Laskar langsung terjatuh ke lantai, matanya melotot tajam kearah brangkar jenazah itu. Ginanjar ikut terkejut melihat tingkah Laskar, ia lalu menghampiri dan memapahnya untuk kembali berdiri. Setelah berdiri, Laskar justru bertindak aneh. Sambil melotot ia melucuti kain kafan yang membalut jenazah itu. Mencoba memastikan bahwa itu benar-benar Ningsih. Ginanjar yang melihat itu langsung menghalangi, ia menarik tangan Laskar dari jenazah itu.
“Yang tabah! Kang…”
“B-Bukan … Bukan Kang… Bukan itu!” Laskar nampak begitu gugup, bibirnya bergemetar hebat.
Laskar lalu menceritakan segalanya secara runtut, tentang bagaimana ia menunggu cukup lama hingga tertidur, dan tentang jenazah Ningsih yang sudah sampai di desa yang jaraknya 4 jam perjalanan dari sini. Ginanjar ikut dibuat kaget bercampur bingung, ia lalu berinisiatif menelepon Perawat tua sebelumnya. Tentu hanya Perawat itu yang tau apakah jenazah Ningsih sudah dikirim atau belum.
Ketika tersambung Ginanjar langsung membentak keras lawan bicaranya. Awalanya wajahnya memerah karena marah, namun sejurus kemudian ekspresinya berubah takut. Bagaimana tidak, menurut Perawat tua shift sore, jenazah Ningsih sudah diantarkan sekitar setengah sepuluh. Berkali-kali Ginanjar bertanya untuk memastikan, namun Perawat tua itu bersikeras, karena memang dirinya sendiri lah yang memasukan jenazah Ningsih kedalam ambulan.
“T-Terus Kang… I-Ini jenazah siapa? Ini Ningsih Kang! Ningsih teman saya!” Bentak Laskar.
“S-Sebentar Kang … emm… saya coba pastikan ke driver ambulannya dulu… mungkin ada yang salah. Sabar dulu kang, sabar…” ucap Ginanjar itu berusaha menenangkan Laskar, meski dirinya sendiri juga begitu panik.
Mendengar ucapan itu Laskar berusaha menenangkan diri. Mungkin jenazah Ningsih tertukar, Oh iya…
“K-Kang… tadi saya lihat ada dua jenazah didalam, mungkin keliru dibawa?”
“Ini satu-satunya jenazah yang ada didalam, Kang… lagipula namanya bener kan?”
Kembali, jantung Laskar seperti berhenti berdetak. Ginanjar nampak sibuk menekan-nekan layar smartphone-nya, ia berusaha menghubungi driver ambulan rumah sakit itu.
Saat itu sang driver ambulan berkepala botak, ditemani dengan seorang perawat muda, sedang dalam perjalanan menuju desa Ningsih, sesuai dengan yang diinstruksikan kepada mereka. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika Ginanjar menelepon mereka, mengabari bahwa kemungkinan mereka salah membawa jenazah. Dengan sigap driver ambulan itu langsung memberhentikan kendaraannya dipinggir jalanan yang sepi. Kemudian mereka berdua mengecek jenazah yang dibawanya itu.
“Gimana sih! Ini beneran atas nama Nona Ningsih! Aya-aya wae!” bentak driver itu dari telepon.
Suara bentakan itu cukup keras, sampai-sampai Laskar dengan mudah mendengarnya.
“C-Coba disuruh fotokan identitas di kerandanya Kang …” ucap Laskar memberi ide.
Ide itu langsung disampaikan pada sang driver, dan setelah beberapa saat, driver berkepala botak itu memberikan foto dan video singkat dari chat pada Perawat muda itu.
Dengan tangan yang bergemetar, Perawat itu menunjukkan hasil jepretan sang driver pada Laskar, yaitu foto jenazah Ningsih lengkap dengan kertas identitas yang bertuliskan ‘Ningsih’.
Perawat muda itu dan Laskar saling melotot satu sama lain. Mata mereka berdua kemudian mengarah ke jenazah dihadapan mereka. Jenazah Ningsih, dengan pakaian dan identitas yang jelas, Ya tuhan …
“GILA! N-Nggak mungkin!! NGGAK MUNGKIN!!!” Jerit Laskar begitu histeris.
“K-Kang … C-coba fotoin wajahnya, Kang?” ucap Ginanjar dengan bergemetar. Ia juga tidak percaya dengan semua ini.
“Aye naon?! Gendeng pisan, abdi foto-foto jenazah di tengah jalan! Malu teh kalau dilihat orang!” ucap driver berkepala botak itu menolak.
“P-Punten kang… M-masalahnya disini juga ada jenazah identitasnya juga ‘Ningsih’”
Ucapan itu langsung membuat mata sang driver terbelalak. Dibantu oleh perawat muda itu, ia lalu membuka ikatan tali pocong di leher dan kepala jenazah Ningsih untuk menampakkan wajahnya. Dengan nekat, ditengah malam, di pinggir jalan raya antar provinsi yang sunyi itu, sebuah ambulan berhenti dengan supir dan penumpangnya tengah memfoto jenazah yang mereka antar. Dengan susah payah, foto itu akhirnya berhasil diambil dan segera dikirimkan ke smartphone Perawat muda yang ada dirumah sakit. Laskar yang tidak sabar ikut mendongak, mengintip foto yang dikirimkan driver itu.
Kedua orang terkejut setengah mati, ketika melihat foto wajah jenazah yang hancur, persis seperti jenazah yang ada disebelah mereka. Perawat muda itu kemudian menarik tangan Laskar dan berlari menjauhi jenazah yang ada dihadapan mereka, menuju ke lorong arah ke UGD.
Wajah Ginanjar begitu ketakutan, sampai-sampai keringat bercucuran membasahi pelipisnya. Laskar yang sedikit kaget karena ditarik, ia lalu menghentikan Ginanjar.
“B-bentar kang …”
“ITU SETAN KANG!! JENAZAH ITU SETAN!! MEMEDI!!” ucap Ginanjar sambil melotot kearah brankar jenazah yang tergeletak di jalanan di depan kamar mayat.
“T-Tunggu dulu kang, J-jangan negative thinking dulu …”
“AKANG LIHAT SENDIRI KAN?! FOTONYA SAMA!”
“T-Tapi wajahnya hancur kang, b-belum tentu atuh…” Laskar berusaha berfikir secara rasional, meski badannya begitu gemetaran. Ginanjar kemudian terdiam sejenak setelah mendengarkan ucapan Laskar tadi. Ia mungkin merasa ucapan Laskar ada benarnnya.
“Kita telepon driver ambulan tadi lagi, kang … K-kita luruskan masalah ini”
“Apalagi teh yang mau diluruskan kang?! Sudah jelas-jelas itu memedi! Kalau bukan yang disini, berarti yang di ambulan itu memedi! Mana ada jenazah jadi dua? Kembar! Mereka teh nganter memedi! Aduh! mana udah jauh jalan …”
Mata Laskar terbelalak kaget, seketika ia langsung teringat percakapan telepon dengan Ibu Wati tadi. Ibu Wati di desa bilang kalau jenazah ningsih sudah sampai!! Segera ia kembali membuka smartphonenya dengan terburu-buru, hendak menelepon Ibu Wati.
Belum habis gemetar yang ada ditubuh Laskar, kali ini kengerian kembali menerkam hingga ke tulang-tulangnya. Ibu Laskar mengirimkan sebuah video singkat dimana disana terlihat Jenazah Ningsih yang dibuka dan tengah dirapikan kembali. Ya, Jenazah yang wajahnya rusak itu … namun kini bola mata dan rahangnya sudah diupayakan dikembalikan ke posisi semula.
Laskar langsung menyambar tombol telepon, dan segera menghubungi Ibu Wati. Sambil menunggu Ibu Wati mengangkat teleponnya, dengan setengah membentak ia menanyakan tentang ciri-ciri driver ambulan yang mengantar Jenazah Ningsih tadi pada Ginanjar. Dengan sedikit bingung, Ginanjar menyebutkan ciri-ciri driver ambulan satu-satunya di rumah sakit ini, yaitu seorang pria paruh baya, sedikit gemuk, dan berkepala botak.
Begitu teleponnya tersambung, Laskar langsung berbicara bertubi-tubi kepada Ibu Wati. Ia tentu menanyakan terkait ciri-ciri driver ambulan yang mengantarkan jenazah Ningsih. Beberapa saat berbicara, Laskar langsung terdiam. Entah apa yang diucapkan Ibu Wati pada Laskar, tetapi kini tatapan wajahnya begitu kosong menatap lantai. Tangan Laskar begitu lemas ketika menyodorkan smartphonenya yang masih terhubung dengan telepon Ibu Wati pada Ginanjar. Seolah tahu apa yang Laskar maksud, Ginanjar langsung menyambar smartphone itu.
“Halo… Ini betul dengan ibu nya Alm. Nona Ningsih?”
“I-Iya … Jenazah anak saya sudah sampai, bagaimana pak?”
“S-s-sa… sam… sampai?”
“Iya pak, aye naon atuh?”
“Nu leres (yang benar) teh? M-maksud abdi teh… tadi yang ngantar, driver botak, gitu?”
“Iya kang! Drivernya bapak-bapak botak!”
Kini pandangan Ginanjar juga melotot tidak karuan mendengar penuturan Ibu Wati di telepon. Tentu sangat aneh, bagaimana bisa driver yang barusaja berangkat sekitar lima belas menit yang lalu, sudah sampai di tempat yang jaraknya sangat jauh. Ia kemudian kembali melirik kearah mayat yang mereka biarkan tergeletak diatas keretanya di lorong ruang tunggu, kemudian memejamkan matanya. Berarti ada tiga jenazah Ningsih, yang sedang dalam perjalanan di ambulan dari foto si supir botak, yang sudah sampai di desa menurut penuturan Ibu Wati, dan yang ada di hadapan mereka saat ini…