"Apa aku datang terlambat?" Aku bertanya pada Elegi yang saat ini mungkin merasa bahwa semua orang sedang memojokkannya. Aku membelah kerumunan dan berjalan ke depan menghampiri wanita itu.
Selesai bekerja di pengisian bahan bakar umum, aku lekas pergi ke super market. Aku ingin berbelanja karena kebutuhan bulananku di kontrakan sudah habis. Namun yang tak disangka, aku justru bertemu lagi dengan wanita dingin nan angkuh itu, si Elegi. Apalagi dalam keadaan yang sangat tidak mengenakkan ini.
Awalnya, aku tidak berniat sama sekali untuk membantunya. Terlebih, mengingat bagaimana sikap wanita itu sebelumnya padaku. Namun, melihatnya tersudut seperti itu membuatku tidak tega. Jadi, mau tidak mau aku bersikap seolah aku ini adalah kekasihnya. Beruntung, saat ini aku sedang berpenampilan rapi. Kalau tidak, aku hanya akan mempermalukan wanita itu saja di depan banyak orang.
Jujur, sejak pertama kali aku melihatnya. Tidak tahu kenapa jantung ini berdetak tidak terkendali. Tidak pernah sekalipun aku merasakannya pada wanita mana pun di luaran sana. Memang, sih, Elegi ini termasuk di jajaran wanita cantik. Jadi, pantas saja kalau jantung ini tergila-gila padanya. Tapi, kenapa jantung ini harus tertarik pada wanita seperti dia yang sombong? Kenapa tidak wanita lain saja yang lebih anggun dan lembut hatinya? Ah sudahlah. Hati memang tidak bisa ditebak ke mana akan berlabuh.
"Kenapa kau diam saja? Apa orang-orang di sini mengganggumu?" tanyaku sambil mengayunkan tanganku di depan wajah Elegi. Tidak biasanya Elegi akan diam saja seperti ini.
"Apa pria dan wanita ini mengganggumu?" tanyaku lagi karena Elegi tak kunjung menjawab.
Tidak tahu kenapa, Elegi terlihat lebih manis di saat diam seperti ini. Karena jika wanita itu membuka mulutnya. Maka, hanya kata-k********r yang akan terlontar. Entah itu hanya padaku atau pada orang lain juga. Yang pasti, wanita itu selalu berkata buruk padaku.
"Iya, Sayang. Kau tahu? Dia menuduhku berselingkuh dengan suaminya. Padahal, aku sudah memilikimu yang jelas-jelas sangat mencintaiku." Elegi menjawab pertanyaanku dengan manja.
Mengalungkan tangannya di lenganku dan meletakkan kepalanya di bahuku. Benar-benar terlihat seperti wanita lemah yang butuh perlindungan. Andai saja setiap bertemu denganku Elegi selalu bersikap manja seperti ini. Maka, alangkah bahagianya aku.
"Apa?! Apa kau mencoba berhianat dariku karena wajahku tidak tampan, Sayang?" Aku berpura-pura terkejut dan seolah aku kekasih yang sangat mencintai Elegi.
"Tidak, Sayang. Meskipun wajahmu pas-pasan dan tinggi badanmu juga pas-pasan. Aku tetap mencintaimu dan tidak pernah sekalipun terpikir olehku untuk selingkuh darimu," jawab Elegi menggeleng pelan sambil memperdalam wajahnya di ceruk leherku.
Sikapnya ini dan hembusan panas nafasnya di ceruk leherku membuat sisi liarku bangkit. Entah sadar atau tidak, wanita itu berhasil menggodaku hanya dengan tingkah kecilnya. Jika terus dalam keadaan seperti ini, aku bisa menerkamnya hidup-hidup.
"Benarkah? Apa kau bisa membuktikannya padaku, kalau kau tidak berusaha selingkuh dengan pria itu?"
Aku berusaha menyelesaikan kesalahpahaman yang Jeff buat. Pria yang sebelumnya Elegi sebut sebagai mantan kekasihnya dulu.
"Baiklah, akan aku buktikan." Elegi melepaskan tangannya dan sedikit memberi jarak denganku, "Apa kau melihat, kalau di sini banyak kamera pengawas?" tanya Elegi sambil menunjuk ke arah kamera pengawas yang terpampang di setiap sudut supermarket.
"Ya, aku melihatnya. Lalu, apa maksudmu kita perlu memeriksa semua kamera pengawas di sini agar kau bisa membuktikan kalau kau bersalah atau tidak?"
Sampai di sini, Elegi tersenyum karena tujuannya hampir tersampaikan. Tentu saja, karena wanita itu hampir membersihkan namanya yang sudah tercoreng lumpur kotor.
Elegi tersenyum menyeringai melirik ke arah Jeff. Sedangkan pria itu sendiri terlihat sangat kecewa. Entah apa yang membuat pria itu bersikap seperti itu dengan menjebak Elegi. Padahal ada istrinya di sebelahnya yang terlihat cukup cantik. Memang, sih, banyak sekali di dunia ini orang yang tidak pandai bersyukur. Beruntung, aku bukan salah satu dari mereka. Yah, meskipun hidupku lantang-lantung sebatang kara.
"Tentu saja, kita perlu. Jadi, kita akan tahu siapa yang salah di sini," sahut Elegi sambil melirik sinis ke arah wanita yang tidak lain adalah istri Jeff. Tangannya tidak lupa bergerak merangkul lenganku.
"Ya, benar. Lebih baik periksa rekaman kamera pengawas. Dengan begitu, kita akan tahu siapa yang salah di sini."
"Bila perlu kita periksa sekarang. Jadi, kita akan tahu siapa yang menggoda dan siapa yang digoda."
Dua orang kerumunan ikut menimpali ucapan Elegi. Dua orang itu merupakan ibu rumah tangga yang berdiri paling depan.
"Tidak perlu. Lagi pula kami sudah selesai berbelanja. Jadi, kami akan pulang sekarang," tolak Jeff dengan raut takut. Terlihat sekali bahwa pria itu takut akan ketahuan telah memfitnah Elegi.
"Apa-apaan kau ini? Kita tetap harus memeriksanya karena kau tidak bersalah," protes istri Jeff.
"Tidak perlu, Sayang. Sepertinya ini hanya kesalahpahaman saja. Lebih baik kita pulang sekarang," tolak Jeff lagi.
Pria itu takut ketahuan bersalah. Jadi, berusaha untuk menghindar. Kalau dilihat dari penampilannya, sih, dia orang kaya yang berpendidikan. Tapi, tidak memikirkan akibatnya lebih dulu sebelum bertindak. Jika memang dia pintar, seharusnya dia melihat situasi dulu. Memeriksa apakah ada kamera pengawas atau tidak sebelum berusaha menggangu Elegi.
"Kesalahpahaman apa? Sudah jelas-jelas aku melihat dia menggodamu. Apa jangan-jangan yang wanita itu katakan benar kalau kau yang sudah menggodanya?" tanya istri Jeff menggebu.
"Apa yang kau katakan, Sayang? Kalau kau tidak mau pulang. Ya sudah, biar aku saja yang pulang," sungut Jeff terlihat sangat kesal. Lalu, bergegas pergi meninggalkan istrinya yang kebingungan. Lalu, istrinya pun terlihat mengejarnya dan meninggalkan setumpuk belanjaan di troli.
"Berhubung masalah sudah selesai dan kalian semua bisa menilai sendiri siapa yang salah di sini. Jadi, kalian semua boleh bubar dan kembali pada aktivitas kalian masing-masing," ujarku pada kerumunan yang masih fokus menyaksikan drama yang Elegi buat.
Akhirnya, satu per satu kerumunan mulai kembali pada aktivitas berbelanja mereka masing-masing. Dan Elegi, wanita itu pun kembali bersikap angkuh seperti sebelumnya. Melepaskan tangannya dengan jijik seolah aku ini kotoran.
Tiba-tiba, ada sepasang suami istri beserta dua anak mereka datang menghampiri kami. Aku bisa melihat kemiripan yang begitu kentara dari wanita itu dengan Elegi. Apa dia kakak atau adik Elegi?
"Apa kau baik-baik saja, Egi? Si Jeff ini benar-benar keterlaluan," tanya wanita itu dengan kesal.
"Aku baik-baik saja, Shal. Aku juga tidak menyangka Jeff akan bersikap seperti itu," sahut Elegi.
"Pria ini benar-benar kekasihmu, Egi?" tanyanya menatap ke arahku.
Wanita ini tersenyum dan senyumnya benar-benar teduh seperti senyum mendiang ibuku. Tuhan, entah mengapa aku jadi merindukan ibu.
"Hai, aku Shalom, kakak Egi." Wanita itu mengulurkan tangannya dan aku pun menyambutnya dengan menyebutkan namaku, "Aku Kalingga."
Jujur, aku tidak menyangka bahwa Shalom ini kakak dari Elegi. Wajahnya saja jauh lebih muda dari si wanita angkuh itu. Apa mungkin karena Shalom murah senyum dan Elegi murah marah makanya dia terlihat lebih tua? Bisa juga sih, hahaha.
"Oh iya, ini suamiku, Kanagara. Ini putra dan putri kami, Lake dan Oza," tambah wanita bernama Shalom ini memperkenalkan anggota keluarganya. Suaminya, Kanagara, tersenyum sambil mengangguk.
"Halo, Uncle, salam kenal," ujar dua bocah mungil itu.
"Hai, Lake dan Hai, Oza."
Aku balas menyapa dua bocah kecil itu. Aku tidak tahu apakah aku salah menyebutkan nama mereka atau tidak. Karena aku hanya mendengarnya satu kali dan beberapa detik yang lalu.
"Berhubung kami sedang terburu-buru dan kami harus segera pulang. Jadi, kami pamit pulang dulu. Dan yang terakhir, aku titip Egi padamu," pamit Shalom. Bagaimana bisa wanita ini menitipkan Elegi padaku?
Padahal, tanpa perlu ada yang menjaganya pun dia akan tetap baik-baik saja . Wanita galak seperti singa kelaparan ini tidak akan membuat orang lain mengintimidasinya. Tidak akan ada orang yang berani menggangunya. Justru, semua orang yang akan takut jika menghadapinya.
"I-iya," balasku terbata. Aku takut Elegi akan salah paham dan marah. Lihat saja bagaimana raut wajahnya saat ini.
"Shalom, tunggu! Kenapa kau menitipkanku pada pria sepertinya?" tanya Elegi tidak suka dengan nada tinggi. "Kau juga. Kenapa kau mengiyakannya, bodoh?!" kesal Elegi padaku dan aku pun mengedikkan bahuku malas. Tentu saja, karena tidak ada jawaban lain selain mengiyakannya. Masa iya, aku menjawab tidak, 'kan mungkin.
"Karena dia kekasihmu!" teriak Shalom dari kejauhan.
"Gara-gara kau, Shalom menganggapku sebagai kekasihmu," kata Elegi menggertakkan giginya sambil memelototiku. Sepertinya, sisi singa kelaparan wanita ini telah bangkit. Jika aku tidak pandai menghindar, maka aku bisa habis diterkam.