggangnya dengan selai stroberi dan coklat. Nicole memutuskan untuk duduk di sampingnya, di tempat tidurnya. Momen itu hening untuk sementara waktu. Ken akhirnya menyelesaikan makanannya, dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Nicole mengambil kesempatan ini untuk memeriksa ponselnya yang berisi pesan dari Tristan, Ralph, dan Kate. Nicole membuka pesan-pesan itu, satu per satu. "Halo Nicole! Bagaimana kabarmu?" - Tristan "Baik! Aku pergi ke Boulevard Night Club kemarin malam dengan Ken, untuk menghadiri pesta ulang tahun Daniel." - Nicole menjawab. "Bagaimana kabarmu disana, Agen Nicole?" - Ralph "Ken sedikit mabuk setelah kemarin malam dan menumpahkan beberapa hal tentang mantannya. Bicara lebih banyak nanti! Dia ada di kamar mandi." - Nicole "Pagi, Nicole! Apa yang terjadi?" - Kate "Banyak! Akan kuberitahu nanti!" - Nicole Nicole's POV... Aku meletakkan kembali ponselku ketika kudengar Ken telah selesai mencuci tangannya. Dia mengambil ponselnya dari meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu duduk di sebelahku. Momen itu hening beberapa saat, tapi aku mengintip bahwa dia sedang membalas beberapa pesan dari ayahnya. Namun, pada titik ini, aku juga berpura-pura menggunakan ponsel aku, supaya dia tidak memperhatikan ku melirik ponselnya. Sepertinya Daniel memberi tahu Krn bahwa dia akan melakukan perjalanan ke London, dan putra Wayne Hudson, Vincent Hudson, akan datang ke Los Angeles dari Las Vegas. Daniel meminta Ken untuk mengadakan pesta penyambutan untuk Vincent, karena Wayne dan dia saat ini sedang membicarakan proyek besar mereka berikutnya tentang membangun sebuah resor di Miami. Aku meletakkan ponselku di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ken akhirnya selesai mengirim pesan kepada ayahnya. Dia menatapku sebelum mengeluarkan beberapa kata. "Maaf, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor saya," kata Ken sebelum berdiri dari tempat tidur. "Oke," ku jawab. Dengan Ken berada di kantornya, aku memberi tahu para pelayan bahwa aku akan pergi ke kedai kopi sebentar. Aku pergi ke kedai kopi terdekat, dan seperti biasa, aku memesan milkshake favorit ku. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menelepon Tristan, Ralph, dan Ken. "Halo, Nicole. Bagaimana sejauh ini?" tanya Tristan melalui telepon. "Aku baru tahu Daniel akan pergi ke London hari ini. Tadi malam, aku melihatnya bermesraan dengan salah satu wanita penghiburnya bernama Macey," kataku pada Tristan, sebelum menyesap milkshake-ku. "Ah, Macey! Si gadis baru dalam grup. Dia dikenal hidup dalam kemiskinan sebelumnya, dan putus sekolah sejak berusia 17 tahun. Namun, karena Daniel ingin bersenang-senang dengan wanita yang lebih muda, dia menyarankanku untuk mencari gadis-gadis seperti itu, dan Macey adalah salah satunya," kata Tristan. "Dari apa yang kulihat, Macey tampak seperti sedang bersenang-senang. Siapa tahu, mungkin dia akan menjadi Nona Jameson berikutnya?" ku berkata, sebelum meneguk lagi milkshake-ku. "Ngomong-ngomong, aku berbicara dengan penata rias pribadi Jameson, Olivia Sanchez, kemarin. Benar adanya bahwa Francesca telah dianiaya oleh Daniel, tetapi tentang kematiannya, Daniel mungkin telah mencuci tangannya terlalu bersih untuk kasus ini. Olivia tampak curiga dengan keluarga Jameson dan kematian wanita mereka. Selain itu, Daniel ingin Ken mengadakan pesta malam ini untuk putra Wayne Hudson, Vincent." "Begitu. Kudengar salah satu PSK nya pergi ke London untuk melarikan diri, sementara yang lain berkemungkinan telah mati," Tristan berkata, "Pokoknya, tetap buka matamu setiap saat, Nicole! Jangan biarkan Carson membuatmu kehilangan nyawamu," Tristan menyelesaikan kalimatnya. "Ya, Tristan," ucapku, sebelum kemudian pamit padanya dan mengakhiri panggilan. Sekarang saatnya menelepon Ralph, lalu Kate. Aku menelepon Ralph beberapa kali, tetapi dia tidak mengangkatnya. Aku berasumsi dia sedang sibuk, dan saya baru saja meninggalkan pesan suara. Aku kemudian menelepon Kate, di mana dia mengangkat telepon ku. "Nicole! Bagaimana kabarmu? Kamu harus memberitahuku tentang kemarin malam," kata Kate melalui telepon. "Santai, Kate! Daniel bermesraan dengan PSK barunya kemarin malam, bernama Macey, sepanjang pesta. Hari ini dia akan pergi ke London, dan juga, penata riasnya curiga padanya," kataku pada Kate. "Wah...terlalu banyak info. Jadi, apakah penata rias ini tahu mengenai perbuatan Daniel Jameson?" Kate bertanya padaku. "Dari caranya berbicara, dia mencurigainya. Sang penata rias mengatakan kepada ku bahwa dia cukup dekat dengan mendiang Francesca Lopez. Dan benar bahwa Francesca telah dilecehkan oleh Daniel. Sepertinya dia telah melecehkan banyak wanita di masa lalu, sebelum menyebabkan mereka kehilangan nyawa mereka. Dan juga, aku berasumsi dia telah membayar koki untuk meracuni Susan Walter. Sepertinya dia tidak dekat dengan Ken, mungkin dia memiliki rahasia tentang Susan yang dia tidak ingin Ken tahu," ku berkata. "Ya, dan mungkin lebih banyak lagi rahasia. Hati hati, Nicole," kata Kate. Kami mengakhiri panggilan kami. Aku menghabiskan milkshake-ku dan kembali ke rumah. Saat aku tiba, Ken sudah menungguku di ruang tamu. "Hei! Pekerjaan mu sudah selesai?" aku bertanya kepadanya. "Ya. Aku berpikir ingin berbicara denganmu tentang beberapa hal," katanya, kemudian tersenyum kecil. Aku balas tersenyum. "Oke," ku berkata saat aku duduk di sebelahnya di sofa. "Bisakah kita bicara di kamarku?" dia menyarankan. "Tentu,." kataku, sebelum kami berdua berdiri dari sofa dan menuju ke kamarnya. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD