"Apaan, sih, Gi? Kita 'kan cuma seru-seruan aja. Ya 'kan, Rea?" sungut Jasmin.
"Iya, Gi. Ini cuma seru-seruan aja." Rea mengalihkan pandangannya padaku lalu, bertanya," Jadi, kenapa, Lingga?"
"Karena teman kalian ini sudah berhasil menusuk hatiku sejak pertama kali bertemu."
Setelah mendengar jawaban dariku, Rea dan Jasmin saling pandang dengan mata terbelalak. Entah apa yang saat ini mereka pikirkan tentangku.
"Kau tidak sedang bercanda, 'kan, Ga?" tanya Rea padaku.
"Untuk apa aku bercanda. Aku serius kali." Aku memang tipe pria yang suka melawak. Tapi, aku tahu di mana tempatnya. Dan, ketika aku berkata seperti itu meskipun diselingi dengan candaan. Aku benar-benar serius ketika mengatakannya.
"Jadi, Kau sedang menyatakan cinta pada Egi?" tanya Jasmin.
"Sebenarnya tidak, tapi kalau kalian menganggapnya seperti itu, apa boleh buat."
Aku tidak bermaksud untuk mengutarakan perasaanku pada Elegi. Terlebih, di momen yang tidak tepat ini. Seandainya nanti aku ingin menyatakan cinta. Aku ingin menyatakannya di tempat yang romantis dan di waktu yang tepat. Tidak seperti sekarang ini. Lihat saja wajah Elegi sudah merah padam. Terlihat sekali bahwa wanita itu sedang menahan amarahnya kuat-kuat.
"Cieee ... Egi. Belum satu hari penuh sudah bisa memikat hati seorang pria," ujar Rea sambil mencubit lengan Elegi.
"Dari dulu pesona seorang Elegi Vektor memang tidak pernah bisa diragukan," timpal Jasmin.
Dilihat dari cara bicara Jasmin, sepertinya Elegi sudah menjadi incaran banyak pria. Aku tidak heran karena Elegi memang cantik. Meskipun wanita itu dingin dan angkuh. Tapi menurut aku, itulah sisi menariknya dalam diri Elegi.
"Kali Krukut!" Terdengar suara gigi saling beradu dan arahnya dari Elegi.
"Hmmm, iya, kenapa?" Aku tahu siapa yang dia maksud. Siapa lagi kalau bukan aku, Kalingga si Kali Krukut.
"Astaga! Lingga ini orang loh, Gi, bukan Kali Krukut," protes Jasmin.
Kali Krukut itu merupakan salah satu nama aliran sungai yang cukup terkenal di daerah ibu kota Jakarta. Untuk lokasi tepatnya aku tidak tahu. Hanya saja, aku pernah mendengarnya beberapa kali di berita.
"Tidak masalah, Jasmin. 'Kan aku sudah bilang kalau Elegi yang bilang. Itu artinya dia manggil sayang ke aku." Aku menimpali ucapan Jasmin yang seolah membelaku. Padahal aku baik-baik saja, tapi dia yang tidak enak karena ucapan temannya.
"Oh iya, aku lupa," ujarnya sambil nyengir kuda.
"Sekali lagi kau buka mulut dan berkata yang tidak-tidak. Aku akan menyeretmu dan menjepit bibirmu di pintu sampai tidak bisa membuka mulut lagi," ancam Elegi.
Aku hanya tersenyum saja menanggapi ancaman wanita itu. Lagi pula, dia tidak akan mampu menyeretku sampai ke depan pintu. Yang ada sebelum menyeretku ke pintu, dia sudah kupepet duluan ke tembok dan kukunci kedua tangannya. Kalian sudah bisa menebak bukan apa yang akan terjadi selanjutnya? Itu, sih, kalau kalian suka menonton drama-drama romantis.
"Ya ampun, Egi. Orang seperti Lingga ini patut dilestarikan. Sudah pandai melawak, pandai mencairkan suasana, romantis, dan yang paling penting, dia itu bukan tipe pria yang akan sakit hati dengan mulut pedasmu," timpal Rea.
Memangnya dia pikir aku ini pelawak yang mudah mencairkan suasana. Aku memang romantis, tapi aku belum menunjukkannya sama sekali. Dan yang terakhir, aku bukannya tidak sakit hati dengan ucapan-ucapan yang mungkin menyakiti hatiku. Hanya saja, aku tidak ingin terlalu pusing dan terlalu berlarut-larut memikirkan hal yang sama sekali tidak penting.
"Cukup, Rea. Apa pun yang ada dalam dirinya, aku tidak suka. Kau tahu seperti apa kriteria pria idamanku bukan?"
"Tampan dan kaya," balas Rea dan Jasmin secara bersamaan.
"Tidak hanya itu saja. Aku ingin pria yang jauh lebih tinggi dariku," kata Elegi sambil melirik ke arahku.
Aku memang tidak tampan, tidak kaya, dan tidak terlalu tinggi. Tapi, semua itu tidak bisa menjadi tolak ukur untuk mencintai. Meskipun aku banyak kekurangan, tapi aku akan mencintai siapa pun jodohku nanti dengan segenap hati, jiwa, dan ragaku.
"Apa tampan, kaya, dan tinggi bisa memberimu kebahagiaan?" tanyaku serius. Aku penasaran dengan jawaban apa yang akan wanita itu berikan.
"Tentu saja. Semua itu akan memberiku kebahagiaan. Aku akan merasa hidupku menjadi lebih sempurna," jawab Elegi dengan raut berbinar.
"Seandainya pria itu sudah beristri atau hanya berpura-pura menerimamu. Lalu, setelah kau menikah dengannya kau disiksa. Apa kau mau?"
"Pertanyaanmu tidak lucu, Kali Kru-- Kalingga," sergah Elegi muram. Hampir saja wanita itu memanggilku Kali Krukut. Mungkin karena teringat akan kata-kataku, jadi dia membatalkannya.
"Aku juga tidak sedang melawak, Elegi Vektor. Aku hanya berkata seandainya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Meski aku tidak tampan, tidak kaya, dan tidak tinggi seperti pria yang kau idamkan. Tapi, aku memiliki kelebihan yang mungkin tidak kau ketahui. Bahkan yang tidak aku sadari sendiri."
Banyak kejadian di luar sana yang sempurna fisik dan materi tapi hidupnya tidak bahagia. Tidak seperti aku yang selalu hidup serba kekurangan. Tapi, hidupku bahagia dan aku benar-benar menikmati kehidupanku.
"Kepalaku pusing mendengar ocehanmu. Lebih baik aku pulang saja." Elegi menyentuh kepalanya dan beranjak berdiri, "Kalian berdua mau tetap di sini atau mau ikut pulang denganku?" tanya Elegi pada kedua temannya.
"Ini baru jam berapa, Gi? Ini masih sore dan kau mengajak kami pulang?" tanya Rea enggan ikut pulang.
"Apa yang Rea katakan benar, Egi. Kita belum lama sampai dan kamu sudah mau pulang. Ayolah, Gi. Duduk dan nikmati kebersamaan kita," bujuk Jasmin.
"Duduklah! Aku harus kembali ke panggung karena pekerjaanku belum selesai."
Sebenarnya, aku turun hendak mengambil air putih sekedar untuk membasahi leherku yang terasa kering. Tapi, melihat Elegi ada di sini membuatku ingin berlama-lama berada di dekatnya.
"Kau bangun dan pergi dulu, baru aku mau kembali duduk," kata Elegi.
Aku pun bergegas beranjak berdiri dan meninggalkan area pengunjung. Aku kembali naik ke atas panggung dan seperti biasa bercakap-cakap dengan pengunjung. Bertanya apakah ada yang ingin berduet denganku atau sekedar request lagu.
"Aku mau!" teriak seorang wanita.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Namun wanita itu ketika berdiri, aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa orang itu adalah Rea.
"Baiklah. Untuk Nona Rea dipersilahkan menempati posisi," ujarku sambil melambaikan tanganku meminta satu kursi lagi.
Sementara Rea berjalan ke arah panggung. Salah satu pegawai cafe membawa kursi dan menempatkannya di sebelahku.
"Hai, Lingga, kita ketemu lagi," sapa Rea.
"Baru juga beberapa menit yang lalu," sahutku yang kemudian dibalas kekehan oleh wanita itu.
"Oke. Sekarang kita mau nyanyi lagu apa, Lingga?" tanya Rea. Mungkin dia bingung harus memilih lagu apa.
"Hmmm ... Kau mau kita nyanyi lagu apa?"
"Yee ... Ditanya malah balik tanya," kata Rea mencebikkan bibirnya malas.
"Bukan gitu, Rea. Ya sudah, bagaimana kalau lagu Buih Jadi Permadani? Lagu ini lagu favorit pengunjung di sini. Kamu bisa 'kan, Rea? Hafal 'kan?"
Setiap menyanyikan lagu itu, pengunjung cafe selalu ikut bernyanyi dan mengangkat tangan mereka. Meresapi setiap kata dan makna yang penulis lagu tulis.
"Oh, lagu ini. Bisa kok, bisa."
Setelah mendengar jawaban dari Rea, aku langsung memetik gitar dan memintanya untuk mulai bernyanyi.
Ketika bagianku untuk bernyanyi, aku mengedarkan pandanganku. Tiba-tiba, tatapan mataku bertemu dengan Elegi dan wanita itu bergegas membuang muka.
Selama lima menit kami semua bernyanyi bersama. Lagu pun berakhir diiringi dengan suara tepuk tangan dan suitan dari pengunjung.
"Ya ampun, Lingga! Sumpah baru pertama kalinya aku nyanyi di atas panggung dan merasa senyaman ini. Aku pikir, suaraku akan bergetar karena nervous. Tapi ternyata --"
"Tapi ternyata kmau bisa nyanyi dengan sangat merdu. Kamu benar-benar luar biasa, Rea." Aku memotong ucapan dan memuji Rea.
Aku tidak hanya sekedar memuji, tapi suara wanita itu memang benar-benar indah. Dan tidak tahu kenapa, lagu ini sangat cocok dinyanyikan berdua dengan dia.
"Ah, kau ini terlalu memuji" Rea terlihat malu-malu sambil tersenyum, "Oh iya, ngomong-ngomong kamu ada berapa pekerjaan paruh waktu? Bukankah minggu sebelumnya kamu bekerja di bar?"
Sepertinya Rea masih mengingatku ketika wanita itu pergi ke club' bersama Elegi waktu itu.
"Sebenarnya tidak banyak dan suatu saat nanti kamu akan tahu." Aku tidak berniat sama sekali untuk menjelaskannya. Aku takut akan membuat Rea kesulitan untuk memahami pekerjaanku yang cukup padat.
Mulai dari hari Senin sampai Jumat, pagi sampai malam aku bekerja di restoran. Senin sampai Minggu setelah beberapa jam selesai bekerja di restoran, aku bekerja di club. Sabtu dan Minggu aku bekerja di pengisian bahan bakar umum dari pagi sampai siang. Itu juga karena aku menggantikan temanku yang tidak ingin bekerja di hari libur.
Aku bekerja menjadi penyanyi cafe hanya setiap malam Minggu dan malam Senin saja. Dari pukul tujuh sampai pukul sepuluh malam dan setelah itu aku juga akan bekerja di club.
"Bagaimana bisa aku tahu sedangkan kamu tidak mengatakannya?" tanya Rea tersenyum tidak percaya.
"Kenapa tidak? Malam Minggu sebelumnya sekitar pukul sebelas kita bertemu di club. Dan sekarang, kita bertemu di cafe. Aku yakin, kita akan bertemu lagi di tempat aku bekerja."
Jika aku bisa terus bertemu dengan Elegi di beberapa tempat kerjaku. Tidak mungkin bagiku untuk tidak bertemu dengan teman-teman wanita itu. Karena di mana ada Elegi, di sana ada Rea dan Jasmin.
"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku turun dulu. Kalau lama-lama di sini, aku takut Egi akan marah." Rea bergegas berdiri dan pergi menghampiri teman-temannya.
Di sana, aku bisa melihat dengan jelas bahwa Elegi sedang menatap tajam ke arahku. Entah kesalahan apa yang telah aku perbuat. Apa dia marah karena aku menyanyi duet dengan Rea? Apa dia cemburu? Ah, ada apa denganku? Tidak mungkin bukan kalau Elegi cemburu? Bukankah aku belum melakukan apa-apa untuk merebut hatinya?