“Cepat dimasukkan kang! Sebentar lagi saya mau pulang… Ini sudah lewat jam jaga saya” keluh Perawat tua itu pada si perawat muda.
Perawat muda itu dengan buru-buru mengangkat jenazah Ningsih, dan memindahkannya ke brankar ambulan. Setelah memastikan posisi dan keamananya, Ginanjar kemudian memberi isyarat pada supir. Supir ambulan yang berkepala botak kemudian naik dan mulai menyalakan mesin. Dan ketika si perawat laki-laki itu sudah duduk di kursi penumpang disampingnya, ambulan itu langsung pergi meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Laskar yang masih tertidur.
Beberapa menit berlalu setelah ambulan yang membawa jenazah Ningsih meninggalkan halaman rumah sakit, barulah Laskar terbangun. Di tengah suasana sunyi lorong rumah sakit yang semakin malam, Laskar nampak kebingungan karena jenazah Ningsih tidak kunjung disiapkan… menurutnya. Laskar sedikit kesal ketika melihat jam dinding lorong rumah sakit, sudah jam sepuluh malam lebih sedikit, masih belum disiapkan juga ambulannya? Mau sampai jam berapa nanti di desa Ningsih?! Umpatnya dalam hati. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke UGD lagi, untuk menanyakan hal tersebut.
Laskar kaget, ketika masuk kedalam UGD, seluruh pegawainya sudah berganti. Dokter laki-laki yang meneleponnya tadi kini berubah menjadi Dokter wanita, dan Perawat wanita cantik yang membantunya mengurus berkas tadi sudah berganti orang juga, begitu juga Perawat-Perawat lain yang ada. Laskar tertidur terlalu lama, sampai-sampai Perawat di rumah sakit itu sudah melakukan pergantian jaga. Tentu, shift sore sebuah rumah sakit berakhir pukul 21:00 tadi, dan kini berganti ke shift malam.
Meski begitu, Laskar tetap menghampiri mereka dan menanyakan perihal jenazah temannya. Dokter wanita itu nampak bingung ketika Laskar menanyakan persiapan keberangkatan jenazah Ningsih, ia merasa tidak diberi ‘operan’ oleh Dokter laki-laki sebelumnya.
Wajah Laskar berubah kecewa. Tentu saja, ia merasa jenazah Ningsih ditelantarkan, padahal ia sudah membayar semua biaya yang diperlukan. Melihat kekecewaan diwajah Laskar, Dokter wanita itu lalu menyuruh salah satu perawat untuk segera menuju ke kamar mayat dan menyiapkan segalanya. Perawat laki-laki muda itu, dengan wajah bingung, langsung bergegas pergi menuju ke kamar mayat untuk mengecek. Laskar yang setengah menahan emosi, kemudian memutuskan untuk mengikuti Perawat itu. Ta khawatir akan diperlama oleh pihak rumah sakit lagi.
Dalam perjalanan menuju ke kamar mayat, Perawat berbadan kurus dan kecil itu memperkenalkan dirinya untuk sekadar basa-basi meredakan emosi Laskar. Namanya Ginanjar, mungkin ia bisa merasakan amarah di wajah Laskar. Namun tentu saja Laskar tidak menanggapi, pandangannya hanya fokus ke arah pintu kamar mayat yang mulai terlihat. Ginanjar kemudian meminta maaf, menyampaikan bahwa Perawat sebelumnya (Perawat laki-laki tua) yang bekerja di shift sore tadi, tidak memberitahu apa-apa soal jenazah Ningsih. Alis Laskar yang tebal dan tegas langsung menekuk, hampir saja ia membentak perawat lugu itu. Namun, hal itu terhalang karena tiba-tiba Smartphone Laskar berdering.
“Halo assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, nak Laskar, Alhamdulillah nak, Ningsih sudah sampai … Ibu terima kasih sebesar-besarnya sudah mengurus semuanya” ucap Ibu Wati yang menelepon.
“OH! Alhamdulillah Ibu … Aduh maaf, Laskar tadi ketiduran di rumah sakit. Padahal Laskar ingin sekali ikut bu”
“Tidak apa-apa nak Laskar, ibu sudah berterimakasih sekali nak Laskar mau mengurus Ningsih. Mohon doanya ya nak, semoga Ningsih tenang …” Ibu Wati kemudian terisak sebentar “Insyaallah, malam ini juga Ningsih akan dimakamkan”
“Laskar turut berduka cita ya bu.. Ibu dan keluarga yang tabah … Insha allah Laskar akan nyusul kesana, habis ini Laskar berangkat”
Setelah berbincang-bincang kecil akhirnya Ibu Wati mengakhiri telepon itu. Laskar sedikit mendengkus kesal, sepertinya Perawat rumah sakit shift sebelumnya langsung saja mengirimkan jenazah Laskar. Memang Laskar sebenarnya belum bilang pada pihak rumah sakit bahwa ia berniat akan ikut juga. Ia barusaja memutuskan hal itu ketika menunggu tadi, wajar bila Perawat rumah sakit tidak tau. Sepertinya, Laskar juga salah paham pada perawat rumah sakit shift malam ini.
Laskar kemudian hendak menyusul Perawat laki-laki itu yang terlanjur masuk kedalam kamar mayat mendahuluinya, sambil berpikir bagaimana caranya pergi ke desa Ningsih. Malam-malam seperti ini tidak ada angkutan umum yang tersedia. Apakah aku harus naik motor kesana? Laskar lalu melirik jam di smartphone-nya. Pasti butuh waktu empat sampai lima ja …
LOH! TUNGGU DULU!!!
Laskar menjengit kaget, sambil terus menatap layar smartphone-nya seolah tak percaya. Saat itu masih pukul 22:15. Jelas saja Laskar menjengit kaget, belum ada sejam sejak Laskar tertidur… BAGAIMANA BISA JENAZAH NINGSIH SUDAH SAMPAI DI SANA? Dengan cepat, Laskar langsung menelepon Ibu Wati kembali.
“Halo buk, Assalamualaikum! Bu, Jenazah Ningsih sudah disana?” ketus Laskar.
“Waalaikumsalam, nak Laskar … gimana nak?”
“Jenazah Ningsih Buk! Jenazah Ningsih! Beneran sudah disana?”
“S-Sudah nak? Kenapa? Ini sedang akan kami Sholatkan ”
“Bu!! Laskar baru saja selesai mengurus jenazah Ningsih sejam yang lalu! Nggak mungkin Buk! satu jam sudah sampai sana?!”
“L-Lho… Tap-tapi …”
“Itu Ningsih buk?!” tanya Laskar setengah membentak.
Tetapi tidak ada respon dari Ibu Wati, sepertinya ia juga terkejut. Kemudian terdengar suara kerumunan orang lalu sambungan telepon itu terputus.
Laskar yang begitu bingung nampak berpikir keras. Apa jangan-jangan memang sudah diantar? Tapi… nggak mungin bisa secepat itu! gumamnya. Atau mungkin, ketika ia sibuk mengurus berkas, jenazah Ningsih sudah langsung dikirim? Tapi tetap saja, cukup mustahil untuk sebuah ambulan melaju hanya dalam waktu satu setengah jam hingga sampai ke desa yang letaknya seratus kilometer. Tidak ada tol cepat dan hanya jalan antar provinsi yang terbilang cukup sempit itu saja jalur utamanya.
Laskar lalu memutuskan untuk menyusul Perawat ginanjar, hendak menanyakan jam berapa jenazah Laskar diantar. Meski Laskar sangsi Perawat itu tau, karena sepertinya ada miskomunikasi antara Perawat muda itu dengan Perawat tua sebelumnya. Mungkin saja Perawat tua tidak memberitahu apa-apa padanya, karena jenazah Ningsih memang sudah diurus dan sudah diberangkatkan sebelum perawat ginanjar ini datang bekerja. Meski masih sulit dipercaya, sepertinya disitulah letak kesalahannya.
Namun ketika kaki Laskar hendak melangkah maju, betapa terkejutnya Laskar melihat Perawat muda itu sudah keluar dari kamar mayat dengan membawa sebuah keranda mayat.
“K-Kang … I-Itu, jenazah siapa?” Tanya Laskar terbata-bata.
“Lho? Jenazah teman akang, atuh!” ucapnya. Laskar menyangkal, karena tadi di kamar mayat memang ada dua jenazah. Ia mengira perawat Ginanjar pasti salah ambil. Namun ginanjar menujukkan label jenazah yang tergantung di pinggir brankar keranda. Di kertas label kecil itu tertulis jelas nama ‘Ningsih’.
Karena tak percaya, Laskar langsung membuka keranda itu, dan menyingkap kain putih yang menutupi. Saat itu Laskar melihat sendiri, jenazah perempuan yang wajahnya hancur. Bola mata sebelah kirinya mengantung keluar penuh darah, dan bola mata sebelah kanannya sudah tidak ada. Rahang bawahnya patah kearah kanan dan lidahnya terjulur keluar…
JELAS JELAS ITU NINGSIH!!