7. Elegi POV - Mengejar Cinta Si Kali Krukut

1111 Words
"Kalian kenapa, sih, nggak mau dengerin peringatan aku?" Aku mengeluh kecewa pada kedua sahabatku, Rea dan Jasmin. Mereka benar-benar tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan terus berinteraksi dengan si Kali Krukut. "Biasa aja kali, Gi. Kita cuma seru-seruan aja, kok," balas Rea. Aku tidak menyangka sahabatku satu ini yang suka pilih-pilih sama sepertiku akan langsung cocok dengan Kalingga si Kali Krukut. Padahal, pria itu benar-benar jauh dari standar kami. "Iya, Gi. Lagi pula, Kalingga itu orangnya asyik kok," kata Jasmin menimpali. "Kalian asyik, sedangkan aku ..." Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Kalau boleh jujur, aku benar-benar kesulitan untuk melanjutkannya. "Ya ampun, Gi. Kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Jasmin langsung menyentuh punggung tanganku. Begitu juga dengan Rea yang langsung mendekat. Sebenarnya bukan salah mereka berdua, aku mengingat masa laluku. Hanya karena ucapan Kalingga si Kali Krukut. Aku jadi teringat akan kejadian sebelum aku dipenjara. Sembilan tahun yang lalu, aku melakukan kejahatan dan melimpahkannya pada Shalom. Setelah kejahatanku terkuak, Kanagara membuat siasat untuk membalaskan dendamnya. Pria itu tahu betul betapa aku sangat tergila-gila dengan ketampanan dan kekayaannya. Jadi, pria itu datang ke kampus dan menjemputku. Bersikap seperti pangeran berkuda putih dan menggemparkan seluruh isi kampus. Aku yang begitu naif dibutakan oleh kesempurnaan Kanagara. Sekali dia memperlakukanku bak putri dan mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dengan mudahnya aku menuruti semua kata-katanya. Aku benar-benar terbius oleh wajah tampannya yang membuat aku mengalami trauma seberat ini. Dia, Kanagara Candramawa menjebakku dan menyekapku selama beberapa jam. Lalu, membalaskan dendamnya atas kematian mendiang mantan tunangannya, Asmaraloka. Pembalasan pria itu benar-benar sama persis seperti yang aku lakukan ketika menabrak mendiang mantan tunangannya. Dia membuatku duduk di kursi kemudi dan mengikatku sehingga aku tidak bisa bergerak. Menjalankan mobil itu tanpa aku kendarai. Mungkin, pria itu telah menyadap mobil yang aku tumpangi. Menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang. Lalu, ada mobil di depan yang melaju sangat cepat dan menabrak mobil yang aku tumpangi. Kejadian ini sama persis dengan kejadian di mana aku menabrak mendiang mantan tunangannya. Mungkin maksud Kanagara, mata di balas dendam mata. Menabrak mobil dibalas dengan menabrak mobil. Trauma masa laluku ini mirip sekali dengan apa yang Kalingga si Kali Krukut itu katakan. Kanagara memang tampan, tinggi, dan kaya. Tidak ada kekurangan dalam diri pria itu. Namun, satu kekurangannya untukku yaitu dia tidak mencintaiku.Jadi, meskipun kriteria pria idamanku ada pada dalam seseorang. Tapi, jika seseorang itu tidak mencintaiku. Maka, hidupku tidak akan pernah bahagia. Inilah maksud dari perkataan Kalingga di cafe tadi. "Nggak apa-apa. Aku cuma ingat kejadian sembilan tahun yang lalu." Jasmin menghapus air mata yang membasahi pipiku. "Sudahlah, Gi. Lagi pula, itu cuma masa lalu. Bukankah Kanagara dan Shalom udah maafin kesalahan kamu dulu?" timpal Rea. Kedua sahabatku ini mengetahui segalanya tentang masa laluku. Dari sekian banyak teman yang aku miliki. Hanya mereka berdua yang tetap mau menjadi temanku. Meskipun mereka tahu apa yang telah aku perbuat. Mereka selalu ada di saat sembilan tahun aku dipenjara. Mereka selalu mendukungku dan menjengukku di sela-sela kesibukan mereka berdua. "Iya, Re." Sebenarnya bukan itu yang membuatku tiba-tiba mengingat masa laluku. Tapi, kata-kata Kalingga si Kali Krukut yang membuatku menangis mengingat sikap Kanagara dulu. Tapi, ya sudahlah. Aku tidak perlu menjelaskan detailnya yang hanya akan membuat mereka berdua ikut bersedih. "Ya udah, jangan nangis lagi. Lebih baik kita bersih-bersih trus siap-siap buat tidur," kata Jasmin. Malam ini, mereka berdua akan menginap di apartemen yang baru aku tempati satu Minggu ini. Hitung-hitung melepas kerinduan kami selama hampir sepuluh tahun ini. "Oke cus, kita ke kamar mandi!" ajak Rea. Akhirnya, kami bertiga pergi ke kamar mandi bersama. Mencuci kaki, tangan, gosok gigi, dan membasuh muka. Setelah itu, kami sibuk memakai krim wajah, sebelum akhirnya menempati posisi kami di tempat tidur. Posisiku terlentang diapit oleh kedua sahabatku. "Kalau seandainya Lingga benar-benar suka sama kamu, gimana Gi?" celetuk Rea bertanya di saat aku baru saja memejamkan mata. "Kenapa harus Kali Krukut, sih, Re? Dia itu jelek, pendek, miskin lagi. Jauh dari kata sempurna, Rea. Jadi, kamu nggak perlu menanyakan hal nggak penting yang udah tahu jawabannya." Bisa-bisa aku mimpi buruk malam ini gara-gara si Kali Krukut. "Jangan bilang gitu, Gi. Sekarang kamu boleh bilang kalau Lingga bukan tipe pria idaman kamu. Tapi, kita nggak tahu kalau suatu saat nanti kamu yang akan mengejarnya," ujar Jasmin memprotes. "Astaga, Jasmin!" Amit-amit, amit-amit. Jangan sampai aku jatuh cinta dan mengejar-ngejar cinta si Kali Krukut. Tidak mungkin seorang Elegi menyukai pria di bawah standar. "Jangan marah dulu dong, Egi cantik. 'Kan siapa tahu. Lagian banyak juga kejadiannya di luaran sana," sergah Jasmin. Kedua temanku seolah mendoakan agar aku jatuh cinta dan mengejar cinta Kalingga. "Nah, bener tuh apa kata Jasmin. Makanya, Gi. Jangan terlalu membenci kalau kamu nggak mau berubah mencintai," timpal Rea. "Rea, Jasmin, cukup! Berhenti ngomong yang nggak-nggak atau kalian berdua pulang aja nggak usah nginep di sini!" Bagaimana bisa mereka berdua terus berkata seolah sedang mendoakanku? Aku benar-benar tidak ingin hal seperti itu terjadi. "Iya, iya, bawel," ketus Rea. Jasmin dan Rea membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Aku mulai menanyakan tentang hubungan percintaan mereka berdua. Karena yang terakhir aku dengar, Rea sudah putus dengan kekasihnya. Sedangkan Jasmin masih dengan orang yang sama selama sepuluh tahun ini. "Kenapa kamu nggak nikah aja?" tanyaku pada Jasmin. "Kamu tahu 'kan Gi apa masalahnya?" Ekspresi wajah cantik Jasmin tiba-tiba murung. Aku tahu betul apa permasalahan yang membuat hubungan Jasmin dan kekasihnya tak kunjung menuju pelaminan. Kekasih Jasmin memang berasal dari keluarga kaya raya. Tetapi masalahnya, kekasihnya itu hanya anak siri dari keluarganya. Jadi, orang tua Jasmin menolak karena takut kekasih putrinya tidak akan mendapatkan harta warisan dari keluarganya. "Aku tahu. Tapi, tugasmu sekarang hanya perlu berdoa agar kedua orang tuamu luluh dan merestui hubungan kalian." Aku berharap, Jasmin dan kekasihnya akan dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan. Jasmin memiringkan tubuhnya dan memelukku. "Semoga ya, Gi. Doakan agar Papa dan Mama luluh." "Aku nggak dipeluk juga?" Rea merentangkan kedua tangannya dan ikut memeluk kami. "Dasar manja." Aku tersenyum sambil menempelkan dahiku pada dahi Rea. Beberapa saat setelah mengobrol, kami memutuskan untuk pergi tidur. Waktu juga semakin larut dan aku pun sudah mengantuk. Hingga beberapa kali aku menguap dengan sudut mata yang berair. Rea dan Jasmin nampak sudah tertidur pulas. Tapi, rasa kantukku tidak bisa membuatku memejamkan mata dan tertidur. Aku terus membayangkan kejadian tadi di cafe. Aku terus teringat akan ucapan Kalingga dan terus mengingat kejadian di masa lalu. Aku bahkan sempat membenarkan ucapan si Kali Krukut jika mengingat sikap Kanagara dulu. Namun ketika tersadar, aku kembali pada pendirianku tentang pria idaman yang harus menjadi kekasih atau menikah denganku. Satu hal lagi. Aku bahkan mengingat kata-kata Jasmin. Astaga! Amit-amit deh kalau aku sampai mengejar cinta si Kali Krukut. Apa kata dunia kalau hal tidak masuk akal itu bisa terjadi padaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD