"Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang bersikap seolah aku ini kekasihmu? Kau yang bersikap manja dan merangkuluku. Tapi, kenapa kau malah menyalahkanku?" Aku balik bertanya pada singa kelaparan yang terlihat lebih cantik ketika sedang marah ini.
"Aku tidak peduli dan aku tidak mau tahu. Pokoknya, kau harus menghapus kesalahpahaman ini, titik," ketus Elegi nyalang.
Astaga, Tuhan! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita tidak tahu cara berterima kasih ini? Kenapa pula jantung ini tertarik pada wanita sepertinya? Padahal jika mau, aku bisa mencari wanita yang lebih lembut daripada dia.
"Kau ini benar-benar, ya. Bukannya berterima kasih sudah dibantu malah bersikap seperti ini. Kalau kau tidak bisa bilang terima kasih. Setidaknya, jangan menghakimi seolah di sini aku yang salah."
Aku tidak menyangka bahwa wanita ini benar-benar unik. Selain dia itu dingin, angkuh, dan pemarah. Dia itu berbeda dengan wanita pada umumnya. Dan aku yakin, sikapnya ini yang membuat jantungku berdebar.
"Sayangnya aku tidak peduli," balas Elegi tersenyum sambil menjulurkan lidahnya. Lalu, wanita itu bergegas mendorong troli ke arah kasir.
Astaga! Apa Elegi benar-benar tersenyum padaku? Ya ampun, Kalingga! Ternyata jantungmu memang tidak salah. Wanita itu memang benar-benar cantik ketika tersenyum. Bahkan ketika sedang marah pun sama cantiknya. Huh! Hampir saja aku terjatuh karena tidak bisa menahan guncangan dahsyat yang menerpa jantungku ini.
Ah, sudahlah. Daripada aku sibuk memikirkan Elegi. Lebih baik aku harus bergegas mencari kebutuhan bulananku. Karena sebelum waktu manggungku tiba. Aku harus memejamkan mataku sejenak. Setidaknya, membiarkan mata ini beristirahat sebelum nanti malam menyapa penggemar. Sebenarnya bukan penggemar, sih. Hanya saja mereka pengunjung di cafe tempatku bekerja.
Aku mengambil keranjang dan menariknya. Lalu, mengambil segala kebutuhan bulananku seperti, shampo, sabun mandi, sabun cuci piring, sabun cuci baju, dan masih banyak lainnya. Setelah itu, aku pergi ke kasir. Berharap bahwa Elegi masih ada di sana. Setidaknya, aku memiliki voucher yang bisa ditebus nanti di alam mimpi. Voucher wajah cantik Elegi, hahaha. Sepertinya aku memang sudah gila.
Sayang seribu sayang, Elegi sudah tidak ada di sana. Mungkin karena aku terlalu lama berkeliling mencari kebutuhanku. Ya, sudahlah. Seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Jika memang kami berjodoh, maka di mana pun kami berada akan selalu dipertemukan. Dan setelah pertemuan pertama, kedua, dan ketiga, bahkan keempat. Sudah membuktikan bahwa kami memang berjodoh.
Setelah pulang dari supermarket, aku langsung membaringkan tubuhku dan tertidur. Hingga beberapa jam kemudian alarmku berbunyi. Itu tandanya, aku harus bangun dan bergegas membersihkan diri. Bersiap-siap untuk pergi ke cafe dan melakukan pekerjaanku di setiap malam Minggu dan malam Senin.
Pukul enam sore, aku sudah harus pergi dari rumah menuju cafe. Ditemani pespa butut, aku menikmati udara yang baru saja berganti di sepanjang perjalanan. Satu jam berlalu, aku sudah duduk di atas panggung sambil menyeting gitar yang sebentar lagi akan aku mainkan.
Sebelum aku mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Aku mengedarkan pandanganku menatap setiap pengunjung cafe. Mengambil nafas dalam-dalam dan mulai melakukan pekerjaanku.
Kali ini, aku menyanyikan sebuah lagu tentang ibu. Sejak tadi siang menjelang sore bertemu dengan kakak Elegi, Shalom. Aku tiba-tiba merindukan ibuku. Lalu, di lagu kedua aku menyanyikan lagu tentang cinta pada pandangan pertama.
Baru selesai menyanyi lagu kedua. Sudut mataku menangkap sosok tokoh utama dalam lagu ini. Elegi, yah, Elegi ada di sini. Belum tepat dua puluh empat jam, kami sudah bertemu sebanyak lima kali. Ini bukan jodoh lagi namanya. Tapi, wanita itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupku.
Mulai hari ini, aku bertekad untuk memilikinya. Walau seberapa sulit nanti rintangan yang akan aku hadapi. Jika aku berkata dia jodohku, itu artinya dia adalah jodohku.
Aku beranjak berdiri, memutar gitar ke belakang dan berjalan turun dari panggung. Entah mengapa, aku ingin sekali menghampirinya. Ya, meskipun aku tahu apa yang akan wanita itu katakan padaku. Mulutnya yang suka berkata pedas melebihi pedasnya bon cabai. Tapi, itulah yang aku suka. Aku menyukainya karena dia itu spontan. Jika memang tidak suka, maka dia akan langsung mengatakannya di depan orangnya.
"Besok, kalau kau ingin menikah. Carilah sosok wanita yang tidak suka berkata manis di depan dan buruk di belakang. Cari wanita yang langsung berkata apa adanya. Baik di depan maupun di belakang itu sama. Jika di depan A, di belakang juga A. Jika di depan B, maka di belakang juga B."
Itu pesan Ibu sebelum mulai mengalami sakit lupa dan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Pesan Ibu juga yang membuatku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun sampai di usiaku yang ke tiga puluh satu tahun. Dan Elegi, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan wanita seperti dia.
"Halo, Elegi," sapaku pada Elegi yang kini sedang sibuk mengobrol dengan kedua temannya. Aku juga melihat mereka di club malam kemarin bersama Elegi.
Wanita itu menoleh ke arahku dengan terkejut. "Kau? Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanyanya terkejut. Ekspresi wajahnya seperti sedang melihat penampakan.
"Astaga, Elegi! Memangnya kau pikir aku hantu yang menyeramkan apa? Sampai-sampai kau menatapku seperti itu."
"Kau memang bukan hantu, tapi tampangmu tidak jauh beda dengan hantu," jawabnya sambil tersenyum mengejek.
"Hahaha ..." Dua teman Elegi tertawa bersamaan.
"Oh, wajahku. Sebenarnya bukan hanya kau saja yang bilang kalau aku mirip hantu. Tapi, para hantu juga bilang kalau aku mirip mereka, hahaha." Aku tertawa diikuti oleh tawa kedua teman Elegi. Mereka benar-benar terlihat sangat terhibur.
Aku bukan tipe pria yang akan kesal atau sakit hati ketika ada orang yang mengatakan aku jelek. Karena kenyataannya, wajahku memang tidak tampan. Ya, meskipun tidak jelek-jelek amat. Tapi, menurut wanita penggila pria tampan ini, aku tidak masuk dalam kategori pria tampan.
Ibarat kata sebuah film, aku hanya seorang figuran yang tidak terlihat di sana. Tapi suatu saat nanti, figuran ini yang akan menjadi tokoh utamanya. Tentunya, tokoh utama di hati Elegi. Aku harus percaya diri mulai sekarang. Karena aku hanya perlu berusaha keras untuk mewujudkannya.
"Hahaha ... Kenapa kau lucu sekali?" tanya teman Elegi sambil menertawakan candaanku.
"Terima kasih, aku memang lucu seperti bayi," balasku.
"Sini duduk, sini duduk," kata teman Elegi yang lain. Wanita ini memberiku kursi agar ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Kalian apaan, sih," protes Elegi tidak suka. Bagaimana bisa temannya memintaku untuk duduk, pikir Elegi.
"Biarin aja kali, Gi. Seru tahu kalau ada orang yang lucu kayak dia," sanggah temannya.
Aku pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku bergegas duduk sebelum Elegi berusaha mengusirku.
"Kenalin, aku Rea," kata teman Elegi sambil mengulurkan tangannya dan aku membalas uluran tangannya dengan menyebutkan namaku.
"Kalingga."
"Aku Jasmin." Teman Elegi yang satunya lagi pun ikut memperkenalkan diri.
"Kalingga, panggil saja Lingga."
"Jangan mau panggil dia, Lingga. Panggil saja Kali, Kali Malang, Kali Ciliwung, Kali Krukut, hahaha," tawa Elegi menggelegar diikuti tawa kedua temannya.
Cantik sekali. Jarang-jarang 'kan aku bisa melihat dia tertawa lepas seperti ini. Karena beberapa kali bertemu, wanita itu selalu judes.
"Asalkan kamu yang yang manggil aku, maka aku tidak akan masalah. Anggap saja, itu sebagai panggilan sayang kamu untuk aku." Jangan kira aku akan sakit hati dan mati kutu hanya karena mulut pedasmu, Elegi.
"Cieee ..." sorak Rea dan Jasmin.
"Kalian apaan, sih." Elegi memprotes sorakan temannya, "Diam atau mau aku colok mata kamu."
Wanita itu mengancamku sambil memelototiku. Tangannya bergerak menunjukkan huruf V seolah ingin mencolok mataku.
"Kamu tidak perlu mencolok mataku, Elegi. Kamu tahu kenapa?"
"Waaah ... Kenapa, tuh?" tanya Rea. Aku lihat dia yang paling bersemangat sejak tadi.
"Kasih tahu tidak, yah?" Aku sengaja membuat mereka penasaran.
"Kasih tahu dong, Lingga. Jangan malah membuat Egi penasaran," kata Jasmin menimpali ucapanku.
"Jasmin!" bentak Elegi. Dua tanduk merah sudah muncul di kanan dan kiri kepalanya. dia seperti banteng yang siap menyeruduk lawannya.